Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Penerapan Metode Sabak, Sabki, Manzil Dalam Menghafal Al-Qur'an 30 Juz di Pesantren Nuur Ar Radhiyyah Sugianto, Sugianto; Ramayani, Nurmisda
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.2449

Abstract

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas keilmuan dan spiritual yang membutuhkan proses pembelajaran terstruktur, konsisten, serta didukung oleh metode yang tepat agar hafalan dapat diperoleh, dijaga, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan pesantren, keberhasilan program tahfidz sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diterapkan, termasuk pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik santri. Pesantren Nuur Ar Radhiyyah menerapkan metode Sabak, Sabki, dan Manzil sebagai pendekatan utama dalam membina kemampuan hafalan Al-Qur’an santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pimpinan pesantren, guru tahfidz, serta santri sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Sabak berfungsi sebagai tahapan awal dalam proses penambahan hafalan baru secara sistematis dan terarah, metode Sabki berperan dalam memperkuat hafalan yang telah diperoleh melalui pengulangan yang terencana dan berkesinambungan, sedangkan metode Manzil berfungsi menjaga stabilitas hafalan jangka panjang agar tetap terpelihara dengan baik. Penerapan ketiga metode tersebut didukung oleh pengelolaan waktu yang disiplin, pendampingan intensif oleh guru tahfidz, pembiasaan muroja’ah dalam aktivitas harian santri, serta evaluasi berkala terhadap capaian hafalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode Sabak, Sabki, dan Manzil tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hafalan Al-Qur’an dari segi kelancaran, ketepatan bacaan, dan konsistensi hafalan, tetapi juga membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, serta kemandirian santri dalam proses belajar. Dengan demikian, penerapan metode tersebut terbukti efektif dalam mendukung keberhasilan program tahfidz Al-Qur’an dan dapat dijadikan sebagai model pembelajaran tahfidz yang aplikatif dan berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Implementasi Ekstrakurikuler Kaligrafi Quran Dalam Mengembangkan Kemampuan Seni Menulis Indah Al-Qur’an di Pondok Pesantren Modern Taajussalaam Besilam Zakaria, M. Rizki; Ramayani, Nurmisda
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Vol. 5 No. 1 Januari - Juni 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrakurikuler kaligrafi Qur’an merupakan salah satu kegiatan pengembangan minat dan bakat santri yang memiliki nilai estetika dan spiritual dalam pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi Qur’an serta menganalisis kontribusinya dalam mengembangkan kemampuan seni menulis indah Al-Qur’an santri di Pondok Pesantren Modern Taajussalaam Besilam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler kaligrafi Qur’an dilaksanakan secara terencana melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan santri dalam menulis Al-Qur’an secara indah sesuai kaidah khat Arab serta menumbuhkan minat dan kecintaan santri terhadap Al-Qur’an. Faktor pendukung kegiatan meliputi dukungan pesantren, motivasi santri, dan ketersediaan sarana prasarana, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan pembimbing dan perbedaan kemampuan awal santri.