Putu Cintya Denny Yuliyatni
Departemen Kesehatan Masyarakat Dan Kedokteran Pencegahan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Hubungan Persepsi Tubuh dengan Kejadian Eating Disorder Remaja Putri di Denpasar Made Sindy Astri Pratiwi; Made Violin Weda Yani; Made Priska Arya Agustini; Putu Cintya Denny Yuliyatni
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i9.P11

Abstract

Persepsi tubuh adalah faktor kepercayaan diri remaja putri. Perhatian kuat tentang persepsi tubuh membuat mereka melakukan berbagai usaha untuk memiliki tubuh ideal yang dapat menyebabkan eating disorder atau gangguan makan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi tubuh dan eating disorder pada remaja putri. Desain penelitian ini adalah observasi cross sectional bertempat di SMAN 1 Denpasar. Subjek penelitian berjumlah 190 remaja putri berusia 14-18 tahun yang dipilih dengan simple random sampling. Penilaian persepsi tubuh menggunakan BSQ-34dan gangguan makan dinilai menggunakan EAT-26. Data yang terkumpul dianalisis secara univariat dan bivariat. Dari 190 subjek penelitian yang didominasi usia 17 tahun terdapat 17,9% remaja putri memiliki persepsi tubuh negatif dengan kategori ringan 12,1%, sedang 4,7%, dan berat 1,1%, serta 82,1% dengan persepsi tubuh positif. Sebagian besar subjek tidak berisiko terhadap eating disorder dengan angka 86,8% dan yang berisiko sebesar 13,2%. Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi tubuh dengan kejadian eating disorder remaja putri (p value= 0.00, PR (95% CI)= 9.75 (4.59-20.72)). Remaja putri dengan persepsi tubuh yang negatif memiliki risiko menjadi eating disorder lebih besar dibanding remaja dengan persepsi positif. Kata kunci : persepsi tubuh, eating disorder, remaja putri
Hubungan Pengetahuan dan Persepsi terhadap Kesediaan Melakukan Vaksinasi Human Papillomavirus pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana I Gusti Ayu Aruna Krisnadewani; Putu Cintya Denny Yuliyatni; Wayan Citra Wulan Sucipta Putri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i12.P12

Abstract

Kanker serviks menjadi kanker terbanyak ke-empat di dunia yang menyerang perempuan dengan insiden sebesar 6.6%. Ka.nker serviiks sebe.nairnya dapat dicegah, salah satunya adialah peinceigahan priiimer deingan meilakuokan vaksiinasii HPV. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahuii ada atau tidaknya hub.un.gan ant.ara pen.getahuan dan p.ersepsii terhadap kesediiaan melakukan vaksiinasi HPV. Penelitian ini dilakukan dengan moetode suirvei anialitik dengan desain cross-se0ctional. Sampel dari penelitian ini adalah mahasiswi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2017 yang belum pernah melakukan vaksinasi HPV dan tidak sedang hamil atau menjalani program kehamilan yakni sejumlah 62 responden. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan kemudian dilakukan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap kesediaan melakukan vaksinasi (p=0.021), terdapat hubungan antara perceiived susiceptibility (p=0.049), peirceiived beinefiits (p=0.040), serta peirceived barriiers terhadap kesediaan melakukan vaksinasi HPV (p=0.020). Sementara itu tidak terdapat hubungan antara perceived severity terhadap kesediaan melakukan vaksinasi HPV (p=0.510). Edukasi mengenai kanker serviks dan pencegahannya sebaiknya terus diberikan untuk meningkatkan pengetahuan dan persepsi remaja wanita sebagai salah satu dorongan untuk melakukan vaksinasi HPV. Kata kunci : pengetahuan, persepsi, kesediaan
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MENGEMUDI TIDAK AMAN PADA SUPIR KOPERASI USAHA PINGGIR JALAN (KUPJ) Angela Flora Berliana Br Siahaan; Putu Cintya Denny Yuliyatni
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 9 No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2022.v09.i02.p02

Abstract

ABSTRAK Perilaku mengemudi tidak aman merupakan perilaku mengendarai kendaraan yang tidak sesuai dengan standar keamanan dan keselamatan serta dapat mebahayakan keselamatan orang-orang sekitarnya. Perilaku mengemudi tidak aman dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor prediposisi (umur, masa kerja, durasi kerja, shift kerja, waktu tempuh satu kali keberangkatan dan tingkat pengetahuan), faktor pendukung (kondisi kendaraan) dan faktor pendorong (dukungan/motivasi keluarga). Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku mengemudi tidak aman pada supir Koperasi Usaha Pinggir Jalan. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di pangkalan Koperasi Usaha Pinggir Jalan yang berlokasi di Kota Medan. Sampel dari penelitian adalah supir Koperasi Usaha Pinggir Jalan sebanyak 81 orang. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Analisis menggunakan regresi logistic berganda. Hasil penelitian menunjukkan 76,54% memiliki perilaku mengemudi tidak aman dan 23,46% memiliki perilaku mengemudi aman. Durasi kerja (p = 0,02) merupakan variabel yang berhubungan signifikan dalam memengaruhi perilaku mengemudi tidak aman. Kata Kunci: Perilaku Mengemudi Tidak Aman, Sopir, Koperasi Usaha Pinggir Jalan (KUPJ) ABSTRACT Unsafe driving behavior was the behavior that was not in accordance with safety and security standards while driving which could endanger people’s safety around it. Unsafe driving behavior could be affected by several factors, such as predispositions factor (age, work period, work shift, one-way travel time, and knowledge), supporting factors (vehicle condition), and driving factors (family support). This research meant to analyze the factors related to unsafe driving behavior among Koperasi Usaha Pinggir Jalan Drivers. This research was conducted at the base of Koperasi Usaha Pinggir Jalan. This research used simple random sampling method on 81 Koperasi Usaha Pinggir Jalan Drivers. Data analysis was performed by using multiple logistic regression. The result showed that 76,54% drivers had unsafe driving behavior while the rest 23.46% had safe driving behavior. Work period (p = 0,02) was significantly related variable on affecting unsafe driving behavior. Keywords: Unsafe driving, driver, Koperasi Usaha Pinggir Jalan (KUPJ)
The relationship between body image and tea drinking habits with anemia among adolescent girls in Badung District, Bali, Indonesia Kadek Agus Dwija Putra; Putu Cintya Denny Yuliyatni; Ni Ketut Sutiari
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.763 KB) | DOI: 10.53638/phpma.2020.v8.i1.p05

Abstract

Background and purpose: The prevalence of anemia among adolescent girls in Indonesia remains high. Poor nutrition is a risk factor of anemia among adolescent girls, which is likely related to food intake restrictions to achieve a desired body shape (body image), and the habit of drinking tea while eating which can affect the absorption of iron. This study aims to determine the relationship between anemia with body image perception and tea drinking habits among adolescent girls. Methods: This study used a cross-sectional design carried out from March-May 2018, involving girls aged 15-18 years at high schools in Badung District. Two schools were selected from 44 high schools, then a sample of 106 students were selected by systematic random sampling. Data collected included hemoglobin levels measured with hematology autoanalyzer, nutritional status with anthropometric measurements, and data on socio-demographics, socio-economics, tea drinking and eating habits, menstrual pattern, helminthiasis, knowledge and perception of body image with face-to-face individual interviews. Data were analyzed using the Chi square test for bivariate analysis, and multivariate using logistic regression. Results: The prevalence of anemia (hemoglobin <12 g/dL) in adolescent girls was 13.2%. The results of the logistic regression analysis showed that the variables associated with anemia were poor knowledge about anemia with an adjusted odds ratio (AOR)=11.4 (95%CI: 1.6-83.1), no iron supplement consumption (AOR=14.7; 95%CI: 1.9-109.8), negative body image (AOR=30.6; 95%CI: 2.9-321.1), tea drinking habits while eating (AOR=52.2; 95%CI: 4.2-642.9) and excessive menstrual volume (AOR=17.1; 95%CI: 1.6-185.9). Conclusion: Negative perceptions of body image and tea drinking habits while eating increase the risk of anemia among adolescent girls aged 15-18 years. In addition, poor knowledge about anemia, a history of not consuming iron supplements and excessive menstrual volume can also increase the risk. These factors need to be considered when designing policies to reduce anemia among adolescent girls.
Gambaran biaya rawat inap pengobatan pneumonia pada pasien anak di RSUP Sanglah tahun 2018 A.A Ngurah Yamananda; Wayan Citra Wulan Sucipta Putri; Putu Cintya Denny Yuliyatni
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 3 (2019): (Available online: 1 December 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.581 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i3.455

Abstract

Introduction: Pneumonia is the leading cause of death on children in Indonesia with a percentage reaching 21%, especially in infants aged less than 2 months. In the world, this disease is the number one killer of children where more than two million children have died from it, or causes one in five under-five deaths worldwide every year. High pneumonia morbidity and mortality rates are closely related to the quality of services, and the quality of resources in a health facility, up to the cost of treatment.Method: This research is an observational research with descriptive research design, and uses crossectional data collection methods (cross section). This study aims to determine the description of pneumonia treatment consisting of direct medical costs, direct non-medical costs, and indirect costs of the average cost therapy for pneumonia in pediatric patients at the Sanglah Hospital inpatient care in 2018.Result: Data were obtained from 21 samples of children with pneumonia. The average direct medical cost of patients was Rp. 3,838,270, the average direct non-medical cost is Rp. 1,443,076, and the average indirect cost is Rp. 941.905.Conclusion: The average direct medical cost of a patient is Rp. 3,838,270, room costs are the largest component, 26.9% of the average total medical costs. The average direct non-medical cost of patients is Rp. 1,443,076, consumption costs are the largest component of non-medical costs, 51.3% of the average total non-medical costs. Average patient indirect costs are Rp. 941.905, maternal productivity costs are the largest indirect cost component, 67.8% of the average total indirect costs.Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada balita di Indonesia dengan persentase mencapai 21%, terutama pada bayi yang berumur kurang dari 2 bulan. Di dunia, penyakit ini menjadi pembunuh nomor satu balita dimana lebih dari dua juta balita telah meninggal karenanya, atau penyebab satu dari lima kematian balita di seluruh dunia setiap tahunnya. Angka kesakitan dan kematian pneumonia yang tinggi sangat terkait dengan mutu layanan dan kualitas sumber daya di suatu fasilitas kesehatan, sampai dengan pembiayaan terapinya.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif, dan menggunakan metode pengambilan data crossectional (potong lintang) untuk mengetahui gambaran pengobatan pneumonia yang terdiri dari biaya medis langsung, biaya non medis langsung, dan biaya tidak langsung dari rata-rata biaya terapi pneumonia pada pasien anak di instalasi rawat inap RSUP Sanglah pada tahun 2018.Hasil: Data dari 21 sampel pasien pneumonia anak, rerata biaya medis langsung pasien adalah sejumlah Rp. 3.838.270, rerata biaya non medis langsung adalah sejumlah Rp. 1.443.076, dan reratabiaya tidak langsung adalah sejumlah Rp. 941.905.Simpulan: Rerata biaya medis langsung pasien adalah sejumlah Rp. 3.838.270, biaya kamar adalah komponen terbesar, 26.9% dari rerata total biaya medis. Rerata biaya non medis langsung pasien adalah Rp. 1.443.076, biaya konsumsi adalah komponen biaya non medis terbesar, 51.3% dari rerata total biaya non medis. Rerata biaya tidak langsung pasien adalah Rp. 941.905, biaya produktifitas ibu adalah komponen biaya tidak langsung terbesar, 67.8% dari rerata total biaya tidak langsung.
Prevalensi dan gambaran karakteristik kejadian depresi pada pasien geriatri di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dawan I Klungkung, Bali, Indonesia Petrus Kanisius Yogi Hariyanto; Muhammad Faisal Putro Utomo; Ni Putu Chandra Paramita; Cok Gde Prema Kurnia Baswara; Putu Cintya Denny Yuliyatni
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.862 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.557

Abstract

Background: Elderly are those who already 60 years old or more. Elderly gave many impacts, some were positive, some are negative. Positive only if they are still productive and healthy, but there were also some negative impacts which cannot be ruled out, especially those who got illness and dysfunctions. Depression is one of the main contributors to elderly illness. This study aims to represent the depression status of elderly at UPT Kesmas Dawan I Klungkung, Bali, Indonesia. Methods: This cross-sectional study was involving 55 elder patients in UPT Kesmas Dawan I, Klungkung at the first week on June 2018. Sex, age, metabolic disease history, vision impairment, hearing impairment, and depression status by using the Geriatric Depression Scale (GDS) were included. Data were collected by interviewing the respondent. Those data were analyzed using SPSS version for Windows for the univariate and bivariate results.Results: From a total of 55 samples, 61.8% in males. Prevalence of depression is 45.5%. Prevalence of depressed elderly that have metabolic disease history is 84%, and those who have vision impairment is 88%. Lastly, those who have hearing impairment is 56%. Of the 25 people who were depressed, most of them were women (68.0%), had metabolic diseases (84.0%), vision problems (88.0%), and hearing loss (56.0%).Conclusion: In this study, almost half of the samples are on depression. Further investigation using other designs and study methods are needed to get better results.  Latar Belakang: Orang lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Banyak dampak yang diberikan lansia terhadap kondisi suatu negara, baik negatif maupun positif. Positif apabila lansia tersebut masih dapat produktif dan sehat, namun dampak negatif juga tidak dapat dikesampingkan, terutama banyaknya lansia yang mengalami penurunan kesehatan. Depresi merupakan salah satu penyumbang angka kesakitan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status depresi pada lansia di UPT Kesmas Dawan I Klungkung, Bali, Indonesia.Metode: Penelitian potong-lintang ini melibatkan 55 pasien lansia di UPT Kesmas Dawan I, Klungkung pada minggu pertama bulan Juni 2018. Pengumpulan data mencakup jenis kelamin, usia, riwayat penyakit metabolik, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan status depresi menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS). Data diperoleh melalui wawancara terhadap responden. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 20 untuk Windows untuk hasil univariat dan bivariat.Hasil: Dari total 55 sampel, diperoleh 61,8% adalah laki-laki. Prevalensi pasien yang menderita depresi sebesar 45,5%. Prevalensi lansia dengan riwayat penyakit metabolik yang mengalami depresi sebesar 84,0%, sedangkan lansia dengan riwayat gangguan penglihatan sebesar 88,0%, dilanjutkan dengan gangguan pendengaran sebanyak 56,0%. Dari sebanyak 25 orang yang mengalami depresi, sebagian besar adalah perempuan (68,0%), memiliki penyakit metabolik (84,0%), gangguan penglihatan (88,0%), maupun gangguan pendengaran (56,0%).Kesimpulan: Pada penelitian ini tampak hampir setengah total sampel menderita depresi. Penelitian lebih lanjut menggunakan desain dan metode penelitian lain dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
Analisis faktor risiko infeksi malaria sesudah bencana gempa bumi di Kabupaten Lombok Barat, Indonesia Michelle Amazing Grace Rampengan; Ni Made Utami Dwipayanti; Putu Cintya Denny Yuliyatni
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.084 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.660

Abstract

Background: Malaria is an infectious disease that often arises in post-disaster situations such as earthquakes. The earthquake that occurred in Lombok caused damage to people's homes and forced them to live in emergency tents. This condition increases the risk of malaria transmission so that malaria outbreak occurs. This study aims to determine the risk factors for malaria infection after the earthquake disaster in West Lombok Regency.Methods: A case-control study was conducted among 168 respondents located in four Public Health Services working areas in West Lombok. Cases were positive malaria sufferers based on microscopic examination results and were recorded in the health centre register in the September-November 2018 period. In addition, the controls were people who did not suffer from malaria based on microscopic examination results and lived in the study area. Case samples were selected by systematic random sampling from the register of health centres and control samples were selected by convenient sampling from communities living in one hamlet with cases. The bivariate analysis uses Chi-Square and Fisher-Exact test, while multivariate analysis uses logistic regression in SPSS version 20 for Windows.Results: The results showed that the proportion of male and female did not differ between groups of cases and controls (50.0%; p = 1.00). Most of the case groups were > 34 years old (51.8%) while controls were ≤ 34 years old (55.4%). There were no differences in proportions at the level of education, occupation, type of residence, length of refuge, and location of refuge in the two groups (p> 0.05). The results of multivariate analysis showed that the risk factors for malaria infection after the earthquake disaster in the district of West Lombok were primarily due to the presence of gardens in refugee camps (AOR = 11,899; 95% CI: 2,369-59,774).Conclusion: The existence of gardens in refugee camps is the most influential risk factor for malaria infection after the earthquake disaster in West Lombok Regency. Latar Belakang: Malaria adalah penyakit menular yang sering muncul pada situasi sesudah bencana seperti gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi di Lombok ini mengakibatkan kerusakan pada rumah-rumah warga dan mengharuskan mereka tinggal di tenda-tenda darurat. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan malaria sehingga terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko infeksi malaria sesudah bencana gempa bumi di Kabupaten Lombok Barat.Metode: Penelitian kasus-kontrol (case-control) dan berlokasi di empat wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Lombok Barat sebanyak 168 responden dilakukan pada penelitian ini. Kasus adalah penderita malaria positif berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis dan tercatat dalam buku register puskesmas pada periode September-November 2018. Sedangkan kontrol adalah orang yang tidak menderita malaria berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis dan tinggal di wilayah tempat penelitian. Sampel kasus dipilih secara systematic random sampling dari buku register puskesmas dan sampel kontrol dipilih secara convenient sampling dari masyarakat yang tinggal satu dusun dengan kasus. Analisis bivariat menggunakan chi square dan fisher sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik pada SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak berbeda antar kelompok kasus dan kontrol (50,0%; p=1,00). Sebagian besar kelompok kasus berusia > 34 tahun (51,8%) sedangkan kontrol berusia ≤ 34 tahun (55,4%). Tidak terdapat perbedaan proporsi pada tingkat pendidikan, pekerjaan, jenis tempat tinggal, lama mengungsi, dan lokasi mengungsi pada kedua kelompok (p>0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko infeksi malaria sesudah bencana gempa bumi di kabupaten Lombok Barat adalah sebagian besar oleh keberadaan kebun di lokasi pengungsian (AOR=11,899; 95%IK: 2,369-59,774).Simpulan: Keberadaan kebun di lokasi pengungsian merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap infeksi malaria sesudah bencana gempa bumi di Kabupaten Lombok barat.
Gambaran kepatuhan terapi antiretroviral pada lelaki-seks-lelaki di Klinik Bali Medika Phebe Indriani; Putu Cintya Denny Yuliyatni; Luh Seri Ani; I Wayan Weta
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 2 (2020): (Available online: 1 August 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.011 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i2.664

Abstract

Background: HIV prevalence in Indonesia and Bali is quite large. The main factor in achieving success in the treatment of HIV / AIDS virus infections is compliance.Aim: This study aims to determine the adherence of ARV therapy to MSM based on the characteristics and clinical stage in one of the CST clinics, the Bali Medika clinic. This descriptive study with cross sectional design used simple random sampling from the register of HIV patients at the Bali Medika Clinic so as to get 90 MSM (male-sex-male) patients. Data sources were taken from medical records regarding the characteristics, clinical stage, and treatment compliance of the study subjects. The data obtained were analyzed and displayed in the form of frequency tables and cross tables.Results: The majority of MSM sufferers with HIV are less than 31 years old; single (95.6%); low education (52.2%); have a job (94.4%); are in clinical stage I (77.8%); do not have coinfection (86.7%); use FDC drugs (92.2%); and suffered side effects from dizziness (90.0%). Most (66.7%) adhere to the Bali Medika Clinic.Conclusion: MSM at the Bali Medika Clinic tend to have high compliance in carrying out ARV therapy. Latar Belakang: Prevalensi HIV di Indonesia dan Bali cukup besar. Faktor utama dalam mencapai keberhasilan pengobatan infeksi virus HIV/AIDS adalah kepatuhan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan terapi ARV pada LSL (lelaki-seks-lekali) berdasarkan karakteristik dan stadium klinis di salah satu klinik CST, yaitu klinik Bali Medika.Metode: Desain penelitian dengan rancangan potong lintang ini menggunakan simple random sampling dari daftar register pasien HIV di Klinik Bali Medika sehingga mendapatkan 90 pasien LSL. Sumber data diambil dari rekam medis mengenai karakteristik, stadium klinis, dan kepatuhan terapi dari subjek penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dan ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabel silang.Hasil: Sebagian besar LSL penderita HIV berusia kurang dari sama dengan 31  tahun; belum menikah (95,6%); berpendidikan rendah  (52,2%); memiliki pekerjaan (94,4%); berada dalam stadium klinis I (77,8%); tidak memiliki koinfeksi (86,7%); menggunakan jenis obat FDC (92,2%); dan menderita efek samping pusing (90,0%). Sebagian besar (66,7%) patuh berkunjung ke Klinik Bali Medika.Simpulan: LSL di Klinik Bali Medika cenderung memiliki kepatuhan yang tinggi dalam menjalankan terapi ARV.
Hubungan kejadian eating disorder dengan status gizi remaja putri di Denpasar, Bali Made Violin Weda Yani; Made Sindy Astri Pratiwi; Made Priska Arya Agustini; Putu Cintya Denny Yuliyatni; I Gede Putu Supadmanaba
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 3 (2022): (In Press 1 December 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i3.717

Abstract

Background: Nutrition problems in adolescents both malnutrition and overnutrition in Indonesia are quite high. Nutrition problems are multifactorial, but several previous studies have shown that eating behavior will interfere with eating disorders related to nutritional quality. This study aims to analyze the relationship between eating attitude and eating disorders on nutritional status in adolescent girls. Methods: This research design was cross sectional observation conducted at SMAN 1 Denpasar, Bali. The samples were 119 adolescent girls that were selected by simple random sampling. Assessment of eating behavior used the adolescent food habit checklist, and eating disorders were assessed by EAT-26 questionnaire. Results: The subjects were 119 adolescent girls. Most of them were 15 and 16 years old. There were 53.8% of subjects having unhealthy food behavior and 86.6% did not experience eating disorders. There were 75.6% of students having normal nutritional status, followed by thin, overweight, and obese respectively 3.4%, 15.1%, and 5.9%. There was a significant relationship between eating attitude with nutritional status of adolescent girls (p value = 0.04; PR (95% CI) = 2.15 (1.09-4.21)). There is also a significant relationship between eating disorder with nutritional status of adolescent girls (p value=0.01; PR (95% CI) = 2.45 (1.32-4.56)) Conclusion: This study found that eating behavior was not related to nutritional status. The condition of eating disorders has a significant relationship with adolescent nutritional disorders. Individuals with eating disorders have a greater risk of experiencing nutritional disorders than individuals without eating disorders.   Latar Belakang: Masalah gizi pada remaja baik undernutrition ataupun overnutrition di Indonesia cukuplah tinggi. Masalah gizi pada remaja bersifat multifaktorial, namun beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor perilaku makan yang tidak baik akan memicu eating disorder yang berhubungan dengan kualitas gizi remaja putri. Sejauh ini belum terdapat studi terkait hubungan eating disorder dengan status gizi remaja putri di Bali. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku makan dan eating disorder terhadap status gizi pada remaja putri. Metode: Desain penelitian yaitu observasi cross sectional yang dilakukan di SMAN 1 Denpasar, Bali. Sampel berjumlah 119 orang remaja putri berusia 14-18 tahun yang dipilih dengan simple random sampling. Penilaian perilaku makan menggunakan the adolescent food habbit checklist, dan gangguan makan dinilai menggunakan kuesioner EAT-26. Hasil: Dari 119 subjek penelitian, dominasis siswi putri berusia 16 tahun. Sebanyak 53.8% remaja putri memiliki perilaku makanan yang tidak sehat dan 86.6% tidak mengalami eating disorder. Mayoritas siswi memiliki status gizi yang normal yaitu 75.6%, diikuti dengan status gizi kurus, gemuk, dan obesitas berturut-turut yaitu sebesar 3.4%, 15.1% dan 5.9%. Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku makan buruk dengan gangguan gizi (p value=0.049; PR(95%CI) = 0.52 (0.27-1.01)) dan terdapat pula hubungan yang signifikan antara eating disorder dengan gangguan gizi remaja putri (p value=0.01; PR (95% CI) = 2.45 (1.32-4.56)) Simpulan: Penelitian ini mendapatkan bahwa perilaku makan dan kondisi eating disorder memiliki hubungan signifikan dengan gangguan gizi remaja putri.  Individu dengan eating disorder memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan gizi dibandingkan individu tanpa eating disorder.
Association between emotional regulation and family support with quality of life of women with cervical cancer Putu Noviana Sagitarini; Putu Cintya Denny Yuliyatni; Ni Made Swasti Wulanyani
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53638/phpma.2019.v7.i1.p07

Abstract

Background and purpose: Cervical cancer ranks third globally and ranks second in Indonesia for all cancers in women. Women with cervical cancer experience physical and psychological disorders that can affect their quality of life. This study aims to determine the association between emotional regulation and family support with the quality of life of women with cervical cancer. Methods: A cross sectional survey was conducted in April 2018 at the Sanglah Hospital Obstetric Clinic. The study samples were chosen consecutively and consisted of 100 women with cervical cancer who underwent outpatient care. Data was collected using questionnaires filled in by the respondents and from the patient's medical records. Bivariate analysis was conducted with chi square test and multivariate with logistic regression. Results: The results showed that emotional regulation and family support were found to be significantly related to the quality of life of women with cervical cancer, each with AOR=17.64; 95%CI: 3.01-103.46; p=0.001 and AOR=11.28; 95%CI: 1.88-67.78; p=0.008. Conclusion: Emotional regulation and family support are related to the quality of life of women with cervical cancer. Efforts to improve emotional regulation and family support for patients should be carried out to improve their quality of life.
Co-Authors A.A Ngurah Yamananda Agnes Agatha Renaningtyas Itu Angela Flora Berliana Br Siahaan Ariawan, I Made Dwi Cempaka, Ayu Rissa Chika Christianne Moreen Nababan Citra Indriani Cok Gde Prema Kurnia Baswara Daiva, Putu Rizky Dela, Erinda Resta Sellia Devi, Natasha Pradnya Dwi Nuraeni, Ni Made Rai Dyah Pradnyaparmita Duarsa Gde Arisetyawan Dharmaputra Gede Agus Indra Pramana Ghanaputri , Made Maharani Calistha I G. P. Supadmanaba I Gusti Agung Alit Naya I Gusti Agung Ayu Sriningrat I Gusti Ayu Aruna Krisnadewani I Nyoman Sutarsa I Nyoman Sutarsa, I Nyoman I Wayan Weta I.B. Wirakusuma K.A.K Sari Kadek Agus Dwija Putra Komang Ayu Kartika Sari Luh Seri Ani Made Priska Arya Agustini Made Priska Arya Agustini Made Sindy Astri Pratiwi Made Sindy Astri Pratiwi Made Violin Weda Yani Made Violin Weda Yani Made Yogi Oktavian Prasetya Md. Candra Simbha Mego Windyningtyas Michelle Amazing Grace Rampengan Muhammad Faisal Putro Utomo N.L.P Ariastuti Ni Kade Erveni Ni Ketut Sutiari Ni Made Suasti Wulanyani Ni Made Utami Dwipayanti Ni Made Widya Juliati Ni Putu Chandra Paramita Petrus Kanisius Yogi Hariyanto Phebe Indriani Prabandari, Gusti Ayu Agung Diah Cahya Prijadi, Evelyn Andreana Pujana, Wayan Putra, Kadek Agus Dwija Putri, Pande Putu Ayu Rissa Cempaka Putri, Samantha Lilian Tjipto Putu Aryani Saputra, Ni Putu Amy Restu Wahyuni Sari, Komang Ayu Kartika Sawitri, Anak Agung Sagung Sebastian, Putu Andrea Wisnu Sudana, Vidya Aditi Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wayan Pujana Wisnawa, I Nyoman Dharma