Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS KARAKTERISTIK DAN TINGKAT PELAYANAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KAWASAN PASAR GEDE KOTA SURAKARTA Irawan, Benny; Mahmudah, Amirotul MH; Legowo, Slamet Jauhari
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.445 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36934

Abstract

Jalur pejalan kaki merupakan salah satu wadah atau ruang yang digunakan para pejalan kaki untuk melakukan aktivitas dan untuk memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan. Lokasi penelitian di Kawasan Pasar Gede, Surakarta. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mengetahui karakteristik pergerakan pejalan kaki eksisiting, mengetahui hubungan antar variabel pergerakan pejalan kaki, serta mengetahui kapasitas dan tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki. Survei untuk mendapatkan data dilakukan dengan teknik manual dalam pengamatan di lapangan. Sedangkan metode analisis yakni dengan menggunakan metode Greenberg. Dalam menentukan tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki, pada penelitian ini digunakan 3 standar yaitu standar tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki menurut Peraturan Menteri Perkerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014, standar tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki dari Bangkok, Thailand dan standar tingkat pelayanan dari Australia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karateristik pergerakan pejalan kaki eksisting menunjukkan nilai arus yang lebih kecil dibanding dengan nilai kapasitas/arus maksimum dari grafik hubungan antara arus dan kepadatan dari metode Greenberg. Hubungan antar variabel pergerakan pejalan kaki dengan metode Greenberg menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) yang terbesar pada hubungan antara Kecepatan dan Kepadatan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar (-0,889). Tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki di kawasan Pasar Gede, menurut standar LOS dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 03/PRT/M/2014 dan Standar LOS dari Bangkok, Thailand tingkat pelayanan termasuk dalam rentang kategori A dan B Sedangkan standar LOS dari Australia tingkat pelayanan termasuk dalam rentang kategori A, B dan C.
ANALISIS SISTEM PELAYANAN DAN KARAKTERISTIK PARKIR TERMINAL PALUR Effendi, Muhammad; Sumarsono, Agus; Legowo, Slamet Jauhari
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.292 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36950

Abstract

Pemerintah telah menyediakan banyak fasilitas sistem transportasi yang efektif dan efesien, yang diharapkan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat. Namun kenyataan dapat dilihat dari sekian banyak fasilitas yang ada, masih banyak yang belum dimanfaatkan dengan semestinya oleh masyarakat. Salah satunya, adalah terminal yang merupakan tempat untuk naik dan turunnya penumpang, perpindahan moda dan tempat istirahat bagi pengemudi angkutan umum. Dalam konteks diatas keberadaan terminal bus Palur di Kabupaten Karanganyar, menjadi signifikan sebagai prasarana transportasi. Berdasarkan pengamatan selama satu hari, beberapa bus tidak masuk terminal Palur, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pelayanan dan karakteristik parkir terminal sebagai suatu prasarana transportasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menggunakan data primer berupa kuisioner untuk mengetahui pendapat awak dan penumpang terhadap sistem pelayanan di terminal Palur Surakarta. Untuk mengetahui karakteristik parkir terminal Palur menggunakan metode survei untuk mencatat waktu kedatangan dan keluar bus, plat nomor serta tipe bus. Hasil analisis dari sistem pelayanan dan karakteristik parkir terminal Palur yaitu bus yang tidak memasuki terminal sebanyak 23,17% dari jumlah armada yang beroperasi di terminal, menurut pendapat pengelola terminal tentang tidak masuknya bus karena lokasi yang tidak strategis dan penumpang yang lebih memilih menunggu diluar terminal. Sistem pelayanan terminal Palur menurut awak terminal dan penumpang sebagai pengguna jasa adalah tidak baik. Akumulasi Parkir tertinggi untuk Bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) adalah 1 kendaraan dan Angkutan Kota adalah 8 kendaraan. Indeks Parkir bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) tertinggi adalah 10% dan Angkutan Kota tertinggi adalah 61,53%.
STUDI EVALUASI DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) MANAHAN SURAKARTA Anggoro, Doni; Legowo, Slamet Jauhari; Mahmudah, Amirotul Musthofiah
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.191 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v2i4.37355

Abstract

SPBU Manahan merupakan SPBU yang dibangun di kawasan Manahan dimana memiliki selang pompa (noozle) sebanyak 14 buah. Sesuai dengan Pedoman Teknis Analisis Dampak Lalu Lintas Pembangunan Pusat Kegiatan pada Ruas Jalan Nasional di Wilayah Perkotaan (2009) yang menyatakan bahwa SPBU dengan jumlah selang minimal 4 wajib dilakukan andalalin. Analisa dampak lalu lintas (Andalalin) adalah kajian yang menilai efek - efek yang ditimbulkan akibat pengembangan tata guna lahan terhadap sistem pergerakan lalu lintas pada suatu ruas jalan terhadap jaringan transportasi di sekitarnya. Analisa data yang dilakukan meliputi analisa tarikan, analisa kinerja ruas jalan dan persimpangan, dan analisa penanganan dampak lalu lintas. Dimana, analisa perhitungan ruas jalan dan persimpangan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 (MKJI 1997) dan nilai VCR (Volume Capacity Ratio) atau DS (Degree of Saturation). Survei yang dilakukan terdiri atas survei pendahuluan dan survei primer (survei invetarisasi jaringan jalan dan persimpangan, survei pencacahan lalu lintas ruas jalan terklasifikasi dan membelok, dan survei kecepatan sesaat). Alat yang digunakan untuk survei adalah alat tulis, formulir survei, hand tally counter, dan penunjuk waktu (handphone). Hasil dari penelitian ini adalah penambahan tarikan pergerakan arus sebesar 236 MC/jam, 178 LV/jam, 2 HV/jam dari arah timur serta 181 MC/jam, 120 LV/jam, 16 HV/jam dari arah selatan yang menyebabkan kenaikan derajat kejenuhan (VCR) pada kondisi Do Nothing. Setelah dilakukan beberapa macam penanganan (Do Something) derajat kejenuhan (VCR) turun beragam sesuai masing-masing macam penanganannya.
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL GEDUNG PARKIR SEPEDA MOTOR UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Handayani, Dewi; Purnomoasri, Raden Ajeng Dinasty; Legowo, Slamet Jauhari
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.544 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37030

Abstract

UNS sedang melakukan pembenahan untuk mengatasi permasalahan parkir sepeda motor dan dalam renstra green campus UNS direncanakan akan dibangun gedung parkir sebagai penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan parkir pengguna sepeda motor di Kampus UNS dan menganalisis kelayakan finansial pembangunan gedng parkir di UNS. Data primer didapat melalui survei kordon dengan pencatatan plat nomor sepeda motor yang digunakan untuk memprediksi kebutuhan ruang parkir. Data sekunder rencana biaya pembangunan gedung, biaya operasional dan perawatan diambil dari pedoman harga bangunan pembangunan gedung negara. Penghitungan benefit guna menganalisis kelayakan dengan metode BCR, NPV, dan IRR didapat dari dua skenario alternatif yaitu Alternatif I diambil ongkos parkir /pungutan dan Alternatif II Pengunaan kartu parkir berlangganan yang diperbarui setiap semester dan biaya sewa 5 los. Dari hasil analisis kebutuhan parkir didapat volume sebesar 20816 kendaraan dengan akumulasi tertinggi kendaraan 7202 kend/15 menit dan rata-rata lamanya parkir 183,55 menit (3 jam 4 menit). Kapasitas gedung parkir diketahui mampu menampung 53,8% kebutuhan parkir sekawasan UNS. Dari hasil analisis kelayakan finansial dengan IRR sebesar 12,6% (Sumber: The World Bank Interest Rate, 2015) terhadap kedua alternatif gedung parkir diketahui bahwa untuk Alternatif I didapat NPV (Net Present Value) = 5.696.170.999.531,- > 1, BCR (Benefit Cost Ratio) = 5,172 > 1, dan suku bunga yang ada IRR ³ 11,7112% suku bunga yang berlaku (Alternatif I Layak) dan untuk Alternatif II didapat NPV = Rp 301.349.857.245,- > 1, BCR = 1,221 > 1, dan suku bunga yang ada IRR ³ 12,3237% suku bunga yang berlaku (Alternatif II Layak). Maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan gedung parkir layak dilakukan atau dibangun.
Evaluasi Tarif Berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK), Ability To Pay (ATP), Willingness To Pay (WTP), dan Analisis Break Even Point (BEP) Bus Batik Solo Trans (Studi Kasus: Koridor 2) Krisnanto, Albertus Ryan; Legowo, Slamet Jauhari; Yulianto, Budi
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.818 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37317

Abstract

Tarifharusdapatmenjembatanikepentinganpenumpangselakukonsumendanpengelolaangkutanumumkarenamenyangkutkelangsunganoperasiangkutan.Angkutan bus BST merupakanangkutan bus kota yang saatinisedangdigalakkanpengoperasiaannya di daerah Surakarta.Penilitian ini bertujuan melakukan evaluasi terhadap tarif yang berlaku terhadap BOK dari operator dan ATP, WTP dari penumpang. Pada penelitian ini data di dapatkan dengan penyebaran kuisioner kepada pengguna angkutan bus BST koridor 2 dan juga wawancara dengan PT. BST sebagai pengelola bus BST. Data yang didapat kemudian di analisis. Hasil analisis data selanjutnya digunakan untuk mengetahui besarnya BOK, ATP, WTP serta nilai BEP pada bus BST Koridor 2. Dalam hal ini penghitungan BOK menggunakan 3 metode yaitu Dephub, DLLAJ, FSTPT serta dilakukan dalam 2 skenario. Skenario 1 yaitu kondisi dimana operator membeli bus baru, sedangkan skenario 2 adalah kondisi dimana bus merupakan hibah dari pemerintah. Penghitungan ATP dan WTP dilakukan pada 2 hari, yaitu hari kerja dan libur.Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada skenario 1 penghitungan BOK menurut metode DepHub sebesar Rp. 5.312,90, metode DLLAJ sebesar Rp. 5.214,86, dan metode FSTPT sebesar Rp. 4.820,28. Pada skenario 2 terjadi penurunan sebesar 13 - 14 % dibanding skenario 1. Jika dilihat nilai BOK, tarif saat ini masih dibawah dari nilai BOK. Berdasarkan ATP pada hari kerja sebesar Rp 3.497,81 untuk kategori umum dan Rp. 2.001,05 untuk kategori pelajar. Sedangkan pada hari libur sebesar Rp. 3.500,26 untuk kategori umum dan Rp. 2.474,46 untuk kategori pelajar. Besarnya nilai WTP pada hari kerja sebesar Rp. 3.374,68 untuk kategori umum dan Rp 2.093,75 untuk kategori pelajar, pada hari libur sebesar Rp. 3.351,87 untuk kategori umum dan Rp 3.125,- untuk kategori pelajar. Hal ini menunjukkan nilai ATP & WTP sudah mendekati dengan tarif yang berlaku saat ini, walaupun pada kategori umum nilai ATP & WTP sedikit dibawah dari tarif yang berlaku. Nilai BEP berdasarkan load factor pada hari kerja sebesar 0,39 dan pada hari libur sebesar 0,34 pada skenario 1. Penghitungan nilai BEP pada skenario 2 terjadi penurunan sebesar 13 - 14 % dibanding skenario 1. Selain itu, pada skenario 1 membutuhkan waktu 13,78 tahun untuk impas dan membutuhkan waktu 1,9 tahun pada skenario 2.
STUDI PERGESERAN WAKTU KEBERANGKATAN ARUS LALU LINTAS DAN ARUS JENUH DASAR PADA SIMPANG BERSINYAL UNTUK PENDEKAT SATU ARAH (STUDI KASUS : SIMPANG BERSINYAL DI RUAS JALAN BRIGJEN SLAMET RIYADI, SOLO) Cholis, Ganang Noor; Mahmudah, Amirotul M.H.; Legowo, Slamet Jauhari
Matriks Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2020): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.233 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v8i1.41530

Abstract

Simpang jalan merupakan daerah dengan konflik kendaraan yang tinggi. Solusi untuk mengurangi konflik adalah dengan penambahan lampu lalu lintas. Pemasangan lampu lalu lintas dapat menambah tundaan,  waktu keberangkatan kendaraan lebih awal dan arus jenuh dasar per meter yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran arus jenuh dasar per meter yang nantinya dapat sebagai rujukan dalam perbaikan MKJI 1997 dan mengetahui variasi waktu keberangkatan kendaraan pada simpang dengan adanya lampu lalu lintas. Penelitian dilakukan menggunakan metode time slice. Data primer mencakup data arus lalu lintas, data variasi waktu keberangkatan kendaraan, data geometrik simpang, data durasi lampu lalu lintas dan data fungsi lahan sekitar simpang yang diperoleh melalui survei langsung di lapangan dengan mengambil sampel di jalan Slamet Riyadi Surakarta. Survei dilakukan saat jam puncak dan jam tidak puncak. Data sekunder berupa data jumlah penduduk dan peta jaringan jalan diperoleh dari instansi terkait. Berdasarkan hasil analisis 8 dari 10 hasil rata-rata waktu keberangkatan kendaraan menunjukkan adanya tundaan keberangkatan kendaraan. Sementara hasil analisis perhitungan So/m didapatkan 7 dari 10 data menunjukkan hasil koefisien arus jenuh dasar permeter yang lebih besar dari 600 smp/jam/m (standar yang ditetapkan MKJI 1997) dengan range 636,7249 - 906,7352 smp/jam/m. 
MENGUNAKAN EMULGATOR TEXAPON DITINJAU DARI KONSENTRASI KEROSIN DAN WAKTU MIXING FASE PADAT Sarwono, Djoko; Legowo, Slamet Jauhari; Widhisasongko, Arif
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.405 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i3.37284

Abstract

Pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan menuntut ketersediaan aspal yang memenuhi jumlahnya. Kebutuhan aspal di Indonesia 1,2 juta ton per tahun tetapi hanya 50% yang dapat dipenuhi dalam negeri, sisanya dicukupi dengan impor yang memerlukan biaya tinggi. Indonesia sebenarnya memiliki cadangan aspal yang melimpah di pulau Buton tetapi belum banyak dipakai untuk bahan baku perkerasan jalan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis berusaha mengolah asbuton agar dapat dimanfaatkan secara mudah dan biaya yang murah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi asbuton emulsi campuran dingin, hubungan waktu mixing fase padat terhadap kadar larutan bitumen, hubungan waktu mixing fase padat terhadap berat jenis, dan hubungan waktu mixing fase padat terhadap kadar air. Penelitian ini dilakukan dengan cara mencampur antara fase padat dan fase cair ke dalam mesin ekstraksi selama 15 menit. Fase padat terdiri dari asbuton 42% terhadap berat campuran dan kerosin sebagai bahan peremaja dengan variasi kadar kerosin 8,33%, 8,96%, 9,58%, 10,21%, 10,83% yang dicampur menggunakan mixer dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20, dan 25 menit. Fase cair terdiri dari Texapon sebagai bahan pengemulsi sebesar 1,25%, air RO 47,5% dan HCl 0,63% terhadap berat total campuran. Kemudian dilakukan pengujian kadar larutan bitumen, berat jenis dan kadar air RO. Hasil analisis, komposisi yang menghasilkan kadar larutan bitumen tertinggi adalah Asbuton Tipe 5/20 42 %, Kerosin 10,21 %, Air RO 47,5 %, Texapon 1,25 %, dan Asam Klorida (HCl) 0,63 %, terhadap berat total. Semakin lama waktu mixing fase padat maka persentase bitumen akan semakin meningkat, berat jenis rata-rata asbuton emulsi semakin menurun dan kadar air RO akan semakin mengalami peningkatan.
ANALISIS PENAMBAHAN DEMAND BATIK SOLO TRANS KORIDOR 2 PADA PENGGUNAAN LAHAN PENDIDIKAN DAN ANALISIS ABILITY TO PAY (ATP) DAN WILLINGNESS TO PAY (WTP) Hermana Putra, Yudisia Pearlite; Legowo, Slamet Jauhari; Mahmudah, Amirotul M.H
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.364 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37091

Abstract

Bus Rapid Transit adalah salah satu sistem angkutan umum yang sedang digalakan di Indonesia, di kota Surakarta bis ini bernama Batik Solo Trans. Penambahan demand merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan didalam pengembangan angkutan umum. Dalam menentukan tarif, kemampuan serta kemauan membayar dari masyarakat yang termasuk dalam potensi penambahan demand perlu dipertimbangkan supaya mereka semakin tertarik untuk menggunakan angkutan umum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi penambahan demand serta analisis ATP dan WTP pada area koridor 2 BST khusus penggunaan lahan pendidikan. Pada penelitian ini data di dapatkan dengan penyebaran kuisioner kepada siswa, mahasiswa, dan pegawai yang ada didalam daerah koridor 2 BST dengan penggunaan lahan pendidikan. Data yang diambil dari responden meliputi pertanyaan-pertanyaan yang hasilnya digunakan untuk analisis penambahan demand dan persepsi tarif berdasarkan kemampuan dan kemauan membayar. Populasi pada penelitian ini dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tarif yang dikenakan pada mereka, yaitu pelajar dan umum. Analisis ATP dan WTP dilakukan pada hari sekolah atau hari kerja, pada analisis tarif ini kategori umum dibagi menjadi dua yaitu mahasiswa dan pegawai. Hasil analisis dari data yang didapatkan melalui kuisioner menunjukan bahwa potensi penambahan demand Batik Solo Trans koridor 2 pada fungsi guna lahan pendidikan adalah sebesar 58,01% dari total 95003 orang dengan kondisi eksisting BST,dan sebanyak 5,62% dari total populasi termasuk dalam potensi demand dengan menuntut perbaikan. Dari analisis tersebut berarti terdapat 60450 orang yang belum menggunakan BST untuk kegiatan sehari-hari namun mempunyai ketertarikan untuk menggunakannya. Persepsi tarif dari potensi demand kategori pelajar berdasarkan ATP adalah Rp. 4.512,39, berdasarkan WTP adalah sebesar Rp. 2.353,45. Hasil tersebut menunjukan bahwa kemampuan membayar tarif BST dari pelajar yang berada dalam koridor 2 lebih besar dari pada tarif yang berlaku saat ini yaitu Rp.2500, meskipun kemauan membayar mereka sedikit lebih rendah. Ability to Pay dari kategori umum adalah sebesar Rp. 3.042,05 untuk mahasiswa dan Rp. 6.208,33 untuk pegawai. Tarif berdasarkan WTP untuk mahasiswa adalah sebesar Rp. 3.805,56 dan untuk pegawai adalah sebesar Rp. 3.766,67. Hasil analisis pada kategori umum menunjukkan bahwa kemampuan membayar milik mahasiswa jauh lebih rendah dibandingkan milik pegawai, oleh karena itu diperlukan subsidi atau kebijakan khusus mengenai tarif BST untuk mahasiswa..
VARIASI WAKTU KEBERANGKATAN ARUS KENDARAAN DAN ARUS JENUH PER METER (S0/M) PADA SIMPANG BERSINYAL DENGAN FULL TIME COUNTDOWN TIMER Pratina, Ginung; Mahmudah, Amirotul M.H; Legowo, Slamet Jauhari
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.019 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i3.36566

Abstract

Countdown timer merupakan perangkat tambahan pada lampu lalu lintas, tujuannya memberi informasi kepada pengendara tentang durasi waktu dari lampu lalu lintas. Menurut Cong dkk (2012), adanya countdown timer ternyata menimbulkan beberapa dampak lalu lintas, diantaranya pergerakan keberangkatan kendaraan sebelum waktu hijau dengan waktu keberangkatan yang bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadinya variasi waktu keberangkatan, faktor yang mempengaruhi, dan nilai S0/m pada simpang bersinyal dengan countdown timer. Lokasinya di Simpang Jimbaran FM, Simpang Genengan, dan Simpang Kelurahan Mojosongo.  Data yang digunakan berupa data primer yang di peroleh secara langsung di lapangan dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Penelitian ini menggunakan analisis statistik untuk variasi waktu keberangkatan dan time slice untuk arus jenuh. Hasil analisisnya, variasi waktu keberangkatan arus kendaraan yang terjadi, kecuali pada Simpang Jimbaran FM lengan pendekat Timur, mengalami percepatan keberangkatan arus kendaraan. Faktor pengaruh terjadinya variasi waktu keberangkatan arus kendaraan pada jam puncak adalah arus jenuh, sepeda motor, kendaraan ringan, dan S0/m, sedangkan pada jam tidak puncaknya adalah sepeda motor dan S0/m. Nilai S0/m yang diperoleh untuk semua lengan pendekat simpang baik pada jam puncak maupun jam tidak puncak, tidak ada yang sesuai dengan nilai S0/m standar MKJI 1997, sebesar 600.
EVALUASI TARIF BERDASARKAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK), ABILITY TO PAY (ATP), WILLINGNESS TO PAY (WTP), SERTA BREAK EVEN POINT (BEP) BUS BATIK SOLO TRANS (STUDI KASUS KORIDOR 3) Murwandono, Priyandi; Legowo, Slamet Jauhari; Mufidah, Amirotul Musthofiah
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37315

Abstract

Tarif sangat berpengaruh terhadap kelangsungan operasi angkutan umum karena dapat mengakomodasi kepentingan penumpang selaku konsumen dan pengelola angkutan umum. Angkutan bus Batik Solo Trans merupakan angkutan bus kota yang saat ini sedang digalakkan pengoperasiaannya. Bus Batik Solo Trans ini diharapkan dapat menjadi idaman angkutan bus kota di daerah Surakarta. Data penelitian dibagi menjadi 2, yaitu data primer dan data sekunder. Data di dapat dengan survei jumlah penumpang on board dan penyebaran kuisioner kepada pengguna angkutan bus Batik Solo Trans koridor 3 dan wawancara dengan awak bus Batik Solo Trans koridor 3, kemudian data di analisis untuk mengetahui besarnya Biaya Operasional Kendaraan (BOK) berdasarkan 3 metode (Dephub, DLLAJ, FSTPT) dan mengetahui daya beli penumpang dari kemampuan (Ability To Pay/ATP) dan kemauan (Willingness To Pay/WTP) untuk membayar tarif bus kota, serta analisis Break Even Point. Hasil analisis data menunjukkan tarif berdasarkan BOK menurut metode Dephub Rp. 1.014,72, metode DLLAJ Rp. 1.014,72, metode FSTPT Rp. 434,46 dengan sistem setoran sedangkan pada sistem normal terdapat kenaikan sebesar 198,39%. Berdasarkan ATP sebesar Rp 2.952,98 untuk kategori umum dan Rp. 2.786,29 untuk kategori pelajar. Besarnya nilai WTP sebesar Rp. 2.316 untuk kategori umum dan Rp 2.052 untuk kategori pelajar. BEP berdasarkan load factor pada hari kerja sebesar 36,2% dan pada hari libur sebesar 29,8% sistem setoran, terdapat selisih sebesar 3,35% pada sistem normal. Jumlah armada yang dibutuhkan untuk mencapai BEP pada sistem setoran sebesar 35 armada (hari kerja dan hari libur), terdapat selisih sebesar 4 armada pada sistem normal. Selain itu, waktu bus untuk mencapai BEP pada sistem setoran adalah 7,3 tahun dan sistem normal membutuhkan waktu 1,9 tahun. Tarif yang berlaku saat ini lebih besar daripada tarif berdasarkan BOK, ATP dan WTP. Diperlukan adanya evaluasi tarif dari pemerintah agar menarik minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum sebagai moda transportasi utama. Diharapkan tarif yang telah di evaluasi sesuai dengan BOK, kemampuan dan kemauan penumpang. Pemerintah diharapkan terus berinovasi dalam memberikan kebijakan dan perbaikan pelayanan serta fasilitas angkutan umum agar nilai load factor yang saat ini dapat meningkat dan menarik minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum.