Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Reducing Activity of Interleukin-8 (IL-8) Extract of Sea Cucumber (Holothuroidea sp.) in Experimental Animals Induced by Carrageenan Aurum, Mursalina Nanda; Suhendi, Andi; Da'i, Muhammad; Fauzi, Ahmad
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 21, Special Issue 1, 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v21i0.23471

Abstract

Interleukin-8 is a pro-inflammatory cytokine that plays a role in the inflammatory response. Sea cucumbers (Holothuria sp.) are used as alternative medicines that have anti-inflammatory activity. The study aims to determination of Sea cucumber (Holothuria sp.) as anti inflammation activty based on capability of reducing interleukin-8 (IL-8) on Rats induced by Carrageenan. Experimental research used was a post-test-only control group design. A total of 25 rats were divided into 5 groups, namely negative control, positive control (Na. Diclofenac), and treatment groups given Sea cucumber extract (doses of 45, 90, and 180 mg/ g BW). Carrageenan-induced mouse paw edema model was used for induction of inflammation. IL-8 of Paw tissue were measured by an ELISA reader at 450 nm wavelength. The result showed that treatrment groups has anti-inflammation activity based on IL-8 levels compared to negative and positive controls. The lowest levels of IL-8 showed at a dose of 90 mg/g BW. Based on One-way ANOVA, there were no significant differences of between groups. Sea cucumber has anti-inflammation activity by reducing IL-8 at all dose tested
Selectivity Index of Alpinia galanga Extract and 1’-Acetoxychavicol Acetate on Cancer Cell Lines Da'i, Muhammad; Meilinasary, Khairunnisa Azani; Suhendi, Andi; Haryanti, Sari
Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Society for Cancer Chemoprevention

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/indonesianjcanchemoprev10iss2pp95-100

Abstract

Previous research stated that galangal (Alpinia galanga) extract has a potential as cytotoxic agent with active compound of 1’-Acetoxychavicol Acetate (ACA). The objective of this study was to determine the selectivity of ethanol extract, ethyl acetate fraction, and methanol fraction of of galangal, and ACA on cancer cell lines. Cytotoxic activity was carried out using the MTT method on T47D breast cancer, WiDr colon cancer, HeLa cervical cancer, and Vero normal cell lines. The results showed that galangal ethanol extract and its fractions had selectivity index equal to or less than 2 on cancer cells. Meanwhile, ACA had selectivity index more than 3 on T47D cell and HeLa cell. ACA showed a strong cytotoxic activity against cancer cells T47D, HeLa, and WiDr with IC50 values of 3.14, 7.26, and 12.49 μg/ml, respectively. Based on data, it could be concluded that ACA was the most selective to inhibit T47D cell with a selectivity index of 6.6.Keywords: 1’-Acetoxychavicol acetate, galangal (Alpinia galanga), selective index, cytotoxic
UJI SITOTOKSIK FRAKSI DAN EKSTRAK ETANOL RUMPUT TEKI (Cyperus rotundus) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA (MCF-7) Putri, Adinda Suci Hayuningrum Priningtyas; Da'i, Muhammad
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i1.1

Abstract

Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus) mengandung senyawa α-cyperone yang memiliki aktivitas sebagai antikanker. Pada penelitian sebelumnya ekstrak metanol rimpang teki memiliki nilai IC50 sebesar 4,52 ± 0,57 μg/mL. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik pada ekstrak etanol serta pada fraksi nheksan, etil asetat, dan etanol:air rimpang teki terhadap sel kanker payudara MCF-7. Uji kualitatif dilakukan dengan KLT untuk membuktikan keberadaan senyawa (α-cyperone) dan dengan GC-MS untuk mengetahui kandungan senyawa mayor dalam rimpang teki. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan etanol 96%.Fraksinasi dilakukan dengan metode cair-cair menggunakan n-heksan, etil asetat, dan etanol:air. Uji sitotoksik dilakukan dengan metode MTT Assay yang selanjutnya dibaca menggunakan ELISA reader. Hasil uji menunjukkan bahwa IC50 pada ekstrak etanol, fraksi n-heksan adalah 1522,608 dan 165,997μg/mL, sedangkan untuk fraksi etil asetat dan fraksi etanol:air tidak dapat terhitung. Hasil uji KLT membuktikan bahwa pada ekstrak terdapat α-cyperone. Pada uji kualitatif dengan GC-MS terlihat hasil bahwa senyawa mayor pada ekstrak etanol, fraksi n-heksan, etil asetat, dan etanol:air didapatkan senyawa mayor berturut-urut berupa 1-Butanamine, 1-Pentanol,5-Cyclopropiliden, Cycloporpil carbinol, 1,2-Ethanediamine.
UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI BIJI KURMA AJWA (Phoenix dactylifera L.) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA MCF-7 Hafilda, Farizka; Da'i, Muhammad
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i1.3

Abstract

Biji kurma Ajwa dilaporkan memiliki kandungan fenolik yang lebih tinggi daripada biji kurma Hallawi dan Aseel. Kandungan fenolik ini meliputi flavonoid yaitu quersetin dan asam fenolik seperti asam vanilat dan asam galat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek sitotoksik ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel kanker payudara MCF-7. Ekstraksi biji kurma Ajwa menggunakan metode maserasi digesti selama 1 jam pada suhu 45°C dengan pelarut etanol 96% dan difraksinasi menggunakan metode partisi cair-cair dengan pelarut etanol: air, etil asetat dan n-heksana. Identifikasi kandungan senyawa dari ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa menggunakan Kromatografi Lapis Tipis. Pengujian sitotoksik menggunakan metode uji MTT dengan seri konsentrasi 12,5; 25; 50; 100; dan 200
UJI AKTIVITAS ANTIPROLIFERATIF DAN INDUKSI APOPTOSIS EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L.) TERHADAP SEL MCF-7 Sukma, Laras Cahaya; Da'i, Muhammad
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 2 (2022): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i2.110

Abstract

Kemangi merupakan tumbuhan yang banyak digunakan masyarakat serta memiliki aktivitas sitotoksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antikanker kemangi dalam hal menghambat pertumbuhan serta menginduksi kematian secara terprogram sel MCF-7. Daun kemangi berupa serbuk dimaserasi dengan pelarut etanol kemudian dihilangkan pelarutnya dengan menggunakan rotary evaporator. Uji sitotoksisitas dilakukan dengan metode MTT, didapatkan nilai IC50 ekstrak etanol daun kemangi sebesar 174,46 µg/mL. Kadar yang digunakan dalam uji antiproliferatif adalah di bawah nilai IC50 yaitu 150 dan 75 µg/mL. Uji antiproliferatif dilakukan dengan metode MTT. Sel diinkubasi pada waktu yang berbeda-beda yaitu 24; 48; 72 jam. Hasil uji didapatkan adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan sel oleh ekstrak etanol daun kemangi terhadap sel MCF-7 dengan nilai doubling time yaitu 530,61 jam pada sampel kadar 150 µg/mL; 147,88 jam pada sampel kadar 75 µg/mL; 125,58 jam pada kontrol sel. Selanjutnya dilakukan uji induksi apoptosis dengan kadar ekstrak etanol kemangi yang digunakan sebesar IC50. Metode yang digunakan adalah metode double staining. Setelah dipapari sampel, sel diberi reagen campuran Etidium Bromida-Akridin Oranye dan diamati di bawah mikroskop fluorescent. Hasil uji menunjukkan adanya aktivitas induksi kematian sel MCF-7 secara terprogram oleh ekstrak etanol daun kemangi yang ditandai dengan sel yang berfluoresensi berwarna oranye serta kondisi sel yang tidak utuh.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID DAN FENOLIK EKSTRAK ETANOL TANAMAN PARIJOTO (Medinilla speciosa) SERTA AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL KANKER SERVIKS HELA Lutfiani, Adha Qudsiya Dewi; Da'i, Muhammad
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 4 (2022): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i4.140

Abstract

Tanaman parijoto mempunyai banyak khasiat untuk tubuh manusia. Satu di antaranya sebagai agen antikanker. Tujuan penelitian ini guna mengetahui berapa kadar flavonoid dan fenolik serta aktivitas sitotoksik yang terjadi pada ekstrak etanol tanaman parijoto terhadap sel kanker serviks HeLa. Digunakan bagian daun dan buah dari tanaman parijoto. Daun dan buah parijoto dimaserasi selama 2 hari dalam pelarut etanol 95% lalu dipekatkan hingga terbentuk ekstrak kental. Senyawa yang terkandung di ekstrak etanol daun dan buah parijoto dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis. Hasil KLT membuktikan dimana ekstrak daun dan buah parijoto didapati senyawa flavonoid dan fenolik. Penetapan kadar flavonoid dan fenolik diuji dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Kadar flavonoid dan fenolik pada ekstrak etanol daun parijoto adalah 56,62 mg QE/g sampel dan 159,61 mg GAE/g sampel. Pada uji sitotoksik dengan menggunakan metode MTT assay, diperoleh ekstrak etanol daun dan buah parijoto mempunyai aktivitas sitotoksik moderat dengan IC50 masing-masing 457,08 µg/mL dan 363,07 µg/mL.
PROGRAM EDUKASI BIJAK MEMILIH OBAT TRADISIONAL MENGGALI POTENSI HERBAL UNTUK MENGHINDARI RISIKO EFEK SAMPING Fadel, Muhammad Nurul; Retnowati, Eko; Ikawati, Nurlena; Karuniawati, Hidayah; Da'i, Muhammad; Besan, Emma Jayanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 2 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i2.3037

Abstract

Penggunaan obat tradisional masih tinggi di masyarakat, namun sebagian besar didasarkan pada informasi empiris tanpa pengetahuan ilmiah yang memadai. Hal ini berpotensi menimbulkan penggunaan yang tidak rasional dan risiko efek samping. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait pemilihan dan penggunaan obat tradisional secara aman dan berbasis bukti ilmiah. Pengabdian dilaksanakan di Desa Sanggrahan, Kecamatan Potronayan, Nogosari, Boyolali pada 15 Juni 2025 dengan sasaran 52 Ibu-ibu PKK. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta evaluasi pre-test dan post-test menggunakan kuesioner. Materi mencakup pengenalan jenis obat tradisional (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka), kandungan kimia tanaman obat seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan andrographolide, manfaat dan risiko penggunaannya, serta cara mengenali produk herbal legal dan ilegal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dari 55,3 (pre-test) menjadi 85,7 (post-test) atau naik 30,4 poin. Peserta antusias dan mampu membedakan produk herbal aman serta memahami pentingnya izin edar BPOM. Sebanyak 92% peserta merasa kegiatan ini bermanfaat dan berharap ada edukasi lanjutan. Kegiatan ini efektif meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih obat tradisional dan mendorong perilaku penggunaan herbal yang aman dan rasional. Edukasi berbasis komunitas direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke wilayah lain.. AbstractThe use of traditional medicines remains high in the community, but most practices are based on empirical information without adequate scientific knowledge. This may lead to irrational use and potential adverse effects. This community service activity aimed to improve public health literacy on the safe and evidence-based use of traditional medicines. The program was conducted in Sanggrahan Village, Potronayan Subdistrict, Nogosari, Boyolali, on June 15, 2025, targeting 52 PKK (Family Welfare Movement) women. The methods included interactive lectures, discussions, demonstrations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The materials covered the classification of  traditional medicines (jamu, standardized herbal medicines, phytopharmaceuticals), chemical constituents of medicinal plants such as curcuminoids, xanthorrhizol, and andrographolide, their benefits and risks, as well as how to identify legal and illegal herbal products. The results showed an increase in the average knowledge score from 55.3 (pre-test) to 85.7 (post-test), with a 30.4-point improvement. Participants were enthusiastic and able to distinguish safe herbal products and understand the importance of BPOM (Indonesian FDA) registration. About 92% of participants stated that this activity was beneficial and expected further education on the proper use of traditional medicines. This program effectively increased public awareness to be more selective in choosing traditional medicines and encouraged safe and rational herbal use. Community-based health education is recommended to be implemented sustainably and expanded to other areas.