Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Patogenisitas Cendawan Metarhizium anisopliae (Metsch) dalam mengendalikan Kepik Hijau (Nezara viridula L.) pada Stadia Perkembangan yang Berbeda di Laboratorium Ahmad Alwi Azhari; Muhammad Sayuthi; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.035 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.7424

Abstract

Abstrak. Nezara viridula (L.) (Hemiptera: Pentatomidae) adalah serangga hama yang bersifat kosmopolit dan mempunyai banyak tanaman inang (polifagus) antara lain kacang-kacangan dan kubis-kubisan. Serangan serangan hama ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Salah satu metoda pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu penggunaan cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae sebagai agen pengendalian hayati yang dapat menyebabkan penyakit green muscardin fungus pada serangga. Keefektifan cendawan entomopatogen sangat dipengaruhi oleh stadia perkembangan inang dan kerapatan konidia cendawan yang diaplikasikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi yang efektif dari cendawan M. anisopliae dan stadia perkembangan serangga yang paling rentan terhadap cendawan M. anisopliae. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi cendawan M. anisopliae: K1 (4g/100 ml), K2 (6g/100 ml) dan K3 (8g/100 ml) serta stadia perkembangan serangga: N1 (Nimfa instar 2), N2 (Nimfa instar 4) dan N3 (Imago). Menghasilkan jumlah kombinasi perlakuan 9 dengan 3 ulangan sehingga terdapat 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi cendawan entomopatogen M. anisopliae berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, mortalitas, dan waktu kematian dari N. viridula. Masa inkubasi tercepat pada 8g/ 100 ml yaitu 1,33 hari dan terlama pada 4g/ 100 ml yaitu 1,44 hari. Masa inkubasi tercepat pada nimfa instar 2 yaitu 1,00 hari dan terlama pada imago yaitu 2,11 hari. Mortalitas tertinggi yaitu pada 8g/ 100 ml sebesar 97,67% dan terendah pada 4g/ 100 ml sebesar 87,78% pengamatan 8 HSA. Mortalitas tertinggi terjadi pada nimfa instar 2 sebesar 98,89% dan terendah pada imago sebesar 86,67% pengamatan 8 HSA. Waktu kematian tercepat pada perlakuan 8g/ 100 ml sebesar 4,49 hari dan terendah pada perlakuan 4g/ 100 ml sebesar 5,50 hari. Waktu kematian tercepat pada nimfa instar 2 sebesar 4,31 hari dan terendah pada imago sebesar 6,00 hari. Cendawan entomopatogen M. anisopliae efektif dalam mengendalikan N. viridula pada nimfa instar 2 dengan konsentrasi 8g/ 100 ml.Pathogenicity of Fungi Metarhizium anisopliae (Metsch) in controlling Green Stink bug (Nezara viridula L.) at Different Developmental Stages in LaboratoryAbstract. Nezara viridula (L.) (Hemiptera: Pentatomidae) is a cosmopolitan insect pest and has many host plants (polyphagus) such as beans and cabbage. Attack of the pests can reduce the quality and quantity of crops. One of the most environmentally friendly methods of pest control is the use of entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae as a biological control agent can cause green muscard fungus disease in insects. The effectiveness of entomopathogenic fungi is strongly influenced by the stadia of host development and the density of conidial fungi applied. The aim of this study is to obtain an effective concentration of the fungus M. anisopliae and the stages of development of the most vulnerable insects against the fungus M. anisopliae. The design used in the study was a Factorial Randomized Complete Random consisting of two factors: the concentration of fungus M. anisopliae: K1 (4g / 100 ml), K2 (6g / 100 ml) and K3 (8g / 100 ml) and stages insect development: N1 (instar nymph 2), N2 (instar nymph 4) and N3 (Adult). Produced a combined number of treatments 9 with 3 replications so that there were 27 experimental units. The result showed that the application of entomopathogenic fungi M. anisopliae had significant effect on the incubation period, mortality, and death time of N. viridula. The fastest incubation period at 8g / 100ml is 1.33 days and the longest at 4g / 100ml is 1.44 days. The fastest incubation period in nymph instar 2 is 1.00 days and the longest in adult is 2.11 days. The highest mortality is at 8g / 100 ml of 97,67% and the lowest at 4g / 100 ml equal to 87,78% observation 8 HSA. The highest mortality occurred in instar nymph 2 of 98.89% and the lowest in adult of 86,67% observation 8 HSA. The fastest death time in the 8g / 100 ml treatment was 4.49 days and the lowest in the 4g / 100 ml treatment was 5.50 days. The fastest death time in instar nymph 2 is 4.31 days and the lowest is adult at 6.00 days. The entomopathogenic fungus M. anisopliae is effective in controlling N. viridula in instar nymph 2 with a concentration of 8g / 100 ml.
Patogenesitas blastospora dan konidia Lecanicillium lecanii Zare & Gams terhadap Helopeltis bradyi Waterhouse (Hemiptera: Miridae): Pathogenicity of blastospores and conidia of Lecanicillium lecanii Zare & Gams on Helopeltis bradyi Waterhouse (Hemiptera: Miridae) Azhari, Ahmad Alwi; Anwar, Rully; Sartiami, Dewi; Samsudin, Samsudin
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 21 No 2 (2024): In Progress
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.21.2.105

Abstract

Helopeltis bradyi, merupakan salah satu hama perkebunan teh yang menyebabkan kerusakan hingga penurunan hasil produksi tanaman. Cendawan Lecanicillium lecanii sebagai musuh alami merupakan pengendalian alternatif yang telah diteliti untuk menekan perkembangan dan populasi H. bradyi. Penelitian bertujuan mengetahui patogenesitas blastospora dan konidia terhadap mortalitas, serta dampaknya terhadap kemampuan makan dan reproduksi H. bradyi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan sepuluh perlakuan dan lima ulangan, termasuk kontrol positif (insektisida deltametrin), kontrol negatif (akuades), serta konsentrasi blastospora (2,45 × 106 hingga 2,45 × 109 blastospora/ml) dan konidia (2,78 × 106 hingga 2,78 × 109 konidia/ml) L. lecanii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. lecanii dengan konsentrasi 2,78 × 109 konidia/ml menyebabkan kematian H. bradyi sebesar 86% dan rata-rata 223,89 tusukan pada 7 hari setelah aplikasi. LC50 dan LT50 konidia L. lecanii lebih rendah, yaitu 6,62 × 105 konidia/ml dan 4,44 hari dibandingkan dengan blastospora, yaitu 2,20 × 107 blastospora/ml dan 5,37 hari. Aplikasi L. lecanii dengan konsentrasi 2,45 × 109 blastospora/ml menghasilkan jumlah telur terendah, yaitu 5,40 butir. Blastospora maupun konidia L. lecanii terbukti efektif dalam mengendalikan H. bradyi. Konidia memberikan hasil terbaik dalam mortalitas dan pengurangan aktivitas makan nimfa instar III, sementara blastospora juga efektif meskipun dengan hasil yang sedikit lebih rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan L. lecanii dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan insektisida sintetik.
Patogenesitas blastospora dan konidia Lecanicillium lecanii Zare & Gams terhadap Helopeltis bradyi Waterhouse (Hemiptera: Miridae): Pathogenicity of blastospores and conidia of Lecanicillium lecanii Zare & Gams on Helopeltis bradyi Waterhouse (Hemiptera: Miridae) Azhari, Ahmad Alwi; Anwar, Rully; Sartiami, Dewi; Samsudin, Samsudin
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 21 No 2 (2024): July
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.21.2.105

Abstract

Helopeltis bradyi, merupakan salah satu hama perkebunan teh yang menyebabkan kerusakan hingga penurunan hasil produksi tanaman. Cendawan Lecanicillium lecanii sebagai musuh alami merupakan pengendalian alternatif yang telah diteliti untuk menekan perkembangan dan populasi H. bradyi. Penelitian bertujuan mengetahui patogenesitas blastospora dan konidia terhadap mortalitas, serta dampaknya terhadap kemampuan makan dan reproduksi H. bradyi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan sepuluh perlakuan dan lima ulangan, termasuk kontrol positif (insektisida deltametrin), kontrol negatif (akuades), serta konsentrasi blastospora (2,45 × 106 hingga 2,45 × 109 blastospora/ml) dan konidia (2,78 × 106 hingga 2,78 × 109 konidia/ml) L. lecanii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. lecanii dengan konsentrasi 2,78 × 109 konidia/ml menyebabkan kematian H. bradyi sebesar 86% dan rata-rata 223,89 tusukan pada 7 hari setelah aplikasi. LC50 dan LT50 konidia L. lecanii lebih rendah, yaitu 6,62 × 105 konidia/ml dan 4,44 hari dibandingkan dengan blastospora, yaitu 2,20 × 107 blastospora/ml dan 5,37 hari. Aplikasi L. lecanii dengan konsentrasi 2,45 × 109 blastospora/ml menghasilkan jumlah telur terendah, yaitu 5,40 butir. Blastospora maupun konidia L. lecanii terbukti efektif dalam mengendalikan H. bradyi. Konidia memberikan hasil terbaik dalam mortalitas dan pengurangan aktivitas makan nimfa instar III, sementara blastospora juga efektif meskipun dengan hasil yang sedikit lebih rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan L. lecanii dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan insektisida sintetik.
Upaya Penyuluhan dalam Peningkatan Pengetahuan Petani mengenai Gejala Defisiensi Unsur Hara Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Zafitra, Zafitra; Khoiri, Muhammad Amrul; Trizayuni, Riskia; Irawan, Joni; Yoseva, Sri; Nasrul, Besri; Effendi AR, Arman; Deviona, Deviona; Simatupang, Freddy Alexander; Habibah, Puan; Efrata, Enriski; Azhari, Ahmad Alwi; Fawrin, Heralda; Purwasandi, Purwasandi
Journal of Rural and Urban Community Empowerment Vol. 7 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jruce.7.1.65-70

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani di Desa Sungai Majo, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir dalam mengenali serta menangani gejala defisiensi unsur hara pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Metode pelaksanaan mencakup ceramah, diskusi interaktif, demonstrasi lapangan, dan evaluasi berbasis pre-test serta post-test. Materi penyuluhan difokuskan pada identifikasi gejala kekurangan unsur hara esensial seperti N, P, K, Mg, dan B serta penerapan prinsip pemupukan berimbang. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan petani sebesar 80% dalam mengenali gejala defisiensi antar unsur hara. Pendekatan partisipatif mendorong peningkatan literasi agronomi dan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan hara berkelanjutan serta pengendalian organisme pengganggu tanaman secara ramah lingkungan. Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, kegiatan ini berhasil memperkuat kapasitas petani menuju sistem pertanian yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan, sehingga petani mampu mengetahui gejala defisiensi unsur hara yang terdapat pada tanaman kelapa sawit di Desa Sungai Majo, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir.