Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Transformation of Sense of Place in Citra Niaga Area Fitriansyah, Fitriansyah; Agustiananda, Putu Ayu P.; Sholihah, Arif Budi
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 9 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v9i2.15874

Abstract

Citra Niaga area in Samarinda, a recipient of the Aga Khan Award, has experienced a significant decline in existence due to modern competition and the erosion of sense of place. This research aims to identify sense of place elements (physical form, activity, meaning) based on cross-generational perceptions to formulate an adaptive revitalization strategy. Using data (Likert scale questionnaire and qualitative) from 93 respondents (visitors and merchants), the quantitative analysis shows the historical value and original architecture of Citra Niaga is appreciated. However, significant weaknesses were seen in the diversity of activities, quality of facilities, and physical tidiness. The qualitative analysis highlighted an aspiration gap between generations: the older generation longs for the nostalgia of the past, while the younger generation seeks dynamic experiences and modern facilities. Key complaints include parking issues, cleanliness, and lack of creative events. These results emphasize the need for a holistic approach. The proposed revitalization strategy includes preserving the original architecture along with improving parking facilities and arrangements, diversifying activities through cultural events and contemporary tenants, and building a historical narrative that appeals to all generations. The goal is to transform Citra Niaga into a relevant, beloved and sustainable public space for the people of Samarinda.
Identifikasi Keterikatan Tempat di Alun-alun Kota Probolinggo Fayazid, Muhammad Syauqi Hikam; Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari; Sholihah, Arif Budi
TATALOKA Vol 28, No 1 (2026): Volume 28 No 1, February 2026
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.28.1.42-52

Abstract

Keterikatan tempat terbentuk melalui proses interaksi manusia yang lama. Efek urbanisasi mempercepat perubahan yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan ikatan manusia dengan tempat tersebut. Penting untuk memahami keterikatan tempat sebagai konsep untuk perencanaan ruang publik, seperti halnya yang terjadi di Alun-alun sebagai pusat aktivitas bagi masyarakat urban. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk keterikatan tempat pada Alun-alun Kota Probolinggo. Dengan pendekatan explanatory sequential mixed methods, penelitian dimulai dengan pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner, kemudian dianalisis dan diperdalam dengan wawancara serta observasi, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai 3 dimensi keterikatan tempat.  Penelitian menganalisis 3 aspek: (1) budaya (nilai historis dan tradisi), (2) pengalaman personal (intensitas kunjungan), dan (3) karakteristik demografis. Hasil menunjukkan keterikatan terbentuk melalui dimensi afektif (kenyamanan), kognitif (pemaknaan simbolik), dan budaya (partisipasi kegiatan). Hasil menunjukkan bahwa pemahaman pengguna terhadap sejarah terbatas, namun keterikatan tetap kuat karena pengalaman berulang. Sebanyak 68% responden merasa nyaman dan bangga, didorong oleh aspek fisik dan interaksi sosial. Alun-alun berfungsi multigenerasi: muda untuk sosialisasi; dewasa untuk relaksasi; dan lansia untuk interaksi sosial. Keberlanjutannya tidak hanya bergantung pada nilai historis, tetapi pada partisipasi aktif masyarakat. Strategi pengembangan perlu fokus pada inklusivitas, kenyamanan, dan pelibatan warga agar alun-alun tetap relevan sebagai ruang publik yang bermakna.
ADAPTIVE REUSE BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN KOMERSIAL: STUDI KASUS SD NETRAL C YOGYAKARTA Ikhwan, Muhammad; Winoto, Erlangga; Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari; Sholihah, Arif Budi
JURNAL KOLABORASI UNPAND 卷 5 期 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.102

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi tantangan dan peluang bangunan cagar budaya di kawasan komersial perkotaan Indonesia melalui studi kasus SD Netral C (Sekolah Dasar Netral C) Yogyakarta—sebuah sekolah bersejarah yang didirikan pada era kolonial dan masih mempertahankan fungsi aslinya di tengah tekanan komersial kawasan Malioboro. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi keseimbangan antara pelestarian cagar budaya dengan viabilitas ekonomi melalui penerapan adaptive reuse sebagai sebuah strategi. Melalui pendekatan studi kasus eksploratif, data dikumpulkan dari observasi lapangan, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan SD Netral C memiliki nilai cagar budaya yang unik (bertahan selama 113 tahun, berkarakter inklusif, dan berstatus Sultan Ground), namun menghadapi ancaman penurunan jumlah siswa akibat gentrifikasi. Dua skenario adaptive reuse dikembangkan: Heritage School Plus (intervensi minimal dengan program cagar budaya tambahan) dan Community Heritage Hub (mixed-use sebagai fungsi pendidikan-komunitas-komersial). Observasi mengungkap perbedaan antargenerasi dalam merespons perubahan—generasi tua lebih mendukung preservasi maksimal, sementara generasi muda lebih adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan bertahap dimulai dengan intervensi minimal untuk membangun kepercayaan sebelum transformasi lebih lanjut.