Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor - faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHA di RSUD 45 Kuningan 2023 Herawati, Ita; Iswarawanti, Dwi Nastiti; Febriani, Esty; Badriah, Dewi Laelatul
Journal of Health Research Science Vol. 3 No. 02 (2023): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jhrs.v3i02.938

Abstract

Latarbelakang: Kepatuhan minum obat merupakan kunci keberhasilan dalam proses pengobatan pada pasien ODHA. Data sampai oktober 2022 di Jawa Barat kumulatif HIV sebanyak 57.914 kasus dan 12.353 kumulatif kasus AIDS, jumlah penderita HIV/AIDS di kabupaten Kuningan dari tahun 2013 hingga 2021 sebanyak 702 orang. Data Poliklinik HIV RSUD 45 Kuningan per Desember 2022 jumlah pasien yang patuh minum obat ARV sebanyak 338 (43,44%). Banyak faktor yang mempengaruhi kekpatuhan minum obat pada ODHA, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antiretroviral pada ODHA di RSUD 45 Kuningan 2023.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik deskriptif dengan desain cross sectional. Subyek sebanyak 265 ODHA yang diambil dengan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner tertutup. Analisis data menggunakan analisis univarit, analisis bivariat (Rank Spearman) dan analisis multivariat (Regresi Logistik).Hasil: terdapat hubungan antara usia (p = 0.000), jenis kelamin (p = 0.014), pengetahuan ((p = 0.000), dukungan keluarga (p = 0.011) dan dukungan petugas kesehatan (p = 0.000) dengan kepatuhan minum obat ARV, namun tidak terdapat hubungan antara efek samping obat ARV (p = 0.341) dan stigma (p = 0.082) dengan kepatuhan minum obat ARV pada ODHA.Kesimpulan: variabel dukungan keluarga merupakan variabel paling dominan yang mempengaruhi kepatuhan minum obat ARV pada ODHA.
PENGARUH PEMBERIAN MINUM JAHE MERAH TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS: The Effect of Red Ginger for Decreasing Pain Intensity Perineum Wound in Mother After Delivery Herawati, Ita; Ikrar Faderiani Septi
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 9 No. Supp-2 (2023): JIKep | Edisi Khusus 2 2023
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v9i4.1648

Abstract

Pendahuluan : WHO menyebutkan sebanyak 2,7 juta ibu bersalin mengalami rupture perineum dan akan terjadi peningkatan hingga 6,3 juta di tahun 2050. Di Asia angka kejadian ruptur perineum mencapai 50% kasus sedangkan di Indonesia 85% ibu bersalin secara normal mengalami rupture perienum. Dampak yang ditimbulkan dari ruptur perineum itu adalah nyeri yang dirasakan oleh ibu pada daerah perineum. Salah satu cara non farmakologi untuk mengurangi nyeri adalah dengan meminum jahe merah karena jahe sama efektifnya dengan asam mefenamat dan ibuprofen untuk mengurangi segala nyeri pada wanita termasuk nyeri pada luka perineum. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh pemberian jahe merah terhadap penurunan intensitas nyeri luka perineum pada ibu nifas Metode Penelitian : Quasi eksperimental dengan rancangan two group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas di Desa Cariu Bogor pada bulan Desember 2022  sebanyak 34 orang, teknik pemgambilan sampel yaitu total sampling. Hasil Penelitian : Intensitas nyeri luka perineum sebelum diberikan minum jahe merah sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (61,8%) dan sesudah diberikan minum jahe merah sebagian besar mengalami nyeri ringan (64,7%). Ada pengaruh pemberian jahe merah terhadap penurunan intensitas nyeri luka perineum pada ibu nifas (p.value 0,000). Kesimpulan dan Saran : Ada pengaruh pemberian jahe merah terhadap penurunan intensitas nyeri luka perineum pada ibu nifas. Diharapkan bidan dapat meningkatkan pelayanan dalam melakukan penatalaksanaan nyeri luka perineum pada ibu nifas.
Cesarean Delivery and Early Breastfeeding Outcomes: A Cross-Sectional Study of EIBF and Early Postpartum Difficulties Herawati, Ita; Hermanto, Budi; Andika, Agnes; Jumsinah, Jumsinah; Widiyanti, Lia; Tika, Ocha Gries; Marlita, Yanti
Journal of Applied Nursing and Health Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Applied Nursing and Health
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/janh.v8i1.487

Abstract

Background: Cesarean section (CS) rates continue to increase globally, particularly in low- and middle-income countries (LMICs) such as Indonesia. While CS is often medically indicated, it may interfere with early initiation of breastfeeding (EIBF) and early postpartum lactation. However, evidence examining both EIBF and early breastfeeding difficulties within Indonesian LMIC settings remains limited. Methods: This cross-sectional study followed STROBE guidelines and was conducted among 150 postpartum mothers within the first 10 days after delivery. Participants were recruited using consecutive sampling. Eligibility criteria included mothers aged ≥18 years, live singleton birth, and clinical stability. Data were collected using a structured Breastfeeding Initiation and Early Lactation Difficulty Questionnaire adapted from validated instruments (Cronbach’s α = 0.82). Chi-square tests were used to assess associations, with assumptions verified (expected cell count ≥5). Odds ratios (ORs) with 95% confidence intervals (CIs) were calculated to estimate effect size. Results: CS was significantly associated with failure to perform EIBF (OR = 214.79; 95% CI: 27.90–1653.65; p < 0.001). Mothers undergoing CS were also more likely to experience breastfeeding difficulties during the first 10 days postpartum (OR = 17.26; 95% CI: 6.24–47.74; p < 0.001). Conclusion: CS delivery is strongly associated with delayed EIBF and increased early breastfeeding difficulties. Structured post-cesarean lactation support integrated into surgical recovery protocols is recommended, particularly in LMIC settings.