Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Risk Management: Challenges For Village Government in Managing Village Funds, in Indonesia Arwanto Harimas Ginting; Yetty Sembiring
JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik) Vol 29, No 2 (2025): November
Publisher : Magister Ilmu Administrasi Publik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkap.101444

Abstract

This study reviews the challenges in implementing risk management for village fund management and provides insights based on current practices. Risk management provides a process for addressing risks associated with managing village funds; however, it faces barriers, particularly at the village level within government organizations. The work background and educational experience of village heads and officials are key obstacles in applying the RM village fund management. The study uses a qualitative, descriptive approach; locations were selected based on established criteria for independent villages in mountainous areas. Data collection involved interviews, searching documents for regulations, followed by analysis through preparation, reading, viewing, coding and interpretation. This study identified eight types of risk, categorized into two groups, during the implementation of risk management for the misuse of village funds. Therefore, providing socialization to village governments on training, policy setting, and local government support is crucial to solve challenges in village funds management. The research is limited to two villages in the mountainous region. The findings are useful for developing government science, particularly in local government management, and are necessary to achieve effective small-scale governance and development. Challenges come from both internal and external sources within the village government during risk management implementation. 
HAK-HAK PEREMPUAN DAN TRADISI BELIS: STUDI KOMPARATIF DI SUMBA, ALOR, DAN LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR Gabriel Durah Langoday; Arwanto Harimas Ginting
Jurnal Politik Pemerintahan Dharma Praja Vol 18 No 1 (2025): Volume 18 Nomor 1: Jurnal Politik Pemerintahan Dharma Praja
Publisher : Fakultas Politik Pemerintahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jppdp.v18i1.4976

Abstract

This research examines belis as a marriage tradition in East Nusa Tenggara by comparing the belis tradition in three regions, namely Lembata, Alor and Sumba. The research focuses on the belis tradition, including the ritual system, the use of items used as belis, and the meaning of belis by the community. This research analyzes how the belis tradition forms a social norm that places women in a lower social class and strengthens the position of men in the family and social environment of the NTT community. Data collection in this research uses the literature study method by reviewing secondary data such as books, articles, journals, and all forms of reports that are in accordance with the issues raised. The results of this study show that the belis tradition has a major impact on the rights and position of a woman in the life of the NTT community. This research highlights how belis strengthens the position of men by placing men as the center of power and authority in the household and community, while women both in the household and social life will always be in a lower social class.
VILLAGE GOVERNMENT STRATEGIES IN DEVELOPING BUMDES TARUMAJAYA IN THE UPSTREAM CITARUM RIVER AREA OF BANDUNG DISTRICT Dika Faris Arifin; Mansyur Achmad; Arwanto Harimas Ginting
Jurnal Pemerintahan Dan Keamanan Publik (JP dan KP) Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. 7, No. 1, Februari 2025
Publisher : Program Studi Manajemen Keamanan dan Keselamatan Publik IPDN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jpkp.v7i1.4674

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan strategi pengembangan BUMDes Tarumajaya di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Dalam penelitian ini difokuskan pada strategi pemerintah desa dalam mengembangkan BUMDes Tarumajaya berdasarkan teori strategi oleh Mintzberg, dengan 3 (tiga) indikator. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dari Pemerintah Desa Tarumajaya sebagai perancang strategi dan warga Desa Tarumajaya sebagai sasaran dari pengembangan BUMDes. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi lapangan dan pengumpulan dokumen. Proses analysis data dengan tahapan reduksi data, menyajikan data dan menarik Kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini yaitu strategi yang digunakan pemerintah Desa Tarumajaya dalam pengembangan BUMDes dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi desa. Temuan lain menunjukkan dukungan anggaran belum optimal serta kemampuan pengelola BUMDes. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemanfaatan potensi desa dalam pengembangan BUMDes dapat dilakukan dengan dukungan tambahan anggaran dan peningkatan kapasitas pengelola.   Kata Kunci: BUMDes, Pengembangan, Strategi.  
Melampaui Penanggulangan Kebakaran: Tantangan dalam Standarisasi Keselamatan Operasional untuk Tanggap Darurat Non-Kebakaran Febyanti Rachman; Arwanto Harimas Ginting
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5749

Abstract

Paradigma layanan darurat global telah meluas mencakup respons bahaya biologis dan evakuasi satwa urban, namun evolusi fungsi tersebut belum diimbangi dengan standar keselamatan yang memadai bagi personel. Ketimpangan protokol keselamatan terlihat nyata pada UPT Dinas Pemadam Kebakaran Kota Malang, di mana tingginya intensitas penyelamatan hewan tidak berbanding lurus dengan ketersediaan pedoman operasional baku, sehingga memicu urgensi analisis risiko berbasis standar NFPA 1500. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui analisis konten terhadap literatur akademis, standar NFPA 1500, serta teori keselamatan David Goetsch dan Frank Bird, tanpa melibatkan observasi lapangan langsung namun berfokus pada sintesis kritis sumber teoretis. Analisis mendalam menyoroti tiga kegagalan sistemik utama, yakni ketidaksesuaian kompetensi tatkala personel terlatih bahaya fisik menghadapi ancaman biologis, penggunaan alat pelindung panas yang memicu kelelahan, serta budaya "kepahlawanan intuitif" yang menormalisasi risiko lantaran absennya protokol tertulis. Fenomena tersebut secara tidak langsung membentuk persepsi publik yang keliru mengenai kapasitas beban kerja pemadam kebakaran yang seolah tanpa batas. Adopsi indikator NFPA 1500 meliputi pelatihan kompetensi dan manajemen risiko lantas menjadi prasyarat mutlak guna mengubah pola penyelamatan dari aksi nekat menjadi operasi profesional yang aman, sekaligus menegaskan batasan tanggung jawab institusi demi menjamin keselamatan personel jangka panjang.
Penguatan Tata Kelola Arsip Keluarga sebagai Strategi Mitigasi Bencana di Desa Teluk Provinsi Banten Eha Saleha; Rahmat Hidayat; Vivi Indra Amelia Nasution; Meita Istianda; Darmanto; Arwanto Harimas Ginting
Civitas Consecratio: Journal of Community Service and Empowerment Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Village in Labuan District, Pandeglang Regency, Banten Province, is a flood-prone area with water levels reaching 1.5–3 meters, potentially damaging important family records such as birth certificates, diplomas, and land certificates. This situation is exacerbated by low community literacy regarding archive management and minimal safe storage practices. This community service activity aims to train village communities in managing family archives in Teluk Village and describe mentoring strategies through a one-day workshop on manual and digital archive management. The activity was carried out using a participatory approach through observation, short interviews, tool demonstrations, and archive digitization practices. Analysis was conducted descriptively through processing field findings and participant feedback. The results showed that most residents store archives in unsafe places (under mattresses, damp wooden cabinets), do not have archive classifications, and have never digitized documents. The workshop increased participants' understanding of important archive types, digitization steps, and the use of mobile-based digital storage. Indicators of success were seen in increased participant knowledge (85%), basic digitization practice skills (78%), and the use of waterproof plastic folders as initial storage facilities. This study emphasizes the importance of disaster mitigation-based family archive management and the need for further training to ensure the sustainability of archive digitization practices in disaster-prone communities.
Government Coordination In Anticipation of The Mount Merapi Eruption Disaster In Sleman Regency, DIY Heru Sulistiyo; Arwanto Harimas Ginting; Agus Winarna; Kusworo
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 6 No. 5 (2026): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v6i5.3475

Abstract

The eruption of Mount Merapi poses a significant disaster threat to Sleman Regency, necessitating a paradigm shift from emergency response to disaster risk reduction through synergistic government coordination. This article aims to analyze the forms and mechanisms of government coordination in anticipating the Mount Merapi eruption, identify obstacles, and formulate strategies for improvement. Employing a qualitative descriptive method, this study examines coordination based on Herbert Simon's procedural and substantive typology, alongside collaborative governance concepts. The findings indicate that procedural coordination is established through structured regulations, hierarchical command, and the Cross-Merapi Joint Secretariat collaboration. Substantively, preparedness is realized through the Sister Village program and the pentahelix-based utilization of the SIMANTAB application. However, coordination effectiveness is hindered by sectoral egos, rigid budgetary bureaucracy, personnel limitations, and cultural resistance among locals. Therefore, the study recommends cross-sectoral data synchronization, the debureaucratization of emergency decision-making, and an inclusive cultural mitigation approach to achieve adaptive regional resilience.
TOWANI TOLOTANG RELIGIOUS FREEDOM: A COMPREHENSIVE EXAMINATION OF THE DYNAMICS AND RAMIFICATIONS OF INDIGENOUS RELIGIOUS CUSTOMS IN INDONESIA Teguh Ahmad Asparill; Gabriel Durah Langoday; Dawid Bunikowski; Arwanto Harimas Ginting
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.89946

Abstract

Keragaman agama di Indonesia menimbulkan tantangan yang signifikan bagi agama-agama lokal seperti Towani Tolotang, yang berjuang untuk mempertahankan identitas dan kebebasan beragama sambil menuntut pengakuan sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional tentang kebebasan beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki tantangan-tantangan yang dihadapi oleh agama lokal Towani Tolotang dan implikasinya terhadap keberlangsungannya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, studi ini mengkaji berbagai literatur dan data etnografi untuk memahami konteks sosiokultural masyarakat Towani Tolotang. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa Towani Tolotang, sebuah kepercayaan lokal yang menyembah Dewata Seuwae, mengalami diskriminasi dan penindasan selama penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui TAP MPRS XXV/1966. Meskipun menghadapi tekanan untuk mengadopsi salah satu dari enam agama yang diakui secara resmi, komunitas Towani Tolotang tetap bertahan dengan memasukkan beberapa aspek Hindu ke dalam praktik-praktik mereka. Dinamika ini mengakibatkan perpecahan di dalam komunitas antara mereka yang menganut kepercayaan asli mereka dan mereka yang memeluk agama Islam. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia yang diakui secara internasional yang sering diabaikan dalam praktiknya di Indonesia. Kebijakan pemerintah dan interpretasi hukum yang cenderung teistik membuat kepercayaan agama lokal, seperti Towani Tolotang, mengalami diskriminasi. Studi ini menyimpulkan bahwa perlindungan hak beragama bagi komunitas penghayat kepercayaan lokal harus ditingkatkan melalui penegakan hukum yang inklusif dan tidak diskriminatif.Kata Kunci: Towani Tolotang; Hukum Kebebasan Beragama Internasional; Agama AdatABSTRACTReligious diversity in Indonesia poses significant challenges for local religions such as Towani Tolotang, which struggle to maintain their identity and religious freedom while demanding recognition in accordance with international legal principles on religious freedom. This study aims to investigate the challenges faced by the Towani Tolotang local religion and their implications for its survival. Utilizing a qualitative method with an ethnographic approach, this study examines various literature and ethnographic data to comprehend the sociocultural context of the Towani Tolotang community. The findings reveal that Towani Tolotang, a local faith that worships Dewata Seuwae, encountered discrimination and suppression during the crackdown on the Indonesian Communist Party (PKI) through the TAP MPRS XXV/1966. Despite facing pressure to adopt one of the six officially recognized religions, the Towani Tolotang community persevered by incorporating some aspects of Hinduism into their practices. This dynamic resulted in a split within the community between those who adhered to their indigenous beliefs and those who adopted Islam. This research underscores the significance of religious freedom as an internationally recognized human right that is frequently overlooked in practice in Indonesia. Government policies and legal interpretations that tend to be theistic expose local religious beliefs, such as Towani Tolotang, to discrimination. This study concludes that the protection of religious rights for local faith communities must be improved through inclusive and non-discriminatory law enforcement.Keywords: Towani Tolotang; International Freedom of Religion Law; Indigenous Religious
OPTIMALISASI FUNGSI LEGISLASI DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2024 TENTANG PROVINSI DAERAH KHUSUS JAKARTA Maulida Silvani; Baharuddin Thahir; Arwanto Harimas Ginting
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 7 (2026): 2026 Juli
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i7.1038

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya kewenangan legislasi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Meskipun DPD RI dibentuk untuk memperkuat representasi daerah dalam sistem parlemen dua kamar, kewenangan yang dimiliki masih terbatas pada pengajuan dan pembahasan rancangan undang-undang tertentu sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai optimalisasi pelaksanaan fungsi legislasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi legislasi DPD RI dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang memiliki keterlibatan langsung dalam proses pembentukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta dan didukung dengan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori fungsi legislasi Jimly Asshiddiqie yang meliputi legislative initiation, law making process, law enactment approval, dan binding decision making. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi legislasi DPD RI dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta belum optimal. Pada dimensi legislative initiation dan law making process, DPD RI telah menjalankan perannya secara aktif melalui penyusunan naskah akademik, pengajuan rancangan undang-undang, penyampaian pandangan, pembahasan daftar inventarisasi masalah, serta pemberian usulan substansi. Namun, pada dimensi law enactment approval dan binding decision making, DPD RI tidak memiliki kewenangan untuk memberikan persetujuan maupun mengambil keputusan yang bersifat mengikat karena kewenangan tersebut berada pada DPR RI dan Presiden. Faktor-faktor yang menghambat optimalisasi fungsi legislasi DPD RI meliputi keterbatasan kewenangan konstitusional, dominasi DPR RI dalam penentuan agenda legislasi, keterbatasan keterlibatan pada tahap pengambilan keputusan, tidak adanya hak suara dalam pengambilan keputusan, sistem bikameral yang bersifat asimetris (weak bicameralism), keterbatasan kewenangan dalam persetujuan dan pengesahan undang-undang, serta tidak adanya kewenangan dalam pemberian persetujuan yang bersifat mengikat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi fungsi legislasi DPD RI memerlukan penguatan kewenangan kelembagaan melalui perbaikan regulasi dan penguatan konstitusional agar representasi daerah dalam proses pembentukan undang-undang dapat terwujud secara lebih efektif dan seimbang dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.
Efektivitas Layanan Samsat Drive Thru Dalam Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Di Kota Ambon Bagas Ramadhani Jasmono; Arwanto Harimas Ginting; Sutiyo
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.17846

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas layanan Samsat Drive Thru dalam meningkatkan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Kota Ambon yang dilatarbelakangi oleh adanya indikasi belum optimalnya kontribusi layanan Samsat Drive Thru terhadap penerimaan PKB. Indikasi tersebut tercermin dari fluktuasi realisasi penerimaan, rendahnya tingkat pemanfaatan layanan, serta adanya keluhan masyarakat terhadap kualitas pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori efektivitas organisasi Richard M. Steers yang mencakup dimensi pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi dengan mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi dengan informan yang terdiri atas aparatur Samsat dan wajib pajak serta analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan Samsat Drive Thru telah memberikan kemudahan akses dan efisiensi waktu pelayanan serta mendukung koordinasi antarinstansi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Namun demikian, kontribusi layanan terhadap penerimaan PKB masih relatif rendah dan belum menunjukkan peningkatan yang stabil. Implikasi penelitian menekankan pentingnya perbaikan desain dan perluasan cakupan layanan, penguatan sosialisasi publik, peningkatan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia, serta evaluasi kinerja berbasis indikator yang berkelanjutan.
Kebijakan Maritim di Indonesia dalam Perspektif Sound Governance Eki Darmawan; Handam Handam; Arwanto Harimas Ginting
TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan Vol. 12 No. 1 (2020): TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jtp.v12i1.822

Abstract

This study examines how the world maritime axis policy (PMD) by the Indonesian State is based on the potential maritime region in need as well as the Vision of the President of Indonesia for the period 2019-2024. Using a culinary method to study a variety of existing literature and analyzed in the perspective of Good Governance. This study produces an analysis; The first; marine inclusiveness policy as a state policy involving various levels of actors to access to marginalized groups and or regions so far on marine potential. The second; Making the maritime axis as the main source of the economy to improve welfare. The third; marine resources are made as the world's maritime axis, with the involvement of various countries in the Indo-Pacific region specifically as actors involved in the use and development of the world's maritime axis. Key Words; Sound Governance, Fisheries Policy, World’s Maritime Axis.