Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

POLYGAMY IN MINANGKABAU TAFSIR: A COMPARATIVE STUDY OF THE THOUGHTS OF SULAIMAN AR-RASULI AND BUYA HAMKA Shofa, Ida Kurnia; Chairinisa, Putri Evta
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2022.10.2.349-368

Abstract

This writing will discuss how QS An-Nisa verse 3 is understood by two modern Minangkabau scholars who are different, namely Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli and Buya Hamka. The purpose of this research is to find out the differences in the interpretation of these two scholars, who each have different socio-historical backgrounds. This research is a library research using comparative analysis method and sociological approach. The results show that there is a difference in the interpretation of polygamy by these two scholars. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli tends to connect the text with the cultural context in society, while Buya Hamka prefers to criticize culture in his interpretation. This is caused by several factors, including the personal experiences of each scholar. In addition, Ar-Rasuli is a polygamist, while Hamka does not do it due to personal experience related to his parents' marriage.
THE COMPARATION OF MAQᾹṢῙD IMPLIMENTATION'S IBN ‘AṢŪR AND MUNᾹWIR SJADZALI'S IN QS. 4: 11 Shofa, Ida Kurnia
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 6 No 1 (2021): Volume 6 No. 1, Juni 2021
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v6i1.2597

Abstract

This paper will discuss the discourse of inheritance in QS. 4: 11 according to modern figure, Ibn ‘Aṣūr and Munawar Sjadzali. So, the purpose of this reseach is to express base of maqāṣīd application that used by them. This research is library research with diskriptive-analysis and comparation method. The result of this research is that two figures found a significant values in that surah with different maqashid concept. Ibnu ‘Aṣūr understood the surah (QS. 4: 11) is as an awarding attention for muslem women in the discourse of inheritance that they get a half of a man proportion. Even before the revelation of that surah, the women's right were not given. While, Munawir Sjadzali understood that surah by searching an ideal value and contextualize whit the situation and condition in his country with formulation 1:1 for man and women which considered the roles and positions woman are relatively same with a man along the demands of the times.
SIGNIFIKANSI HUKUM QISHASH DENGAN PENDEKATAN MA’NA-CUM-MAGHZA Shofa, Ida Kurnia; Arif, Mohammad
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 3 No. 2 (2022): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.59 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v3i2.136

Abstract

Kasus kriminalitas baik pembunuhan maupun pencideraan fisik masih menjadi kejahatan yang marak di Indonesia sebab hukuman yang diancamkan kepada pelaku kriminal seringkali tidak membuat pelaku takut atau jera. Di dalam Islam, hukuman bagi pelaku kriminal pembunuhan atau pencideraan fisik disebut qishash. Artikel ini akan membahas kontekstualisasi hukuman qishash dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 178-179 menggunakan pendekatan hermeneutika ma’na-cum-maghza. Redaksi ayat tersebut secara tekstual membahas tentang hukuman mati untuk pelaku pembunuhan. Jika dipandang dari sudut pandang hak asasi manusia dan pandangan nilai kontemporer, hukuman tersebut dinilai bertentangan dengan nilai kemanusiaan (dehumanis). Berdasarkan asumsi tersebut maka perlu adanya pemahaman secara kontekstual terhadap ayat tersebut. Menggunakan kajian pustaka dan analisis deskriptif serta mengaplikasikan pendekatan hermeneutika ma’na-cum-maghza maka hasil yang ditemukan adalah 1) penerapan hukuman qishash merupakan tradisi masyarakat Arab sejak pra Islam, 2) makna signifikansi surah al-Baqarah ayat 178-179 adalah efektivitas hukuman yang memberikan efek jera serta menjadi wasilah menjaga jiwa (hifz al-nafs) yang hukumannya dapat berupa apapun yang dapat mencapai tujuan utama tersebut sesuai dengan makna substansial ayat dan kondisi sosial budaya di mana kasus tersebut terjadi.
Moderasi Beragama dalam Pembangunan Tempat Ibadah Non-Muslim di Indonesia: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Juz 'Amma Pratama, Rangga Adi; Ghianovan, Jaka; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23394

Abstract

Indonesia, as the country with the largest Muslim population globally, faces challenges in implementing religious moderation to maintain harmony and peace amidst diversity. One such challenge is the rejection of constructing non-Muslim places of worship in several regions, indicating ongoing resistance to religious pluralism. This study aims to analyze Quranic verses related to religious moderation and the construction of non-Muslim places of worship through a comparative study between Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Juz 'Amma by Firanda Andirja, focusing on Surah Al-Hajj verse 40, Al-Baqarah verse 256, Al-An'am verse 108, and Al-Kafirun verses 1–6. The research employs a qualitative method with a literature study approach, analyzing the interpretations of both scholars on these verses. The findings indicate that Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar*emphasizes the importance of tolerance and respecting the rights of non-Muslims to worship and build places of worship, while affirming that there is no compromise in matters of faith and monotheism. In contrast, Firanda Andirja in Tafsir Juz 'Amma emphasizes a stance of disengagement regarding the welfare of non-Muslims and tends not to support the construction of non-Muslim places of worship, although still advocating for tolerance.Abstrak: Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menghadapi tantangan dalam menerapkan moderasi beragama untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah keberagaman. Salah satu tantangan tersebut adalah penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah non-Muslim di beberapa wilayah, yang menunjukkan masih adanya resistensi terhadap pluralitas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an terkait moderasi beragama dan pembangunan tempat ibadah non-Muslim melalui studi komparatif antara Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Juz 'Amma karya Firanda Andirja, dengan fokus pada Surah Al-Hajj ayat 40, Al-Baqarah ayat 256, Al-An'am ayat 108, dan Al-Kafirun ayat 1–6. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menganalisis penafsiran kedua mufasir terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan pentingnya toleransi dan menghargai hak non-Muslim untuk beribadah dan mendirikan tempat ibadah, sambil tetap menegaskan bahwa dalam akidah dan tauhid tidak ada kompromi. Sementara itu, Firanda Andirja dalam Tafsir Juz 'Amma lebih menekankan sikap berlepas diri dalam hal kemaslahatan non-Muslim dan cenderung tidak mendukung pembangunan tempat ibadah non-Muslim, meskipun tetap menganjurkan sikap toleransi.
A New Perspective on Gender: An Analysis of Surah Al-Ahzab Verse 35 with Muhammad Syahrur's Theory of Limits Hasanah, Nur; Shofa, Ida Kurnia; Nidhom, Khoirun
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.382

Abstract

Gender is a concept that describes the socially and culturally constructed differences in roles and responsibilities between men and women. In Islam, Surah Al-Ahzab verse 35 affirms gender equality in spiritual and moral aspects, emphasizing that both men and women have equal opportunities to achieve virtue. Muhammad Syahrur's Limit Theory also provides a new perspective on the flexibility of Islamic law in adapting gender norms to evolving social contexts. This study highlights the importance of understanding gender in building a more just and inclusive society while encouraging a more progressive interpretation of religious texts. This study examines gender equality in Surah Al-Ahzab verse 35 through the perspective of Muhammad Syahrur using the Limit Theory approach. This verse is considered a significant foundation that affirms the equality of roles between men and women in Islam. Employing a qualitative method and thematic interpretation approach, this study analyzes the minimum and maximum limits in Limit Theory to understand the implications of the verse on the concept of gender equality. The findings reveal that Muhammad Syahrur's interpretation offers a contextual approach relevant to universal values, while also providing critique against patriarchal views in traditional interpretations. This study emphasizes the relevance of the Qur'an as a guide supporting gender equality in various aspects of life. Gender merupakan konsep yang menggambarkan perbedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Dalam Islam, Surah Al-Ahzab ayat 35 menegaskan kesetaraan gender dalam aspek spiritual dan moral, menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama dalam mencapai kebajikan. Pendekatan Muhammad Syahrur dengan Teori Limit juga memberikan pemahaman baru tentang fleksibilitas hukum Islam dalam menyesuaikan norma-norma gender dengan konteks sosial yang berkembang. Studi ini menyoroti pentingnya pemahaman gender dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif, serta mendorong interpretasi yang lebih progresif terhadap teks-teks keagamaan. Penelitian ini mengkaji kesetaraan gender dalam Surah Al-Ahzab ayat 35 melalui perspektif Muhammad Syahrur dengan pendekatan Teori Limit. Surah tersebut dianggap sebagai salah satu landasan penting yang menegaskan kesetaraan peran laki-laki dan perempuan dalam Islam. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan tafsir tematik, penelitian ini menganalisis batas minimum dan maksimum dalam Teori Limit untuk memahami implikasi ayat tersebut terhadap konsep kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Muhammad Syahrur menawarkan pendekatan kontekstual yang relevan dengan nilai-nilai universal, sekaligus memberikan kritik terhadap pandangan patriarkal dalam tafsir tradisional. Kajian ini memperkuat relevansi Al-Qur'an sebagai pedoman yang mendukung kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan.
Analysis of the Term "Al-Ghulul " in QS. Al-Imran verse 161 Interpretation of Sayyid Quthb (A Study of Tafsir fii Zhilalil Qur'an) Saraswati, Aulia Niken; Shofa, Ida Kurnia; Nidhom, Khoirun
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.412

Abstract

This article examines Sayyid Quthb's interpretation of the term al-ghulul in QS. Āli-‘Imrān verse 161 and analyzes its relevance to the concept of corruption in a modern context. How is this term considered one of the terms for corruption in the Qur'an? This study uses a qualitative approach with a library research method, referring to the primary source, Tafsir Fī Ẓhilālil Qur'ān, and supported by secondary sources, through a descriptive-analytical approach based on thematic interpretation. The results of the study indicate that the term ghulul in QS. Āli-‘Imrān verse 161, according to Sayyid Quthb's interpretation, refers to one form of modern corruption, namely betrayal of public trust in the form of embezzlement of collective (shared) assets for personal or group interests. Artikel ini mengkaji penafsiran Sayyid Quthb terhadap term al-ghulul dalam QS. Āli-‘Imrān ayat 161 dan menganalisis relevansinya dengan konsep korupsi dalam konteks modern. Bagaimana term tersebut dikatakan sebagai salah satu term korupsi dalam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), mengacu pada sumber primer yaitu Tafsir Fī Ẓhilālil Qur’ān, serta didukung oleh sumber-sumber sekunder, melalui pendekatan deskriptif-analitis berbasis tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa term ghulul pada QS. Āli-‘Imrān ayat 161 menurut penafsiran Sayyid Quthb, merujuk pada salah satu bentuk korupsi modern yaitu pengkhianatan terhadap amanah publik berbentuk penggelapan harta kolektif (Bersama) demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.