Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Dominant Factors Affecting HIV AIDS Prevention In The Village “X” Bongas District Of Indramayu In 2023 Wardani, Siti Pangarsi Dyah Kusuma; Astuti, Nur Mega; Nuraeni, Tating
Gema Wiralodra Vol. 15 No. 3 (2024): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gw.v15i3.704

Abstract

Data from the health service of Indramayu district in 2021 showed that the number of cases of HIV AIDS was 4,849 per incidence in Indramayu district, with the highest cases in Bongas district being 392. The research was conducted in the village "X" in Bongas district. This study aims to identify the factors that most influence HIV AIDS prevention attitudes. The subject of the research was the entire village community "X", consisting of 5,553 people with a sample of 100 people, and using a cross-sectional research design and continued with multivariate modeling. Data collection method using a questionnaire. Multivariate data analysis with double logistic regression, univariate with chi square and fisher exact tests, and bivariate tests. Based on the results obtained from respondents with an environmental culture of good HIV/AIDS prevention attitude 38 (32.2), p-value (0.018), respondents who have good social communications related to AIDS HIV prevention stance 60 (58.9) with p-valu (0.279), respondents whose friendship related to HIV AIDS prevention posture is good 49 (42.2) with a p- value (0,003), respondents having knowledge related to a good AIDS HIV-prevention stance 56 (48.4) with a P-valure (0,000), respondants who are exposed to media information about HIV/aids preventive stance 50 (49.0) with the p- value (0.606), respondents have experience with a good HIV-AIDS preventative attitude 50 (44.0) with p -value ( 0,007). There is an influence of environmental culture, friendships, knowledge, and experience on the attitude of HIV AIDS prevention, there is no influence on social communications on the approach of AIDS HIV prevention. Environmental cultural factors are the most dominant factors. Other research is expected to further refine the social capital approach to HIV/AIDS.
Analisis Parameter Fisik Air Sumur sebagai Sumber Air Bersih di Desa Singaraja Kabupaten Indramayu Tahun 2024: Analisis Parameter Fisik Air Sumur sebagai Sumber Air Bersih di Desa Singaraja Kabupaten Indramayu Tahun 2024 Najmalia, Risa Nurun; Nuraeni, Tating; Nisa, Roifatun; Fitriyah, Sukhriyatun
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2024): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afiasi.v9i3.427

Abstract

Pada tahun 2019 sekitar 3,21% rumah tangga di Kabupaten Indramayu masih menggunakan air sumur sebagai sumber air minum dengan jumlah penduduk yang memiliki akses air minum dengan risiko rendah dan sedang yaitu 52,1%. Di Desa Singaraja Kabupaten Indramayu, masih banyak rumah-rumah yang memiliki sumur dengan jarak yang dekat dengan sumber pencemar seperti tempat pembuangan limbah, jamban, septic tank, kandang binatang ternak, dan sebagainya. Kondisi ini dapat menimbulkan risiko pencemaran pada sumber air yang dapat berdampak negatif pada kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Parameter Fisik (Suhu, Total Dissolved Solid, dan Bau) Air Sumur sebagai Sumber Air Bersih Di Desa Singaraja Kabupaten Indramayu Tahun 2024. Metode Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling dengan kriteria yang telah ditentukan. Hasil pengukuran parameter suhu air pada 38 sampel (100%) telah sesuai dengan standar baku mutu. Pada pengukuran parameter Total Dissolved Solid (TDS) didapatkan hasil, 36 sampel (95%) air sumur tidak sesuai dengan standar baku mutu, sementara 2 sampel (5%) lainnya sesuai dengan standar baku mutu. Sedangkan untuk pengukuran parameter bau pada air sumur diperoleh 8 sampel (21%) tidak sesuai dengan standar baku mutu dan 30 sampel (79%) lainnya telah sesuai dengan standar baku mutu dari Permenkes RI No. 2 Tahun 2023.
Health Literacy Model to Improve Adolescent Reproductive Health Nuraeni, Tating; Okvitasari, Yenny; Judijanto, Loso; Setianti, Yanti; Ulfah, Bardiati; Aisa, Sitti
Oshada Vol. 2 No. 3 (2025): Oshada Journal - June
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/3hpd8t83

Abstract

Adolescent reproductive health is an important aspect of public health development in Indonesia, where many adolescents face challenges in accessing accurate information and health services. Lack of reproductive health education, cultural stigma, and limited access to health services exacerbate this problem, so comprehensive sexual education (CSE) and improvements in service delivery are needed. The development of a health literacy model that utilizes digital tools and educational resources is essential to empower adolescents to make informed decisions and reduce risks related to early sexual activity and other reproductive health problems.This study employs a mixed-methods approach, combining qualitative and quantitative techniques. The first stage uses Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) to test the impact of various factors on adolescent reproductive health literacy, while the second stage applies qualitative analysis using the Miles and Huberman Model to gain deeper insights into the collected data. The results of the study stated that the Adolescent Reproductive Health Literacy model through a factor-based approach that affects reproductive health literacy has the potential to increase adolescents' understanding of sexual and reproductive health. With a focus on key components such as the Kesprorem Team, Media Literacy Program, Reproductive Health Media Production, Adolescent Reproductive Health Campaign, and Reproductive Health Research, the program is expected to have a positive impact on adolescents at the village and school levels. Interrelated factors, such as knowledge, attitudes, media access, social support, policies, and technological innovations, work together to create an ecosystem that supports adolescent reproductive health literacy.
PENGARUH METODE HANDWASHING DANCE TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU CUCI TANGAN PADA SISWA SD NEGERI TUNAS HAARAPAN DESA LOSARANG TAHUN 2023 Fitriyah, Sukhriyatun; Nuraeni, Tating; Purbaningrum, Dwi Nur
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11 No 1 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v11i1.832

Abstract

Latar belakang: Salah satu tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit yang menjadi program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah menurut pemerintah adalah cuci tangan. Pada tahun 2021 data masyarakat ber-PHBS di Kabupaten Indramayu sebesar 50,59% dimana angka tersebut cukup rendah dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat (Dataset Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2021). Data BPS menunjukan presentase kepatuhan masyarakat dalam mencuci tangan yaitu sebesar 75,38% (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2021). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Handwashing Dance pada siswa SD Negeri Tunas Harapan. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif yaitu metode quasi eksperimental dengan desain one group pre-test post-test. Teknik pengambilan sampel menggunakan disproposionate stratified random sampling dan didapatkan 100 sampel yang terbagi di setiap kelas. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi, lembar Pre-tes and Post-test. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Wilcoxon. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian sebelum diberikan perlakuan untuk tingkat pengetahuan memiliki kategori Baik sebanyak 10%, Cukup 68% dan Kurang 22%. Sikap responden sebelum perlakuan dengan kategori Baik sebanyak 24%, Cukup 59% dan Kurang 17%. Perilaku responden sebelum perlakuan dengan kategori Baik sebanyak 8%, Cukup 70% dan Kurang 22%. Setelah diberikan perlakuan terjadi perubahan tingkat pengetahuan dengan kategori Baik sebanyak 27%, Cukup 53%, dan Kurang 20%. Sikap responden setelah perlakuan dengan kategori Baik sebanyak 28%, Cukup 59%, dan Kurang 9%. Perilaku responden setelah perlakuan didapatkan hasil dengan kategori Baik 22%, Cukup 76%, dan Kurang 2%. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p-value
The Reappearance of Menstruation After Childbirth Associated with Contraceptive Use Among Women of Reproductive Age in Kyrgyzstan Nuraeni, Tating; Yunus, Mohd; Supriatin, Supriatin
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 23 No 3 (2025): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol23.Iss3.2014

Abstract

The return of menstruation after childbirth is an important aspect of women's reproductive health, especially in the context of contraceptive use. This study aims to explore how the return of menstruation after childbirth is closely connected to contraceptive use, with various factors such as age, marital status, region, place of residence, education level, ethnicity, and wealth index in Kyrgyzstan playing a role.  This study employed secondary data from the Kyrgyzstan 2023 Multiple Indicator Cluster Survey (MICS), focusing on women of reproductive age (15-49 years). The analysis utilized a final sample of 1.059 women and applied binary logistic regression to examine the relationship between contraceptive use and the return of menstruation after childbirth while controlling for factors such as age, marital status, region, education level, ethnicity, and wealth index. The study found that among 1.059 women who had given birth, 30.88% were using contraceptive methods, and 64.68% experienced the return of menstruation post-childbirth. The multivariate analysis indicates that menstrual return after giving birth, having marital status formerly married/in union, in Naryn, Talas, and Chui region, and having the richest wealth index significantly influence contraceptive use among women of reproductive age. These results underscore the importance of comprehensive sexual health education, improved healthcare services, and targeted communication strategies to increase contraceptive use in the region.                              
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Computer Vision Syndrome (CVS) pada pegawai PT. Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan Sutangi, Sutangi; Amelia, Kiki Rizki; Nuraeni, Tating
Gema Wiralodra Vol. 14 No. 1 (2023): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gw.v14i1.368

Abstract

Menurut WHO pada tahun 2018 sebanyak 285 juta orang atau 4,24% dari total populasi di dunia mengalami gangguan penglihatan berupa low vision ketajaman penglihatan yang rendah dan kebutaan dengan distribusi sebesar 246 juta orang atau 65% dari populasi tersebut mengalami low vision, sedangkan di Indonesia diperkirakan sejumlah 3 juta orang mengalami gangguan penglihatan. Tujuan penelitian yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian computer vision syndrome (CVS) pada pegawai PT. Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Populasi target pada penelitian ini adalah 45 pegawai pengguna komputer di PT. Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian diperoleh jenis kelamin (p=0,000), durasi penggunaan komputer (p-=0,000), penggunaan kacamata (p=0,005) terdapat hubungan dengan kejadian computer vision syndrome (CVS) dan jarak penglihatan pandang mata terhadap komputer (p=0,221) tidak terdapat hubungan dengan kejadian CVS pada pegawai PT. Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan Tahun 2022. Bagi perusahan sebaiknya membuat poster/stiker bergambar yang perlu dilakukan sesuai SOP dalam menggunakan komputer seperti posisi duduk yang baik, serta jarak pandang, dan sebagainya.
Identifikasi Potensi Bahaya Bekerja di Ketinggian (Working at Height) pada Pekerja Repainting di PT. X Tahun 2023 Wardani, Siti Pangarsi Dyah Kusuma; Savira, Intan; Nuraeni, Tating
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2024): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afiasi.v9i2.289

Abstract

Bekerja di ketinggian (working at height) merupakan suatu kegiatan yang dikategorikan sebagai pekerjaan dengan resiko tingi, berdasarkan laporan Labour Force Survey (LFS2) UK, penyebab terjadinya kecelakaan yang berdampak pada cidera serius dan kematian adalah terjatuh dari atas ketinggian dan sebagian besar terjadi pada pekerja bidang konstruksi. Sebagai upaya pengendalian risiko kecelakaan kerja, perlu diidentifikasi potensi bahaya yang ada serta dilakukan pengendalian yang memadai. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus (case study). Informan berjumlah 4 orang. Teknik pengambilan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik analisis pengolahan data yang digunakan yaitu transkripsi, koding, kategorisasi, review tema/ pattern matching, mendefinisikan dan menamai tema serta membuat akhir tema. Identifikasi potensi bahaya pekerjaan di ketinggian pada proyek repainting di PT. X adalah potensi bahaya mekanis berupa drop object dan tali lanyard terlilit pada pipa scaffolding. PT. X agar lebih memperhatikan proteksi terhadap berbagai potensi bahaya yang terdapat dalam proyek repainting dengan menyediakan safety net untuk melindungi pekerja dari potensi bahaya drop object. PT. X menyediakan sebuah media alat berupa skylift truck untuk lebih memastikan keamanan pekerja saat melakukan perpindahan posisi saat mengecat, sehingga potensi untuk terpeleset dan terlilit tali lanyard dapat diminimalisir. Peneliti selanjutnya dapat melengkapi dokumen yang diperlukan untuk penelitian dengan tema identifikasi potensi bahaya.Kata kunci: Identifikasi, Pekerjaan Ketinggian, Potensi Bahaya
Hand Hygiene Effectiveness in Controlling the Spread of COVID-19: A Scoping Review Suryani, Dyah; Nuraeni, Tating; Buston, Erni; Fentia, Lia; Supriatin, Supriatin; Amaliah, Lili; Anitasari, Silvia
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 10 (2023): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i10.4686

Abstract

Encouraging proper hands, including regular handwashing with soap and water or the use of hand sanitizers, is crucial in preventing the transmission of COVID-19 and other infectious diseases. This preventive measure helps to eliminate or reduce the presence of the virus on hands, particularly after contact with potentially contaminated surfaces or objects. The study was comprehensively searching databases and other sources to identify literature on hand hygiene and COVID-19 between 16 April, 2020 and 30 May 2023. We analyzed various aspects of the retrieved articles and studies, including the sources, publication dates, types and topics covered. In the initial stage of the review process, the researchers identified 463 records from various sources. After removing 56 duplicate records, they were left with 407 unique articles for further screening. During the screening process, 280 articles were excluded for various reasons. This resulted in 127 articles that passed the initial screening. The next step involved assessing the eligibility of the full text of these 127 articles. Out of these, 108 articles were excluded based on the eligibility criteria, and the research obtained the full texts of the remaining 19 articles for further analysis. By creating a collective awareness and understanding of the importance of hand hygiene, we can create a positive impact on public health and reduce the transmission of diseases such as COVID-19