Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembuatan Briket Arang Biomassa Limbah Tongkol Jagung Kelompok Wanita Tani Subur Desa Gondang Kabupaten Lombok Utara Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin; Raehanayati; Ni Putu Ety Lismaya Dewi; Andrie Ridzki Prasetyo; Rima Vera Ningsih
Jurnal SIAR ILMUWAN TANI Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Siar Ilmuwan Tani
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jsit.v5i1.136

Abstract

Permasalahan dalam pengembangan briket arang adalah kurangnya konsep penerapan hasil penelitian briket arang pada masyarakat tentang proses pembuatan briket arang dari pengarangan (karbonisasi) sampai dicetak menjadi briket arang. Dengan penerapan hasil penelitian briket arang pada masyarakat diharapkan dapat memberikan peluang usaha baru dan meningkatkan nilai ekonomis tongkol jagung serta mengurangi limbah tongkol jagung juga didukung keberlanjutan bahan baku tongkol jagung yang mencukupi ditinjau dari potensi luasan lahan pertanian yang cukup tinggi di Nusa Tenggara Barat. Solusi yang ditawarkan berdasarkan permasalahan di atas adalah sebagai berikut: (1) mensosialisasikan cara pembuatan arang dan briket arang, (2) memberikan bantuan peralatan pembuatan arang dan briket arang untuk mendukung pembelajaran bagi kelompok usaha. (3) membangun komitmen dengan pihak kelompok usaha untuk dapat dikembangkan menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM), (3) menyusun modul pembuatan arang dan briket arang untuk mendukung pengembangan briket arang sebagai salah satu produk UKM. Beberapa hal yang dapat ditarik dari kegiatan pengabdian briket arang tongkol jagung di desa Gondang adalah sebagai berikut: 1). Peserta sangat antusias untuk mengembangkan produk briket arang karena teknologi yang mudah dan sederhana sehingga peserta mudah memahami dan mengembangkan produk tersebut. 2). Pemberian modul berupa leaflet diharapkan dapat memudahkan peserta kelompok usaha wanita tani subur memahami tahapan dalam pembuatan briket arang. 3). Diharapkan produk briket arang dapat menambah penghasilan tambahan kelompok usaha wanita tani subur dan masyarakat desa Gondang.
PENGARUH BERAT LABUR DAN JENIS KAYU TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin; I Gde Adi Suryawan Wangiyana
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 40 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.93–104

Abstract

The world's demand for wood is increasing while the amount of solid wood production is decreasing with the depletion of forestsdue to illegal logging and conversion of forest functions as plantation land. To overcome these problems, it is necessary to do theefficiency of wood raw materials so that the use of solid wood can be reduced. One of the efficient ways to use wood raw materials isto utilize optimized wood industrial waste by combining one or more types of wood which are glued together into a single unit,commonly called a laminated board. In this study, we will look at the effect of different types of wood and the weight of the gluespread on the resulting laminated board. Advantages Laminate board can produce a board size that is wide and long as neededbecause the joints are made as long as needed. In the manufacture laminated boards are made with the type of wood, namely jatiputih (Gmelina arborea. Roxb), bajur (Pterospermum javanicum), sengon (Paraserianthes falcataria) and mixtures(jati putih, bajur and sengon) and the glue spread factor is 150 g and 200 g. Then the physical and mechanical properties weretested. The test results showed that the wood type had a significant effect on all physical and mechanical properties except for thethickness shrinkage and MoE tests. The interaction of the lamination glue spread factor and the wood type factor did not significantlyaffect all physical and mechanical properties of mixed wood waste laminated boards. Based on the test results, laminated board isclassified as strong class III which can be used as a lightweight construction material indoors.
ANALISIS SIFAT FISIKA MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU RAJUMAS BAMBU PETUNG DAN KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Radjali Amin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.38

Abstract

Pemilihan spesies kayu rajumas, kemiri, dan bambu petung memiliki alasan yang khusus. Rajumas merupakan salah satu kayu lokal NTB yang merupakan kayu dengan berat jenis 0,31- 0,33 sehingga masuk ke kelas kuat IV. Selanjutnya untuk kayu kemiri memiliki berat jenis yang rendah yatu 0,33-0.39. Kayu dengan berat jenis ringan hingga sedang adalah pilihan yang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan papan laminasi karena memungkinkan penetrasi perekat ke permukaan kayu menjadi lebih mudah terbentuk. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merancang kontruksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Rancangan penelitian yang digunakan rancangan non faktorial dengan 2 perlakuan kombinasi dengan 3 ulangan. Sifat fisika dan mekanika kombinasi kayu rajumas dan bambu petung: kerapatan 0,54 gr/cm3 ; kadar air 14,65%; pengembangan tebal 1,93%; penyusutan tebal 2,72%; MoE 10753,59 kgf/cm2 ; MoR 326,28 kgf/cm2 . Sifat fisika dan mekanika kombinasi kayu kemiri dan bambu petung: kerapatan 0,45% ; kadar air 14,50% ; pengembangan tebal 4,15% ; penyusutan tebal 2,34% ; MoE 10953,46 kgf/cm2 ; MoR 209,01 kgf/cm2 .Hasil pengujian papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan kayu kemiri bambu petung tidak berpengaruh nyata terhadap sifat fisika dan mekanika kecuali pada pengujian pengembangan tebal dan Modulus of Rupture (MoR). Peningkatan kelas kuat IV menjadi kelas kuat III setelah dikombinasikan dengan bambu petung menjadi papan lamianasi. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika dan mekanika maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan kayu kemiri bambu petung masuk dalam kelas kuat III dapat digunakan untuk bahan baku konstruksi berat yang terlindungi.
KARATERISTIK SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU RAJUMAS BAMBU PETUNG, KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG DAN PAPAN LAMINASI BAMBU PETUNG Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v5i1.74

Abstract

Pemanfaatan jenis hasil kayu maupun bukan kayu dapat diperuntukkan sebagai bahan bangunan dan produk komposit lainnya seperti papan laminasi. Jenis kayu yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kayu rajumas dan kayu kemiri yang dikombinasikan dengan bambu petung. Kombinasi papan laminasi kayu dan non kayu tersebut dibandingkan dengan murni papan laminasi bambu petung tanpa kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristk sifat fisika dan mekanika papan laminasi kombinasi jenis kayu dan bukan kayu. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung,kemiri bambu petung dan papan laminasi bambu petung telah memenuhi standar SNI 01-6240-2000 (kerapatan) dan JAS 234-2007 (kadar air, pengembangan tebal, penyusutan tebal) sementara untuk pengujian sifat mekanika (MoE dan MoR) belum memenuhi standar JAS 234-2007. Hasil uji anova menunjukan perlakuan berpengaruh nyata terhadap semua pengujian kadar air, kerapatan, pengembangan tebal dan penyusutan tebal sementara untuk pengujian MoE dan MoR tidak berpengaruh nyata. Peningkatan kelas kuat kayu setelah dibuat papan laminasi dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III. Berdasarkan hasil pengujian maka papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung,kemiri bambu petung dan papan laminasi bambu petung masuk dalam kelas kuat III yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi berat terlindungi.
DESAIN SISTEM PERTANIAN TERPADU BERKELANJUTAN (SPTB) Amin, Radjali; Wulandari, Febriana Tri
Empiricism Journal Vol. 7 No. 1: March 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/te6ff433

Abstract

Peningkatan tekanan terhadap lahan pertanian, kerusakan lingkungan, dan kebutuhan akan ketahanan pangan mendorong perlunya pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan dan multifungsi. Sistem Pertanian Terpadu Berkelanjutan (SPTB) merupakan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan berbagai elemen produksi seperti tanaman pertanian, tanaman kehutanan, peternakan, perikanan, dan kegiatan ekowisata dalam satu kesatuan sistem yang saling mendukung. Artikel ini merancang model SPTB berbasis agroforestri dan ekowisata yang dikembangkan pada lahan seluas 2 hektar dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi, keberlanjutan ekologis, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Pendekatan penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kajian literatur dan analisis konseptual. Agroforestri dirancang sebagai basis produksi dan konservasi yang terdiri dari tanaman keras tahunan dan tanaman pertanian musiman yang dikelola secara ekologis. Sementara itu, ekowisata dikembangkan sebagai sarana edukasi, rekreasi, dan pemberdayaan masyarakat melalui aktivitas seperti forest healing, agropetik, pengelolaan sampah terpadu, dan pendidikan lingkungan. Pembagian ruang kawasan dilakukan dalam tiga zona utama: 30% untuk tanaman kehutanan, 50% untuk tanaman pertanian, dan 20% untuk fasilitas wisata atau amenities. Seluruh aktivitas dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan dan minim limbah. Model ini menunjukkan bahwa integrasi agroforestri dan ekowisata dalam kerangka SPTB mampu menciptakan sistem yang produktif, konservatif, dan inklusif, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 13 (aksi terhadap perubahan iklim) dan tujuan 15 (menjaga ekosistem darat). Desain ini diharapkan dapat direplikasi dalam pengelolaan lahan multifungsi berbasis masyarakat. Kata kunci: sistem pertanian terpadu, agroforestri, ekowisata, keberlanjutan, konservasi, SDGs Integrated Agriculture System Design Abstract Increasing pressure on agricultural land, environmental degradation, and the need for food security are driving the need to develop sustainable and multifunctional agricultural systems. The Sustainable Integrated Farming System (SPTB) is an innovative approach that integrates various production elements such as agricultural crops, forestry crops, livestock, fisheries, and ecotourism activities into a single, mutually supportive system. This article designs an agroforestry and ecotourism-based SPTB model developed on a 2-hectare plot of land, considering the principles of conservation, ecological sustainability, and local community empowerment. The research approach uses qualitative descriptive methods through literature review and conceptual analysis. Agroforestry is designed as a production and conservation base, consisting of perennial and seasonal agricultural crops managed ecologically. Meanwhile, ecotourism is developed as a means of education, recreation, and community empowerment through activities such as forest healing, agropetics, integrated waste management, and environmental education. The area is divided into three main zones: 30% for forestry crops, 50% for agricultural crops, and 20% for tourism facilities or amenities. All activities are designed with an environmentally friendly and waste-free approach. This model demonstrates that integrating agroforestry and ecotourism within the SPTB framework can create a productive, conservative, and inclusive system, and support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 13 (action on climate change) and Goal 15 (protecting terrestrial ecosystems). This design is expected to be replicated in community-based multifunctional land management. Keywords: integrated farming system, agroforestry, ecotourism, sustainability, conservation, SDGs
Analysis of Ambient Air Quality Due to Motor Vehicle Emissions Using System Dynamics Modeling on Jalan Kaliurang, Yogyakarta Yusuf Wiryawan; Radjali Amin
International Journal of Environmental, Sustainability and Social Science Vol. 7 No. 3 (2026): International Journal of Environmental, Sustainability, and Social Science (May
Publisher : PT Keberlanjutan Strategis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38142/ijesss.v7i3.1978

Abstract

The growth of motor vehicles in the Special Region of Yogyakarta has contributed to increased vehicle exhaust emissions, particularly carbon monoxide (CO), which has the potential to reduce ambient air quality and endanger public health. This study aims to analyze traffic density, ambient air quality based on CO parameters, projected traffic volume and emission loads over the next ten years, and to formulate environmental management strategies for the Jalan Kaliurang segment from STA 0+000 to STA 1+330. The study was conducted through direct air quality measurements using a minivol air sampler and traffic volume counts involving motorcycles, passenger cars, buses, and trucks. The data were analyzed using a system dynamics approach and visualized through CO distribution mapping. The results showed that traffic volume reached 3,948 units/2 hours in the morning and 5,633 units/2 hours in the afternoon. The measured CO concentration ranged from 341.03 to 632.14 µg/m³, with a very high concentration distribution identified at a distance of 0.094 km. Based on system dynamics modeling, traffic density is projected to reach 17,158 passenger car units/day, with an emission load of 564,827 grams/day. The recommended management strategies include increasing roadside vegetation, implementing vehicle emission testing, promoting smart driving practices, and evaluating the obligation to conduct traffic impact analysis.
Efektivitas Kebijakan Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna Barat Sabaruddin; Wd. Vitha Purwandari; Triyono; Radjali Amin; Agus Suyanto
Environmental Insight Journal Vol 2 No 1 (2026): January
Publisher : Postgraduate Faculty, Yogyakarta Institut of Technology, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/eij.v2i1.359

Abstract

Efektivitas kebijakan pengelolaan sampah pada area kerja Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna Barat masih menghadapi tantangan sehingga perlu dievaluasi untuk dapat merumuskan strategi kebijakan yang efektif dan berkelanjutan. Ketidakefektifan ini jika diteruskan maka akan berakibat pada pemborosan anggaran daerah dan berpotensi menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah, mengevaluasi efektivitas kebijakan dan penerapan pengelolaan sampah, serta strategi kebijakan dan penerapan pengelolaan sampah yang dapat dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Responden dalam penelitian ini berjumlah 148 responden dan melibatkan partisipasi aktif dari para pemangku kepentingan lokal sebagai data primer. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi yang dianalisis secara kualitatif dengan model interaktif yaitu reduksi data, penyajian data, serta analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pengelolaan sampah masih menghadapi masalah minimnya infrastruktur hal ini tampak pada fasilitas tempat penampungan sementara sampah, rendahnya partisipasi masyarakat untuk mengelola sampah, dan kurang optimalnya koordinasi antar instansi pemerintah. Efektivitas kebijakan Dinas Lingkungan Hidup perlu ditingkatkan melalui perbaikan regulasi, peningkatan kesadaran masyarakat, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Strategi yang diusulkan mencakup pengembangan program berbasis partisipasi masyarakat dan optimalisasi sumber daya untuk mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Keywords: policy, environment, management, waste, SWOT
ANALISIS KOMPARATIF BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN CAMPURAN DENGAN TONGKOL JAGUNG Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 44 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jphh.2026.13113

Abstract

This study aims to evaluate and compare the physicochemical quality of charcoal briquettes produced from pure coconut shells and from a mixture of coconut shells and corn cobs as alternative solid biofuels. The research is motivated by the need to optimize underutilized agricultural residues to support renewable energy development and waste valorization.  Charcoal was produced through carbonization at 400 °C, followed by grinding to 60-mesh particle size and mixing with tapioca binder (10% w/w). Two formulations were prepared: (1) 100% coconut shell briquettes (TK) and (2) a 50:50 mixture of coconut shell and corn cob briquettes (TT). Briquettes were molded under 400 psi pressure and oven-dried prior to testing. The experiment employed a completely randomized design (CRD) with two treatments and three replications.  The evaluated parameters included moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, and calorific value, in accordance with SNI 01-6235-2000 standard testing procedures. Results showed that pure coconut shell briquettes exhibited moisture content of 0.41%, ash content of 7.10%, volatile matter of 10.35%, fixed carbon of 70.24%, and calorific value of 5,975 cal/g. In contrast, mixed briquettes showed moisture content of 0.63%, ash content of 22.77%, volatile matter of 25.68%, fixed carbon of 50.94%, and calorific value of 4,228 cal/g. Analysis of variance (ANOVA) indicated significant differences (p < 0.05) between treatments for ash content, volatile matter, fixed carbon, and calorific value, while moisture content did not differ significantly. Based on SNI 01-6235-2000 criteria, pure coconut shell briquettes met most quality requirements, particularly in terms of moisture, fixed carbon, and calorific value. However, mixed briquettes exceeded the allowable ash content limit, indicating the need for optimization of carbonization parameters and raw material pre-treatment. Overall, coconut shell charcoal demonstrates superior energy performance and is recommended as the primary raw material for high-quality briquette production. Nevertheless, mixed biomass formulations remain promising for circular bioenergy systems if further process refinement is implemented.
Jenis Tanaman untuk Meningkatkan Fungsi Ekosistem pada Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang di Provinsi Kalimantan Selatan Guritno Soeleman; Radjali Amin; Chafid Fandeli
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 20 No 1 (2026): March
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jik.v20i1.17156

Abstract

Mined reclamation failure could lead to land degradation, ecosystem instability, community poverty, and loss of environmental services. Previous research linked reclamation success to the selection of suitable plants. This study aimed to identify the best species for reclamation and ecosystem services, measured by ecosystem conditions, plant growth, and soil fertility. Angsana (Pterocarpus indicus Willd.), waru (Hibiscus tiliaceus L.), cashew (Anacardium occidentale L.), sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen), and mahogany (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.) were selected as the highest number of species planted in PT Kalimantan Energi Lestari (KEL) reclamation area. Mean annual increment (MAI) was measured using a 10% sampling intensity for all plant stages. Soil quality (C-organic, N, C/N, P, K) was sampled at 5% around the tree root zone using a purposive sampling method. The five species showed positive impacts on soil nutrients, increasing by 14.6% in five-year-old plants, except for K-exchange, which decreased by 3.4% to 71.4%. In addition, P. falcataria improved significantly in three macro parameters, namely C-organic 121.2%, N-total 100%, and P-avail 156%, and had the highest MAI for total height of 252.5 cm/year. This research concluded that P. falcataria was the most appropriate revegetation plant species for the reclamation program in coal-mined areas
Pemanfaatan Lumpur dari Instalasi Pengolahan Air Limbah Terpadu Kawasan Industri sebagai Adsorben dalam Penghilangan Metilen Biru Wa Ode Maryani Asrim; Radjali Amin; Triyono Triyono
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.842-854

Abstract

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu Kawasan Industri menghasilkan lumpur yang termasuk Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3), tetapi kandungan karbon dalam lumpur berpotensi dimanfaatkan sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik fisik-kimia dan kinerja adsorpsi adsorben berbasis lumpur IPAL terpadu kawasan industri dalam penyisihan metilen biru (MB) serta mengevaluasi penggunaan media penyaring lumpur berupa nylon dan kertas saring dalam pembuatan adsorben. Adsorben dibuat melalui serangkaian persiapan lumpur, pirolisis, dan aktivasi menggunakan larutan KOH. Karakterisasi dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS), dan Brunauer-Emmett-Teller (BET). Uji adsorpsi batch dilakukan dengan variasi massa adsorben (0,05, 0,1, dan 0,25 g), waktu kontak (5, 10, 20, 30, dan 60 menit), dan konsentrasi awal MB (5, 10, 25, 50, dan 100 ppm). Berdasarkan penelitian, adsorben yang dibuat dengan penyaring nylon menunjukkan karakteristik dan kinerja yang lebih baik dibanding kertas saring. Adsorben memiliki porositas dan permukaannya tersusun dari unsur utama C, O, Al, dan Si. Adsorben dengan penyaringan nylon memiliki luas permukaan spesifik 127,1 m²/g dengan kandungan karbon sebesar 39,3%, sedangkan adsorben dengan penyaringan kertas saring sebesar 65,5 m²/g dan 15,6%. Kondisi optimum diperoleh dari massa adsorben seberat 0,1 g, waktu kontak selama 30 menit, dan konsentrasi awal MB yaitu 10 ppm yang menghasilkan persentase penyisihan MB sebesar 90,8%. Model Isoterm Langmuir memberikan kecocokan yang lebih tinggi (R2 = 0,9989) dibandingkan Freundlich (R2 = 0,9503), yang menunjukkan kecenderungan adsorpsi monolayer pada permukaan relatif homogen. Hasil ini menunjukkan potensi pemanfaatan lumpur IPAL yang dapat diaplikasikan dalam pengolahan air limbah secara berkelanjutan.