Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Role Of Job Crafting Towards Readiness For Change Among Millennial Employees Dewi, Ros Patriani; Harahap, Dewi Handayani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.9180

Abstract

Dampak dari globalisasi dan pandemi terlihat pada sejumlah sektor, termasuk industri. Organisasi diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dengan cepat. Karyawan, sebagai aset organisasi, perlu bersiap untuk mengikuti perubahan tersebut. Kesiapan terhadap perubahan akan membawa manfaat positif bagi transformasi organisasi. Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi readiness for change pada karyawan, salah satu diantaranya job crafting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara job crafting dengan readiness for change pada karyawan milenial. Metode pengambilan data menggunakan purposive sampling. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 150 orang yang memiliki karakteristik berusia 23-39 tahun, yang telah bekerja minimal selama satu tahun. Pengambilan data penelitian ini menggunakan skala job crafting dan skala readiness for change. Hasil analisis data penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0, 638 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0.01). Hasil korelasi tersebut dapat diartikan bahwa hipotesis penelitian ini diterima yaitu ada hubungan yang positif dan signifikan antara job crafting dengan readiness for change. Implikasi dari penelitian ini, karyawan dapat meningkatkan kreativitas dan berperilaku proaktif melalui job crafting agar lebih siap terhadap perubahan yang terjadi dalam organisasi.
The Relationship between Self-Regulated Learning and Self-Efficacy Academic on Academic Annisa Dwi Kartika; Ros Patriani Dewi; Maghfira Nur Aziza; Ratna Sesotya Wedadjati
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 4 No. 9 (2024): September 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v4i9.11573

Abstract

This research aims to determine: 1) the relationship between self-regulated learning and academic procrastination in students; 2) the relationship between academic self-efficacy and academic procrastination among students; 3) the relationship between self-regulated learning and academic self-efficacy on academic procrastination in students. The subjects in this research were 93 students at Mercu Buana University, Yogyakarta. Data collection used the Academic Procrastination Scale-Short Form (APS-S), Self Regulated Learning Scale (SRLS), The Academic Self-Efficacy Scale (TASES). The data analysis method uses simple linear regression analysis and multiple linear regression. The research results show that: 1) there is a negative relationship between self-regulated learning and academic procrastination in students, with a correlation value of -0.258 and a p value of 0.012 (p<0.05); 2) there is a negative relationship between academic self-efficacy and academic procrastination in students, with a correlation value of -0.302, F of 9.123 with a p value of 0.003 (p<0.05); 3) there is a relationship between self-regulated learning and academic self-efficacy with academic procrastination in students, with a correlation value of 0.336 and a p value of 0.005 (p<0.01)
Pelatihan Kepemimpinan Transformasional Pada Atasan Untuk Peningkatan Komitmen Organisasi Karyawan Di Hotel “X” Dewi, Ros Patriani; Astuti, Kamsih
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 18 No. 1: Februari 2016
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.303 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v18i1.345

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan kepemimpinan transformasional pada atasan untuk peningkatan komitmen organisasi karyawan di hotel X Yogyakarta. Subjek penelitian adalah 34 karyawan Hotel X Yogyakarta yang merupakan subordinat atau bawahan sedangkan yang diberikan intervensi berupa pelatihan kepemimpinan transformasional adalah para Head of Departement (HOD) yang berjumlah 8 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala komitmen organisasi yang mengacu pada organizational commitment questionnaire (OCQ) yang dikembangkan oleh Allen & Meyer (1990), yang terdiri dari tiga komponen yaitu: komponen afektif, komponen kontinuans dan komponen normatif. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design dengan analisis data uji statistik parametrik, yaitu Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa t = 7,325, (p<0,001) sehingga hipotesis penelitian diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan antara komitmen organisasi karyawan sebelum diberikan pelatihan kepemimpinan transformasional pada atasan dan setelah diberikan pelatihan kepemimpinan transformasional pada atasan.
PELATIHAN KADER KESWA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA ORANG DENGAN GANGGUAN KESEHATAN MENTAL SEBAGAI MITIGASI PERILAKU BUNUH DIRI Budiyani, Kondang; Dewi, Ros Patriani; Aryani, Eka
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.37141

Abstract

Abstrak: Permasalahan kesehatan mental masih menjadi isu yang penting di daerah dengan stigma negatif terhadap gangguan kesehatan mental. Tingginya kasus bunuh diri merupakan salah satu masalah kesehatan mental. Selain itu, kurangnya akses terhadap dukungan sosial maupun bantuan tenaga profesional semakin memperparah kecenderungan individu untuk melakukan bunuh diri. Saat ini, sumber daya yang memiliki keterampilan untuk memberikan pertolongan pertama psikologis masih sangat minim. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pertolongan pertama psikologis agar para kader dapat memiliki keterampilan yang lebih baik dalam memberikan Pertolongan Pertama Psikologis. Metode pelaksanaannya mencakup proses identifikasi dan rekrutmen, pengembangan modul, pelaksanaan pelatihan, supervisi dan pendampingan, sosialisasi dan kampanye, penguatan jaringan rujukan, serta monitoring dan evaluasi program. Kegiatan dilaksanakan pada 17 Oktober 2025 dengan melibatkan 50 peserta dari kader Posyandu di Gunungkidul. Efektifitas pelatihan dilakukan dengan pengukuran skor pre-post test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta tentang keterampilan PFA yang dibuktikan dari peningkatan rata-rata skor pre-test yaitu sebesar 59.00 menjadi 92.80 pada skor post-test. Hasil ini memberikan implikasi bagi para kader Keswa agar dapat membantu mengatasi masalah kesehatan mental dan tentunya berdampak pada turunnya angka kasus bunuh diri.Abstract: Mental health problems remain an important issue in regions where there is still a negative stigma toward mental disorders. The high rate of suicide cases represents one of the major mental health challenges. In addition, the lack of access to social support and professional assistance further exacerbates individuals’ tendencies toward suicidal behavior. Currently, there are still very limited human resources with the necessary skills to provide Psychological First Aid (PFA). Therefore, this community service activity aims to provide PFA training so that community health volunteers (cadres) can develop better skills in delivering Psychological First Aid. The implementation methods include the processes of identification and recruitment, module development, training implementation, supervision and mentoring, socialization and campaigning, strengthening referral networks, as well as program monitoring and evaluation. The activity was conducted on October 17, 2025, involving 50 participants from Posyandu cadres in Gunungkidul. The effectiveness of the training was evaluated through pre-test and post-test score measurements. The analysis results showed an increase in participants’ knowledge of PFA skills, as evidenced by the rise in the average pre-test score from 59.00 to 92.80 in the post-test. These results have implications for mental health cadres, enabling them to help address mental health issues and, consequently, contribute to reducing suicide rates.
The Workplace wellbeing dan employee engagement pada karyawan: Menguji peranan resiliensi sebagai mediator: Workplace wellbeing and employee engagement in employees: Examining the role of resilience as a mediator Dewi, Ros Patriani; Wardhani, Nia Kusuma
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v12i1.8574

Abstract

The existence of globalization encourages every organization to be more adaptive in facing dynamic changes. Employee engagement is considered one of the important factors that can increase human resource performance. This research aimed to understand the impact of variables that can influence employee engagement, in order for the employees can be more engaged to the organization. Furthermore, this study examined the relationship between workplace well-being toward employee engagement with resilience as a mediator. The method used in this research was the quantitative method. The questionnaires using a random sampling technique and the answers from 183 employees across various regions in Indonesia with the following characteristics: employees aged 20 to 50, minimum tenure 1 year, were analyzed using SEM (Structure Equation Modelling) with the assistance of the smart PLS program. According to the analysis, it was found that (1) workplace wellbeing positively significantly influences employee engagement, (2) workplace wellbeing positively significantly influences resilience, (3) resilience positively significantly influences employee engagement, and (4) resilience mediates the relationship between workplace wellbeing and employee engagement. The result indicates that an Organization can increase employee engagement by building strong workplace well-being and supporting employees in increasing their resilience.