Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Satire dan Sarkasme dalam Video Dewan Perwakilan Omel-omel (DPO) pada Akun Instagram Bintang Emon Irma Nur Ramandhani; Ifah Hanifah; Arip Hidayat
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i2.10

Abstract

ABSTRAK : Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keadaan sosial saat ini. Penulis ingin penyimak video dapat memahami maksud/makna dari kritikan yang mengandung gaya bahasa satire dan sarkasme dalam video DPO yang diunggah oleh Bintang Emon sehingga dapat memperbaiki kesalahan dari sesuatu yang terjadi di masyarakat. Dewan Perwakilan Omel-omel (DPO) adalah sebuah video yang dibuat oleh pelawak bernama Bintang Emon untuk mengekspresikan keresahan-keresahannya. Sindiran dan kritikan dalam video tersebut dikemas dengan pembawaan yang dapat menghibur pendengar/penontonnya. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu, bagaimana satire dan sarkasme dalam video DPO pada akun Instagram Bintang Emon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk satire dan sarkasme dalam video DPO tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis konten dengan teknik pemerolehan data berupa dokumentasi dengan cara mengunduh video DPO dari akun Instagram Bintang Emon. Dari keseluruhan video DPO yang diunggah dalam Instagram Bintang Emon, penulis hanya memilih video pada periode Februari – April 2020. Dari data tersebut, penulis menemukan data yang termasuk ke dalam jenis satire horation, satire juvenalian, dan sarkasme kasar (dirty sacasm). Berdasarkan hal tersebut, gaya bahasa yang paling dominan yaitu jenis satire juvenalian dan yang paling sedikit ditemukan yaitu satire horation.KATA KUNCI : satire, sarkasme, video DPO. ABSTRACT : This research is motivated by the current social situation. The author wants video listeners to understand the intent/meaning of the criticism that contains satire and sarcasm in the DPO video uploaded by Bintang Emon so that they can correct mistakes from something that happens in society. The Omel-omel Representatives Council (DPO) is a video made by comedian named Bintang Emon to express his worries. The satire and criticism in the video are packed with a disposition that can entertain the listeners/viewers. The problem formulation of this research is, how is satire and sarcasm in the DPO video on Bintang Emon's Instagram account. The purpose of this research was to determine the form of satire and sarcasm in the DPO video. The research method used in this study is the content analysis method with data acquisition techniques in the form of documentation by downloading DPO videos from Bintang Emon's Instagram account. Of all the DPO videos uploaded on Bintang Emon's Instagram, the author only chose videos in the February – April 2020 period. From these data, the writer finds data that fall into the types of satire horation, juvenalian satire, and dirty sacasm. Based on this, the most dominant language style is juvenile satire and the least found is satire horation.KEYWORDS : satire, sarcasm, DPO videos.
A Analisis Kesalahan Morfologi Pada Karangan Eksposisi Siswa Kelas X DI SMAN 1 Ciawigebang Nadia Rahmatunnisa; Ifah Hanifah; Ida Hamidah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i1.21

Abstract

ABSTRAK : Permasalahan dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan bahasa pada anak yang masih berusia 2-3 tahun; kajian fonologi. Penelitian ini adalah penelitian studi kasus yang menghasilkan data deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata yang diucapkan oleh anak usia 2-3 tahun dalam berkomunikasi. Data diperoleh melalui wawancara, simak, rekam, dan catat. Analisis dilakukan selama pengumpulan data dan sesudah data terkumpul, menggunakan analisis deskriptif. Peneliti mengkaji hasil rekaman dengan seksama dengan langkah memutar hasil rekaman secara berulang-ulang sebelum menentukan bunyi apa saja yang dihasilkan oleh anak. Biasanya setelah anak usia 2-3 tahun, umumnya anak sudah menguasai semua jenis fonem vokal. Kaidah urutan pemerolehan bunyi bahasa pada anak yaitu dari bunyi yang mudah ke bunyi yang sukar. Sedangkan pada fonem konsonan terjadi kesulitan dalam melafalkannya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa fonem konsonan yang masih sulit diucapkan oleh anak-anak yakni belum mampu mengucapkan fonem apikoalveolar (r). Dalam penelitian ini ditemukan adanya penggantian bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Penguasaan bahasa tidak hanya terikat pada kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan anak untuk mengaitkan jenis dan makna kata tersebut. Kriteria yang dipertimbangkan adalah anak telah dapat memproduksi bentuk yang dekat bunyinya dengan bentuk orang dewasa dan dapat mengaitkan bentuk dengan makna secara konsisten. KATA KUNCI : Kemampuan Pelafalan Konsonan, Fonologi. Analysis Of Consonant Pronunciation Ability in Children Ages 2-3 Years in Bandorasa Wetan Village Cilimus District Kunningan ABSTRACT : The problem in this study aims to describe the mastery of language in children aged 2-3 yers; phonological studies. This research is a case study research that produces descriptive data. The data of this research is in the from of words spoken by children aged 2-3 years in communicating. Data were obtained througt interviews, listening, recording, and taking notes. The analysis was carried out during data collection and after the data was collected, using descriptive analysis. Researchers examined the recordings carefully by playing the recordings repeatedly before determining what sounds were produced by the child. Usually after children aged 2-3 years, generally children have mastered all types of vowel phonemes. The rules four acquiring language sound in children are from easy sounds to difficult sounds. Meanwhile, consonant phonemes have difficulty in pronouncing them. Based on the results of the study, it was found that some consonant                        phonemes are still difficult to pronounce by children, namely they have not been able to pronounce apicoalveolar (r) phonemes. Language mastery is not only tied to the ability to pronounce or recite a word but the child’s ability to relate the type and meaning of the word. The criteria considered are that the chiold has been able to produce a from that is close in sound to the form of an adult and can associate form with meaning consistently. KEYWORD : Consonant, Pronunciation, Phonology.
ANALISIS MAKNA KIAS DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS Riki Indra; Ifah Hanifah; IDA HAMIDAH
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i1.26

Abstract

ABSTRAK: emantik dipakai sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang di tandainya. Dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Makna kias tidak menggunakan bahasa pada umumnya atau merupakan cara lain untuk mengatakan suatu yang lain dari cara yang biasanya atau dalam hal ini bahasa yang digunakan. Dengan kata lain, bahasa kiasan merupakan bahasa yang mengekspresi sebuah makna secara tidak langsung. Lirik lagu Iwan Fals sebagai objek penelitian, dengan tujuan untuk mendeskripsikan makna kias alegori, metafora, perbandingan dan personifikasi yang terkandung dalam lirik lagu Iwan Fals tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pemerolehan data berupa dokumentasi, yaitu lirik lagu Iwan Fals. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu membaca lirik lagu dengan teliti, menandai dan mencatat kata yang mengandung makna kias, kemudian menyimpulkan hasil analisis tersebut. Analisis yang dilakukan, dapat dipahami simpulan bahwa makna kias dalam lirik lagu Iwan Fals, dapat diketahui bahwa terdapat makna kias alegori atau majas yang menyatakan dengan ungkapan kiasan atau penggambaran, makna perbandingan atau majas yang membandingkan atau menyandingkan antara satu objek dengan objek lainnya, makna metafora atau majas yang memakai analogi atau perumpamaan terhadap dua hal yang berbeda,dan makna personifikasi atau majas yang membandingkan antara manusia dengan benda mati seolah-olah benda tersebut memiliki sifat layaknya manusia. KATA KUNCI: semantik, makna kias, sastra, lirik lagu Iwan Fals   FIGURATIVE MEANING ANALYSIS IN THE LYRICK AGAIN IWAN FALS   ABSTRACT: Semantics is used as a term used for the field of linguistics which studies the relationship between linguistic signs and the things they signify. In other words, the field of study in linguistics that studies meaning or meaning in language. The figurative meaning does not use language in general or is another way of saying something different from the usual way or in this case the language used. In other words, figurative language is a language that expresses a meaning indirectly. Iwan Fals song lyrics as the object of research, with the aim of describing the figurative meaning of allegory, metaphor, comparison and personification contained in the lyrics of the Iwan Fals song. The method used in this research is descriptive qualitative, with data acquisition techniques in the form of documentation, namely the lyrics of the song Iwan Fals. The steps taken in this study, namely reading the lyrics carefully, and noting words that contain meaning, then conclude the results of the analysis. The analysis carried out, it can be found that the figurative meaning in the lyrics of Iwan Fals' song, it can be seen that there is a figurative meaning of allegory or figure of speech which states a figurative expression or figure of speech, the meaning of comparison or figure of speech that compares or juxtaposes one object with another object, the meaning of metaphor or figure of speech. which uses an analogy or parable of two different things, and the meaning of personification or figure of speech that compares humans with inanimate objects as if these objects have human-like characteristics. KEYWORDS: semantics, figurative meaning, literature, Iwan Fals song lyrics
ANALISIS KEMAMPUAN PELAFALAN KONSONAN PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI DESA BANDORASA WETAN KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN Cindy Fitriantini; Sun Suntini; Ifah Hanifah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i1.31

Abstract

ABSTRAK : Permasalahan dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan bahasa pada anak yang masih berusia 2-3 tahun; kajian fonologi. Penelitian ini adalah penelitian studi kasus yang menghasilkan data deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata yang diucapkan oleh anak usia 2-3 tahun dalam berkomunikasi. Data diperoleh melalui wawancara, simak, rekam, dan catat. Analisis dilakukan selama pengumpulan data dan sesudah data terkumpul, menggunakan analisis deskriptif. Peneliti mengkaji hasil rekaman dengan seksama dengan langkah memutar hasil rekaman secara berulang-ulang sebelum menentukan bunyi apa saja yang dihasilkan oleh anak. Biasanya setelah anak usia 2-3 tahun, umumnya anak sudah menguasai semua jenis fonem vokal. Kaidah urutan pemerolehan bunyi bahasa pada anak yaitu dari bunyi yang mudah ke bunyi yang sukar. Sedangkan pada fonem konsonan terjadi kesulitan dalam melafalkannya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa fonem konsonan yang masih sulit diucapkan oleh anak-anak yakni belum mampu mengucapkan fonem apikoalveolar (r). Dalam penelitian ini ditemukan adanya penggantian bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Penguasaan bahasa tidak hanya terikat pada kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan anak untuk mengaitkan jenis dan makna kata tersebut. Kriteria yang dipertimbangkan adalah anak telah dapat memproduksi bentuk yang dekat bunyinya dengan bentuk orang dewasa dan dapat mengaitkan bentuk dengan makna secara konsisten. KATA KUNCI : Kemampuan Pelafalan Konsonan, Fonologi. Analysis Of Consonant Pronunciation Ability in Children Ages 2-3 Years in Bandorasa Wetan Village Cilimus District Kunningan ABSTRACT : The problem in this study aims to describe the mastery of language in children aged 2-3 yers; phonological studies. This research is a case study research that produces descriptive data. The data of this research is in the from of words spoken by children aged 2-3 years in communicating. Data were obtained througt interviews, listening, recording, and taking notes. The analysis was carried out during data collection and after the data was collected, using descriptive analysis. Researchers examined the recordings carefully by playing the recordings repeatedly before determining what sounds were produced by the child. Usually after children aged 2-3 years, generally children have mastered all types of vowel phonemes. The rules four acquiring language sound in children are from easy sounds to difficult sounds. Meanwhile, consonant phonemes have difficulty in pronouncing them. Based on the results of the study, it was found that some consonant                        phonemes are still difficult to pronounce by children, namely they have not been able to pronounce apicoalveolar (r) phonemes. Language mastery is not only tied to the ability to pronounce or recite a word but the child’s ability to relate the type and meaning of the word. The criteria considered are that the chiold has been able to produce a from that is close in sound to the form of an adult and can associate form with meaning consistently. KEYWORD : Consonant, Pronunciation, Phonology.
Perilaku Androgini Tokoh Utama Novel Koplak karya Oka Rusmini serta Implementasinya dalam Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Yasmin Adilah; Asep Jejen Jaelani; Ifah Hanifah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.42

Abstract

ABSTRAK: Analisis penelitian ini menggunakan teori pengukuran androgini psikologis yang dikemukakan oleh Sandra L.Bem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 20 sifat yang menunjukkan perilaku perempuan dan laki-laki, terdapat 10 sifat laki-laki dan 10 sifat perempuan yang di tunjukkan oleh karakter Koplak. Sebagai kepala desa, Koplak cenderung menunjukkan manifestasi perilaku laki-laki di depan umum, sedangkan manifestasi perilaku perempuan lebih terlihat saat Koplak bersama anaknya atau orang yang lebih muda darinya. Sandra L. Bem menyebutkan keseimbangan ini antara perilaku maskulin dan feminim a ndrogini. Perilaku androgini ini menjadikan Koplak sebagai pribadi yang fleksibel dan menunjukkan bahwa Koplak memiliki pandangan gender yang tidak konservatif. Analisis ini dapat di implementasikan ke dalam literature pendidikan dengan memahami unsur-unsur intrinsik novel dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pembelajaran ini, siswa dilatih untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, saling menghargai, dan memahami jati dirinya sebagai manusia. KATA KUNCI : Androgini, Feminim, Maskulin, Koplak, Oka Rusmini, Pembelajaran Sastra >  COMPARISON OF THE ABILITY TO LISTENING TO FAIRY TALES WITH HAND PUPPET MEDIA AND IMAGE MEDIA IN CHILDREN EARLY AGE   ABSTRACT: The analysis of this study uses the theory of  psychological androgyny measurement according to Sandra L. Bem. The results of this study indicate 20 characteristics that show the behavior of women and men, there are 10 male and 10 famele characterstics shown by the Koplak. As a village head, Koplak tends show manifestations of male behavior in public, whereas manifestation of female behavior is more visible when Koplak with their children ore someone younger than him. Sandra L. Bem mentions this balance between masculine and feminime and androgynous behavior makes Koplak a flexible person and show that Koplak has a non-conservative view of gender. This analysis can be implementated into educational literature by understanding the intrinsic elements of the novel and relating it to daily life. Through this learning, students are trained to improve their language skills, respect each other, and understand their identiry as human beings. KEYWORS : Androgyny, Feminim, Masculine, Koplak, Oka Rusmini, Literatur Learning
ANALISIS SEMIOTIKA PADACATATAN PELAKU PEMBUNUHAN BALITA DI SAWAH BESAR JAKARTA PUSAT (KAJIAN TEORI CHARLES SANDERS PIERCE) Alfyda Khafiana; Ifah Hanifah; Aan Anjasmara
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.45

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam Catatan Remaja Pelaku Pembunuhan Balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Semiotika dari Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif. Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pihak kedua yaitu artikel yang dipublikasikan oleh suara.com dan indozone pada tanggal 7 & 9 Maret 2020. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat makna eksplisit dan makna implisit pada catatan remaja pelaku pembunuhan balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Secara keseluruhan, remaja ini memiliki kebencian yang mendalam terhadap Ayahnya karena Ayahnya sering menyiksa dirinya baik secara fisik maupun verbal. Keadaan mental yang tidak stabil membuat dirinya sulit mengendalikan emosinya dan pada akhirnya ketika emosinya sudah tidak dapat dikendalikannya dia melakukan pembunuhan terhadap balita, perilakunya tersebut merupakan representasi atas bahasa yang dituangkan berdasarkan pikirannya melalui tulisan-tulisan yang dia buat. KATA KUNCI : Makna Semiotika, Catatan Remaja Pelaku Pembunuhan Balita di Sawah Besar Jakarta Pusat, Trikotimi Charles Sanders Pierce > Thesis Semiotic Analysis of the Records of Teenagers Who Killed Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta (the theoretical study of Charles Sanders Pierce). ABSTRACT: This study aims to find out the meaning contained in the Records of Teenagers who Killed Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta. The theory used in this study is the Semiotic Theory of Charles Sanders Pierce. The method used in this study is a qualitative method. The data in this study used secondary data obtained from a second party, namely articles published by suara.com and indozone on March 7 & 9 2020. The data collection technique in this study used a documentation technique. The results of this study indicate that there is an explicit meaning and an implicit meaning in the records of the juvenile perpetrators of the murder of a toddler in Sawah Besar, Central Jakarta. Overall, this teenager has a deep hatred towards his father because his father often abused him both physically and verbally. An unstable mental state made it difficult for him to control his emotions and in the end when his emotions were out of control he committed murder of a toddler, his behavior was a representation of the language that was poured based on his thoughts through the writings he made. KEYWORS : The Meaning of Semiotics, Notes of Teenagers Killing Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta, Trikotimi Charles Sanders Pierce
Teknik Wacana Persuasif dan Gaya Bahasa pada Live Streaming Produk Kecantikan Skintific di Akun Tiktok @skintific_id Periode 2025 Apriliani, Astri; Ifah Hanifah; Dewi, figiati Indra
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v5i2.218

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penggunaan teknik persuasif dan gaya bahasa yang digunakan dalam wacana live streaming produk kecantikan Skintific sebagai salah satu cara dalam mempengaruhi dan menarik perhatian konsumen di akun TikTok @skintific_id periode 2025. Rumusan masalah 1) Bagaimana teknik persuasif yang digunakan dalam wacana live streaming produk kecantikan Skintific di akun TikTok @skintific_id periode 2025? 2) Bagaimana gaya bahasa yang digunakan dalam wacana live streaming produk kecantikan Skintific di akun TikTok @skintific_id periode 2025? 3) Bagaimana kaitan antara teknik persuasif dan gaya bahasa yang digunakan dalam wacana live streaming produk kecantikan Skintific di akun TikTok @skintific_id periode 2025? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan teknik persuasif dan gaya bahasa serta untuk mendeksrikpsikan kaitan antara teknik persuasif dan gaya bahasa yang digunakan dalam wacana live streaming produk kecantikan Skintific di akun TikTok @skintific_id periode 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan jika Skintific lebih cenderung menggunakan teknik rasionalisasi dan teknik sugesti. Sementara itu, ditemukan pula gaya bahasa yang paling dominan seperti gaya bahasa paralelisme, hiperbola, tautotes dan epizeukis. Adanya keterkaitan erat antara teknik persuasif yang didukung gaya bahasa ini menunjukkan jika keduanya memiliki peran yang penting untuk menciptakan efek retorika yang kuat dalam menarik perhatian konsumen. KATA KUNCI: Gaya bahasa; live streaming; Skintific; teknik persuasif; TikTok; wacana persuasif.     PERSUASIVE DISCOURSE TECHNIQUES AND LANGUAGE STYLES ON LIVE STREAMING OF SKINTIFIC BEAUTY PRODUCTS ON TikTok ACCOUNT @SKINTIFIC_ID PERIOD 2025 ABSTRACT: This research is motivated by the use of persuasive techniques and language styles used in the discourse of live streaming of Skintific beauty products as one way to influence and attract consumer attention on the TikTok account @skintific_id for the 2025 period. Problem formulation 1) How are the persuasive techniques used in the discourse of live streaming of Skintific beauty products on the TikTok account @skintific_id for the 2025 period? 2) How is the language style used in the discourse of live streaming of Skintific beauty products on the TikTok account @skintific_id for the 2025 period? 3) What is the relationship between persuasive techniques and language styles used in the discourse of live streaming of Skintific beauty products on the TikTok account @skintific_id for the 2025 period? The purpose of this study is to describe persuasive techniques and language styles and to describe the relationship between persuasive techniques and language styles used in the discourse of live streaming of Skintific beauty products on the TikTok account @skintific_id for the period 2025. The research method used in this study is qualitative descriptive. The results of the study show that Skintific tends to use rationalization techniques and suggestion techniques. Meanwhile, the most dominant language styles were also found, such as parallelism, hyperbole, tautotes and epizeukis. The close relationship between persuasive techniques supported by this language style shows that both have an important role in creating a strong rhetorical effect in attracting consumer attention. KEYWORDS: Style of language; live streaming; Skintific; persuasive techniques; TikTok; persuasive discourse.