Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Gambaran Manajemen Nyeri Post Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) Nuraeni, Novi Yulianti; Yudono, Danang Tri; Sumarni, Tri; Susanto, Amin
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 6 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10652566

Abstract

Sectio caesarea (SC) merupakan proses melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus. Teknik anestesi spinal dan epidural menjadi pilihan. Masalah post SC yaitu nyeri akibat insisi pembedahan. Manajemen nyeri dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Ditemukan metode baru sebagai upaya penanganan masalah pada pasien SC yaitu metode Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Manajemen Nyeri Post Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS). Penelitian dilaksanakan di RSI Fatimah Cilacap. Metode penelitian ini adalah desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 18 responden. Instrumen penelitian lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen nyeri 2 jam post ERACS secara Farmakologi paling banyak menggunakan analgesia multimodal yaitu kombinasi Ketorolac, Tramadol, Fentanyl dengan 13 responden (72,2%). Secara non farmakologi pasien melakukan mobilisasi dini pada level 1 yaitu 17 responden (94,4%), dan tercepat mobilisasi level 2 dengan 1 responden (5,6%).
Gambaran Kejadian Shivering Pada Pasien Dengan Tindakan Operasi Yang Menggunakan Anestesi Spinal di RSUD Cilacap Amiarti, Winda; Yudono, Danang Tri; Sumarni, Tri; Susanto, Amin
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 6 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10657235

Abstract

Teknik anestesi spinal tetap populer untuk prosedur operasi. Terlepas dari kenyataan bahwa banyak pasien melaporkan komplikasi setelah anestesi spinal. Shivering adalah masalah paling umum yang muncul. Shivering adalah respons fisiologis yang normal, hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien dan berpotensi menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen karena otot-otot tubuh bekerja lebih keras. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran kejadian shivering pada pasien dengan tindakan operasi yang menggunakan anestesi spinal di RSUD Cilacap. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif, deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 66 responden dengan teknik sampel consecutive sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas kejadian shivering terjadi pada: Usia lanjut akhir dengan 21 responden, laki-laki dengan 37 responden, pada 42 responden berat badan normal, jenis tindakan operasi mayor 47 responden, 45 responden pada lama operasi sedang, dan 25 responden mengalami kejadian shivering derajat 2.
Gambaran Pelaksanaan Patient Safety Di Ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) RSUD Brebes Azkiyah, Isnaeni Maulina; Suandika, Made; Yudono, Danang Tri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 7 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11159874

Abstract

The impact of inaccurate diagnosis codes is a decrease in the quality of hospital services, payment of INA-CBG's tariff claims that will hamper payment, inaccurate morbidity, mortality, and hospital statistics reports. The research was conducted at RSIJ Cempaka Putih. The purpose of this study was to identify the SPO of disease and action codes, analyze the accuracy of the diagnosis code of pulmonary tuberculosis disease for inpatients, and identify the causes of inaccurate diagnosis codes of pulmonary tuberculosis disease for inpatients. The research method used was descriptive method with quantitative approach. The population amounted to 658 medical records with a sample of 96 medical records. The sample was determined using the slovin formula. SPO for diagnosis and action coding has generally been running. The results showed that there were 46 medical records (48%) with the correct diagnosis code, 25 medical records (26%) with incorrect 3rd digit, 20 medical records (21%) with incorrect 4th digit, 5 medical records (5%) with incorrect 3rd digit and 4th digit. Factors causing inaccurate diagnosis codes are found in the man factor, in this case the coder does not pay attention to the accuracy of the notes detailing the accuracy of coding in ICD-10. Material factors, the unavailability of coding tools such as medical dictionaries and ICD-10 books. Method factors, the SPO has not specifically described the steps of how to code.
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Nyeri Kepala Pasca Tusukan Dural Pada Pasien Anestesi Spinal di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun Yurindani, Nabila Azizah; Suandika, Made; Yudono, Danang Tri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 7 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11188939

Abstract

Tujuan: Kasus komplikasi anestesi spinal adalah sakit kepala pasca tusukan dura (PDPH), dengan angka kejadian berkisar antara 0,5-25%. dengan faktor timbulnya PDPH antara lain usia, jenis kelamin, BMI, karakteristik jarum, teknik penusukan, penusukan berulang, riwayat PDPH sebelumnya. Biasanya muncul 6-12 jam setelah anestesi tulang belakang. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor kejadian nyeri kepala pasca pungsi dura pada pasien anestesi tulang belakang di RS Bedah Khusus Jatiwinangun. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang berjumlah 55 responden, dengan teknik pengambilan sampel konsekutif. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil: Hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa ukuran jarum, pengulangan penusukan dan usia mempunyai pengaruh terhadap kejadian nyeri kepala pasca pungsi dura pada pasien anestesi tulang belakang dengan hasil usia p-value 0,007 OR 6,606, ukuran jarum p -nilai 0,007 ATAU 16,873, penusukan berulang p-value 0,42 ATAU 15,252. Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran jarum mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kejadian nyeri kepala pasca pungsi dura pada pasien anestesi tulang belakang di RS Bedah Khusus Jatiwinangun Purwokerto. Kesimpulan : Penggunaan ukuran jarum dan penusukan yang berulang diharapkan dapat lebih diperhatikan agar timbulnya komplikasi PDPH tidak terus terjadi dan dapat menurunkan angka komplikasi pada pasien anestesi tulang belakang.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN PRE OPERASI DENGAN SPINAL ANESTESI DI RSUD DR. SOEDIRMAN KEBUMEN Saputra, Jihan; Yudono, Danang Tri; Novitasari, Dwi; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11178627

Abstract

Peningkatan tekanan darah yang terjadi sebelum operasi dapat menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh, Perubahan tekanan darah pada pemberian anestesi spinal dapat terjadi karena beberapa faktor seperti status psikologis pasien. Status psikologis pasien dalam hal ini berkaitan dengan kecemasan pasien. Kecemasan akan mengakibatkan hiperaktivitas saraf simpatis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini menggunakan desain survei studi korelasional dan cross sectional sebagai pendekatannya. Pasien operasi dengan spinal dan general anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen sebanyak 116 responden dijadikan sebagai responden menggunakan teknik consecutive sampling. Alat yang digunakan untuk mendapatkan data yaitu lembar kuesioner. Analisis dilakukan dengan spearman rank. Penelitian ini menunjukkan karakteristik pasien pre operasi paling banyak responden memiliki usia kategori dewasa awal (26-35 tahun) (39.7%), memiliki jenis kelamin laki-laki (52.6%), dan memiliki status gizi normal (59.5%). Kecemasan pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi memiliki rata-rata skor kecemasan adalah 22.37. Tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi memiliki rata-rata tekanan darah sistolik adalah 143.28 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 88.59 mmHg. Hasil uji spearman rank didapatkan nilai p value 0.000 dan 0.001 < 0.05. Kesimpulan ada hubungan kecemasan dengan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen.
GAMBARAN HEMODINAMIK PRE DAN PASCA SPINAL ANESTESI PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA KABUPATEN PURBALINGGA Putri, Ferra Ayu Apriliya; Yudono, Danang Tri; Suandika, Made; Susanto, Amin
JURNAL PENELITIAN TERAPAN KESEHATAN Vol 11 No 2 (2024): JURNAL PENELITIAN TERAPAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jptk.v11i2.811

Abstract

Proses melahirkan mengandung resiko bagi ibu dan janinnya. Salah satu bahaya yang dapat muncul sebagai akibat dari penggunaan anestesi selama operasi Sectio Caesaria adalah perubahan hemodinamik dalam tubuh ibu. Hal ini mengakibatkan kebutuhan akan pemantauan hemodinamik sebelum dan setelah anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan guna memperoleh gambaran terkait hemodinamik sebelum dan sesudah spinal anestesi serta untuk mengetahui demografi dari seorang ibu. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif berpendekatan cross-sectional dan bersifat survey deskriptif. Sample 60 pasien SC dan metode pengambilan data dengan menggunakan total sampling. Penelitian menggunakan lembar observasi dan dikumpulkan dalam master tabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan hemodinamik tetapi tidak signifikan, seperti tekanan sistolik dengan persentase penurunan (15,53%), tekanan diastolik dengan persentase penurunan (15,94%), MAP dengan persentase penurunan (16,12%), denyut nadi dengan persentase penurunan (1,75%), pernapasan dengan persentase penurunan (2,38%), saturasi oksigen dengan persentase penurunan (0,12%). Kesimpulan pada analisis ini ada perubahan hemodinamik sebelum dan setelah spinal anestesi diberikan kepada pasien operasi caesar tetapi tidak signifikan yang artinya masih dalam batas normal. Kata kunci: Sectio Caesarea, Spinal Anestesi, dan Perubahan Hemodinamik.
DURASI PENCAPAIAN TAHAPAN ANESTESI PADA GENERAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT Syaiban, Muhammad; Budi, Martyarini; Yudono, Danang Tri
Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Vol 17, No 2 (2025): Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/bi.v17i2.1523

Abstract

Latar Belakang: Anestesi umum merupakan suatu tindakan yang bertujuan menghilangkan nyeri, membuat tidak sadar dan menyebabkan amnesia yang bersifat reversible dan dapat diprediksi, anestesi umum menyebabkan hilangnya ingatan saat dilakukan pembiusan dan operasi sehingga saat pasien sadar pasien tidak mengingat peristiwa pembedahan yang dilakukan. Pemberian anestesi bagi pelaksanaan pembedahan adalah upaya menghilangkan nyeri dengan sadar (spinal anestesi) atau tanpa sadar (anestesi umum) guna menciptakan kondisi optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran durasi pencapaian tahapan anestesi pada general anestesi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan di RS Muhammadiyah Palembang pada bulan April – Juli 2025. Populasi adalah seluruh klien dengan tindakan general anestesi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang berjumlah 152 orang responden. Hasil : Hasil yang didapatkan sebagian besar responden berusia 19 - 59 tahun 76 responden (50,3%), jenis kelamin perempuan 77 responden (50,7%), berpendidikan SMA 70 responden (46,1%), jenis penyakit bedah umum 81 responden (53,3%). Pada durasi tahapan anestesi stadium I sebagian besar lambat yaitu 122 responden (80,3%), Stadium II cepat sebanyak 147 responden (96,7%), dan stadium III cepat sebanyak 148 responden (97,4%). Saran : Bagi institusi rumah sakit diharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan acuan dasar untuk menganalisa mutu pelayanan penata anestesi khususnya pada pelaksanaan tindakan anestesi.Kata kunci : Anestesi Umum, Tahapan Anestesi, Durasi Anestesi
Association between patient age and hypotension following spinal anesthesia in general surgical patients: Association Between Patient Age and Hypotension Alwan, Nabila; Novitasari, Dwi; Yudono, Danang Tri
Riset Informasi Kesehatan Vol 15 No 1 (2026): Riset Informasi Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/rik.v15i1.1025

Abstract

Hubungan Tekanan Darah & Lama Operasi Dengan Kejadian Hipotermi Pada Pasien Spinal Anestesi Di Rsi Purwokerto Kilbaren, Sulfani Fitri; Yudono, Danang Tri; Surtiningsih, Surtiningsih
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 3.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipotermi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca operasi, terutama pada pasien yang mendapatkan anestesi spinal. Hipotermi dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti gangguan hemodinamik, perdarahan, dan penyembuhan luka yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah dan lama operasi dengan kejadian hipotermi pada pasien spinal anestesi di RSI Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 95 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan darah dengan kejadian hipotermi (p > 0,542), sedangkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dengan kejadian hipotermi (p < 0.000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa lama operasi memiliki pengaruh terhadap kejadian hipotermi, sedangkan tekanan darah tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Hasil ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat anestesi, dalam memantau durasi operasi serta mempertahankan suhu tubuh pasien selama prosedur anestesi spinal agar mencegah terjadinya hipotermi intraoperatif.
Gambaran Perbedaan Hemodinamik Non Invasif Pasien Operasi Bedah Dengan General Dan Regional Anestesi Di RSI Purwokerto Fernando, Marcel; Yudono, Danang Tri; Surtiningsih, Surtiningsih
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i3.22483

Abstract

Perubahan hemodinamik yang tidak terkendali selama anestesi dapat menimbulkan risiko serius pada pasien bedah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan parameter hemodinamik non-invasif antara pasien bedah yang menjalani anestesi umum dan anestesi regional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. yang dilakukan di Rumah Sakit Islam Purwokerto. Sebanyak 150 pasien bedah dimasukkan menggunakan teknik purposive sampling. Mayoritas responden berusia 50–59 tahun (30,7%), sebagian besar perempuan (54%), dan diklasifikasikan sebagai status fisik ASA II (54,7%).Pada kelompok anestesi umum, tekanan darah sistolik/diastolik menurun dari 141/81 mmHg menjadi 118/68 mmHg. Denyut jantung menurun bertahap dari 90 bpm menjadi 85 bpm, frekuensi napas menurun dari 21 menjadi 19 x/menit, suhu tubuh sedikit turun dari 36,4°C menjadi 36,3°C, SpO₂ tetap stabil pada 99,2% hingga 99,1%, dan MAP menurun dari 100 mmHg menjadi 83 mmHg. Pada kelompok anestesi regional, tekanan darah menurun dari 142/83 mmHg menjadi 121/71 mmHg, denyut jantung menurun dari 85 bpm menjadi 61 bpm, frekuensi napas tetap stabil pada 21 hingga 20 x/menit, suhu tubuh tetap 36,3°C, SpO₂ tetap 99%, dan MAP menurun sedikit dari 100 mmHg menjadi 89 mmHg.Anestesi regional menunjukkan stabilitas hemodinamik yang lebih baik pada fase awal anestesi dibanding anestesi umum, terutama pada denyut jantung dan tekanan arteri rata-rata.