Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

BEHAVIORAL ARCHITECTURE APPLICATION TO A DESIGN OF JOB TRAINING FACILITIES FOR PEOPLE WITH DISABILITIES IN THE CITY MALANG PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA PERANCANGAN FASILITAS PELATIHAN KERJA BAGI PENYANDANG DISABILITAS DI KOTA MALANG Choirunnisa, Intan; Kusumaningayu, Intan
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 4 No 1 (2024): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v4i1.56

Abstract

Sekitar 82 persen dari penyandang disabilitas ada di bawah garis kemiskinan dan sering mengalami keterbatasan akses atas kesehatan, pendidikan, pelatihan dan pekerjaan yang layak. Penurunan ekonomi paling tertinggi bagi penyandang disabilitas terjadi di Kota Malang. Pemerintah Kota Malang berencana mempersiapkan pelatihan keterampilan khusus disabilitas sesuai permintaan pasar kerja dan merangkul dunia usaha supaya perekonomian bagi penyandang disabilitas meningkat. Selain meningkatkan ekonomi di masa depan kelak dapat menambah kemampuan dan pengetahuan. Pengguna perancangan tersebut tuna daksa, tuna rungu, dan tuna wicara dengan pendekatan arsitektur perilaku. arsitektur perilaku dipandang dapat menjawab permasalahan dengan menampung kebutuhan pengguna secara non-fisik maka hasil penerapan tersebut perlu adanya penambahan dari ilmu psikologi menggunakan prinsip psikologi bagi tuna daksa adalah Desain Universal, sedangkan tuna rungu adalah The Deafspace Design Guidelines dan tuna wicara adalah Teori Interaksionisme simbolik. Dengan hasil tersebut hampir semua prinsip psikologi sesuai dengan pendekatan arsitektur perilaku yang mencakup pengaturan perilaku, kognisi spasial, dan persepsi limgkungan terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya.
RUSUNAWA SOMBO REDESIGN CONCEPT BASED ON RESIDENTS’ PERCEPTION KONSEP REDESAIN RUSUNAWA SOMBO BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI Nurlindah, Ana; Kusumaningayu, Intan; Faisal, Muhmmad
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 4 No 1 (2024): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v4i1.59

Abstract

Rusunawa merupakan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang di berlakukan pembayaran tiap bulan bagi penghuninya dengan digunakan bersama serta fasiltias bersama dan di bangun ke arah vertikal untuk kota yang kepaatan penduduknya tinggi. Rusunawa banyak di bangun pada kota-kota besar yang padat penduduk karena sulitnya memiliki rumah. Adanya rusunawa di Surabaya karena Surabaya merupakan kota dengan salah satu penduduk terbanyak dan merupakan kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi, oleh karena itu banyaknya masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak memiliki tempat tinggal layak huni di karenakan harga tanah yang relatif mahal sehingga menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Rusunawa menjadi solusi hal tersebut dan meningkatkan infrastruktur kota serta memudahkan masyarakat. Dengan adanya rusunawa masyarakat berpenghasilan rendah dapat memliki tempat tinggal layak huni serta adanya aksebilitas yang mendukung dan strategis dapat mengurai polusi kendaraan bermotor. Rusunawa Sombo merupakan rusunawa tertua yang didirikan oleh pemerintah kota Surabaya untuk mengatasi kekumuhan yang ada di daerah kelurahan simolawang Kecamatan Simokerto. Dengan adanya rusunawa tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tempat tinggal layak huni bagi masyarakat setempat. Tetapi seiring berjalannya waktu rusunawa sombo menjadi kumuh karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi untuk itu butuh adanya perbaikan pada fasad maupun unit hunian agar penghuni memiliki tempat tinggal layak huni.
Potensi Rumah Joglo Desa Minggirsari Blitar Sebagai Obyek Pendukung Desa Ekonomi Kreatif Sasa Aprilina; Intan Kusumaningayu; Hanie Teki Tjendani; Andarita Rolalisasi
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2022): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v1i2.338

Abstract

Rumah joglo merupakan arsitektur tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya jawa, juga memiliki nilai filosofi yang begitu dalam. Makna filosofi yang begitu dalam terlihat dari elemen elemen pembentuk bagian bagian rumah joglo. Selain nilai sakral yang terkandung, Rumah joglo juga simbol dari keseimbangan lingkungan, hubungan dengan manusia, dan hubungan dengan tuhan. Karena keunikan yang dimiliki, rumah joglo banyak disukai dan dijadikan sebagai obyek yang tidak hanya digunakan sebagai hunian, melainkan sebagai obyek pendukung dengan ciri khas yang tertuang didalamnya. Demikian juga dengan Desa Minggirsari Blitar yang menjadikan rumah joglo sebagai obyek pendukung Desa Ekonomi Kreatif. Terdapat 10 joglo yang ada pada desa Minggirsari yang memiliki masing masing potensi. Dari eksplorasi potensi ini akan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti lokasi, lingkungan sekitar, kondisi eksisting, pemilik, dll. Dari hasil penelitian ini akan didapat 3 joglo yang akan dilakukan pengembangan dan perencanaan dari potensi yang didapat tanpa merubah ciri khas joglo itu sendiri. Perencanaan dilakukan dengan tetap memberikan ruang kepada pemilik / ahli waris yang masih menempati rumah tersebut. Masing-masing Rumah Joglo akan difungsikan sebagai penginapan, rumah makan dan ruang baca untuk mendukung Desa Wisata Pendidikan di Desa Minggirsari.
Pemanfaatan Ruang Pada Rumah Joglo Sebagai Griya Dedaharan Pendukung Desa Ekonomi Kreatif Intan Kusumaningayu; Hanie Teki Tjendani
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 2 No. 1 (2023): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v2i1.339

Abstract

Rumah Joglo merupakan salah satu kekayaan budaya Arsitektural Indonesia memiliki nilaifilosofi sangat dalam. Kedalaman makna tersebut tersirat dari bentuk elemen-elemen yang membangunbagian-bagian rumah itu. Selain nilai sakral yang terkandung didalamnya, Rumah Joglo adalah simboldari keseimbangan dengan lingkungan, keseimbangan hubungan dengan sesama manusia (vertical)dan hubungan dengan Tuhan (horizontal). Soko guru sebagai simbul kekuatan didukung denganelemen-elemen lainnya ditinjau dari bidang ilmu Teknik Sipil sudah memenuhi persyaratan danmenggunakan prinsip perletakan sendi dan rol yang akan kuat dalam menerima beban gempa yangsewaktu-waktu dapat terjadi. Seiring berjalannya waktu karena keunikan yang dimiliki, Rumah Joglobanyak disukai sebagai objek dan pendukung dalam pengembangan ekonomi di sektor wisata.Demikian pula dengan kondisi di Desa Minggirsari dimana terdapat 10 Rumah Joglo yang berpotensiuntuk dijadikan obyek pendukung bagi perkembangan Desa Minggirsari sebagai Desa WisataPendidikan. Dari hasil penelitian ini didapat 3 Rumah Joglo yang akan dilakukan pengembangan danperencanaan alih fungsi tanpa mengorbankan pakem Rumah Joglo itu sendiri. Perencanaan dilakukandengan tetap memberikan ruang kepada pemilik / ahli waris yang masih menempati rumah tersebut.Masingmasing Rumah Joglo akan difungsikan sebagai penginapan, rumah makan dan ruang bacauntuk mendukung Desa Wisata Pendidikan di Desa Minggirsari.
Analisis Kualitas Pelayanan dalam Pengelolaan Fasilitas di Stasiun Kereta Api Gubeng Surabaya Rheina Dwi Qurani Anggraini; Intan Kusumaningayu; Ir. Benny Bintarjo Dwi Hersanjo
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 4 No. 2 (2025): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v2i4.731

Abstract

The Gubeng Surabaya Class A Train Station is one of the main transportation hubs in the city of Surabaya. However, the facilities provided at this station still face various challenges that affect passenger comfort and service efficiency. The primary issues include accessibility for people with disabilities, inadequate pedestrian facilities, limited parking capacity, and inconsistencies in staff services.This study employs data collection methods through interviews with passengers at Gubeng Station. The collected data were systematically processed to identify deficiencies in each aspect of the facilities and services. The findings reveal that although Gubeng Station has provided basic facilities, significant improvements are still needed. For example, ramps and guiding blocks for people with disabilities are not yet fully ideal, especially in the drop-off area, restroom access, and platforms. Pedestrian facilities are poorly organized, causing confusion and additional costs for passengers. Parking areas are often insufficient, particularly during peak hours, resulting in inconvenience for private vehicle users. Moreover, while staff services are generally deemed adequate, some shortcomings remain in providing comfort and security. In conclusion, although Gubeng Station has made efforts to offer adequate facilities, further improvements are required to ensure better comfort, efficiency, and accessibility for all passengers. This study recommends upgrading facilities and providing staff training to enhance the quality of service in the future.
Studi Arsitektur Humanis dalam Relokasi Liponsos Sidoarjo Aditya Saputra Firman Nurhaya; Intan Kusumaningayu; Mufidah Mufidah
Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Vol. 4 No. 2 (2026): April : Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Si
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/konstruksi.v4i2.1354

Abstract

The relocation of the Social Welfare Shelter Environment (Lingkungan Pondok Sosial/Liponsos) in Sidoarjo represents a strategic effort to address social and spatial issues characterized by overcapacity, limited facilities, and an inadequate living environment that does not fully support the physical and psychological needs of people with social welfare problems (PMKS). These conditions indicate that the challenges faced by Liponsos are not merely social in nature but are also closely related to the quality of the built environment, which significantly influences the rehabilitation and recovery process of its residents. Therefore, a human-centered design approach is required in planning social service facilities. This study aims to analyze the application of humanistic architecture principles in the planned relocation of the Sidoarjo Liponsos as a foundation for creating a more livable, dignified, and user-oriented environment. The research employs a literature review method by collecting data from relevant books, journals, regulations, and previous studies. The analysis is conducted using descriptive and content analysis to examine the relationship between humanistic architectural principles and the needs of residents within social welfare facilities. The results indicate that the humanistic architectural approach is highly relevant to the relocation of Liponsos, particularly through spatial zoning based on levels of privacy and security, the provision of green open spaces and communal areas as media for social interaction and therapeutic activities, and the design of self-development spaces that support rehabilitation and empowerment. The implementation of these principles is expected to create a built environment that not only fulfills basic functional requirements but also supports psychological recovery, social stability, and sustainable improvement in the quality of life of PMKS residents.  
Analysis of Traffic Congestion in Densely Populated Residential Areas Based on Infrastructure, Transportation, and Urban Planning (Case Study: Ketintang, Surabaya) Khoudiy Iffiyah; Intan Kusumaningayu; Muhammad Ade Saifi Shohibul M; Nayla Sagita Anam; Chika Kansa Dafa Kholili
Journal of Social Research Vol. 5 No. 9 (2026): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs (AHU-0028405-AH.01.14 Tahun 2022)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i9.3388

Abstract

Traffic congestion is a major urban transportation challenge resulting from the imbalance between rapid motor vehicle growth, limited road capacity, and uncontrolled land use development. This study analyzes the factors contributing to traffic congestion along Ketintang Street, Surabaya, a strategic corridor connecting the Ketintang area with Ahmad Yani Street and Gunungsari Street, where traffic conditions deteriorate to severe congestion during peak hours. A descriptive qualitative case study approach was employed using field observations as the primary data source and the Rencana Detail Tata Ruang (RDTR; Detailed Spatial Plan) of Surabaya, Transportation Agency data, and relevant literature as secondary data sources. The findings identified three principal causes of congestion: (1) the transformation of residential land into mixed-use commercial development without corresponding revisions to spatial planning policies; (2) infrastructure deficiencies, including an unpaved at-grade railway crossing and insufficient road capacity; and (3) operational and regulatory issues, such as inadequate traffic signs and pavement markings, illegal on-street parking, informal street vendors, and increased traffic generated by student travel during peak campus hours. The study recommends integrated interventions comprising short-term operational measures, including traffic management and enforcement against illegal parking; medium-term infrastructure improvements, such as paving the at-grade railway crossing and widening the roadway; and long-term spatial planning measures through revisions to the RDTR and the expansion of public transportation services. The findings confirm that traffic congestion along Ketintang Street is a multidimensional problem requiring coordinated management across the transportation, infrastructure, and urban spatial planning sectors.