Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Studi Pertumbuhan Ikan Sidat (Anguilla bicolor) yang diberi Hormon Pertumbuhan Rekombinan Kerapu Kertang (rEIGH) dengan Selang Waktu Penyuntikan yang Berbeda Sukriawan, Sukriawan; Idris, Muhammad; Kurnia, Agus; Yusnaini, Yusnaini; Abidin, La Ode Baytul; Nur, Indriyani
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 2 (2020): April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.527 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i2.11024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval waktu optimum penyuntikan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (rElGH) terhadap pertumbuhan ikan sidat (A. bicolor). Sebayak 60 ekor ikan sidat dengan berat awal rata-rata 94-120 g ditempatkan kedalam 12 wadah bak kayu (5 ekor/wadah) diberi perlakuan perbedaan waktu penyuntikan hormon yaitu setiap 5 hari, 7 hari, 9 hari dan kontrol (tanpa penyuntikan hormon). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan kelangsungan hidup. Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa penyuntikan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu (rElGH) dengan rentang waktu yang berbeda  memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) terhadap PM, LPS dan kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyuntikan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (rElGH) dengan selang waktu 9 hari menghasilkan PM dan LPS ikan sidat tertinggi yakni masing-masing sebesar 34.0 ± 1.22 g dan 0.61 ± 0.03 %. Kelangsungan hidup ikan sidat pada semua perlakuan adalah 100 %. Penelitian menyimpulkan bahwa penyuntikan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (rElGH) dengan selang waktu 9 hari dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan sidat.Kata kunci: Hormon rEIGH, waktu penyuntikan, pertumbuhan Ikan sidat, Anguilla bicolor
Inventarisasi Parasit Serta Akumulasi Logam Berat Nikel (Ni) Terhadap Ikan Bandeng (Chanos chanos) yang Dibudidayakan di Tambak Kumala, Sri; Nur, Indriyani; Emiyarti, .
Jurnal Media Akuatika Vol 4, No 1: Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.872 KB) | DOI: 10.33772/jma.v4i1.6379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis parasit pada ikan bandeng sertaakumulasi logam berat nikel (Ni) pada ikan bandeng yang dipelihara di Tambak Desa Tapunggaya Kecamatan Molawe Kabupaten Konawe Utara. Jumlah sampel ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibudidayakan di tambak dalam waktu pemeliharaan 2 bulan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga (3) kali masing-masing (5) ekor tiap minggu selama (1) minggu persampling (total 15 ekor ikan bandeng untuk pengamatan parasit yang menyerang tubuh organisme). Pemeriksaan parasit dilakukan pada organ insang dan kulit (ektoparasit) dan organ usus dan hati (endoparasit) sedangkan pemeriksaan nikel dilakukan pada air . Hasil penelitian ditemukan dua jenis ektoparasit yaitu Ergasilus sp. dan dua jenis endoparasit yaitu Ergasilus dan Nematoda. Jenis parasit dengan intensitas tertinggi terdapat pada nematoda dengan nilai intensitas 8,8ind/ekor dan yang terendah Ergasilus sp. 0 ind/ekor atau tidak ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat serangan parasit pada nematoda masih tergolong infeksi parasit sedang dan Ergasilus sp. tergolong infeksi parasit ringan. Nilai prevalensi tertinggi terdapat pada parasit jenisNematodayang memperoleh nilai prevalensi yaitu 100% pada sampling II yang termasuk dalam kategori “sedang” sedangkan nilai prevalensi terendah terdapat pada parasit jenis Ergasilus sp. 0% pada sampling I yang tidak ditemukannya parasit. Faktor kondisi menunjukan ikan kurang gemuk dengan nilai berkisar antara 1,173-1,525. Kandungan logam berat Nipada air menunjukkan hasil meningkat tiap samplingnya dengan perolehan nilai yaitu 0.263, 0.271 dan 0.280 ppm.Kata kunci :Chanos chanos, Parasit, Prevalensi, Intensitas, Nikel (Ni).
Kerusakan Jaringan Hepatopankreas pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Akibat Paparan Logam Berat Nikel (Ni) secara Buatan Zhahrah, Zulfirah; Nur, Indriyani; Sabilu, Kadir
Jurnal Media Akuatika Vol 1, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.703 KB) | DOI: 10.33772/jma.v1i2.4276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh paparan logam berat nikel (Ni) terhadap histopatologis hepatopankreas pada udang vaname (Litopenaeus vaname) yang dipapar logam berat nikel (Ni) selama 30 hari dengan berbagai perlakuan yaitu: perlakuan A 0,02 ppm, perlakuan B 0,04 ppm, perlakuan C 0,08 ppm dan perlakuan D (kontrol) dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Hasil pemeriksaan histologi menunjukan hepatopankreas pada semua perlakuan mengalami nekrosis dan miopati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pemaparan nikel yang dipaparkan pada udang vaname maka semakin tinggi pula kerusakan pada jaringan hepatopankreas. Kata Kunci: Logam Berat, Nikel, Histologi  Hepatopankreas,Udang vanamei (Litopenaeus. vaname)
Perbandingan Waktu Pemulihan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii, (Doty 1985) yang Mengalami Kerusakan Akibat Gigitan Ikan Herbivora yang Dipelihara dalam Jaring Kotak dan Dinding Jaring Buamona, Dodi Efendi; Nur, Indriyani; Kasim, Ma'ruf
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 4 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.845 KB) | DOI: 10.33772/jma.v6i4.18382

Abstract

Salah satu kendala budidaya rumput laut adalah tingginya pemangsaan hama, maka media yang digunakan diharapkan dapat meningkatkan produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan waktu pemulihan thallus rumput laut yang mengalami kerusakan akibat gigitan ikan herbivora pada jenis K. alvarezii dan mengetahui laju pertumbuhan spesifik rumput laut yang dipelihara pada jaring kotak dan dinding jaring. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2019, bertempat di perairan Pantai Lakeba Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Rancangan penelitian ini terdiri atas 2 perlakuan yaitu menggunakan jaring kotak dan dinding jaring serta 10 ulangan.Sampel yang digunakan yaitu bibit thallus rumput laut K. alvarezii, diamati menggunakan mikroskop digital dan dianalisis menggunakan uji-t (Independent sample t-test) dengan bantuan SPSS versi. 24 dengan taraf kepercayaan 95%. Parameter yang diamati adalah pemulihan thallus rumput laut,(LPS), parameter kualitas air dan hubungan antara LPS dan parameter kualitas air. Hasil yang diperoleh pemulihan thallus rumput laut pada jaring kotak lebih cepat yaitu (11 hari) masa pemeliharaan dibandingkan dinding jaring yaitu (15 hari) masa pemeliharaan. LPS tertinggi pada jaring kotak yaitu pekan ke-1 sebesar 7,00% dan terendah pekan ke-6 sebesar 3,13% sedangkan LPS tertinggi pada dinding jaring yaitu pekan ke-1 sebesar 6,61% dan terendah pekan ke-6 sebesar 2.95%. Hasil analisis menunjukan bahwa (LPS) berbeda nyata antara kedua perlakuan.Kata Kunci: K. alvarezii, pemulihan, pertumbuhan, jaring kotak, dinding jaring
Pengaruh Ablasi Mata terhadap Pertumbuhan Lobster Batik (Panulirus longipes) Rivai, Hasbin; Yusnaini, .; Nur, Indriyani
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.474 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i2.4451

Abstract

Lobster batik (Panulirus longipes) merupakan salah satu organisme ekonomis penting yang dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi. Pada budidaya lobster, ablasi mata dilakukan untuk merangsang reproduksi.  Perubahan hormon akibat ablasi mata diduga juga akan mempengaruhi pertumbuhan somatik. Olehnya, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ablasi mata terhadap laju pertumbuhan lobster batik yang dipelihara pada jaring kantung apung. Penelitian ini dilaksanakan di Keramba Jaring Apung (KJA) Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Sebanyak 12 ekor lobster batik betina (berat awal rata-rata lobster yang ablasi adalah 193 ± 29.2 g sedangkan lobster yang tidak ablasi adalah 253 ± 41.2 g). Organisme tersebut ditempatkan dalam 12 jaring katung apung bersama lobster jantan (2 ekor/wadah). Pakan yang diberikan selama masa penelitian ini adalah pakan ikan rucah yang diperoleh dari hasil tangkap masyarakat setempat. Parameter yang diamati adalah Pertumbuhan Mutlak (PM), Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ablasi mata pada lobster tidak memberikan pengaruh terhadap keseluruhan parameter yang diamati. Pertumbuhan mutlak tertinggi diperoleh pada lobster yang diablasi sebesar (23.3 ± 16.2 g) dan LPS (0.14 ± 0.104 %/hari).  Penelitian ini menyimpulkan bahwa ablasi mata pada lobster tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan lobster batik (P. longipes). Kata Kunci: Lobster Batik, Ablasi Mata, Pertumbuhan.
Deteksi Megalocytivirus Pada Ikan Capungan (Pterapogon kauderni) Di Perairan Teluk Kota Kendari Menggunakan Metode Polymerase Chain Reaction Berdasarkan Gen Major Capsid Protein ., Yusliansyah; Nur, Indriyani; Abidin, La Ode Baytul; ., Megawati
Jurnal Media Akuatika Vol 4, No 3: Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.947 KB) | DOI: 10.33772/jma.v4i3.9751

Abstract

Megalocytivirus adalah salah satu kelompok dalam Iridoviridae yang dapat menyebabkan infeksi sistemik pada berbagai spesies ikan air tawar dan laut baik dari hasil budidaya maupun hasil tangkapan alam. Salah satu metode terkini yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus tersebut pada ikan adalah metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan infeksi Megalocytivirus pada ikan capungan (P. kauderni) hasil tangkapan alam, salah satu ikan hias air laut yang sangat diperdagangkan, berasal dari perairan Teluk Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Sampel ikan dikumpulkan dari tiga lokasi berbeda yaitu Desa Bungkotoko (B), Tapulaga (T) dan Tanjung Tiram (R). Deteksi virus dilakukan dengan pengambilan organ target pada sampel ikan yaitu ginjal, hati, dan insang selanjutnya dilakukan amplifikasi sekuen target gen MCP sepanjang 1360 base pair (bp). Pada gel elektroforesis menunjukkan hasil negatif pada keseluruhan sampel uji yang ditandai dengan tidak munculnya pita DNA sepanjang 1360 bp, kecuali pada kontrol positif. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ikan capungan (P. kauderni) hasil tangkapan alam dalam penelitian ini terbebas dari infeksi Megalocytivirus.Kata kunci : Ikan capungan, Deteksi Megalocytivirus, PCR, gen MCP
Identifikasi Senyawa Bioaktif pada Ekstrak Kelinci Laut (Dolabella auricularia) dan Penghambatannya terhadap Aeromonas hydrophila Nurhalisa, Nurhalisa; Wulandari, Rinda; Nur, Indriyani; Suryani, Suryani; Sabilu, Kadir
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 4 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.546 KB) | DOI: 10.33772/jma.v6i4.19200

Abstract

Perairan laut di Indonesia kaya akan biota yang dapat dimanfaatkan senyawa aktif yang dikandungnya, salah satunya adalah dari golongan gastropoda jenis kelinci laut (D. auricularia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa dari hasil ekstraksi kelinci laut serta mengkaji kemampuan bahan aktif dalam mengendalikan infeksi bakteri patogen Aeromonas hydrophila melalui pengamatan penghambatannya secara in vitro. Metode penelitian yaitu eksperimen laboratorium dimana proses ekstraksi, skrining bioaktif, dan uji in vitro menggunakan metode  maserasi, kalorimetri, dan difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukan ekstraksi kelinci laut menggunakan pelarut etil asetat dengan rasio bahan dan pelarut yaitu 1:2 menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 0,32% dan mengandung senyawa phenolic, tanin, steroid, terpenoid, alkaloid, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri karena pada penelitian ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila hingga dosis minimum yang diujikan yakni 1000 ppm secara in vitro. Daya hambat terhadap bakteri A. hydrophila menunjukan nilai yang tinggi seiring dengan penambahan konsentrasi terutama pada konsentrasi 7000 ppm dibandingkan kontrol. Olehnya ekstrak kelinci laut berpotensi untuk pengembangan penyakit ikan pada akuakultur, khususnya untuk pengendalian penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila.Kata kunci: Kelinci laut, Aeromonas hydrophila, in vitro
Studi Pemanfaatan Tepung Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dalam Pakan Terhadap Pewarnaan Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio L.) Kalidupa, Nursina; Kurnia, Agus; Nur, Indriyani
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 1: Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.325 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i1.4383

Abstract

Penelitian tentang pewarnaan ikan mas koi (Cyprinus carpio L.) yang diberi pakan yang mengandung tepung kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan dosis yang berbeda-berbeda telah dilaksanakan selama 42 hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian tepung kulit buah naga merah dalam pakan buatan dengan dosis yang berbeda terhadap peningkatan kecerahan warna pada ikan mas koi. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 20x20x25cm. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Tiga jenis pakan dengandosis tepung kulit buah naga merah yang berbeda dan kontrolyang diterapkan adalah: A (5%), B (10%), C (15%), dan D (pakan komersil tanpa penambahan tepung kulit buah naga merah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dosis tepung kulit buah naga merah dalam pakan dapat memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kecerahan warna hitam dan orange pada ikan mas koi (P ≤ 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pemberian tepung kulit buah naga merah utamanya pada dosis 15% dalam pakan dapat meningkatkan kecerahan warna hitam dan warna orange pada ikan mas koi.Kata Kunci : Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus), Pewarnaan, Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio L.)
Pengaruh Lama Pemberokan yang Berbeda Sebelum Transportasi Terhadap Kelulushidupan dan Glukosa Darah Ikan Capungan Banggai (Pteropogon kauderni Walter Kaudern) Harmin, Harmin; Nur, Indriyani; Astuti, Oce
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v6i2.17029

Abstract

Tingkat mortalitas yang cukup tinggi masih menjadi masalah dalam pengangkutan ikan hias hidup.  Salah satu faktor yang mempengaruhi stress dan mortalitas ikan adalah pemberokan sebelum transportasi dilakukan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama pemberokan yang berbeda sebelum transportasi terhadap kelulushidupan dan glukosa darah ikan capungan (P. kauderni). Penelitian ini menggunakan empat perlakuan pemberokan yakni 0, 12 , 24 dan 36 jam dengan 2 ulangan untuk setiap perlakuan.  Hewan uji yang digunakan adalah ikan dengan panjang rata-rata 4.0 ± 1.0 cm dan berat rata-rata  4.0 ± 1.0 g. Total hewan uji yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah 64 ekor (5 ekor/akuarium). Setelah pemberokan ikan diangkut selama 3 jam dengan jarak tempuh 76 km.  Parameter yang diamati yaitu glukosa darah dan tingkat kelangsungan hidup setelah transportasi.  Hasil penelitian menunjukan bahwa lama pemberokan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap glukosa darah ikan capungan banggai setelah transportasi namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kelangsungan hidup. Glukosa darah terendah ditemukan pada ikan dengan lama pemberokan 12-24 jam. Tingkat kelangsungan hidup pada semua perlakuan yang diberikan yakni 100%.  Penelitian ini menunjukkan bahwa masa pemberokan terbaik yakni 12-24 jam untuk jarak transportasi pendek sampai dengan 76 km. Kata kunci: stress, pemberokan, capungan Banggai, transportasi
Pengaruh Pemberian Pakan Buatan Berbasis Tepung Lamun Dan Fermentasi Ampas Kelapa Pada Kombinasi Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Sintasan Teripang Pasir (Holothuria scabra Jaeger) Saputra, Muh. Ari; Nur, Indriyani; Balubi, Abdul Muis
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 1 (2021): Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v6i1.15261

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa formula pakan berbasis tepung lamun dan fermentasi ampas kelapa terhadap pertumbuhan mutlak dan tingkat kelangsungan hidup teripang pasir. Tiga jenis pakan diujicobakan, yaitu pakan dengan kombinasi beberapa dosis tepung lamun dan fermentasi ampas kelapa, sedangkan pakan kontrol adalah bersumber dari kompos. Pakan kontrol adalah bentik yang dirangsang pertumbuhannya dengan kompos kotoran ayam. Teripang pasir yang digunakan berbobot 7-60 g sebanyak 60 ekor, 5 ekor per wadah pemeliharaan. Benih teripang diberi pakan uji sekali dalam sehari pada sore hari. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok terdiri atas empat perlakuan pakan dan tiga ulangan. Percobaan berlangsung selama 45 hari. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan pemberian pakan buatan berbasis tepung lamun dan fermentasi ampas kelapa memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan hari ke-45, namun memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik pada hari ke-15 dan 30 serta tingkat kelangsungan hidup. Benih teripang pasir yang diberi pakan kontrol menghasilkan pertumbuhan mutlak tertinggi (6,90 g). Laju pertumbuhan spesifik berkisar antara 0,13-0,71%. Sementara tingkat kelangsungan hidup berkisar antara 66,67-93,33%. Kesimpulan yang daat ditarik pada penelitian ini bahwa diduga teripang pasir tidak dapat memanfaatkan pakan buatan dengan baik dibanding dengan pakan kontrol berupa bentik.Kata kunci: pertumbuhan, lamun, fermentasi ampas kelapa, teripang pasir, Holothuria scabra.