Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

CHRONIC INFLAMMATORY DEMYELINATING POLYNEUROPATHY Attiya Istarini; Indra, Syarif
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 9 No. 3 (2021): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.958 KB)

Abstract

Chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy (CIDP) merupakan penyakit neuropati autoimun kronik. CIDP klasik ditandai dengan hilangnya persepsi sensorik dan kelemahan anggota gerak secara progresif dan disertai hilangnya refleks selama lebih dari 8 minggu. Penyakit ini cukup jarang terjadi, namun apabila tidak di tatalaksana dengan tepat dapat menyebabkan kecacatan. Diagnosis CIDP ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan analisa LCS, dan pemeriksaan elektrodiagnostik. Pilihan terapi CIDP yang cukup efektif dan terjangkau adalah kortikosteroid, dimana obat ini berfungsi menekan inflamasi dengan menghambat aktivitas sel T. Prognosis CIDP relatif baik pada pasien usia muda, gejala kelemahan otot proksimal, respon terhadap terapi steroid, dan dari studi elektrofisiologi terdapat perlambatan conduction velocities yang ringan
Spasmofilia dengan Hipoparatiroidisme Pasca Tiroidektomi Susanti, Lydia; Indra, Syarif; Noza, Aulia
Scientific Journal Vol. 1 No. 4 (2022): SCIENA Volume I No 4, July 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.766 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i4.57

Abstract

Spasmofilia merupakan keadaan patologis dimana terjadi hiperiritabilitas saraf dan otot (neuromuskular) akibat adanya gangguan keseimbangan elektrolit,  terutama ion kalsium (Ca2+) dan ion magnesium (Mg2+) yang ditandai dengan munculnya kedutan otot, kesemutan dan spasme karpopedal. Hipoparatiroidisme merupakan keadaan dimana produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang ditemukan dan umumnya disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi tiroid. Laporan kasus ini  membahas mengenai pasien perempuan berusia 25 tahun dengan spasmofilia  dan hipoparatiroidisme sekunder  ec tiroidektomi.
Indoxyl Sulfate Levels and Its Relation with Executive Function in Routine Hemodialysis Patients Syafrita, Yuliarni; Susanti, Restu; Indra, Syarif; Harun, Harnavi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v11i2.10964

Abstract

Executive function is a crucial cognitive domain that can be adversely affected by various toxic substances, including the uremic toxin indoxyl sulfate. Although it's known that indoxyl sulfate has harmful effects on intra or extra-kidney organs, its impact on executive function remains unclear. This study aimed to evaluate indoxyl sulfate levels in patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis and to understand its correlation with executive function impairments. This observational cross-sectional study was conducted at the Dr. M. Djamil General Hospital Padang Hemodialysis Unit from March to July 2022; 60 patients undergoing hemodialysis and 20 healthy controls participated. Executive function was assessed using the Trail Making Test B (TMT-B). Indoxyl sulfate levels were quantified using an ELISA assay with the Assay Genie kit. The Mann-Whitney test set statistical significance at a p<0.05. The average age of the subjects was 51.4±11.4 years, with 53% being male. The mean indoxyl sulfate levels were considerably higher in the CKD group (118.79 ng/ml, range: 11–1,709 ng/ml) compared to the control group (6.028±1.829 ng/ml), with a significant difference (p<0.001). Impaired executive function was observed in 75% of the CKD patients. The average indoxyl sulfate level was 165.12 ng/ml (range: 29–1,709 ng/mL) in the impaired executive function group and 71.22 ng/ml (range: 11–333 ng/mL) in the group with normal executive function, indicating a significant difference (p=0.013). Patients with CKD undergoing hemodialysis exhibit elevated serum indoxyl sulfate levels compared to healthy individuals. Moreover, CKD patients with impaired executive function have notably higher indoxyl sulfate levels than those with normal executive function. Further research is needed to elucidate the mechanistic links between indoxyl sulfate and cognitive impairments.
Hubungan Morfologi Plak pada Stenosis Arteri Karotis Ekstrakranial dengan Kejadian Stroke Iskemik Sutia, Dedi; Indra, Syarif; Permana, Hendra; Arinda, Lenny; Rahmi, Afriyeni Sri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1274

Abstract

Stenosis arteri ekstrakranial bermanifestasi dalam berbagai kondisi, mulai dari asimptomatik hingga stroke iskemik. Salah satu modalitas diagnostik untuk mengevaluasi gambaran stenosis tersebut adalah carotid duplex. Terdapatnya plak pada stenosis arteri ekstrakranial mempengaruhi kejadian stroke iskemik. Namun masih belum jelas hubungan antara morfologi plak pada stenosis arteri ekstrakranial dengan kejadian stroke iskemik. Tujuan: Menentukan hubungan morfologi plak pada stenosis arteri karotis ekstrakranial dengan kejadian stroke iskemik. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 20 orang sampel pada bulan Januari hingga September 2018 di RSUP Dr M Djamil, Padang. Kriteria inklusi adalah pasien yang telah didiagnosis stenosis arteri ekstrakranial dengan plak dari pemeriksaan carotid duplex dan kriteria eksklusi adalah pasien yang tidak datang kontrol atau tidak bisa dihubungi. Hubungan antar variable diuji dengan uji Chi-square. Hasil dianggap bermakna secara statistik jika nilai p<0,05. Hasil: Sebanyak 12 orang (60%) sampel adalah perempuan dan 8 orang (40%) adalah laki-laki. Median umur sampel adalah 56 tahun (37-71 tahun). Morfologi plak berupa plak nonulcerated sebanyak 11 orang (55%) dan plak ulcerated sebanyak 9 orang (45%). Kejadian stroke iskemik ditemukan sebanyak 9 orang (45%) dan tidak stroke sebanyak 11 orang (55%). Terdapat hubungan antara morfologi plak pada stenosis arteri ekstrakranial dengan kejadian stroke iskemik (p = 0,02); RR = 5. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara morfologi plak pada stenosis arteri ekstrakranial dengan kejadian stroke iskemik.Kata Kunci: morfologi plak, stenosis arteri ekstrakranial, stroke iskemik