Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Perbandingan Pemulihan Laju Jantung antara Subjek Obes Sentral Terlatih dengan yang Non-obes Sentral Tak Terlatih Wowor, Ribka; Wantania, Frans; Pamolango, Fendy
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.16878

Abstract

Abstract: Heart rate recovery (HRR) is a predictor of cardiovascular mortality in adult as well as a risk factor of diabetes mellitus and cardiovascular diseases. Heart rate recovery is affected by autonomic nerve system and interestingly, athletes have more effective autonomic nerve system than the non-athletes. This was an observational descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were 15 adult trained males with central obesity and 15 untrained males without central obesity. Central obesity was determined if abdominal circumferences was above 90 cm. The treadmill test with Bruce protocol was used to evaluate the HHR at the second minute of recovery which was abnormal if the HRR below 42 times per minute. The non-tailed T test was used to determine the comparison of HRR between trained central obese and non-trained non-central obese subjects. The results showed that the 15 trained males with central obesity had average age 31.7±3.7 years and mean abdominal circumference 98.6±5.66 cm meanwhile the 15 untrained males without central obesity had mean age 29.4±6.4 years and mean abdominal circumference 80.27±7.05 cm. Mean HRR of the trained subjects was 55.6±10.6 and of the untrained subjects was 47.8 ±1.8. The non-tailed T test showed significant result in comparing the HRR between trained subjects and untrained subjects (P < 0.025). Abnormal HRR was found in 6.6% of the trained subjects and in 20% of the untrained subjects. Conclusion: Trained males with central obesity had a better HRR significantly than untrained males without central obesity; therefore, physical exercise played an important role in HRR.Keywords: heart rate recovery (HRR), central obesity, trained Abstrak: Pemulihan laju jantung (PLJ) merupakan prediktor kematian kardiovaskular pada orang dewasa dan dipengaruhi oleh sistem saraf otonom. Uniknya, atlet atau individu yang terlatih memiliki sistem saraf otonom yang lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak terlatih. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian terdiri dari15 pria dewasa dengan obesitas sentral yang terlatih dan 15 pria dewasa dengan non-obesitas sentral yang tidak terlatih. Subjek dinyatakan terlatih bila memenuhi rekomendasi latihan fisik menurut WHO. Obesitas sentral diukur dengan meteran pada lingkar perut bila lebih dari 90 cm. Uji latih jantung (ULJ) menggunakan treadmill dengan protokol Bruce. Pemulihan laju jantung dinilai pada menit ke-2 fase pemulihan dan dikatakan abnormal bila PLJ <42 x/menit. Perbandingan antara PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih diuji dengan uji-T tidak berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan 15 subjek pria obes sentral yang terlatih dengan rerata usia 31,7±3,7 tahun, rerata lingkar perut 98,6±5,66cm dan 15 subjek pria non-obes sentral yang tidak terlatih dengan rerata usia 29,4±6,4 tahun, rerata lingkar perut 0,27±7,05cm. Rerata PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih 55,6±10,6, dan rerata PLJ pada non-obes sentral yang tidak terlatih 47,8±1,8. Uji-T tidak berpasangan mendapatkan hasil bermakna untuk perbandingan antara PLJ pada subjek obes sentral yang terlatih dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih (p<0,025). Didapatkan nilai abnormal PLJ 6,6% pada kelompok subjek obes sentral terlatih dan 20,0% pada kelompok subjek non-obes sentral tak terlatih. Simpulan: Subjek obes sentral yang terlatih memiliki PLJ yang lebih baik dibandingkan dengan subjek non-obes sentral yang tidak terlatih secara bermakna yang menunjukkan faktor latihan fisik berperan penting terhadap PLJ.Kata kunci: pemulihan laju jantung (PLJ), obesitas sentral, terlatih
Pengaruh Kesehatan Lingkungan terhadap Perubahan Epidemiologi Demam Berdarah di Indonesia Wowor, Ribka
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.16879

Abstract

Abstract: In Indonesia, dengue hemorrhagic fever (DHF) is a serious health problem. Infection of dengue has occurred in Indonesia for the last two decades. It is a self limiting disease, however, its clinical manifestations has become worsened since several years ago. Epidemiologic pattern of dengue infection changes every year, and there is a peak of new cases every 10 years. Nowadays, adolescence and adult individuals belong to the high risk population of this infection. This epidemiologic changing of DHF is influenced by several environmental factors, inter alia: 1) increasing of human population; 2) uncontrolled urbanization; 3) no effective control of mosquitoes in endemic areas; and 4) modernized public transportation.Keywords: environmental sanitation, epidemiology, dengue hemorrhagic fever Abstrak: Di Indonesia, demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Infeksi dengue terjadi secara endemis di Indonesia selama dua abad terakhir. Penyakit ini bersifat self limiting namun dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan manifestasi klinis yang semakin berat sebagai DBD dan frekuensi kejadian luar biasanya semakin meningkat. Pola epidemiologi infeksi dengue mengalami perubahan dari tahun ke tahun, jumlah kasus memuncak setiap siklus 10 tahunan. Kelompok usia yang terserang dengue berubah menjadi kelompok remaja dan dewasa. Perubahan epidemiologi DBD ini turut dipengaruhi oleh faktor kesehatan lingkungan. Faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks yaitu, antara lain: 1) pertumbuhan penduduk yang tinggi dan cepat; 2) urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali; 3) tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis; serta 4) peningkatan sarana transportasi.Kata kunci: kesehatan lingkungan, epidemiologi, demam berdarah dengue
Seorang Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan “Silent Angina” Wowor, Ribka E.; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23189

Abstract

Abstract: Coronary artery disease (CAD) is the leading cause of death for men and women in the United States. Prevalence of CAD in Indonesia in 2013 based on doctor’s diagnosis was 0.5%. Clinical manifestations of CAD may vary from asymptomatic (silent angina) to sudden cardiac death. Episodes of this asymptomatic myocardial ischemia were approximately 25-50% in CAD. Diagnostic criteria of CAD are clinical manifestation, laboratory examination, ECG, and cardiac catheterization. Management of CAD patients consists of lifestyle modification, pharmacological therapy, and myocardial revascularization. We reported a male aged 50 years with reccurent epigastric pain. Echocardiography resulted in mild MR cc annulus dilatation with ischemia as the differential diagnosis. The angiography revealed 80% stenosis in the proximal RCA and distal RCA as well as 70% stenosis in mid LAD. A percutaneous coronary intervention (PCI) was performed on this patient with BMS stent in mid RCA, DES stent in proximal RCA, and POBA in mid LAD. The patients was treated with Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, and Nitrokaf retard. The general condition of the patient was good without any complaint. Modification of changeable risk factors had been done. The five-year survival rate of this patient was 70% with dubia prognosis.Keywords: coronary artery disease, silent angina Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika Serikat. Manifestasi klinis PJK dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala (silent angina) hingga kematian mendadak. Angka kejadian silent angina berkisar 25%-50% dari keseluruhan PJK. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain EKG, ekokardiografi, enzim jantung, CT kardiak, treadmill test, hingga pemeriksaan invasif seperti kateterisasi jantung. Penatalaksanaan PJK meliputi penangangan non farmakologik dan farmakologik. Penanganan non farmakologik berupa modifikasi gaya hidup, sedangkan terapi farmakologik berupa obat-obatan sampai pada revaskularisasi jantung. Kami melaporkan seorang penderita PJK laki-laki berusia 50 tahun dengan keluhan utama nyeri ulu hati hilang timbul. Hasil ekokardiografi menyimpulkan MR mild cc dilatasi anulus dd iskemik. Pemeriksaan angiografi mendapatkan stenosis 80% di proksimal RCA, dan distal RCA, stenosis 70% di mid LAD. Pada penderita ini dilakukan intervensi koroner perkutan dan dilakukan pemasangan stent BMS pada mid RCA, stent DES pada proksimal RCA, POBA pada mid LAD. Pengobatan yang diberikan ialah Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, dan Nitrokaf retard. Keadaan umum penderita baik, keluhan menghilang dan telah dilakukan upaya modifikasi terhadap faktor risiko yang bisa diubah. Five-year survival rate penderita ini 70% dengan prognosis dubia.Kata kunci: penyakit jantung koroner, silent angina
Perbedaan Rerata Feritin Serum antara Pria Obesitas Sentral dengan Non Obesitas Sentral Wowor, Ribka
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.29627

Abstract

Abstract: Inflammation process that occurs in obese people plays a crucial role for cardiovascular events in the future. Animal studies found an association between macrophage and ferritin as a proinflammatory marker. This study was aimed to determine the difference in serum ferritin level between central obese and non central obese individuals. This was a cross sectional study using consecutive sampling mnethod. Subjects were residents of Medical Faculty, Sam Ratulangi University, consisted of 41 young males divided into two groups: 25 subjects with central obesity and 16 subjects without central obesity. Blood pressure, peripheral blood, serum ferritin, creatinine, and fasting blood sugar tests were performed on all subjects. The results showed that of 25 subjects with central obesity, there were 15 subjects with hyperferritinemia, meanwhile only 3 subjects with hyperferritinemia in non central obesity group. There was a significant difference of mean serum ferritin levels between central obesity and non central obesity groups (303.03±171.53 mcg/dL vs 128.24±66.79 mcg/dL; p=0.000). In conclusion, serum ferritin level in male subjects with central obesity was higher than those without central obesity.Keywords: serum ferritin, central obesity Abstrak: Inflamasi yang terjadi pada obesitas berperan penting terhadap kelainan metabolisme yang menjadi dasar terjadinya kelainan kardiovaskular. Pada hewan coba didapatkan adanya hubungan antara makrofag dengan feritin yang merupakan salah satu protein penanda inflamasi akut dan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan rerata ferritin serum pada individu dengan dan tanpa obesitas sentral. Desain penelitian ialah potong lintang dengan menggunakan konsekutif sampling. Subyek penelitian ialah mahasiswa PPDS Sp1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado terdiri dari 41 pria usia dewasa muda berusia kurang dari 40 tahun yang dibagi atas dua kelompok: 25 subyek dengan obesitas sentral dan 16 subyek non obesitas sentral sebagai kontrol. Pemeriksaan tekanan darah, darah perifer lengkap, dan kadar feritin serum dilakukan pada semua subyek. Uji statistik menggunakan uji beda rerata antara kadar feritin pada kedua kelompok. Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok obesitas sentral, 15 dari 25 subyek mengalami peningkatan kadar feritin serum, sedangkan pada kelompok non obesitas sentral hanya 3 dari 16 subyek yang mengalami peningkatan kadar feritin serum. Rerata feritin serum pada kelompok obesitas sentral ialah 303,03±171,53 mcg/dL; sedangkan pada kelompok non obesitas sentral ialah 128,24±66,79 mcg/dL (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan rerata feritin serum antara subyek dengan obesitas sentral dibandingkan subyek non obesitas sentral pada pria dewasa muda.Kata kunci: feritin serum, obesitas sentral, dewasa muda
Co-Authors A. J. M. Rattu Adam, Cicilia Miranda Adam, Hilman Adisti A Rumayar Adisti A. Rumayar, Adisti A. Adisti Aldegonda Rumayar Aling, Yismaya Ardhana, Reynandi Rifky Ardiansa A.T Tucunan, Ardiansa A.T Asep Rahman Asep Rahman Aurelia C. Wulandari Bawang, Jeferson Biney, Irianti Diana Chreisye K. F. Mandagi Dolongpaha, Winly Vaskiano Gusti Entaren, Hardina Debora Fachreza Pakaya Febi Kornela Kolibu Franckie R. R. Maramis Franckie R.R Maramis, Franckie R.R Franckie Rudolf Raymond Maramis Frans E. N. Wantania, Frans E. N. Frans Wantania Grace E.C. Korompis Grace Korompis Graciella Moses Henry Simarmata Humokor, Ardia Cahyani I Dewa Rai Sintiadewi Iin Deliana Ishak Injilin Sarah Eudia Meruntu Irot, Rahel Falentcia Serafim Kambey, Miracle Abygail Yolwan Kenang, Maissy C. Komaling, Pryschilya Puteri Mega Langkai, Regina Tesalonika Lebe, Klerin A. Ledy Chintia Lahaji Linoe, Ribka Gloria Lintje Kalangi Lukas, Ligriani Lumanaw, Harianto K.J Lupa, Putra E. R. M. Khalil Syawie Mahdi Mampa Mandagi, Chreisye K. F Mandagi, Chreisye K. F. Maramis, F , R. R. Maramis, Franckie R.R. Maramis, Julio Victor Fredrik Marsella D. Amisi Masloman, Sumarty Amalia Mokalu, Gloria Mokobimbing, Meysi Karla Mukuan, Hizkia Mundung, Rulandi Muntiaha, Christania R. Onibala, Nathalia Pamolango, Fendy Pangkey, Claudia I. F. Paul A. T. Kawatu, Paul A. T. Paul A.T. Kawatu Paul A.T. Kawatu Rianna J Sumampouw Ribka Gloria Linoe Rondonuwu, Mutiara L.M. Rudy Pusung Sajow, Estefan Imanuel Salawangi, Glady Endayani Saleh, Nadiah saludung, ananda fiorelsa sihombing, Michelles F. Sondakh, Yunissia Jibriel Sulaemana Engkeng Suoth, Lery F. Suwuh, Melky Kindly Tambuwun, Prisilia Zefanya Tarina Zahratun Nisa Tessa A. D. Pinontoan Tindatu, Harrol Filipus Tiwa, Linovia L. Warouw, Finny Wonok, Melvin Josua wowor, syalomita Tesalonika Wurangian, Prisilia K. Yulianty Sanggelorang Yulnisye Wansaga