Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Analysis of the Relationship Between Digital Transformation Influenced by Technology, Artificial Intelligence Diagnosis, Legal Basis and Challenges to Health Services in Hospitals Hilmy, Mohamad Reza; Putranto, Rahmat Dwi; Mahadewi, Erlina Puspitaloka; Setiawan, Ichwan; Shameela, Alika
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i12.63215

Abstract

The rapid adoption of digital technologies and artificial intelligence (AI) is transforming hospital healthcare services, offering opportunities to improve diagnostic accuracy, operational efficiency, and patient-centered care. Previous studies indicate that AI-powered diagnostic tools, cloud computing, electronic health records, and IoT systems significantly enhance clinical decision-making and resource management. However, legal, ethical, and operational challenges including patient data privacy, liability ambiguity, staff skill gaps, interoperability issues, and high implementation costs pose significant barriers to effective adoption. This study aims to investigate the relationship between digital transformation driven by emerging technologies, AI-assisted diagnostics, legal frameworks, and operational challenges in hospital services. A systematic literature review (SLR) was conducted, analyzing peer-reviewed articles published between 2021 and 2025 from major databases including PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. Key themes were extracted and synthesized across five dimensions: technology and infrastructure, AI implementation, legal and regulatory considerations, operational challenges, and healthcare outcomes. Findings reveal that while digital transformation and AI adoption enhance hospital efficiency and diagnostic precision, their success depends on coordinated attention to regulatory compliance, staff training, system integration, and organizational readiness. Hospitals must adopt multidimensional strategies to balance technological innovation with ethical, legal, and operational considerations for sustainable healthcare delivery.
Analisis Integrasi Sistem Informasi Rumah Sakit dan Elektronik Rekam Medik Sebagai Respon Terhadap Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 Hilmy, Mohamad Reza; Dwi Putranto, Rahmat; Puspitaloka Mahadewi, Erlina; Setiawan, Ichwan; Shameela , Alika
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i1.63533

Abstract

Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia semakin diperkuat melalui penerbitan Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis, yang mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME) dan mengintegrasikannya dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) serta platform nasional SATUSEHAT. Perubahan regulasi ini menuntut rumah sakit untuk meningkatkan interoperabilitas, efisiensi alur layanan, dan standarisasi data secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam proses integrasi SIMRS dan RME sebagai respons organisasi terhadap regulasi tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keberhasilan implementasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumentasi pada rumah sakit yang sedang melaksanakan integrasi SIMRS–RME. Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola temuan yang berkaitan dengan kesiapan teknis, kebijakan, sumber daya manusia, dan tata kelola data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas integrasi sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur TI, kualitas modul SIMRS, pemahaman SDM terhadap alur digital, dan tingkat kesesuaian sistem dengan standar interoperabilitas seperti HL7–FHIR. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar hambatan muncul pada aspek kesenjangan kompetensi digital tenaga kesehatan, ketidaksiapan modul lama SIMRS, dan minimnya koordinasi antara rumah sakit dan vendor teknologi. Regulasi Permenkes 24/2022 terbukti menjadi katalis penting dalam percepatan transformasi digital, namun implementasinya membutuhkan pendekatan strategis, investasi berkelanjutan, serta penguatan tata kelola data dan keamanan informasi.