Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Midwifery Journal

TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN IBU DALAM PEMILIHAN KONTRASEPSI IUD Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 4 No 1 (2017): Midwifery Journals
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.061 KB)

Abstract

Saat ini laju pertumbuhan penduduk Indonesia masih tinggi, dimana setiap tahun bertambah 3-4 juta jiwa. Berdasarkan data BKKBN PPM untuk KB IUD adalah 77,7 % sedangkan peminat KB IUD yang ada di RS.Assakinah Medika hanya 21,42 % angka ini jauh dari PPM yang di tentukan BKKBN. Kecenderung masih rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD kemungkinan sangat berhubungan dengan pendidikan dan pekerjaan akseptor. Pendidikan akseptor dalam menerima informasi tentang program KB dan faktor pendidikan seseorang sangat mempengaruhi dalam keputusan ber-KB. Semakin rendah pendapatan, makin rendah pula motivasi akseptor dalam mengikuti KB. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran Pendidikan dan Pekerjaan Ibu Dalam Pemilihan Kontrasepsi IUD di SidoarjoTahun 2015. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif, populasi dalam penelitian adalah seluruh jumlah akseptor KB di RS.Assakinah Medika Sidoarjo Tahun 2015. Pengambilan sampel secara systematic sampling dengan besar sampel 200 akseptor KB IUD. Analisa menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian, akseptor KB yang menggunakan KB IUD (20 %),akseptor yang tidak menggunakan KB IUD (80 %). Mayoritas yang menggunakan KB adalah akseptor dengan pendidikan yang Tinggi (28,00 %) dan ibu yang bekerja (21,38 %). Diskusi: pendidikan dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi akseptor KB dalam mengikuti KB. Diharapkan petugas kesehatan mampu memberikan konseling tentang KB supaya akseptor bisa memilih sesuai dengan keadaan kesehatan dan memberikan komunikasi, informasi, edukasi pada akseptor KB maupun calon akseptor KB sehingga mengerti benar tentang jenis,efek kontrasepsi dan manfaat kontrasepsi.
FAKTOR UMUR DAN PARITAS AKSEPTOR KB TERHADAP PEMILIHAN KONTRASEPSI SUNTIK Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 4 No 2 (2017): Midwifery Journals
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.285 KB)

Abstract

Indonesia menghadapi masalah dengan laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2015 sebesar 1,49 persen pertahun. Untuk mengatasi hal ini pemerintah menggalakkan Keluarga Berencana. Ketepatan klien dalam memilih kontrasepsi sangat mendukung keberhasilan dari program Keluarga Berencana. Pemilihan kontrasepsi dipengaruhi beberapa faktor yaitu umur, paritas, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Di desa Kendal Pecabean dari tahun ke tahun peminat kontrasepsi suntik paling banyak. Pada tahun 2016 peminat kontrasepsi suntik sebanyak 444 orang (57,6%) melebihi PPM tahun 2016 sebesar 30,28%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umur dan paritas akseptor KB terhadap pemilihan kontrasepsi suntik. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang menjadi populasinya adalah seluruh akseptor KB di desa Kendal Pecabean periode Januari-Juni tahun 2017 sebanyak 396 orang, pengambilan sampelnya dilakukan secara Systematic Random Sampling dengan jumlah sampel sebesar 191 orang. Instrumen penelitian melalui data sekunder dengan melihat data pendataan keluarga Desa Kendal Pecabean kemudian diolah dengan menggunakan tabulasi frekuensi dan dilakukan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian didapatkan akseptor mayoritas umur 20-35 tahun yaitu 98 orang (51,31%) dan paritasnya mayoritas primipara yaitu 123 orang (64,40%), yang memilih kontrasepsi suntik yaitu 107 orang (56,02%). Hasil tabulasi silang mayoritas akseptor yang memilih kontrasepsi suntik yaitu berumur 20-35 tahun sebanyak orang 64 orang (65,31%) dan primipara sebanyak 72 orang (58,54%)..  Diskusi: Pemilih kontrasepsi suntik  mayoritas pada umur 20-35 tahun dan primipara. Oleh karena itu, agar calon akseptor tepat memilih kontrasepsi sesuai dengan umur dan paritas maka diperlukan konseling, penyuluhan, dan kerjasama lintas sektor untuk mengadakan safari KB.
PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DENGAN KEJADIAN DIARE Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 1 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.837 KB)

Abstract

Angka kejadian dan kematian diare pada anak di negara-negara yang sedang berkembang masih tinggi. Lebih-lebih pada anak yang mendapat susu formula, angka tersebut lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan anak-anak yang mendapat ASI, yang melindungi bayi terhadap infeksi. Data yang diperoleh di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya mengenai data kejadian diare dalam tiga tahun terakhir pada bayi yakni mulai tahun 2014-2016 dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014-2016 di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terjadi peningkatan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan sebanyak 3-4% dan melebihi angka toleransi,  sedangkan angka toleransi dari Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terhadap kejadian diare pada balita sebesar 10%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan Survey Cross Sectional. Populasi penelitian adalah Seluruh bayi berusia 0-6 bulan di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya sebanyak 1.849 bayi. Pengambilan sampel secara probability sampling dengan sistematik random samplingdan didapatkan besar sampel 225 bayi.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar bayi yang mendapatkan PASI menderita diare sebesar 124 bayi (86,71 %) dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI tidak menderita diare sebesar 62 bayi (75,61 %). Dengan uji Chi-Square didapatkan hasil sebagai berikut, bahwa x2 hitung > x2 tabel (87,84 > 3,84), yang artinya ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare. Diskusi: ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare di rumah sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya. Oleh karena itu, bidan sebagia tenaga kesehatan perlu menggalakan dan memotiuvasi para ibu untuk terus memebrikan ASI eksklusif 0-6 bulan.
TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN IBU DALAM PEMILIHAN KONTRASEPSI IUD Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 4 No 1 (2017): Midwifery Journals
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.061 KB)

Abstract

Saat ini laju pertumbuhan penduduk Indonesia masih tinggi, dimana setiap tahun bertambah 3-4 juta jiwa. Berdasarkan data BKKBN PPM untuk KB IUD adalah 77,7 % sedangkan peminat KB IUD yang ada di RS.Assakinah Medika hanya 21,42 % angka ini jauh dari PPM yang di tentukan BKKBN. Kecenderung masih rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD kemungkinan sangat berhubungan dengan pendidikan dan pekerjaan akseptor. Pendidikan akseptor dalam menerima informasi tentang program KB dan faktor pendidikan seseorang sangat mempengaruhi dalam keputusan ber-KB. Semakin rendah pendapatan, makin rendah pula motivasi akseptor dalam mengikuti KB. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran Pendidikan dan Pekerjaan Ibu Dalam Pemilihan Kontrasepsi IUD di SidoarjoTahun 2015. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif, populasi dalam penelitian adalah seluruh jumlah akseptor KB di RS.Assakinah Medika Sidoarjo Tahun 2015. Pengambilan sampel secara systematic sampling dengan besar sampel 200 akseptor KB IUD. Analisa menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian, akseptor KB yang menggunakan KB IUD (20 %),akseptor yang tidak menggunakan KB IUD (80 %). Mayoritas yang menggunakan KB adalah akseptor dengan pendidikan yang Tinggi (28,00 %) dan ibu yang bekerja (21,38 %). Diskusi: pendidikan dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi akseptor KB dalam mengikuti KB. Diharapkan petugas kesehatan mampu memberikan konseling tentang KB supaya akseptor bisa memilih sesuai dengan keadaan kesehatan dan memberikan komunikasi, informasi, edukasi pada akseptor KB maupun calon akseptor KB sehingga mengerti benar tentang jenis,efek kontrasepsi dan manfaat kontrasepsi.
FAKTOR UMUR DAN PARITAS AKSEPTOR KB TERHADAP PEMILIHAN KONTRASEPSI SUNTIK Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 4 No 2 (2017): Midwifery Journals
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.285 KB)

Abstract

Indonesia menghadapi masalah dengan laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2015 sebesar 1,49 persen pertahun. Untuk mengatasi hal ini pemerintah menggalakkan Keluarga Berencana. Ketepatan klien dalam memilih kontrasepsi sangat mendukung keberhasilan dari program Keluarga Berencana. Pemilihan kontrasepsi dipengaruhi beberapa faktor yaitu umur, paritas, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Di desa Kendal Pecabean dari tahun ke tahun peminat kontrasepsi suntik paling banyak. Pada tahun 2016 peminat kontrasepsi suntik sebanyak 444 orang (57,6%) melebihi PPM tahun 2016 sebesar 30,28%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umur dan paritas akseptor KB terhadap pemilihan kontrasepsi suntik. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang menjadi populasinya adalah seluruh akseptor KB di desa Kendal Pecabean periode Januari-Juni tahun 2017 sebanyak 396 orang, pengambilan sampelnya dilakukan secara Systematic Random Sampling dengan jumlah sampel sebesar 191 orang. Instrumen penelitian melalui data sekunder dengan melihat data pendataan keluarga Desa Kendal Pecabean kemudian diolah dengan menggunakan tabulasi frekuensi dan dilakukan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian didapatkan akseptor mayoritas umur 20-35 tahun yaitu 98 orang (51,31%) dan paritasnya mayoritas primipara yaitu 123 orang (64,40%), yang memilih kontrasepsi suntik yaitu 107 orang (56,02%). Hasil tabulasi silang mayoritas akseptor yang memilih kontrasepsi suntik yaitu berumur 20-35 tahun sebanyak orang 64 orang (65,31%) dan primipara sebanyak 72 orang (58,54%)..  Diskusi: Pemilih kontrasepsi suntik  mayoritas pada umur 20-35 tahun dan primipara. Oleh karena itu, agar calon akseptor tepat memilih kontrasepsi sesuai dengan umur dan paritas maka diperlukan konseling, penyuluhan, dan kerjasama lintas sektor untuk mengadakan safari KB.
PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DENGAN KEJADIAN DIARE Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 1 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.837 KB)

Abstract

Angka kejadian dan kematian diare pada anak di negara-negara yang sedang berkembang masih tinggi. Lebih-lebih pada anak yang mendapat susu formula, angka tersebut lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan anak-anak yang mendapat ASI, yang melindungi bayi terhadap infeksi. Data yang diperoleh di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya mengenai data kejadian diare dalam tiga tahun terakhir pada bayi yakni mulai tahun 2014-2016 dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014-2016 di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terjadi peningkatan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan sebanyak 3-4% dan melebihi angka toleransi,  sedangkan angka toleransi dari Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terhadap kejadian diare pada balita sebesar 10%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan Survey Cross Sectional. Populasi penelitian adalah Seluruh bayi berusia 0-6 bulan di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya sebanyak 1.849 bayi. Pengambilan sampel secara probability sampling dengan sistematik random samplingdan didapatkan besar sampel 225 bayi.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar bayi yang mendapatkan PASI menderita diare sebesar 124 bayi (86,71 %) dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI tidak menderita diare sebesar 62 bayi (75,61 %). Dengan uji Chi-Square didapatkan hasil sebagai berikut, bahwa x2 hitung > x2 tabel (87,84 > 3,84), yang artinya ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare. Diskusi: ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare di rumah sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya. Oleh karena itu, bidan sebagia tenaga kesehatan perlu menggalakan dan memotiuvasi para ibu untuk terus memebrikan ASI eksklusif 0-6 bulan.
TINGKAT PENDIDIKAN DAN SIKAP IBU NIFAS TENTAG PERAWATAN LUKA PERINEUM Bainuan, Lina Darmayanti
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 6 No 2 (2019): Journal Midwifery
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Perlukaan jalan lahir dapat terjadi karena kesalahan sewaktu memimpin persalinan. Selain itu pada jalan lahir dapat pula terjadi karena disengaja seperti tindakan episotomi. Adapun penyebab infeksi perineum disebabkan oleh organisme yang menyerang bekas implantasi atau laserasi akibat persalinan. Berdasarkan data yang di peroleh di BPS Ny. Retno Soepomo Surabaya di dapatkan ibu yang mengalami robekan perineum tahun 2016 sampai 2018 mengalami peningkatan sebanyak (32,9%). Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pendidikan dan sikap ibu nifas tentang perawatan luka perineum. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif . Populasi penelitian adalah seluruh ibu nifas yang kontrol pada hari ke-7 dengan luka jahitan perineum bulan Juli dengan teknik non probability sampling yang pengambilan sampel secara sampel jenuh, dengan sampel 42 orang dengan menggunakan kuesioner sebagai data primer dan data sekunder, analisa data dengan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian didapatkan ibu nifas yang berpendidikan rendah mayoritas luka perineum tidak sembuh (85,71 %) dibandingkan dengan ibu nifas berpendidikan tinggi mayoritas luka perineum sembuh (75%), sedangkan ibu nifas dengan sikap ibu nifas kurang setuju dengan luka perineum tidak sembuh (81,82%) dibandingkan dengan ibu nifas yang mempunyai sikap setuju mayoritas luka perineum sembuh (71,43%). Diskusi: Ibu yang melakukan perawatan luka perineum dapat dipengaruhi oleh pendidikan dan sikap ibu tentang perawatan luka perineum. Oleh karena itu petugas kesehatan sebaiknya memberikan saran atau petunjuk yang benar tentang bagaimana cara melakukan perawatan luka perineum untuk keberhasilan kesembuhan luka perineum.
PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DENGAN KEJADIAN DIARE Lina Darmayanti Bainuan
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 1 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The incidence and mortality of diarrhea in children in developing countries is still high. Moreover, in children who get formula milk, the number is significantly higher compared to children who get breast milk, which protects babies against infection. Data obtained at the DKT Hospital in Gubeng Pojok Surabaya regarding data on the incidence of diarrhea in the last three years in infants, starting from 2014-2016, concluded that from 2014-2016 at the Hospital of Gubeng Pojok Surabaya, there was an increase in the incidence of diarrhea in infants aged 0- 6 months as much as 3-4% and exceeding the tolerance level, while the tolerance rate from the Hospital of Gubeng Pojok Surabaya DKT to the incidence of diarrhea in infants is 10%. Method: This study uses analytic design with Cross Sectional Survey. The study population was all infants aged 0-6 months at the DKT Gubeng Pojok Surabaya Hospital with 1,849 infants. Sampling is done by probability sampling with systematic random sampling and a sample of 225 infants is obtained. Results: The results showed that the majority of infants who received PASI had diarrhea of ??124 infants (86.71%) compared to infants who received ASI did not suffer from diarrhea of ??62 infants (75.61%). The Chi-Square test shows the following results, that x2 counts> x2 tables (87.84> 3.84), which means there is a relationship between PASI giving to infants aged 0-6 months with the incidence of diarrhea. Discussion: there is a relationship between PASI giving to infants aged 0-6 months with the incidence of diarrhea in hospitals DKT Gubeng Pojok Surabaya. Therefore, midwives as health workers need to encourage and motivate mothers to continue to give exclusive breastfeeding 0-6 months.