Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Detection of Hydroureter in Rat After Medial and Distal Unilateral Ureteral Obstruction Using Ultrasound Frequency 10 MHz Rickyawan, Nofan; Arifianto, Dinar; Adji, Dhirgo
Veterinary Biomedical and Clinical Journal Vol. 1 No. 1 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.385 KB) | DOI: 10.21776/ub.VetBioClinJ.2019.001.01.5

Abstract

Unilateral ureteral obstruction can occur in all animals and it is located proximal, medial and distal. Obstruction causes abnormalities in ipsilateral ureters in the form of hydrouterers. The aim of this study was to detect hydroureters in post-unilateral medial and distal ureteric rats using a 10 MHz ultrasonography frequency. Thirty-six female Sprague Dawley rats aged 3 months were divided into 3 treatment groups. Each group consisted of 12 individuals. Group I as a control received laparotomy treatment. Group II laparotomy with medial right-hand ureteral ligation and group III with right distal ureteral ligation. Three rats taken randomly from each group at weeks 1, 2, 3 and 4 post-ligation is then performed ultrasonography. The results of ultrasonography were analyzed descriptively, comparatively but ureteral diameter were analyzed using statistical of 3x4 factorial patterns. Ultrasound examination showed that ligation in one ureter caused rat undergoing unilateral ureteral obstruction and hidroureter. The diameter of the ureter with a hydroureter has increased from the 1st to 4th week. The increase occurs because the urine in the lumen cannot be excreted. The contralateral ureter remains normal and cannot be observed. The conclusion of the study is that hydroureter in rats can be detected using the frequency of 10 MHz ultrasonography which is characterized by anekoic tubular formation posterior to the right kidney. The unilateral ureteral obstruction has no effect on the contralateral ureter because it is still able to compensate for the performance of the ipsilateral ureter that has a hydroureter. The difference in the location of ligation and time of examination affect the increase in ipsilateral ureteral diameter.
Perilaku dan Gambaran Hematologis Beruk (Macaca nemestrina) yang Dipasang Bare metal stent pada Arteri Iliaca Arifianto, Dinar; Wijayanti, Agustina Dwi; Budhi, Setyo; Wijayanto, Heri; Siswomihardjo, Widowati
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.70940

Abstract

Penyakit kardiovaskuler yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah penyakit jantung coroner. Salah satu metode terapi jantung korner adalah dengan pemasangan stent jantung. Saat ini stent jantung yang digunakan oleh kardiolog di Indonesia masih mengandalkan produk impor. Saat ini Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan stent dengan desain dan bahan yang telah diteliti sebelumnya yang disebut dengan INA-Stent. Tahap pre-klinis telah dilaksanakan dengan menggunakan hewan beruk (Macaca nemestrina). Pemasangan bare metal stent (tanpa salut obat) telah dipasang pada bulan September tahun 2018. Proses euthanasia dilaksanakan pada bulan September 2021 di ruang kateterisasi Rumah Sakit Hewan pendidikan Prof. Soeparwi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH UGM). Sebelum pelaksanaan euthanasia diambil sampel darah sebanyak 1 ml pada tabung ethylene diamine tetra acetic acid (EDTA). Pemeriksaan darah menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV, MCV, total leukosit, dan trombosit dalam batas normal. Abnormalitas yang terjadi antara lain limfopenia, monositosis dan hipokromia.
Profil Hematologi, Kadar Besi (Fe), dan Rasio Mieloid: Eritroid Kuda Hiperimun yang digunakan dalam Produksi Plasma Antisera Arifianto, Dinar; Esfandiari, Anita; Wibawan, I Wayan Teguh; Amrozi, Amrozi; Maharani, Maharani; Darsono, Darsono; Setiadi, Hirawan; Setiyono, Agus
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 1 (2024): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.90681

Abstract

Kuda merupakan salah satu hewan yang penting dalam produksi plasma antisera sebagai bahan baku pembuatan serum. Akhir abad ke-19 kuda berperan krusial dalam pengembangan serum pertama terhadap penyakit difteri manusia. Hingga saat ini kuda masih digunakan untuk memproduksi berbagai serum anti-venom, anti-rabies, anti-tetanus, hingga anti-SARS CoV-2. Proses produksi plasma antisera diawali dengan injeksi imunogen pada kuda yang disebut dengan hiperimunisasi. Antibodi dalam jumlah besar yang terbentuk dikoleksi kemudian dipurifikasi untuk digunakan pada manusia. Hiperimunisasi menimbulkan berbagai efek samping, diantaranya adalah penimbunan fibril amiloid pada berbagai jaringan yang dapat mengganggu fisiologi dan fungsi organ tubuh. Sebanyak 12 ekor kuda digunakan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi 4 kelompok. Kuda kontrol (n=3) terdiri atas kuda yang belum pernah mendapatkan perlakuan hiperimunisasi, sedangkan 9 kuda lainnya dikelompokkan berdasarkan lamanya waktu produksi plasma antisera dengan metode hiperimunisasi (masing-masing kelompok berjumlah 3 ekor). Kelompok I terdiri atas kuda dengan masa produksi 2-3 tahun, kelompok II terdiri atas kuda dengan masa produksi 4-5 tahun, dan kelompok III terdiri atas kuda dengan masa produksi 6-7 tahun. Sampel darah, serum, dan aspirasi sumsum tulang dianalisis utuk menghitung niali eritrosit, Hb, PCV, trombosit, profil besi (besi serum, UIBC, TIBC, saturasi transferin), rasio mieloid:eritroid (M:E) dan persentase retikulosit. Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada parameter eritrosit dan rasio M:E (P<0,05), sedangkan niali Hb, PVC, trombosit, prosentase retikulosit, dan profil besi tidak ditemukan perbedaan yang signifikan (P>0,05). Data tersebut menunjukkan bahwa perlakuan hiperimunisasi menyebabkan penurunan eritrosit dan peningkatan nilai rasio mieloid:eritroid (M:E) pada kuda penghasil plasma antisera.