Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Empiricism Journal

Studi Isotermal Proses Biosorption Emas Menggunakan Kitosan dari Cangkang Kepiting Prasetya, Dwi Sabda Budi; Ahmadi, Ahmadi; Pangga, Dwi; Khery, Yusran
Empiricism Journal Vol. 3 No. 1: June 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v3i1.909

Abstract

Kesetimbangan isotermal serapan emas oleh kitosan telah dipelajari melalui eksperimen. Kitosan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan biopolymer yang dihasilkan dari cangkang kepiting. Kitosan telah diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti pertanian, biomedical, farmasi, kosmetik, lingkungan, industri makanan, industri kertas, dan tekstil. Pada penelitian ini kitosan diaplikasikan sebagai filter penyerap Au. Hal ini dilakukan karena kitosan memiliki kemampuan yang baik menyerap ion logam di dalam larutan. Ada beberapa parameter yang menentukan kapasitas serapan kitosan yaitu : derajat deasetilasi, berat molekul, ukuran partikel, dan kristanilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji biosorption Au oleh kitosan yang diproduksi dari cangkang kepiting lokal NTB pada skala laboratorium. Isotermal kesetimbangan serapan pada penelitian ini dikaji menggunakan model kesetimbangan isothermal Langmuir, Freundlich, dan Temkin dengan variasi jumlah konsentrasi awal. Hasil penelitian menunjukkan model isothermal Freundlich dan Temkin paling dominan untuk menggambarkan proses biosorption ion Au oleh kitosan local NTB. Proses biosorption yang terjadi merupakan proses multilayer pada permukaan heterogen dan proses fisika.
Pembelajaran Etnosains dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa pada Fisika Zat Padat Pangga, Dwi; Prasetya, Dwi Sabda Budi; Sanapiah, Sanapiah
Empiricism Journal Vol. 4 No. 2: December 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v4i2.1650

Abstract

Pendidikan fisika membutuhkan inovasi untuk meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pembelajaran etnosains dalam meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa pada mata kuliah Fisika Zat Padat di bawah kerangka Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Penelitian ini melibatkan 17 mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FSTT UNDIKMA. Penelitian ini di batasai pada penilaian hasil pemahaman konsep mahasiswa dalam mata kuliah Pendahuluan Fisika Zat Padat sebelum dan setelah penerapan pembelajaran etnosains. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner, lembar observasi, dan wawancara dengan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman konsep fisika zat padat setelah menerapkan pendekatan etnosains. Sebelum penerapan pembelajaran etnosains, hanya terdapat 10 mahasiswa dari total 17 yang memiliki pemahaman konsep fisika zat padat yang memadai. Namun, setelah penerapan pembelajaran etnosains, terjadi peningkatan yang signifikan, di mana jumlah mahasiswa yang memahami konsep-konsep fisika zat padat meningkat menjadi 15 dari total 17 mahasiswa. Selain itu, Observasi mengindikasikan partisipasi dan keterlibatan mahasiswa yang lebih aktif. Sebelum penerapan pembelajaran etnosains, dimana sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat partisipasi yang terbatas. Mereka cenderung menjadi pendengar pasif dalam diskusi kelas, dan interaksi antar mahasiswa kurang terlihat. Setelah penerapan pembelajaran etnosains, terlihat peningkatan yang signifikan dalam tingkat partisipasi mahasiswa. Mereka lebih aktif berkontribusi dalam diskusi kelas, mengajukan pertanyaan, dan memberikan tanggapan terhadap materi pembelajaran. Sementara wawancara menggambarkan respon positif terhadap pembelajaran yang terkait dengan budaya lokal. Implikasi penelitian ini mencakup perbaikan kurikulum, pelatihan dosen, dan penelitian lanjutan. Dengan demikian, pembelajaran etnosains dalam konteks fisika zat padat dapat dianggap sebagai metode inovatif yang efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa Ethnoscience Learning in Enhancing Students' Understanding of Solid-State Physics Concepts Abstract The education of physics requires innovation to enhance students' understanding of concepts. This research aims to explore the role of ethnoscience learning in improving students' comprehension of concepts in the Solid-State Physics course under the framework of Independent Campus, Independent Learning (MBKM). The study involved 17 students from the Physics Education Study Program at FSTT UNDIKMA. It focused on assessing students' comprehension of concepts in the Solid-State Physics Introduction course before and after implementing ethnoscience learning. Research tools included questionnaires, observations, and interviews with students. The findings indicated a significant improvement in students' understanding of solid-state physics concepts after applying the ethnoscience approach. Before the implementation of ethnoscience learning, only 10 out of 17 students had adequate comprehension of solid-state physics concepts. However, after implementing ethnoscience learning, there was a notable increase, with 15 out of 17 students demonstrating an understanding of these concepts. Additionally, observations suggested increased active participation and involvement among students. Prior to the ethnoscience learning, most students had limited participation levels, often being passive listeners during class discussions, with minimal interaction among peers. Following the implementation of ethnoscience learning, there was a significant improvement in students' participation levels. They became more engaged in class discussions, asking questions, and providing responses to the learning material. Furthermore, interviews depicted a positive response to culturally relevant learning. The implications of this research encompass curriculum enhancements, faculty training, and further studies. Thus, ethnoscience learning in the context of solid-state physics can be considered an effective innovative method for enhancing students' conceptual understanding.
Pengaruh Variasi Komposisi Sekam Padi dan Arang Tempurung Kelapa terhadap Nilai Kalor dan Laju Pembakaran Biobriket Dewi, Nurul Yaqin Rusna; Ahzan, Sukainil; Pangga, Dwi
Empiricism Journal Vol. 5 No. 2: December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i2.2027

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi komposisi sekam padi (ASP) dan arang tempurung kelapa (ATK) terhadap karakteristik biobriket, seperti kadar air, kadar abu, densitas, nilai kalor, dan laju pembakaran. Variasi komposisi bahan adalah 0%-90% ASP dan 90%-0% ATK, dengan perekat tepung tapioka sebesar 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kalor tertinggi (9.034 kkal/g) ditemukan pada komposisi 45% ASP + 45% ATK, sementara laju pembakaran tertinggi (0,7254 g/menit) pada komposisi 90% ASP + 0% ATK. Biobriket dengan komposisi optimal (45% ASP + 45% ATK) memiliki keseimbangan antara nilai kalor tinggi dan pembakaran stabil. Semua sampel memenuhi standar SNI untuk kadar air (maksimal 8%) dan nilai kalor (minimal 5000 kkal/g). Penelitian ini menunjukkan potensi biobriket berbasis limbah pertanian sebagai bahan bakar alternatif yang berkelanjutan. The Effect of Rice Husk and Coconut Shell Charcoal Composition Variations on the Calorific Value and Combustion Rate of BiobriquettesAbstractThis study aims to evaluate the effect of rice husk (ASP) and coconut shell charcoal (ATK) composition variations on biobriquette characteristics, including moisture content, ash content, density, calorific value, and combustion rate. The composition variations ranged from 0%-90% ASP and 90%-0% ATK, with 10% tapioca starch as a binder. Results indicated the highest calorific value (9.034 kkal/g) at 45% ASP + 45% ATK, while the highest combustion rate (0.7254 g/min) was observed at 90% ASP + 0% ATK. Biobriquettes with an optimal composition (45% ASP + 45% ATK) achieved a balance of high calorific value and stable combustion. All samples met the SNI standards for moisture content (maximum 8%) and calorific value (minimum 5000 kkal/g). This study highlights the potential of agricultural waste-based biobriquettes as a sustainable alternative fuel source.
Peran Tri Hita Karana dalam Kehidupan Masyarakat dan Institusi: Kajian Komprehensif Berdasarkan Literatur Ahzan, Sukainil; Pangga, Dwi; Sutajaya, I Made; Astawa, Ida Bagus Made; Suja, I Wayan
Empiricism Journal Vol. 5 No. 2: December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i2.2370

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran filosofi Tri Hita Karana (THK) sebagai kerangka kerja untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat dan institusi di Bali. Dengan menggunakan tinjauan pustaka sistematis berbasis pedoman PRISMA, penelitian ini menganalisis 30 artikel yang relevan dari tahun 2014 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa THK memainkan peran signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan spiritual dengan Tuhan (parhyangan), interaksi sosial (pawongan), dan pelestarian lingkungan (palemahan). Filosofi ini tidak hanya mendukung harmoni sosial dan budaya melalui kegiatan kolektif seperti gotong royong dan pelestarian adat, tetapi juga menjadi pedoman dalam praktik keberlanjutan lingkungan. Pada tingkat institusi, THK diadopsi dalam kebijakan pemerintah, pendidikan, dan pariwisata, menghasilkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan. Meski demikian, tantangan dalam implementasi THK mencakup tekanan globalisasi, individualisme, dan modernisasi yang dapat mereduksi nilai-nilai tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengidentifikasi praktik terbaik dalam penerapan THK serta relevansinya dalam konteks global. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup pengembangan kebijakan berbasis THK, penguatan strategi pendidikan, dan model keberlanjutan institusi yang menekankan keterpaduan antara nilai tradisional dan inovasi modern. Hasil ini mempertegas bahwa THK bukan sekadar filosofi lokal, melainkan pendekatan universal yang relevan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan harmoni sosial di era modern. The Role of Tri Hita Karana in Community and Institutional Life: A Comprehensive Literature ReviewAbstractThis study explores the role of the Tri Hita Karana (THK) philosophy as a framework for fostering harmony in community and institutional life in Bali. Using a systematic literature review guided by PRISMA protocols, the research analyzes 30 relevant articles published between 2014 and 2024. The findings demonstrate that THK plays a significant role across various aspects of life, including spiritual connections with God (parhyangan), social interactions (pawongan), and environmental preservation (palemahan). This philosophy not only promotes social and cultural harmony through collective activities such as communal work (gotong royong) and cultural preservation but also serves as a guideline for environmental sustainability practices. At the institutional level, THK is adopted in government policies, education, and tourism, creating a balance between economic development, cultural preservation, and environmental conservation. However, challenges in implementing THK include pressures from globalization, individualism, and modernization, which can erode traditional values. This study contributes by identifying best practices in applying THK and highlighting its relevance in a global context. The practical implications of this research include the development of THK-based policies, the strengthening of educational strategies, and institutional sustainability models that emphasize the integration of traditional values and modern innovation. These findings underscore that THK is not merely a local philosophy but a universal approach relevant to supporting sustainable development and social harmony in the modern era.