Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Moderasi Beragama dalam Pembangunan Tempat Ibadah Non-Muslim di Indonesia: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Juz 'Amma Pratama, Rangga Adi; Ghianovan, Jaka; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23394

Abstract

Indonesia, as the country with the largest Muslim population globally, faces challenges in implementing religious moderation to maintain harmony and peace amidst diversity. One such challenge is the rejection of constructing non-Muslim places of worship in several regions, indicating ongoing resistance to religious pluralism. This study aims to analyze Quranic verses related to religious moderation and the construction of non-Muslim places of worship through a comparative study between Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Juz 'Amma by Firanda Andirja, focusing on Surah Al-Hajj verse 40, Al-Baqarah verse 256, Al-An'am verse 108, and Al-Kafirun verses 1–6. The research employs a qualitative method with a literature study approach, analyzing the interpretations of both scholars on these verses. The findings indicate that Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar*emphasizes the importance of tolerance and respecting the rights of non-Muslims to worship and build places of worship, while affirming that there is no compromise in matters of faith and monotheism. In contrast, Firanda Andirja in Tafsir Juz 'Amma emphasizes a stance of disengagement regarding the welfare of non-Muslims and tends not to support the construction of non-Muslim places of worship, although still advocating for tolerance.Abstrak: Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menghadapi tantangan dalam menerapkan moderasi beragama untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah keberagaman. Salah satu tantangan tersebut adalah penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah non-Muslim di beberapa wilayah, yang menunjukkan masih adanya resistensi terhadap pluralitas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an terkait moderasi beragama dan pembangunan tempat ibadah non-Muslim melalui studi komparatif antara Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Juz 'Amma karya Firanda Andirja, dengan fokus pada Surah Al-Hajj ayat 40, Al-Baqarah ayat 256, Al-An'am ayat 108, dan Al-Kafirun ayat 1–6. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menganalisis penafsiran kedua mufasir terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan pentingnya toleransi dan menghargai hak non-Muslim untuk beribadah dan mendirikan tempat ibadah, sambil tetap menegaskan bahwa dalam akidah dan tauhid tidak ada kompromi. Sementara itu, Firanda Andirja dalam Tafsir Juz 'Amma lebih menekankan sikap berlepas diri dalam hal kemaslahatan non-Muslim dan cenderung tidak mendukung pembangunan tempat ibadah non-Muslim, meskipun tetap menganjurkan sikap toleransi.
THE COMPARATION OF MAQᾹṢῙD IMPLIMENTATION’S IBN ‘AṢŪR AND MUNᾹWIR SJADZALI’S IN QS. 4: 11 Shofa, Ida Kurnia
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 6 No 1 (2021): Volume 6 No. 1, Juni 2021
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v6i1.2597

Abstract

This paper will discuss the discourse of inheritance in QS. 4: 11 according to modern figure, Ibn ‘Aṣūr and Munawar Sjadzali. So, the purpose of this reseach is to express base of maqāṣīd application that used by them. This research is library research with diskriptive-analysis and comparation method. The result of this research is that two figures found a significant values in that surah with different maqashid concept. Ibnu ‘Aṣūr understood the surah (QS. 4: 11) is as an awarding attention for muslem women in the discourse of inheritance that they get a half of a man proportion. Even before the revelation of that surah, the women’s right were not given. While, Munawir Sjadzali understood that surah by searching an ideal value and contextualize whit the situation and condition in his country with formulation 1:1 for man and women which considered the roles and positions woman are relatively same with a man along the demands of the times.
ANALISIS MAKNA SAMĀWĀT DALAM KITAB TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY Chairunissa, Putri Evta; Shofa, Ida Kurnia; Mualim, Mohamad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i1.439

Abstract

Penelitian ini dipicu oleh pertanyaan mengenai perbedaan pandangan para mufasir dalam memahami makna lafadz Samāwāt. Beberapa upaya dilakukan untuk memahami pentingnya Samāwāt, yang tampaknya memaksakan konsep penafsir ke dalam teks. Permasalahannya dalam penelitian ini adalah Analisis makna Samāwāt terhadap penafsiran Oemar Bakry dalam kitab Tafsir Rahmat. Cara Oemar Bakry menafsirkan dan menerjemahkan teks tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap seberapa luas konten Tafsir Rahmat disebarluaskan. Misalnya dalam kitab Tafsir Rahmat makna Samāwāt diartikan sebagai ruang angkasa untuk menggambarkan tentang tatanan alam jagad raya. Pemilihan diksi ruang angkasa menunjukkan adanya wacana yang dibangun olehnya berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu astronomi dan teknologi. Penelitian ini adalah jenis kualitatif dan menggunakan analisis deskriptif sebagai alat analisis data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat lafadz Samāwāt yang terdapat dalam kitab Tafsir Rahmat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjemahan ruang angkasa karya Oemar Bakry sangat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan kontemporer mengenai alam semesta. Bentuk penafsiran ini menunjukkan tahapan berpikir dialektik antara ilmu pengetahuan dan al-Qur’an dalam kandungan Tafsir Rahmat memberikan sumbangsih metode penafsiran yang menjadikannya titik pusat ketertarikan para peneliti sebelumnya.
TREND BEAUTY MENURUT AL-QUR’AN: Analisis QS. Al-Nisa’ Ayat 119 Dan QS. Al-Rum Ayat 30 Perspektif Quraish Shihab Andriani, Nuryah Vika; Shofa, Ida Kurnia; Mualim, Mohamad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i1.441

Abstract

Trend beauty (kecantikan) termasuk dalam fenomena yang mengalami evolusi dan perubahan yang disebabkan adanya perkembangan media dan masyarakat. Sebagai manusia pasti menginginkan pribadinya secara lahir maupun bathin memiliki nilai keestetikan. Sedangkan hal ini identik sekali dengan wanita. Dalam upaya pemenuhan mempercantik diri, klinik kecantikan menyediakan fasilitas bagi para pemburu trend beauty tersebut. Eyelash extension (tanam bulu mata), nail art (seni hias kuku), dan sulam alis kini menjadi trend beauty yang digandrungi para wanita. Dalam menanggapi persoalan ini penulis akan merujuk pada perspektif Quraish Shihab  berdasarkan Q.S. An-Nisa’ ayat 119 dan Q.S. Ar-Rum ayat 30. Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Adapun jenis penelitian ini adalah library research atau penelitian yang bersifat kepustakaan  dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Penulis menggunakan dua sumber rujukan yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Adapun hasil dari pembahasan ini adalah Quraish Shihab menyatakan bahwa ketiga trend beauty yang disebutkan di atas tidak termasuk dari larangan yang mutlak karena dalam penggunaannya tidak terdapat unsur yang menyatakan bahwa mengalihkan atau menghilangkan fungsi tubuh manusia. Namun dalam proses penyelesaian jurnal ini, penulis juga menyajikan beberapa argument terkait tentang trend beauty menurut ulama-ulama yang berbeda. Dengan begitu pada akhir pembahasan mendapatkan hasil akhir yang bisa dijadikan sebagai dasar ilmu dalam menanggapi fenomena trend beauty tersebut.
TELAAH KITAB TAFASSERE BICARA UGINA SURAH ‘AMMA KARYA AGH. MUHAMMAD AS’AD SENGKANG Adinda, Nur; Shofa, Ida Kurnia; Ghifari, Muhammad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.363

Abstract

This article examines one of the tafsir books compiled by AGH. Muhammad As'ad, one of the Indonesian clerics who is influential in South Sulawesi. The book of tafsir is entitled Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma. This tafsir is among the first tafsir written using Lontarak script and in Bugis language, so this tafsir book provides a new nuance in the history of the study of al-Qur'an tafsir in South Sulawesi. The book of tafsir was translated into Indonesian by AGH. As'ad students, Sjamsoeddin Singkang. The book Tafasere Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma is classified as a book that has little exposure to the general public, so no research has been found that examines this book of tafsir. This research aims to examine the characteristics, background of interpretation, sources, methods and styles used by AGH. As'ad in interpreting the Koran. This type of research is library research using descriptive analysis methods. From this research it can be seen that the Bugis community was the main target for writing the book Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma because the community's understanding there is still very limited and there are still many ritual practices that are not in accordance with Islamic teachings and beliefs. As for the source of AGH interpretation. As'ad uses the bi al-ray tafsir method. From a methodological aspect, this interpretation uses the ijmali method with simple interpretation. The breadth of explanation falls into the category of bayani interpretation. The targets and order of verses are interpreted using the maudhu'i verse method. The style of interpretation tends to be towards faith and divinity, making it fall into the category of interpretation of the i'tiqadi style. Artikel ini mengkaji salah satu kitab tafsir yang disusun oleh AGH. Muhammad As’ad, salah satu ulama Nusantara yang berpengaruh di Sulawesi Selatan. Kitab tafsirnya diberi judul Tafasere Bicara Ugina Surah Amma. Tafsir tersebut termasuk tafsir pertama yang ditulis menggunakan aksara Lontarak dan berbahasa Bugis sehingga kitab tafsir ini memberikan nuansa baru dalam sejarah kajian tafsir al-Qur’an di Sulawesi Selatan. Kitab tafsir diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh murid AGH. As’ad, Sjamsoeddin Singkang. Kitab Tafasere Bicara Ugina Surah Amma tergolong kitab yang kurang terekspos di masyarakat umum, sehingga belum ditemukan penelitian yang mengkaji kitab tafsir ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik, latar belakang penafsiran, sumber, metode dan corak yang digunakan AGH. As’ad dalam menafsirkan al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa masyarakat Bugis menjadi sasaran utama penulisan kitab Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma karena pemahaman masyarakat di sana masih sangat terbatas dan masih terdapat banyak praktik ritual yang tidak sesuai dengan ajaran dan keyakinan Islam. Adapun mengenai sumber penafsiran AGH. As’ad menggunakan metode tafsir bi al-ray. Dari aspek metolodogi, tafsir ini menggunakan metode ijmali dengan penafsiran sederhana. Keluasan penjelasan masuk pada kategori tafsir bayani. Adapun sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan menggunakan metode maudhu’i ayat. Corak penafsiran cenderung mengarah ke arah keimanan dan ketuhanan menjadikannya termasuk kategori tafsir corak i’tiqadi.
VERNAKULARISASI DALAM TAFSIR BASA SUNDA: Studi Atas Tafsir Nurul Bajan Karya Muhammad Romli Dan H.N.S Midjaja Nurmawati, Reni; Mualim, Mohamad; Shofa, Ida Kurnia
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.371

Abstract

This article examines one of the most famous Sundanese tafsir books of its time and was written by a modernist Islamic figure in West Java, namely Muhammad Romli and H.N.S Midjaja. The book of tafsir is entitled Tafsir Qur'an Basa Sundanese Nurul Bajan. This tafsir was not completed in 30 juz, only reaching the third juz of Surah Al-Imran verse 91. This tafsir was written using Sundanese Latin language and script with old spelling that had not been perfected. There are three cultural aspects that influence the process of interpreting the Koran into Sundanese, including language stratification, traditional Sundanese expressions, and Sundanese nature. This research aims to examine the elements of vernacularization in Nurul Bajan's interpretation, which includes Sundanese language etiquette (Sundanese language steps), traditional Sundanese expressions, and Sundanese natural descriptions. This type of research is library research and is classified as qualitative research. This research uses a descriptive-analytical method using the vernacularization theory approach initiated by Anthony H. Johns. The results of this research can be concluded that Tafsir Nurul Bajan contains forms of vernacularization consisting of language manners (undak-usuk basa) which include the words arandjeun, manehna, ngadeg, abdi, wife, bodjo, garwana, pameget, uninga, ngadamel, and wallon. Traditional expressions include the words Mung kedah buleud determination and Ngahidji sabilulungan. A description of the nature of Sundanese which includes the words "like rain growing keunana pepelakan, nu njukakeun ka artisan tanina: tuluj maneh nendjo (njaksian) djadi koneng even speed pisan, tuluj kaajaanana djadi antjur". Artikel ini mengkaji salah satu kitab tafsir Sunda yang paling tersohor pada zamannyadan ditulis oleh seorang tokoh Islam modernis di Jawa Barat yakni Muhammad Romli dan H.N.S Midjaja. Kitab tafsirnya diberi judul Tafsir Qur’an Basa Sunda Nurul Bajan. Tafsir ini tidak selesai ditulis 30 juz, hanya sampai pada juz ketiga surat Al-Imran ayat 91. Tafsir ini ditulis menggunakan bahasa dan aksara latin Sunda dengan ejaan lama yang belum disempurnakan. Ada tiga aspek budaya yang mempengaruhi proses penafsiran Al-Qur’an kedalam bahasa Sunda, antara lain, stratifikasi bahasa, ungkapan tradisional Sunda, dan alam kesundaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji unsur-unsur vernakularisasi dalam tafsir Nurul Bajan yang meliputi tatakrama bahasa Sunda (undak-usuk basa Sunda), ungkapan tradisional Sunda, dan gambaran alam kesundaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan(library research) dan diklasifikasikan sebagai penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitisdengan menggunakan pendekatan teori vernakularisasi yang digagas oleh Anthony H. Johns.Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tafsir Nurul Bajan mengandung bentuk-bentuk vernakularisasi yang terdiri dari tatakrama bahasa (undak-usuk basa) yang meliputi kataarandjeun, manehna, ngadeg, abdi, istri, bodjo,garwana, pameget, uninga, ngadamel, dan walon. Ungkapan tradisional yang meliputi kata Mung kedah buleud tekad dan Ngahidji sabilulungan. Gambaran alam kesundaan yang meliputi kata “seperti hudjan numbuhkeunana pepelakan, nu njukakeun ka tukang-tukang tanina: tuluj maneh nendjo (njaksian) djadi koneng malah laju pisan, tuluj kaajaanana djadi antjur”.
The Vernakularisation in The Native Interpretation Product: Analysis of Speech Level in Bisri Mustofa’s Tafsir Al-Ibriz Shofa, Ida Kurnia
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 5 No. 02 (2024): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51875/attaisir.v5i02.576

Abstract

This study aims to explain the speech level of the Javanese language in Bisri Mustofa's Tafsir al-Ibriz. Bisri Musthofa's Tafsir al-Ibriz has a great locality value, used Javanese as an interpretation of the Qur’an text. As it is known that Java has language etiquette or politeness rules that are used to distinguish between disrespectful language (rough/ngoko) and respectful language (smooth/madya-krama) which indicates strata or social status. Through library research and using a sociolinguistic approach, this study shows that Tafsir al-Ibriz contains a language hierarchy (speech level) in the dialogues contained in the Qur'an which is interpreted using Javanese language rules according to their social position. However, in its application, Bisri found inconsistencies in the use of the language level used, such as dawuh and ngendika sentences. In the dialogue of the Qur'an, the utterances conveyed by Allah to His servants, the speech of a leader to the people, the speech of parents to their children, are expressed using the ngoko language. Vice versa, the speech conveyed by servants to Allah, children to their parents, subordinates to their leaders is expressed using the language of manners, and dialogues with others, such as Prophet Musa and Prophet Harun are interpreted using ngoko language. Thus, it can be understood that Tafsir al-Ibriz uses the ngoko-madya-krama language level as a manifestation of the Javanese symbolic classification system based on several categories of high-low, formal-informal, or foreign-ordinary
Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Pencari Nafkah Perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi Sumardi, Agiesni Inayatillah; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29286

Abstract

This study aims to examine the position and role of women as breadwinners from the perspective of the Sundanese exegesis Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an by KH Ahmad Sanusi. The background of this research is driven by the importance of understanding the role of women in family economics within the Sundanese cultural context, which is often influenced by more conservative interpretations of exegesis. However, this exegesis offers a more progressive understanding of the role of women, particularly in the economic field. The method used is qualitative analysis with a literary exegesis approach, focusing on analyzing the texts in Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an to examine verses related to women as breadwinners. The research findings indicate that this exegesis provides space for women to play an active role in the family economy without neglecting their domestic responsibilities. This exegesis emphasizes equality in social and economic roles between men and women, as well as the importance of balance in family life. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan dan peran perempuan sebagai pencari nafkah dalam perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi. Latar belakang penelitian ini didorong oleh pentingnya pemahaman peran perempuan dalam ekonomi keluarga dalam konteks budaya Sunda yang sering dipengaruhi oleh interpretasi tafsir yang lebih konservatif. Meskipun demikian, tafsir ini memberikan pemahaman yang lebih progresif mengenai peran perempuan, khususnya dalam bidang ekonomi. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan tafsir literer, yakni menganalisis teks dalam Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an untuk menelaah ayat-ayat yang terkait dengan perempuan sebagai pencari nafkah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir ini memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam ekonomi keluarga tanpa mengabaikan tanggung jawab domestik mereka. Tafsir ini menekankan kesetaraan peran sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, serta pentingnya keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga.
KONSEPSI SUJUD DALAM AL-QUR’AN: Analisis Komparatif Surah al-Baqarah: 34 dan al-Kahfi: 50 Perspektif Sayyid Quthb dan Imam al-Qurthubi Shofa, Ida Kurnia
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 1 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.395 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i1.82

Abstract

This paper discusses the meaning of prostration in surah al-Baqarah: 34 and al-Kahf: 50 by Sayyid Quthb and Imam al-Qurtubi perspective. This study was conducted to analyze the meaning of prostration performed by angels to Adam. The substance of the prostration of angels to Adam gives rise to multiple interpretations, whether the prostration is meant the same as the prostration of a servant. Through a comparative analysis approach, the results of this study is Sayyid Quthb and Imam Al-Qurtubi understand the meaning of prostration in Surah Al-Baqarah: 34 and Surah Al-Kahf: 50 is to respect to the leader or as an exaltation. This is different from prostration in prayer performed by the servants of Allah to worship Him or called prostration of worship. Allah chose Adam as the leader and ordered the angels and devils to prostrate to him because Allah gave Adam more abilities that Allah did not give to other creatures
METODOLOGI DAN CORAK KITAB TAFSIR AHKAM AL-QUR’AN KARYA AL-JASHSHASH Shofa, Ida Kurnia; Mualim, Mohammad; Fadhila Azka, Muhammad
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 1 No. 1 (2020): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.749 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v1i1.133

Abstract

Artikel ini merupakan kajian terhadap kitab tafsir Ahkam al-Qur’an karya al-Jashshash. Merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif analisis, penelitian ini berusaha mendeskripsikan tafsir karya al-Jashshash dari berbagai aspek. Adapun hasil dari riset ini adalah metode penafsiran dalam tafsir Ahkam Al-Qur’an karya al-Jashshash adalah bila dilihat dari sumber penafsiran menggunakan bi al-iqtirani (perpaduan antara bi al-ma’thur dan bi al-ra’y), namun penafsiran lebih dominan bi al-ma’thur (dengan riwayat). Cara penjelasan penafsiran dengan metode muqarin yakni memaparkan pendangan para ulama mengenai hukum fikih. Keluasan penjelasannya adalah secara ithnabi atau tafshili (detail). Tertib ayat yang ditafsirkan adalah sesuai urutan ayat dan surah dalam mushaf Uthmani. Dan kecenderungan aliran yang terdapat dalam tafsirnya adalah corak fikih Hanafiyah. Kitab Ahkam al-Qur’an karya al-Jashshash ini digunakan sebagai pedoman hukum penganut madzhab Hanafiyah karena pribadi al-Jashshash sebagai tokoh fanatik penganut madzab Hanafiyah yang berusaha memaksakan seluruh pemikiran madzhab hanafiyah dalam penafsirannya. Oleh sebab itulah, kitab ini memperoleh banyak kritikan dari para ulama seperti Muhammad Husain al-Dhahabi dan Khalil Manna’ al-Qaththan.