Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penatalaksanaan Pada Perempuan Usia 56 Tahun Penderita Vertigo dan Dispepsia melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Fathia Radinda Salsabila; Azelia Nusadewiarti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v12i1.pp197-214

Abstract

Latar Belakang: Vertigo didefinisikan sebagai gangguan kesadaran postural dan dapat berupa perasaan berputar pada diri sendiri atau lingkungan sekitar. Berdasarkan data dari WHO, vertigo umum dialami oleh individu berusia 18 hingga 79 tahun, dengan prevalensi global sebesar 7,4% dan angka kejadian tahunan mencapai 1,4%. Tujuan: Melaksanakan pelayanan kedokteran keluarga secara menyeluruh dan terpadu melalui proses identifikasi faktor risiko, permasalahan klinis, serta penatalaksanaan pasien yang didasarkan pada prinsip Evidence-Based Medicine (EBM), dengan pendekatan yang berfokus pada pasien (patient-centered care) serta melibatkan keterlibatan aktif keluarga (family approach). Metode: Studi ini disusun dalam bentuk laporan kasus. Data primer dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta kunjungan rumah. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien. Penilaian dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan diagnosis holistik yang mencakup tahapan awal, proses, hingga akhir dari pelaksanaan studi. Hasil: Pasien Ny. J, usia 56 tahun, memiliki aspek risiko internal berupa keterbatasan pengetahuan mengenai penyakit vertigo dan dispepsia, pola makan serta pola tidur yang tidak teratur, pendekatan pengobatan yang bersifat kuratif, serta paparan terhadap beban kerja dan stres. Aspek risiko eksternal mencakup rendahnya tingkat pemahaman keluarga terhadap kondisi vertigo dan dispepsia, kecenderungan keluarga dalam menerapkan pola pengobatan kuratif, serta adanya persepsi yang keliru terkait kedua penyakit tersebut. Kesimpulan: Setelah dilakukan intervensi, terdapat perbaikan gejala klinis vertigo dan dispepsia pada pasien, disertai dengan peningkatan pengetahuan pasien terkait kedua kondisi tersebut, serta adanya perubahan pola pengobatan dari yang semula bersifat kuratif menjadi lebih preventif dan edukatif. Kata Kunci: Pelayanan Dokter Keluarga, Penatalaksanaan Holistik, Vertigo
Peran Edukasi Kesehatan dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular di Masyarakat: Sebuah Tinjauan Pustaka Sekar Feni Widiyastuti; Azelia Nusadewiarti
Medula Vol 16 No 3 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i3.1911

Abstract

A Non-communicable diseases (NCDs) are the leading cause of global morbidity and mortality, accounting for approximately 71% of all deaths annually, including among the productive-age population. In Indonesia, the prevalence of NCDs such as hypertension, diabetes mellitus, and cardiovascular diseases continues to show a significant upward trend. The main risk factors for NCDs include unhealthy behaviors such as smoking, unhealthy dietary patterns, physical inactivity, and alcohol consumption. From a clinical perspective, controlling these risk factors through behavioral modification is a key strategy to reduce the incidence, progression, and complications of NCDs. Health education plays a crucial role in improving health literacy, including an individual’s ability to understand medical and numerical information related to their health condition. Improved health literacy is associated with better treatment adherence, improved control of clinical parameters such as blood pressure and blood glucose levels, and a reduced risk of long-term complications. Various forms of educational interventions, including healthcare-based services, community-based programs, and digital health technologies, have been proven effective in promoting healthy lifestyle behaviors. However, their implementation still faces several challenges, including low levels of health literacy, sociocultural influences, limited access to information, and suboptimal health system support. Therefore, comprehensive, sustainable, and context-based educational strategies are needed to enhance the effectiveness of both prevention and clinical management of NCDs.