Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

KODE-KODE SEMIOTIKA DAN IDEOLOGI PADA BALAI PERTEMUAN UMUM (BPU) RUMA GORGA MANGAMPU TUA DI JAKARTA Try Putra Rajagukguk; Gugun Gunardi; Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 11, No 1 (2021): METAHUMANIORA, APRIL 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i1.31679

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan konstruksi makna tanda, kode-kode semiotika, dan ideologi dalam Balai Pertemuan Umum (BPU) Ruma Gorga Mangampu Tua di Jakarta. Penelitian ini menggunakan kajian semiotika Roland Barthes (1967) dan diaspora (Hall, 1990). Ditemukan bahwa objek tanda dikonstruksi sebagai imajinasi dari ruma bolon yang ditunjukkan dari fungsi atap rumah, badan rumah, pondasi rumah, panggung depan, tempat duduk, serta empat belas ragam hias gorga sebagai suatu ingatan diaspora Batak Toba di Jakarta tentang kampung halamannya. Kedua, dari elemen-elemen tersebut, BPU Ruma Gorga Mangampu Tua di Jakarta juga menunjukkan dirinya sebagai bangunan hibrid (pencampuran identitas) modern dan tradisional yang dipahami sebagai kode-kode semiotika. Ketiga, bangunan ini juga menunjukkan ideologi si pemilik gedung melalui pilihan bentuk dan hiasan karena adanya monopoli dagang (materialisme) di balik dominasi produk-produk BPU lainnya di Jakarta yang ditunjukkan sebagai mitos kebataktobaan dan kemegahan. Ideologi juga ditunjukkan sebagai gagasan diaspora Batak Toba di Jakarta tentang ingatan kampung halamannya agar mereka tetap terikat dengan nilai-nilai dan norma adat kehidupan budaya Batak Toba.
NOVEL BABALIK PIKIR KARYA SAMSOEDI SEBAGAI BILDUNGSROMAN SUNDA PADA MASA PRAKEMERDEKAAN Liska Puri; Teddi Muhtadin; Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 11, No 1 (2021): METAHUMANIORA, APRIL 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i1.31943

Abstract

Penelitian ini berupaya memetakan karya Samsoedi pada masa prakemerdekaan sebagai Bildungsroman yang diduga dibuat untuk memberikan figur baru untuk anak-anak di lingkungan masyarakat penutur bahasa Sunda pada waktu itu. Kemudian isu-isu sosial dan politik yang dimunculkan  pada karya-karya Samsoedi itu, diduga sengaja dimunculkan untuk memberikan pandangan baru pada anak-anak mengenai modernitas atau pendidikan tertentu yang diusung oleh pemerintah untuk kaum pribumi. Kebijakan pemerintah kolonial dengan meresmikan politik etis, memberikan kesempatan bagi anak-anak  pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dengan kesempatan itu, anak-anak pribumi mempunyai kesempatan baru untuk mengetahui pengetahuan dunia melalui bacaan. Bacaan merupakan salah-satu sarana yang dipilih oleh Belanda untuk menjaga kestabilan kekuasaan mereka juga sebagai upaya untuk membentuk masyarakat pribumi seperti pemikiran mereka, sehingga Balai Pustaka diciptakan untuk mendukung itu semua. Pembacaan terhadap lima novel Samsoedi ini didudukan dalam kerangka teoritis sastra anak khususnya Hunt dan Bildungsroman khususnya Jeffers.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola bildungsroman telah difungsikan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat penutur bahasa Sunda, khususnya anak-anak.
THE AMBIVALENT PORTRAYAL OF THE ECOFEMINIST MOVEMENT IN TANAH IBU KAMI (2020) Zhafirah, Faizzah Shabrina; Priyatna, Aquarini; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.48736

Abstract

Tanah Ibu Kami (2020), a documentary film produced by The Gecko Project and Mongabay, published on YouTube, follows the travels of journalist Febriana Firdaus to four rural areas in Indonesia where she meets Sukinah from Kendeng, Central Java; Lodia Oematan and Aleta Baun from Mollo, East Nusa Tenggara; Eva Bande from Banggai, Central Sulawesi; and Farwiza from Banda Aceh, Aceh. The film portrays these women leading socio-ecological movements that fight for their rights along with their land rights, as they face the risks of violence, imprisonment, and judgment from large corporations and patriarchal customs and beliefs. Placing the documentary within the ecofeminist framework, exemplified by Warren (2000) and Shiva and Mies (2018), I would like to show how the documentary portrays the state and the cultural institutions having control over women and nature. In its narrative method, the film tends to look at the environmentalism done by women as something to be highlighted not because of its substantial aspects but more as a valorized act because of its masculine attributes. Thus, while the film glorifies women as empowered environmentalists with the ability to exert agency, the structure of and behind the film is based on patriarchal assumptions.
NARASI ORDE BARU DALAM CERPEN-CERPEN LINDA CHRISTANTY Fadhila, Maria; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 14, No 3 (2024): METAHUMANIORA, DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i3.45853

Abstract

Linda Christanty merupakan seorang penulis sekaligus jurnalis dan bergerak di dunia aktivis di era Orde Baru. Kepeduliannya terhadap persoalan bangsa dan pihak-pihak marginal tergambarkan dalam karya-karyanya. Analisis terhadap tiga cerpen yang berjudul Kuda Terbang Maria Pinto, Makan Malam, dan Makam Keempat dilakukan untuk melihat bagaimana Orde Baru dinarasikan dalam teks. Oleh sebab itu, penelitian dilakukan menggunakan teori Naratologi Genette untuk melihat narasi Orde Baru melalui tuturan narator dan fokalisator. Hasil dari penelitian menunjukkan berbagai fenomena dan konflik yang terjadi di masa Orde Baru yaitu, konflik politik Timor Timur, Kudeta dan fenomena eksil, serta pergerakan aktivis. Konflik dan peristiwa tersebut menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM berupa pembunuhan, kekerasan, dan diskriminasi terhadap pihak marginal. Dalam cerpen-cerpen Linda Christanty, Orde Baru dicirikan sebagai era pemerintahan yang otoriter dan terjadinya pelanggaran HAM. Cerpen-cerpen ini hadir sebagai sindiran, kritikan dan suara kepedulian terhadap apa yang dialami oleh pihak-pihak marginal.
ALIENATED FEMALE ANGLO-IRISH YOUTH IN ELIZABETH BOWEN’S THE LAST SEPTEMBER Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya; Priyatna, Aquarini; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 15, No 1 (2025): METAHUMANIORA, APRIL 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v15i1.60769

Abstract

Elizabeth Bowen’s The Last September (1929), a novel about an Anglo-Irish gentry family in Danielstown, Cork in the middle of the war for Irish independence from England, portrays the fate of the youths of the Anglo-Irish. By referring to Warhol’s feminist narratological approach, this research aims to display the portrayal of Lois Farquar’s as a representation of a female member of the Anglo-Irish society. The Last September, as a modernist novel, portrays Lois’s gendered experience through actions, dialogue and narrations. Lois Farquar, teenage protagonist of the novel, is depicted to be grappling with her own struggle with self-realization and the expectations set by her Anglo-Irish family. Lois’s struggle with her identity is, in part, a consequence of the repression and alienation she and fellow members of the Anglo-Irish society experience, stunting the development of Lois’s identity and agency. Thus, we propose that the novel, with its modernist narrative that centers around female Anglo-Irish interiority, presents Lois, and the youths of the Anglo-Irish, as aliens frozen in time, lacking the ability to inherit their legacy or undergo transformation.