Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

BAITUL MAL IN SAMBAS IN THE COLONIAL PERIOD: The History of Establishment And Management Sunandar, Sunandar; Posha, Beti Yanuri; Lamazi, Lamazi; Yusnita, Henny
Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah Vol 12, No 1 (2021): Jurisdictie
Publisher : Fakultas Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j.v12i1.10942

Abstract

Baitul Mal management in the Sultanate of Sambas started from the establishment of Ulama’s official institution, so the state could supervise the religious issues. Through the Maharaja Imam, Muslim affairs were handled. The permanent management improvement of Baitul Mal in the Sultanate of Sambas was started in 1944, through Ulama’s discussion in the Sambas Kingdom consisting of Imam, Khatib, and Penghulu. They formulated 37 articles concerning the cost of marriage, divorce, reconciliation, alms (zakat māl, and zakat fitrah), procedures for withdrawal, distribution, and the eligible recipients of funds. The Baitul Mal founding was interfered by a fundamental problem, caused by political issues within Sambas society. Those issues included Japan’s defeat in 1945, the NICA arrival followed by the Dutch expulsion in 1949, and the PGRS-PARAKU incidents until 1965. Since the early days, Baitul Mal management in Sambas has found its form and can move social life through the funds distribution, one of which is to support the schools in Sambas. Baitul Mal in Sambas is currently in crisis due to the existence of new zakat institutions both semi-government and private such as Badan Amil Zakat (BAZ). Therefore, they really need to have the people-oriented management.Pengelolaan Baitul Mal di wilayah Kesultanan Sambas dimulai dari pembentukan lembaga resmi ulama, sehingga pengurusan masalah keagamaan ditangani oleh negara. Melalui Maharaja Imam, urusan Muslim ditangani. Perbaikan pengelolaan Baitul Mal secara permanen di Kesultanan Sambas dimulai pada tahun 1944, melalui musyawarah yang dihadiri oleh para ulama di Kerajaan Sambas yang terdiri dari Imam, Khatib dan Penghulu. Dalam rapat tersebut dirumuskan 37 pasal tentang masalah biaya perkawinan, perceraian, rukun, sedekah (zakat mal dan zakat fitrah), tata cara penarikan, penyaluran /distribusi dana dan orang-orang yang berhak menerimanya. Pembentukan Baitul Mal mengalami masalah yang mendasar, yang diakibatkan oleh masalah politik yang dihadapi oleh masyarakat Sambas, mulai dari kekalahan Jepang kepada Sekutu pada tahun 1945, yang diikuti kedatangan NICA hingga pengusiran Belanda pada tahun 1949, peristiwa PGRS-PARAKU hingga tahun 1965. Manajemen Baitul Mal di Sambas sejak masa awal telah menemukan bentuknya dan mampu menggerakkan kehidupan sosial melalui distribusi dananya, salah satunya adalah menopang sekolah/madrasah yang terdapat di Sambas. Dalam carut marut pengelolaan Baitul Mal di Sambas saat ini yang ditandai dengan munculnya beragam lembaga dengan label Badan Amil Zakat (BAZ), semi pemerintah maupun swasta maka sangat dibutuhkan pengelolaan yang beorientasi pada kepentingan umat.
Pemeriksaan Kesehatan Dan Edukasi DAGUSIBU Pada Warga Madras Hulu Petisah Tengah Medan Masniah, Masniah; Faisal, Ahmad Purnawarman; Lavinur; Tampubolon, Antetti; Masrah; Panjaitan, Rosnike Merly; Andarwati, Rini; Sitepu, Nadroh br; Fauzi, Zulfa Ismaniar; Ernoviya; Sinaga, Maya Handayani; Nurpermatasari, Adhisty; Hidayah, Nurul; Wakidi, Riza Fahlevi; Zulfikri; Nasution, Pratiwi Rukmana; Hilda; Ismedsyah; Sihombing, Jhonson P; Noviar, Irma; Wulandari, Mimin; Tanjung, Sri Wahyuni; Amrin; Yusnita, Henny; Nasution, Samihah
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 1 No 1 (2023): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.556 KB) | DOI: 10.63004/mcm.v1i1.100

Abstract

Pendahuluan. Kesehatan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan manusia sehingga senantiasa menjadi prioritas dalam pembangunan nasional suatu bangsa.Tujuan. Pentingnya edukasi DAGUSIBU bagi penggunaan obat yang aman dan rasional adalah terpenuhinya tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, tepat waktu pemberian dan tepat informasi. Secara singkat pemakaian atau peresepan suatu obat dikatakan tidak rasional apabila kemungkinan untuk memberikan manfaat kecil atau tidak sama sekali atau kemungkinan manfaatnya tidak sebanding dengan kemungkinan efek samping atau biayanya.Metode. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu metode pemberdayaan masyarakat partisipatif dengan model Particatory Rural Appraisal (PRA), yaitu metode yang menekankan keterlibatan masyarakat dalam semua kegiatan yang dilakukan. Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan Dagusibu.Hasil. Tingkat pengetahuan responden sebelem penyuluhan paling banyak pada skala cukup pada presentase 71,6%, pada skala baik hanya 14,2%, sedangkan sesudah penyuluhan, pengetahuan responden naik drastis pada kategori baik sebanyak 85,7%.Simpulan. Responden telah terpapar mengenai DAGUSIBU dan cara penggunaan DAGUSIBU dalam penggunaan obat dan Responden sudah mengetahui tentang pentingnya penggunaan DAGUSIBU.
Edukasi Dan Pelatihan Pembuatan Teh Celup Saffron Dan Asam Jawa Sebagai Antidiabetes Pada Masyarakat Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan Hilda, Hilda; Masniah, Masniah; Yusnita, Henny
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 1 No 4 (2023): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v1i4.297

Abstract

Pendahuluan: Tanaman yang berpotensi sebagai agen antidiabetes adalah daun asam jawa dan tanaman saffron. Berdasarkan hasil penelitian, daun asam jawa kaya akan flavonoid, saponin, dan tanin, serta saffron mengandung senyawa aktif crocin, crocetin, procicin, yang dapat menjadi kandidat antioksidan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar glukosa dalam darah. Teh herbal merupakan hasil pengolahan dari bunga, kulit, biji, daun, dan akar berbagai tanaman.Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan menjadikan tanaman obat berbasis riset melalui demonstrasi teknik pembuatan kombinasi teh asam jawa dan saffron dalam pencegahan diabetes melitus, dan pemanfaatan tanaman tersebut secara aman diharapkan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat sebagai upaya preventif dan kuratif.Metode: Dilakukan penyuluhan dan pelatihan yaitu memberikan informasi dan pendidikan kesehatan secara langsung kepada 40 orang masyarakat Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, mengenai tanaman obat tradisional penurun kadar gula darah. Kemudian melakukan pendampingan dalam membuat teh celup, dan dilakukan pengukuran Kadar Gula Darah (KGD) peserta.Hasil: Setelah dilakukan edukasi tentang penyakit diabetes melitus dan pengobatan tradisional dengan menggunakan teh celup daun asam jawa dan saffron maka pengetahuan Masyarakat di Desa Laut Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan kategori baik meningkat menjadi 80,00%.Simpulan: Masyarakat di Desa Laut Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan mengetahui mengenai tanaman herbal antidiabetes, dan dapat membuat sendiri teh celup daun asam jawa dan saffron sebagai obat anti diabetes mellitus.
Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Balsem Jahe Merah (Zingiberis officinale) Sebagai Obat Rematik Pada Ibu-Ibu Desa Tengah, Deli Serdang, Sumatera Utara Masniah, Masniah; Hilda, Hilda; Yusnita, Henny
Shihatuna : Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): Juni
Publisher : FKM UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/shihatuna.v5i1.24298

Abstract

Rheumatic diseases are among the leading causes of activitylimitations, particularly affecting elderly women. This studyaims to provide education and training to the community inDesa Tengah, Kecamatan Pancurbatu, on the treatment ofrheumatism using red ginger (Zingiberis officinale) balm. Theapproach used involved educational outreach and hands-ontraining, starting with a pre-test questionnaire to assess thecommunity’s baseline knowledge, followed by a lecture onrheumatism and the medicinal benefits of red ginger.Afterward, a demonstration on how to make red ginger balmwas conducted, with materials provided so participants couldpractice making the balm at home. The results of the activityshowed a significant increase in community knowledge, with80% of participants demonstrating good knowledge after thetraining, up from 16.67% prior to the education. Furthermore,the community successfully learned to create red ginger balm,which proved effective in alleviating rheumatic symptoms.This activity is expected to promote the use of medicinalplants, particularly red ginger, as an affordable and safealternative treatment for rheumatism. The findings suggestthat community education and empowerment can reducedependence on chemical medicines and improve the qualityof life for rheumatic patients.
PERAN MUSEUM SEBAGAI PUSAT EDUKASI DAN DAYA TARIK WISATA BAGI MASYARAKAT SAMBAS POSHA, BETI; Yusnita, Henny
Belalek Vol. 1 No. 1 (2023): BELALEK: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Journal of Community Services)
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/belalek.v1i1.2200

Abstract

Aspek budaya universal masyarakat dapat diamati di setiap masyarakat. Adapun cara yang dapat kita ketahui kebudayaan masyarakat baik itu individu maupun kelompok yang mana untuk mendapatkan gambaran budaya masyarakat setempat yakni berkunjung ke museum. Dengan berkunjung ke museum kita dapat melihat gambaran tentang peradaban budaya daerah, baik zaman purbakala maupun di zaman modern. Museum perlu merefleksikan diri sebagai tempat yang menggambarkan pusat penelitian, pusat multimedia, dan pusat pendidikan untuk pelestarian budaya masyarakat modern. Berdasarkan kinerja kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat “Peran Museum sebagai Pusat Edukasi dan Daya Tarik Wisata Bagi Masyarakat Sambas” yaitu melalui museum, masyarakat Sambas lebih menghargai, mencintai, dan melestarikan peninggalan peradaban yang ditinggalkan agar tetap dikenal oleh generasi penerus dari masa ke masa.