Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENYULUHAN KESEHATAN PENYAKIT DEGENERATIF, PENYAKIT MENULAR (ISPA) DAN KEBIASAAN MENGONSUMSI MAKANAN TINGGI PURIN DENGAN KADAR ASAM URAT DI DESA KALIANGET KABUPATEN SUMENEP Charisma, Acivrida Mega; Mulyani, Sri
Jurnal Bakti untuk Negeri Vol 4 No 2 (2024): JBN
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jbn.v4i2.2168

Abstract

Based on demographic conditions, the majority of residents in this village earn their living as farmers, pedicab drivers, traders, fishermen and civil servants. So that diseases arise that often occur in people, most of the diseases that disturb in this area are: gout, diabetes mellitus, and pneumonia. The research provides a comprehensive analytical review on the impact of soft drinks on human health. Consumption of soft drinks containing high amounts of sugar, not only impairs the fine control of blood sugar but also adds other complications such as overweight and obesity. The availability of calorie-dense fast food or junk food also contributes to the problem of diabetes or the emergence of type 2 obesity. Implementation method in the Community Health Development Program in East Kalianget Village, Kalianget District, Sumenep Regency, East Java Province. The methods used were counseling, distributing questionnaires and distributing leaflets. From the results of the 15 questionnaires that I have distributed, the dangers of consuming foods high in purine in gout sufferers, the side effects and long-term effects of consuming junk food, soft drinks and obesity, as many as 85% understand the counseling that has been presented. However, 15% did not understand the counseling. 
Studi Literatur: Faktor Risiko dan Strategi Pengendalian Fasciolosis di Indonesia Charisma, Acivrida Mega; Ekawasti, Fitrine; Wahyuningrum, Arina; Naisali, Walburga F. F.; Syawaludin, Moch. Fardha; Auralya, Theresia Feby; Vebiayanti, Saski Dwi; Maisaroh, Maisaroh; Rukmana, Dinda Herdiana; Alfani, Moh.; Afkarina, Zida Kamalia
JURNAL KAJIAN VETERINER Vol 12 No 2 (2024): Jurnal Kajian Veteriner
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v12i2.19337

Abstract

Fasciola hepatica is the main species found infecting livestock. Fasciolosis is a significant animal health and public health problem, causing major economic losses. Epidemiological studies of fasciolosis in dairy cattle in Indonesia are still few and existing reports only focus on prevalence. Fasciolosis is an endemic parasitic disease in Indonesia and causes considerable economic losses. Efforts that can be made to prevent disease are vector eradication, namely eradicating snails through biological means, for example by raising ducks. Raising ducks biologically can reduce the worm population. Several simple techniques for controlling worm infections in cattle can be done by regulating feeding, timing grass cutting and making compost to break the life cycle of Fasciola sp. In general, dairy cattle in Indonesia are raised more intensively compared to beef cattle farms, which explains the difference in prevalence rates. In intensive farming systems, animals are housed permanently, limiting their exposure to parasite-contaminated grass compared to pastured animals.
Elimination of Schistosoma japonica in Central Sulawesi, Indonesia Intermediate Snail Control and Utilization Medicinal Plants Charisma, Acivrida Mega; Naftalia, Anjelline; Ramadhan, Alfian Anwar Putra; Aulia, Rasyida Salma; Solikhah, Ferdina Amalia; Muasyaroh, Husnul; Maslakha, Vina Lailatul; Hikmah, Nurul; Belina, Ken Dyah Ayu; Adinda, Hilda; Wulandari, Siska
Journal of Parasite Science Vol. 9 No. 1 (2025): Journal of Parasite Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jops.v9i1.62395

Abstract

Schistosomiasis is a zoonotic health problem caused by infection with the schistosoma class parasite, which lives in human blood vessels and around the intestines and bladder. Intermediate hosts in the form of snails and definitive hosts in animals and humans can be influenced by physical, chemical and biological environmental conditions. Schistosomiasis in Indonesia is caused by the trematode worm Schistosoma japonica (S. japonicum) with the intermediate host being the snail Oncomelania hupensis lindoensis. Schistosomiasis is still a public health problem in endemic areas. In Indonesia, schistosomiasis is only found in Central Sulawesi Province, namely the Napu Plateau and Bada Plateau, Poso Regency and Lindu Plateau, Sigi Regency. S. japonica is currently endemic in three very remote areas in Central Sulawesi Province, Indonesia. An integrated schistosomiasis control program has been implemented, however, the reported prevalence data shows a trend of increasing schistosomiasis prevalence in three endemic areas in Central Sulawesi. Eliminating schistosomiasis in Indonesia is not easy. This review will examine several challenges hindering the implementation and sustainability of schistosomiasis elimination programs, including the S. japonica intermediate snail control program and the use of medicinal plants for the treatment of schistosomiasis.
(SIKAGE) SISTIM KEAMANAN DEMAM BERDARAH DENGUE DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN DI DESA KREMBANGAN, KECAMATAN TAMAN, SIDOARJO Charisma, Acivrida Mega; Arisanti, Ardhia; Azifah, Shinta Nur Yaumil; Wardani, Anna Widyah
Journal Community Service Consortium Vol 3 No 2 (2023): Journal Community Service Consortium
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/consortium.v3i2.4262

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih ada setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penanggulangan DBD. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan selama dua minggu di bulan Agustus 2022. Adapun metode yang dilakukan dalam kegiatan ini terdiri dari tahap persiapan dan pelaksanaan. Pada tahap persiapan ini berisi tentang kegiatan pra-pelaksanaan dalam penetapan permasalahan mitra sasaran mulai dari survei tempat, mempersiapkan pendataan, sarana penunjang, dan kebutuhan lainnya. Kemudian pada tahap pelaksanaan seperti kegiatan edukasi, pelaksanaan pencegahan penanggulangan, dan monitoring serta evaluasi. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu pamflet, brosur, bubuk larvasida (abate), tanaman pengusir nyamuk, media sosial, dan peralatan kebersihan. Kegiatan Sikage di desa Krembangan dapat terlaksana dengan baik di mana masyarakat sangat antusias. Kegiatan ini menerapkan Sikage (Sistem Keamanan dalam Pencegahan dan Penanggulangan DBD) kepada masyarakat. Pertama kami melakukan edukasi jumantik di mana edukasi tersebut dilakukan dengan metode ceramah door to door karena terdapat kendala yaitu minimnya kehadiran masyarakat. Sebanyak 95% masyarakat memahami dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan DBD.
Efektivitas Penggunaan Pewarna Giemsa sebagai Substitusi Harris Hematoksilin dalam Pewarnaan Papanicolaou pada Sitologi Cairan Asites Charisma, Acivrida Mega; Indrawati, Reni; Kapri, Yohanes Ardian
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 16 No 1 (2025): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sitologi pada cairan asites dapat menggunakan pewarnaan papanicolaou, yaitu metode pengecatan polikromatis dengan kombinasi pengecatan hematoksilin untuk mewarnai inti sel dan sitoplasma pada bagian pewarna lainnya. Pewarna utama dalam metode papanicolaou adalah Harris hematoksilin, sedangkan Orange G dan eosin digunakan sebagai pewarna pembanding. Penggunaan Harris hematoksilin sering mengalami kendala, seperti nukleus yang tampak terlalu pucat, sehingga hasil sulit dibaca di mikroskop. Sebagai alternatif, digunakan larutan Giemsa dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas penggunaan pewarna giemsa dalam pewarnaan papanicolaou. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Patologi Anatomi Universitas Anwar Medika pada bulan Juli 2024. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu kuantitatif dengan desain penelitian eksperimental. Sampel pada penelitian ini adalah 6 cairan asites dengan volume tiap sampel sebanyak 100 ml, yang dibuat menjadi 24 sediaan preparat, berasal dari 6 sediaan preparat kontrol, 6 sediaan preparat giemsa 5%, 6 sediaan preparat giemsa 10%, dan 6 sediaan preparat giemsa 15%. Parameter penelitian ini menggunakan penilaian skor dari kualitas sediaan pewarnaan papanicolaou. Berdasarkan kualitas penilaian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi giemsa 5% lebih baik dari pada konsentrasi 10% dan 15% dikarenakan hasil sitoplasma terlihat baik, inti sel terlihat jelas dengan struktur sel masih dapat diidentifikasi. Berdasarkan hasil nilai uji kruskal wallis, di dapatkan nilai Asymp. Sig yaitu 0,02 yang mana ketiganya bernilai <0,05 artinya terdapat perbedaan antara giemsa 5%, 10%, dan 15% sebagai pewarna pengganti harris hematoksilin.
Studi Literatur: Efektivitas Deteksi Malaria Menggunakan Pemeriksaan Mikroskopis Apusan Darah Charisma, Acivrida Mega; Ekawasti, Fitrine; Azis, Mutiara Zakhilah; Sari, Adela Permata; Suci, Azlin Eva; Putra R, Rafi; Putri, Sintia Cahyani; Sugiarto, Agus Bambang
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jkupr.v13i1.17393

Abstract

Malaria is an infectious disease caused by the parasites Plasmodium malariae, Plasmodium vivax, Plasmodium, falciparum, Plasmodium ovale, and Plasmodium knowlesi. The purpose of the literature review is to determine the effectiveness of malaria detection microscopically using blood smears. This research method uses data from scientific publications sourced from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Malaria cases in 2019-2021 have increased worldwide. Deaths from malaria that occurred worldwide in 2019-2020 increased by 12%. Indonesia contributes the second largest number of malaria cases in the Asian region after India, especially in the eastern region including Papua Province, West Papua Province, East Nusa Tenggara Province, and Maluku Province. Mortality rates from malaria still occur in several provinces in Indonesia. The purpose of this study is to determine the effectiveness of malaria detection using microscopic examination of blood smears. This research method is a literature review of the description of research results that have been conducted by others. Searches on the Google Scholar and Science Direct search engines use boolean techniques. This journal review was taken because the detection of malaria using blood smear microscopic tests is one of the most commonly used common methods, and can help improve professional competence in diagnosing and planning appropriate treatment for malaria sufferers, so it is relevant for doctors, analysts, and health researchers. Blood smear microscopy is the main way to detect malaria using thick blood preparations, this test can find Plasmodium malariae, Plasmodium vivax, Plasmodium, falciparum, Plasmodium ovale, Plasmodium knowlesi even in small amounts. Thin blood preparations help identify parasite species accurately.  
Effectiveness of Using Methylene Blue Dyes in Papanicolaou Staining in Cytology of Ascites Fluid Charisma, Acivrida Mega; Permatasari, Melati Indah; Negara, Yohanes Ardian Kapri
jitek Vol 12 No 2 (2025): Maret 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jitek.v12i2.1803

Abstract

Papanicolaou staining is routinely used in staining ascitic fluid to identify malignant cells. However, pale nucleus arise as a problem associated with Harris hematoxylin, causing the sample to be hard to see under microscope. Methylene blue can be an alternative stain targeting nucleus in fluid sample. This study aims to evaluate the effectiveness of methylene blue in Papanicolaou staining for the cytology of ascitic fluid. The research uses an experimental approach by preparing four smears from each of 6 ascitic fluid samples obtained from the Laboratory of the Faculty of Medicine, at Airlangga University. The four smears were stained differently, consisting of Papanicolaou staining as control, and methylene blue replacing Harris hematoxylin with concentration of 5%, 10% and 15%. Slides were graded for its morphology with quality scores of 1,2,3 and 4, followed by statistical analysis. Based on the results of the Kruskal-Wallis test, the Sig value was 0.001, which was <0.005, showing difference between control and experimental group. Quality assessment revealed slides stained with 5% methylene blue solution to have clear shape of the cell nucleus, cytoplasm and the shape of the cell compared with slides stained with 10% and 15%. Hence, it can be concluded that 5% methylene blue solution can be used as an alternative solution.
Edukasi Penerapan Hidup Bersih Sehat (PHBS) di Lingkungan Sekolah Dasar Untuk Pencegahan Kecacingan Pada Siswa SD X Charisma, Acivrida Mega; Adinda, Hilda; Auralya, Theresia Feby; Solikhah, Ferdina Amalia
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7280

Abstract

Kecacingan masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemukan pada anak usia sekolah dasar di Indonesia, yang umumnya disebabkan oleh rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa sekolah dasar mengenai penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan kecacingan. Metode yang digunakan meliputi edukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, demonstrasi, praktik langsung, dan permainan edukatif, dengan 50 siswa kelas III–V sebagai peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan kategori pengetahuan baik dari 20% menjadi 90% dan rata-rata skor dari 65,4 menjadi 88,7. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa dan diharapkan dapat mendorong penerapan PHBS secara berkelanjutan di sekolah untuk menurunkan angka kejadian kecacingan.
Pengolahan Limbah Feses Sapi menjadi Kompos Blok (KOPIKO) Berbasis Zero waste yang Bernilai Ekonomis di Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Charisma, Acivrida Mega; Farida, Elis Anita; Kriswibowo, Rony; Gantari, Marsellyna Rahma; Puspita, Chelsea Dhea
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7528

Abstract

Limbah feses sapi merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah peternakan yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang merupakan daerah dengan populasi ternak sapi cukup tinggi sehingga menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan teknologi tepat guna pengolahan limbah feses sapi menjadi kompos blok (KOPIKO) berbasis zero waste yang memiliki nilai ekonomis dan ramah lingkungan. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, pendampingan teknis, serta evaluasi melalui pretest dan posttest terhadap indikator pengetahuan, sikap, keterampilan, dan ekonomi masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada seluruh indikator, yaitu pengetahuan meningkat dari 54,5 menjadi 88,0; sikap dari 65,0 menjadi 92,5; keterampilan dari 50,0 menjadi 90,0; dan pemahaman ekonomi dari 40,0 menjadi 85,0. Selain itu, kegiatan ini berhasil menurunkan volume limbah tak terolah hingga 80% serta memberikan tambahan pendapatan rata-rata Rp 3.000.000–Rp 4.500.000 per bulan bagi kelompok peternak. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, keterampilan teknis, dan kemandirian ekonomi masyarakat. Inovasi KOPIKO menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah peternakan berbasis zero waste serta berpotensi dikembangkan di wilayah lain dengan karakteristik serupa.  Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan peternak mengolah limbah feses sapi menjadi kompos blok bernilai ekonomis. Teknologi kompos blok yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan mitra. Model penerapan ini dapat direplikasi pada kelompok peternak lain untuk mendukung implementasi zero waste di wilayah pedesaan.