ABSTRACT Violence in courtship occupies second place in the realm of DKRT/RP with 2,227 cases in 2019 and has increased from 2019 with 2,073 cases. The types of violence that stood out were physical violence (41%), sexual violence (31%), psychological/mental violence (17%) and economic violence (11%). Women are individuals who are most prone to dating violence. Forms of physical violence are slapping, hitting, kicking, or making physical contact which causes pain to death to someone. Forms of sexual violence include forcing to touch sensitive areas, forcing sexual intercourse, rape or having intercourse without the consent of the partner. Mental violence, namely ridiculing, insulting, yelling, excessive suspicion so that the victim feels depressed and insecure. Economic violence, namely, asking to buy goods, borrowing money without being returned and often asking to be treated. In East Nusa Tenggara, in 2018 there were 677 cases of violence against women and decreased in 2019 by 57 cases, while there was no dating violence. This happened because the victim was afraid or ashamed of his parents, friends and the school environment and the community. The purpose of this study is to analyze forms of dating violence in young women in Manggarai Regency. Purpose to find out the forms of dating violence experienced by young women in Manggarai Regency. This type of research is descriptive quantitative. The sample technique used by researchers is nonprobability sampling with a purposive sampling model. Taking this sample is due to certain considerations. The sample of this study were young women in Manggarai Regency who had dated and had dated. The results showed that the majority of respondents (66.3%) started dating at the age of 16-18 years. The three most dominating forms of violence were hyperprotective behavior (20.6%), forced kissing (20.6%), and economic violence in the form of asking for money/goods (18.0%). Although physical violence was found to be lower, psychological and sexual violence patterns indicated a normalization of the perpetrator's control over the victim. Dating violence among young women in Manggarai Regency is rooted in hierarchical power relations and dependency. The culture of patriarchy exacerbates the vulnerability of young women, leading them to perceive partner dominance as normal. Education regarding healthy relationships is needed from mid-adolescence. Keywords: Dating Violence, Young Women, Power Relations, Patriarchy, Manggarai ABSTRAK Kekerasan dalam pacaran menduduki posisi kedua pada ranah DKRT/RP sebanyak 2.227 kasus pada tahun 2019 dan mengalami peningkatan dari tahun 2019 sebanyak 2.073 kasus. Jenis kekerasan yang menonjol adalah kekerasan fisik (41%), kekerasan seksual (31%), psikis / mental (17%) serta kekerasan ekonomi (11%). Perempuan merupakan individu yang paling rentang terjadi kekerasan dalam pacaran. Bentuk kekerasan secara fisik yaitu menampar, memukul, menendang, atau melakukan kontak secara fisik yang menyebabkan rasa sakit hingga kematian pada seseorang. Bentuk kekeran seksual yaitu memaksa menyentuh daerah sensitif, memaksa melakukan hubungan seksual, perkosaan atau melakukan hubungan tanpa persetujuan dari pasangan. Kekerasan secara mental yaitu mengejek, menghina, membentak, mencurigai berlebihan sehingga korban merasa tertekan dan tidak percaya diri. Kekerasan secara ekonomi yaitu, meminta dibelikan barang, meminjam uang tanpa dikembalikan dan sering meminta ditraktir. Di Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2018 terjadi sebesar 677 kasus kekerasan terhadap perempuan dan menurun pada tahun 2019 sebanyak 57 kasus, sedangkan untuk angka kekerasan dalam pacaran tidak ditemukan. Hal tersebut terjadi karena korban takut atau malu pada orangtua, teman dan lingkungan sekolah serta masyarakat. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran pada remaja putri di Kabupaten Manggarai. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan dalam pacarana yang dialami oleh remaja putri di Kabupaten Manggarai. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Tehnik sample yang digunakan oleh peneliti adalah nonprobability sampling dengan model purposive sampling. Penggambilan menggunakan sampel ini dikarenakan dengan pertimbangan tertentu. Sampel penelitian ini adalah remaja putri yang berada di Kabupaten manggarai yang berpacaran dan pernah pacaran. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden (66,3%) mulai berpacaran pada usia 16-18 tahun. Terdapat tiga bentuk kekerasan yang paling mendominasi yaitu perilaku hiperprotektif (20,6%), pemaksaan ciuman (20,6%), dan kekerasan ekonomi berupa permintaan uang/barang (18,0%). Meskipun kekerasan fisik ditemukan lebih rendah, pola kekerasan psikis dan seksual menunjukkan adanya normalisasi kontrol pelaku terhadap korban. Kekerasan dalam pacaran pada remaja putri di Kabupaten Manggarai berakar pada ketimpangan relasi kuasa yang bersifat hierarkis dan adanya ketergantungan. Budaya patriarki memperparah kerentanan remaja putri sehingga menganggap dominasi pasangan sebagai hal yang wajar. Diperlukan edukasi mengenai healthy relationship sejak usia remaja pertengahan. Kata Kunci: Kekerasan dalam pacaran, remaja putri, relasi kuasa, patriarki, Manggarai