Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Genetic Diversity of Flying Fish (Exocoetidae) in Southeast Sulawesi, Indonesia Indrayani, Indrayani; Ambardini, Sri; Pariakan, Arman; Nur, Indriyani
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 31 No. 4 (2024): July 2024
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.31.4.744-749

Abstract

Flying fish (Exocoetidae) is a pelagic fishery commodity that holds economic value among the people of eastern Indonesia. Flying fish are advantageous as they are abundant in Indonesian sea waters, making them an affordable source of omega-3, which is beneficial for human health. However, the high demand for flying fish has resulted in overfishing, which poses a risk of reducing their natural population. Proper management of this commodity is necessary to minimize these risks. Effective management requires adequate information, including genetic diversity data. This study aims to determine the genetic diversity of flying fish in Southeast Sulawesi, specifically in the Banda Sea and Bone Bay populations. Tissue samples were collected from flying fish in the two populations during the study in March 2022. The results show that the genetic diversity values of flying fish in Bone Bay and the Banda Sea were 0.984 and 1.00, respectively, while the nucleotide diversity values were 0.021 and 0.018. High genetic diversity values and nucleotide diversity values were found between the two populations, with values of 0.990 and 0.020, respectively. Based on phylogenetic analysis, the two populations in Southeast Sulawesi are genetically similar.
Peningkatan Pengetahuan Peluang Usaha Budidaya Udang Sistem Bioflok Skala Rumah Tangga Nelayan Suderajad, Pono; Idris, Muhammad; Yusnaini; Nurdiana A; Piliana, Wa Ode; Yusuf, Sarini Yusuf; Nur, Indriyani
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2024): Edisi November 2024
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v6i1.237

Abstract

Peluang usaha budidaya udang vaname dengan sistem bioflok menjanjikan karena sistem ini mengurangi dampak lingkungan negatif dan biaya operasional. Dengan memanfaatkan teknologi bioflok, para pengusaha udang vaname bisa mengontrol kualitas air dan menjaga kebersihan lingkungan budidaya, sehingga meningkatkan produktivitas udang. Dengan memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan yang ketat, nelayan dapat memanfaatkan peluang untuk mengekspor udang vaname ke pasar internasional.  Di samping ekspor, terdapat juga pasar lokal yang besar untuk udang vaname.  Sehingga kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya pelaku usaha mitra kegiatan tentang bagaimana cara untuk budidaya udang vaname dengan system bioflok.  Metode pendekatan dilakukan yaitu, penyuluhan dan sosialisasi. Hasil dari kegiatan pengabdian ini memberikan tambahan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat tentang inovasi teknologi dan penggunaan teknologi canggih dalam budidaya udang. Kegiatan pengabdian telah terlaksana dengan lancar, masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan, terbukti dengan partisipasi yang cukup tinggi, hal tersebut terlihat dengan kehadiran peserta secara konsisten dalam mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Survei dilakukan untuk mengukur efektifitas kegiatan dengan menyebar angket pada saat sebelum dan setelah kegiatan yang memberikan hasil sebesar 100% pengetahuan peserta bertambah, Kegiatan  pengabdian tersebut telah terbukti dapat meningkatkan kapasitas teknis dan pengetahuan dari nelayan dalam melakukan usaha budidaya bioflok skala rumah tangga.
Pendampingan UMKM dalam Pengembangan Produk Olahan Pertanian dan Perikanan untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi di Desa Andoolo Utama, Sulawesi Tenggara Nur, Indriyani; Bande, La Ode Santiaji; Saputra, Rizal Adi; Abdullah, Weka Gusmiarty; Hamzah, Muhaimin; Arimbawa, Putu; Silfi, Silfi; Dilla, Farah; Wibowo, Bayu Adi
Empowerment Vol. 7 No. 02 (2024): Empowerment
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/empowerment.v7i02.10737

Abstract

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Andoolo Utama bertujuan untuk memberikan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghasilkan produk berbasis bahan olahan lokal. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh potensi pertanian dan perikanan, khususnya kelapa, singkong, dan ikan lele yang melimpah di Desa Andoolo Utama, namun pemanfaatannya masih terbatas pada produk mentah dengan nilai tambah rendah. Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa dan tim  dosen pendamping KKN Universitas Halu Oleo memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat, yang meliputi aspek pengolahan produk, manajemen usaha, pemasaran digital, pengemasan serta branding yang menarik dan higienis. Metode yang digunakan meliputi observasi, diskusi kelompok, bimbingan teknis, dan praktik langsung pembuatan produk olahan kelapa seperti media tanam dari sabut kelapa, opak singkong, jamu, dan abon ikan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengolah kelapa, singkong, rimpang dan ikan lele menjadi produk bernilai tambah, peningkatan kualitas produk, dan kemampuan memasarkan produk secara lebih luas melalui platform digital. Program ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Andoolo Utama melalui pengembangan UMKM berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan.
PROSPECTS OF HOUSEHOLD SCALE VANAME SHRIMP FARMING BIOFLOC SYSTEM Suderajad, Pono; Yusnaini, Yusnaini; Nur, Indriyani; A., Nurdiana
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 2 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i2.1460

Abstract

Soropia Village is a coastal area that is topographically potential for developing a biofloc shrimp farming business on a household scale, in addition this system reduces negative environmental impacts. However, it is necessary to study the potential in terms of the amount of costs, production potential and profits that can be obtained, and business feasibility. The research method used was a case study at the Bahari Jaya Group. Primary data was obtained using a survey technique through in-depth interviews regarding the variables needed in the analysis to achieve the research objectives. The results of the study showed that the largest investment cost was for the allocation of making a complete package pond, in the form of a D4 biofloc tarpaulin pond (4 meters in diameter) on a household scale of IDR 3,500,000.00. While the most dominant operational cost is the purchase of feed of IDR 1,800,000, but this amount is considered minimal in the vaname shrimp farming business, because of the biofloc element which is additional feed. The biofloc system vaname shrimp cultivation business on a household scale in 1 cycle maintained for 3 months, the total cost incurred was IDR 8,532,500, - and the production was 170 kg with a selling price of IDR 98,000 / kg, thus obtaining an income of IDR 16,660,000, -. The profit obtained was IDR 8,127,500, - with a business feasibility level of 1.9. This value is classified as feasible so that the biofloc system vaname shrimp cultivation business is very prospective to be implemented and applied on a household scale to improve the welfare of coastal communities.
THE POTENTIAL USE OF SIAM WEED (Chromolaena odorata) LEAF EXTRACT AS AN ALTERNATIVE ANTIBACTERIAL COMPOUND TO TREAT Vibrio parahaemolyticus INFECTION IN PACIFIC WHITE SHRIMP (Litopenaeus vannamei) Magfira, Magfira; Abidin, La Ode Baytul; Nur, Indriyani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 3 (2024): September (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.3.2024.177-190

Abstract

Siam weed plant or Siam weed (Chromolaena odorata) is an herb commonly used as a medicinal plant in Asian countries, including Indonesia, particularly in   Southeast Sulawesi. This study explores the effectiveness of different Siam weed leaf extract concentrations in treating Vibrio parahaemolyticus infection in Pacific white shrimp (Litopenaus vannamei). In this study, the infected shrimps were soaked in C. odorata leaf extract solution at 1, 2, and 3 ppt concentrations and no soaking of the extract (control). The parameters measured were recovery rate, survival rate, percentage of total haemocyte count (THC) and differential haemocyte count (DHC). The results showed that the V. parahaemolyticus-infected Pacific white shrimps soaked in 3 ppt C. odorata leaf extract had the highest recovery and survival rates compared to shrimp treated with C. odorata leaf extract at 1 and 2 ppt. Similarly, the shrimp group treated with 3 ppt of C. odorata leaf extract had better haemolymph profiles than those treated with the other concentrations of C. odorata leaf extract. This study concludes that C. odorata leaf extract enhances the immune response of L. vannamei by increasing the activity of semi-granular cells  in eliminating the pathogenic cells of V. parahaemolyticus.Tanaman krinyuh (Chromolaena odorata) merupakan tanaman herbal yang umum digunakan sebagai tanaman obat di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak daun tanaman krinyuh dalam mengobati infeksi Vibrio parahaemolyticus pada udang vaname (Litopenaus vannamei). Pada penelitian ini, udang yang terinfeksi direndam ke dalam larutan ekstrak daun C. odorata pada konsentrasi 1, 2, dan 3 ppt dan tanpa perendaman ekstrak (kontrol). Parameter yang diukur adalah tingkat kesembuhan, tingkat kelangsungan hidup, persentase jumlah hemosit total (JHT), dan jumlah hemosit diferensial (JHD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang vaname yang terinfeksi V. parahaemolyticus yang direndam dalam ekstrak daun C. odorata 3 ppt memiliki tingkat kesembuhan dan kelangsungan hidup tertinggi disbanding udang yang diobati dengan ekstrak daun C. odorata pada konsentrasi 1 dan 2 ppt. Demikian pula, kelompok udang yang diberi 3 ppt ekstrak daun C. odorata memiliki profil hemolim yang lebih baik daripada yang diberi konsentrasi ekstrak daun C. odorata lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun C. odorata meningkatkan respons imun L. vannamei dengan meningkatkan aktivitas sel semi-granular dalam menghilangkan sel patogen V. parahaemolyticus. 
Effects of Autotomy on Haemolymph Profile and Mineral Composition in Mud Crab (Scylla serrata) at Pre and Post- Moulting Cycle Yusnaini, Yusnaini; Yanti, Esri; Sabilu, Kadir; Fekri, Latifa; Nur, Indriyani
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol. 17 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v17i3.24303

Abstract

Soft-shell crab is a valuable product variant in aquaculture, with moulting being a critical phase for its production. Physiological indicators such as haemolymph profiles and mineral content in muscle tissue are essential for assessing crab health and moulting performance. This study aimed to evaluate the effect of autotomy treatment on the physiological condition of mud crab (Scylla serrata), focusing on haemolymph characteristics and mineral concentrations in muscle during the pre-moulting and post-moulting phases. The treatment involved inducing autotomy of walking legs and claws. Sampling was conducted at four distinct phases: pre-autotomy, 15 hours post-autotomy, at immediate post-moult stage, and two days post-moulting. The physiological parameters observed included Total Haemocyte Count (THC) and Differential Haemocyte Count (DHC), comprising hyaline, semi-granular, and granular cell types. Muscle mineral content was assessed by measuring calcium, sodium, and phosphorus concentrations. Results indicated that autotomy reduced THC and the proportion of hyaline cells, while granular cells increased during the post-moulting phase. Calcium, sodium, and phosphorus concentrations decreased shortly after autotomy, peaked during moulting, and declined again after moulting. These findings provide insight into the physiological responses of mud crabs to autotomy and offer practical reference points for enhancing moulting success and supporting soft-shell crab production in aquaculture systems.
Application of Black Turmeric Rhizome (Curcuma aeruginosa Roxb) Ethanol Extract to Treat Aeromonas hydrophila Infection in Catfish (Clarias gariepinus) Mulfiani, Riri; Nur, Indriyani; Abidin, La Ode Baytul
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 4 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i4.8609

Abstract

Aeromonas hydrophila is a pathogenic bacterium that frequently attacks, causes death, and harms catfish farmers. The continuous use of antibiotics for disease control has been shown to have negative impacts on pathogenic bacterial resistance, antibiotic residues in fish, aquatic environmental pollution, food safety, and causes allergies in human consumers. The use of phytopharmaceuticals is known to be more environmentally friendly and sustainable because they contain active compounds that are more easily degraded, thus leaving no synthetic antibiotic residues in fish tissues and water. This research aimed to determine the effect of black turmeric (Curcuma aeruginosa Roxb) rhizome ethanol extract on treating A. hydrophila infection in catfish. Fish were raised for 14 days. For the first seven days, they were kept under normal conditions. On day 7, the fish were infected with A. hydrophila. On day 8, the diseased fish were immersed in black turmeric rhizome ethanol extract. The experiment used group randomized design with treatment of control or without black turmeric extract (BT0), 35 mg/L, 40 mg/L and 45 mg/L black turmeric extract (BT35, BT40, and BT45). The result showed that treatments were not significantly different (P>0,05) on recovery rate, survival rate, and WBC, but significantly different in hematocrit percentage (P<0,05). The highest of fish recovery rate and survival rate (100%) were obtained in BT40. This research concluded that immersion dosage of 40 mg/L black turmeric rhizome ethanol extract could treating catfish infected with A. hydrophila.
Pemberdayaan masyarakat di Desa Mondoe Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara dengan mengintroduksi teknologi produksi pupuk Bio Slurry untuk aplikasi di tambak tradisional Nur, Indriyani; Yusnaini, Yusnaini; Baheri, Baheri; Fekri, Latifa
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 5, No 2 (2022): Juli
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v5i2.1167

Abstract

Pandemi COVID-19 berdampak pada produksi dan pemasaran hasil tambak di Desa Mondoe, Sulawesi Tenggara. Masalah yang dihadapi: biaya produksi meningkat karena harga pupuk mahal disebabkan suplai pupuk bersubsidi yang terbatas.  Karena mobilitas terbatas, hasil panen terkendala pemasaran. Solusi kegiatan yang ditawarkan yaitu teknologi produksi pupuk organik cair (POC), yang selanjutnya diaplikasikan di tambak. Kegiatan awal berupa pelatihan pembuatan drum fermentase yang dibuat dari bahan utama berupa drum dan pipa. Selanjutnya pelatihan produksi POC dengan bahan dasar berupa feses hewan (sapi dan ayam) serta sisa olahan dapur berupa kulit buah, bonggol jagung dan dedaunan.  Setelah memalui proses fermentase selama 4 pekan dengan bantuan molase dan pengurai berupa effective microorganisms (EM4) dalam keadaan anaerob, kemudian dianalisa kandungan N, P, K pada cairan yang dihasilkan. Selanjutnya pupuk diaplikasikan dalam tambak bandeng hingga panen dengan masa pemeliharaan 5 bulan. Hasil kegiatan menunjukkan mitra dapat mengadopsi teknologi sederhana yang telah dilatihkan sehingga ketersediaan akan kebutuhan pupuk mencukupi jumlahnya. Selain itu, aktifitas budidaya oleh mitra tidak tergantung lagi pada pupuk dari luar. Pupuk yang diproduksi berkualitas dan tersedia sepanjang waktu kemudian berimplikasi pada produktivitas tambak, peningkatan penghasilan petambak, kepastian berusaha dan pengelolaan tambak lebih ramah lingkungan.
Penentuan Komoditas Perikanan Strategis Bagi Penguatan Ekonomi Wilayah Pesisir di Kabupaten Buton Tengah Nursalam, Nursalam; Nur, Indriyani; Darlina, Darlina; Bahari, Doddy Ismunandar
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16139

Abstract

Kabupaten Buton Tengah memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budi daya. Akan tetapi pengembangan sektor ini belum optimal karena belum tersedianya peta komoditas unggulan yang terarah dan tidak adanya analisis kuantitatif berbasis wilayah untuk mengukur keunggulan komoditas secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis komoditas perikanan yang termasuk dalam kategori basis dan non-basis, serta menganalisis tingkat pertumbuhan produksi sektor perikanan di Kabupaten Buton Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 dengan menggunakan data sekunder berupa data runtun waktu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Tengah dan Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan harga berlaku tahun 2018–2022. Analisis dilakukan dengan metode Location Quotient (LQ) untuk mengukur tingkat spesialisasi komoditas, dan Shift Share (SS) untuk menilai kecepatan pertumbuhan sektor. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu-satunya komoditas basis dengan nilai rata-rata LQ > 1 adalah rumput laut, sedangkan komoditas non-basis (LQ < 1) meliputi ikan cakalang, tongkol, tuna, udang, bandeng, dan kerapu. Pertumbuhan produksi perikanan tergolong cepat (Gj – Nj > 1) pada periode 2018–2019, 2020–2021, dan 2021–2022, sedangkan pertumbuhan lambat (Gj – Nj < 1) terjadi pada periode 2019–2020.Title: Identification of Strategic Fisheries Commodities for Strengthening the Coastal Regional Economy in Buton Tengah Regency Buton Tengah Regency has considerable potential in fisheries resources, both in capture and aquaculture sectors. However, the development of this sector has not been optimal due to the absence of a well-directed map of leading commodities and the lack of region-based quantitative analysis to objectively assess commodity competitiveness. This study aims to identify fisheries commodities classified as basic and non-basic, and to analyze the production growth rate of the fisheries sector in Central Buton Regency. The research was conducted in November 2023 using secondary time series data from the Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Central Buton Regency and Southeast Sulawesi Province at current prices for the period 2018–2022. The data were analyzed using the Location Quotient (LQ) method to measure the level of commodity specialization, and the Shift Share (SS) analysis to assess the sector's growth rate. The results show that the only basic commodity with an average LQ > 1 is seaweed. Non-basic commodities (LQ < 1) include skipjack, mackerel tuna, tuna, shrimp, milkfish, and grouper. Fisheries production growth was categorized as rapid (Gj – Nj > 1) during the periods 2018–2019, 2020–2021, and 2021–2022, while slow growth (Gj – Nj < 1) occurred during the period 2019–2020.
Perawatan Bibit Mangrove Pasca Penanaman Pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir di Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Adimu, Hasan Eldin; Nur, Indriyani; Fekri, Laifa; Yasidi, Farid; Yusuf, Dewi Nurhayati; Sabilu, Kadir
PUSAKA ABDIMAS Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Serumpun Karang Konservasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Community-based mangrove forest management is one of the management strategies that can increase efficiency and fairness in the utilization and management of natural resources. Stages of activities to overcome problems Stage I: Counseling, Counseling is carried out to provide initial information about mangrove ecosystem management and its handling Stage II: Monitoring and Evaluation, Monitoring and evaluation activities are always carried out every period even though the year ends. Monev is carried out after the activity to ensure that the activity continues and develops Therefore, efforts are needed to develop community participation in restoring the function and benefits of damaged mangrove forests in the implementation and supervision.