Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENGARUH KOMBINASI PUPUK NPK DENGAN JENIS PUPUK KANDANG PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI DATARAN MEDIUM Adi, Isa Apri; Barunawati, Nunun; Wardiyati, Tatik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/410

Abstract

Pupuk adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kentang. Varietas DTO 28 mampu beradaptasi pada dataran medium bekisar 700 sampai 1000 mdpl. sementara itu, penambahan unsur hara makro berfungsi meningkatkan produksi kentang dengan mempengaruhi pembentukan dan pembesaran umbi, sedangkan penambahan bahan organik mampu meningkatkan serapan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil umbi yang optimal pada aplikasi pupuk NPK dan pupuk kotoran ternak di dataran medium. Penelitian dilaksanakan mulai bulan September 2014 sampai Desember 2014 di desa Ngujung, kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAK-F) dengan 2 faktor yang diulang 4 kali. Faktor pertama terdiri dari empat level dosis NPK meliputi 0,5 t ha-1, 1 t ha-1, 1,5 t ha-1 dan 2 t ha-1. Faktor kedua terdiri dari 2 taraf yang meliputi pupuk kotoran ternak ayam dan pupuk kotoran ternak sapi. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi nyata antara perlakuan dosis NPK dengan macam pupuk kotoran ternak terhadap pengamatan pertumbuhan dan hasil yaitu pada parameter panjang tanaman, jumlah daun, jumlah batang, bobot segar per tanaman, bobot segar per petak dan bobot segar total. Pada taraf 1,5 t ha-1 NPK dengan pupuk kotoran ternak ayam dan 1,5 t ha-1 NPK dengan pupuk kotoran ternak sapi menunjukkan hasil panen yang terbaik dan tidak berbeda dengan 2 t ha-1.
PENGARUH PERBEDAAN POLA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TEMULAWAK (Curcuma xanthorizha Roxb.) PADA POLA TANAM TUMPANGSARI DENGAN UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) Agwi, Szatayu Nabila; Barunawati, Nunun; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 7 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/491

Abstract

Rendahnya minat petani untuk menanam temulawak disebabkan temulawak memiliki umur panen yang panjang dan jarak tanam yang lebar sehingga temulawak tidak ditanam sebagai tanaman utama. Bagi petani lebih menguntungkan menanam tanaman pangan seperti ubi jalar  sehingga penerapan pola tanam tumpangsari temulawak dengan ubi jalar dapat dijadikan solusi untuk masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola tanam yang terbaik dan paling menguntungkan dalam sistem tumpangsari antara temulawak dengan ubi jalar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga September 2015 di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Desa Jatikerto Kabupaten Malang, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan menggunakan 6 perlakuan pola tanam, yaitu: P1= row cropping temulawak - ubi jalar, P2= strip cropping temulawak - ubi jalar, P3= row relay cropping temulawak - ubi jalar, P4= strip relay cropping temulawak - ubi jalar, P5 = row relay cropping ubi jalar - temulawak dan P6= strip relay cropping ubi jalar-temulawak dan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pola tanam pada sistem tumpangsari temulawak dan ubi jalar memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil temulawak dan ubi jalar. Perlakuan pola tanam row relay dan strip relay (T-UJ) lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya pada seluruh parameter pengamatan temulawak. Perlakuan pola tanam strip relay (T-UJ) meningkatkan hasil temulawak sebesar 13.7% dibandingkan pola tanam row relay (T-UJ). Nilai R/C rasio pola tanam strip relay (T-UJ) memiliki pendapatan tertinggi pada temulawak dengan nilai 2.92.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS (Zea mays L. saccharata) DALAM SISTEM TUMPANGSARI DENGAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) Wahyuni, Pipit; Barunawati, Nunun; Islami, Titiek
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 8 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/508

Abstract

Kebutuhan jagung manis di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, namun produksinya belum dapat mencukupi permintaan pasar. Upaya dalam mengembangkan jagung manis untuk meningkatkan hasil perlu dilakukan. Tujuan ini adalah untuk mengetahui pola tanam yang tepat pada tanaman jagung manis yang ditumpangsarikan dengan kacang hijau. Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah di Desa Pehwetan Kecamatan Papar Kabupaten Kediri pada Juni  sampai dengan bulan September 2015. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Ortogonal Kontras terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan : J : Jagung manis monokultur, K : Kacang hijau monokultur, P1 : Jagung manis baris tunggal tumpangsari, P2 : Jagung manis baris ganda, P3 : jagung manis baris tiga tumpangsari, P4 : jagung manis baris empat tumpangsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jagung manis barisan tunggal dalam tumpangsari dengan kacang hijau (P1) mampu menghasilkan luas daun jagung manis, tinggi tanaman kacang hijau, jumlah cabang produktif, dan luas daun tanaman kacang hijau lebih tinggi dari perlakuan lain dan dapat meningkatkan hasil tongkol jagung manis mencapai 19,24 ton ha-1 serta hasil kacang hijau mencapai 1,92 ton ha-1. Berdasarkan Nilai NKL semua perlakuan pada sistem tumpangsari menghasilkan nilai lebih dari 1, yang artinya secara umum memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas lahan.
RESPONS HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays L. saccharata) TERHADAP PEMBERIAN KCl DAN PUPUK KOTORAN AYAM Wibowo, Aris Satriyo; Barunawati, Nunun; Maghfour, Mochammad Dawam
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 8 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/517

Abstract

Produktivitas jagung manis di Indonesia masih rendah yaitu rata-rata 6-8 ton ha-1. Pemupukan adalah salah satu upaya meningkatkan produksi dan kualitas jagung manis. Dewasa ini penggunaan pupuk anorganik berlebihan dapat mengakibatkan produktivitas lahan menurun. Salah satu usaha memperbaiki kesuburan tanah adalah dengan pemberian bahan organik. Penelitian ini untuk meningkatkan hasil dan kualitas jagung manis melalui pemberian kombinasi pupuk KCl dan pupuk kotoran ayam. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk dengan jenis tanah latosol. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama, dosis pupuk KCl yang terdiri dari 4 taraf yaitu: 0 kg ha-1 KCl (P0), 100 kg ha-1 KCl (P1), 150 kg ha-1 KCl (P2), 200 kg ha-1 KCl (P3). Faktor kedua, dosis pupuk kotoran ayam dengan 4 taraf yaitu: Pupuk kotoran ayam 0 ton ha-1 (A0), Pupuk kotoran ayam 5 ton ha-1 (A1), Pupuk kotoran ayam 10 ton ha-1 (A2), Pupuk kotoran ayam 20 ton ha-1 (A3). Diperoleh 16 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pupuk KCl 150 kg ha-1 dan pupuk kotoran ayam 20 ton ha-1 dapat menghasilkan luas daun, bobot segar tanaman dan bobot kering total tanaman yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lain dan dapat meningkatkan hasil tongkol jagung manis mencapai 14,72 ton ha-1. Pemberian KCl 200 kg ha-1 dapat meningkatkan kadar gula jagung manis mencapai 170brix.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) VARIETAS PERMATA TERHADAP DOSIS PUPUK KOTORAN AYAM DAN KCL Mariani, Sekty Denny; Koesriharti, Koesriharti; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 9 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/533

Abstract

Produksi  buah tomat sementara ini belum diikuti oleh kualitas yang dihasilkan, misalnya ketahanan terhadap penyakit dan ukuran buah yang rendah keseragamannya. Seperti di ketahui juga bahwa bahan organik dapat memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah. Oleh karena itu, penerapan bahan organik dapat menyerap mineral di rizosfer. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga bulan Juni 2015 di green house milik Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan, faktor pertama adalah dosis pupuk kotoran ayam (K) yang terdiri dari 3 taraf: K0 = 0 ton ha-1, K1 = 5 ton ha-1 dan K2 = 10 ton ha-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk KCl (P) yang terdiri dari 4 taraf: P1 = 60 kg K2O    ha-1, P2 = 90 kg K2O ha-1, P3 = 120 kg K2O ha-1 dan P4 = 150 kg K2O ha-1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada  interaksi antara perlakuan dosis pupuk kotoran ayam dan dosis pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Namun, perlakuan pupuk kotoran ayam dengan dosis 10 ton ha-1 mampu meningkatkan jumlah buah panen per tanaman dan diameter buah. Pada pemberian pupuk KCl dengan dosis 150 kg K2O ha-1 meningkatkan jumlah buah panen per tanaman.
PENGARUH PEMBERIAN PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTRIA (PGPR) DAN PUPUK KOTORAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) Priasmoro, Yuda Pangestu; Tyasmoro, Setyono Yudo; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 11 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/574

Abstract

Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman kacang-kacangan yang dikonsumsi sebagai sayuran. Produksi kacang buncis dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.  Namun produksi belum mampu memenuhi permintaan konsumen, oleh karena itu beberapa usaha agronomi yang dapat dilakukan untuk meningkatan bahan organik misalnya dengan pemberian pupuk kotoran ayam dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Juli 2015. Tempat pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilakukan di rumah kaca Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP), Lawang, Kab Malang, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan PGPR dan pupuk kotoran ayam pada bobot kering tanaman, bobot kering akar serta bobot bintil akar. Pemberian pupuk kotoran ayam dengan dosis 5 t ha-1 menunjukan hasil yang optimal dibandingkan perlakuan lainnya pada jumlah polong dan berat segar polong. Pemberian PGPR berbagai dosis tidak menunjukan pengaruh nyata terhadap berbagai parameter pertumbuhan dan hasil buncis.
MULTIPLIKASI KULTUR MERISTEM STROBERI KULTIVAR EARLIBRITE DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI HORMON BAP DAN KINETIN Bimantara, Dhimas Sigit; Maghfoer, Mochammad Dawam; Barunawati, Nunun; Yenni, Yenni; Siregar, Ahmad Syahrian
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.01 KB) | DOI: 10.21776/663

Abstract

Ketersediaan bibit stroberi berkualitas dan bebas penyakit masih terbatas di Indonesia. Perbanyakan in vitro merupakan salah satu alternatif penyediaan bibit stroberi dalam jumlah besar dan bebas dari penyakit serta virus. Perbanyakan in vitro membutuhkan media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan agar dapat beregenerasi secara optimal. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi terbaik diantara penggunakan sitokinin BAP dan Kinetin terhadap pembentukan tunas dan induksi planlet pada stroberi kultivar Earlibrite. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2015 di laboratorium kultur jaringan balai penelitian jeruk dan buah subtropika (BALIJESTRO), Tlekung, kota Batu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 kali ulangan dan 2 ulangan cadangan. Perlakuan terdiri dari BAP dan Kinetin masing-masing pada konsentrasi 0,25, 0,50, 0,75 dan 1,00 mg/L serta kontrol. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan BAP dengan konsentrasi 0,5+ NAA 0,025 mg/L memberikan hasil terbaik terhadap jumlah tunas dan jumlah daun. Sedangkan perlakuan Kinetin dengan konsentrasi 1,00 + NAA 0,025 mg/L memberikan hasil terbaik dalam pembentukan formasi perakaran, diameter klaster dan tinggi planlet stroberi.
PENGARUH DOSIS KOMPOS DAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) VARIETAS DTO 28 DI DATARAN MEDIUM Salori, Agy; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.162 KB) | DOI: 10.21776/716

Abstract

Produksi nasional kentang tahun 2013-2014 relatif tidak meningkat, sebesar 1.12-1.21 juta ton, dengan produktivitas sebesar 16.02 ton ha-1 (Kementerian Pertanian, 2015). Upaya meningkatkan produksi kentang adalah pengembangan budidaya di dataran medium, serta pemberian bahan organik dapat menambah unsur hara bagi tanaman termasuk Fosfor yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan tanaman kentang. Penelitian ini bertujuan mendapat-kan dosis kompos pada pemberian dosis fosfor yang optimum untuk pertumbuhan dan hasil kentang di dataran medium. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2016 di Desa Klino, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan dosis fosfor dilakukan dengan 4 taraf yaitu 50 kg P2O5 ha-1 (S1), 100 kg P2O5 ha-1 (S2), 150 kg P2O5 ha-1 (S3) dan 200 kg P2O5 ha-1 (S4), serta 2 taraf dosis kompos yaitu 10 ton ha-1 (B1) dan 20 ton ha-1 (B2) Terdapat 8 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan dosis fosfor dan dosis kompos pada parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Dengan pemberian dosis kompos 10 ton ha-1, perlakuan dosis fosfor 50 kg P2O5 ha-1, 100 kg P2O5 ha-1 dan 200 kg P2O5 ha-1 menghasilkan bobot umbi panen total (ton ha-1) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan 150 kg P2O5 ha-1. Sedangkan dengan pemberian dosis kompos 20 ton ha-1, perlakuan dosis fosfor 200 kg P2O5 ha-1 memperoleh bobot umbi panen total tertinggi dibandingkan perlaku-an 50 kg P2O5 ha-1, 100 kg P2O5 ha-1 dan 150 kg P2O5 ha-1.
PENGARUH DOSIS KOMPOS DAN KCL PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) VARIETAS NADIA Zakariyah, Nur Fahmi; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.751 KB) | DOI: 10.21776/725

Abstract

Produksi kentang di dataran tinggi mengalami penurunan, oleh karena itu perlu upaya untuk meningkatkannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interaksi pemberian kombinasi kompos dan pupuk KCl dalam peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kentang varietas Nadia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2016, di Desa Klino, Bojonegoro, dengan ketinggian 750 mdpl. Penelitian menggunaan metode Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan 2 faktor yakni kompos yang terdiri dari 2 taraf: 10 ton ha-1 (K1), 20 ton ha-1 (K2) dan pupuk KCl yang terdiri dari 4 taraf: 100 kg KCl ha-1 (P0), 150 kg KCl ha-1 (P1), 200 kg KCl ha-1 (P2), 250 kg KCl ha-1 (P4). Terdapat 8 kombinasi perlakuan dan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi antara dosis pupuk KCl dan dosis kompos pada jumlah daun, jumlah batang, tinggi tanaman, luas daun, total klorofil jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman, bobot umbi per petak, bobot umbi panen total. Kombinasi perlakuan kompos 10 ton ha-1 dengan dosis pupuk KCl  250 kg ha-1 menghasilkan rerata yang baik di dalam beberapa perlakuan, sementara itu perlakuan kompos 20 ton ha-1 menghasil-kan rerata yang baik dengan dosis KCl 150 kg ha-1.
PENGARUH KONSENTRASI GA3DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAPPEMECAHAN DORMASI DAN PERTUMBUHAN GLADIOL (Gladiolus hybridus L.) VARIETAS HOLLAND MERAH Bajafitri, Amul Heksa; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/771

Abstract

Gladiol (Gladiolus hybridus L.) merupakan komoditas bunga potong potensial karena memiliki nilai estetika dan ekonomis yang tinggi. Namun, berdasarkan data BPS, produksi gladiol sebagai bunga potong sejak tahun 2010 terus mengalami penurunan. Hal Tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya dormansi pada subang gladiol yang digunakan sebagai bahan tanam. Salah satu cara kimia yang dianggap mampu untuk mempercepat berakhirnya masa dormansi adalah dengan aplikasi GA3. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi GA3 dan lama perendaman terhadap pemecahan dormansi dan pertumbuhan gladiol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Juli 2016 di greenhouse di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan GA3 dilakuakan dengan menggunakan6 taraf konsenrasi yaitu 0 mL/L (K0), 50 mL/L (K1), 75 mL/L (K2), 100 mL/L (K3), 125 mL/L (K4) dan 150 mL/L (K5), serta 2 taraf lama perendaman yaitu 24 jam (L1) dan 48 jam (L2). Terdapat 12 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi GA3 dan lama perendaman pada parameter waktu muncul tunas, panjang tunas dan tinggi tanaman pada umur pengamatan 28 HST. Perlakuan kosentrasi GA3 75mL/L menghasilkan rerata panjang tanaman terbaik dan waktu muncul bunga tercepat diantara semua perlakuan. Sementara itu, perlakuan lama perendaman 24 jam menghasilkan rerata panjang tanaman, jumlah daun dan waktu muncul bunga yang lebih baik dibandingkan perlakuan lama perendaman 48 jam.