Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Diversifikasi Produk Lokal: Gantungan Kunci Kayu Karet untuk Daya Tarik Wisata Danau Bokuok Gussyafri, Haji; Audah, Safridatul; Fakhri; Ermiyati; Nurdin; Suprayogi, Imam; Morena, Yenita; Novan, Andre; Wibisono, Gunawan; Olivia, Monita; Djuniati, Sri
BATOBO: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1: BATOBO: Juni 2025
Publisher : Jurusan Teknik Elektro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/batobo.3.1.58-66

Abstract

Masyarakat Desa Aursati, Kecamatan Tambang, menghadapi keterbatasan dalam mengelola potensi sumber daya lokal yang melimpah, seperti kayu dan cangkang biji karet, sehingga belum mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi. Kurangnya keterampilan pengolahan bahan serta belum adanya produk khas daerah menjadi salah satu kendala dalam mendukung sektor pariwisata, khususnya di kawasan Danau Bokuok yang sedang dikembangkan sebagai destinasi wisata desa. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui diversifikasi produk lokal menjadi gantungan kunci kreatif berbahan dasar kayu karet, guna mendukung penguatan daya tarik wisata lokal. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan model Participatory Action Research (PAR), meliputi perencanaan, pelatihan, dan implementasi melalui observasi lapangan, sosialisasi, pengenalan bahan baku, pelatihan teknis pembuatan produk gantungan kunci, serta penggunaan alat bahan dan pendampingan. Hasil observasi menunjukkan ketersediaan bahan baku yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pelatihan, peserta yang terdiri dari kelompok ibu-ibu PKK berhasil meningkatkan keterampilan teknis, menghasilkan produk bernilai jual dan mengemasnya secara menarik. Tingginya antusiasme dan komitmen peserta untuk mengembangkan usaha ini menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkaya ragam produk cinderamata lokal. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan berbasis potensi lokal mendukung pengembangan wisata dan ekonomi kreatif desa.
Malacofauna from Cappa Lombo Site: Environmental Reconstruction and Subsistence Strategies of The Bontocani Highland Karst Region, South Sulawesi Sulistiyo, Restu Budi; Fakhri
KALPATARU Vol. 32 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/kpt.2023.1045

Abstract

The remains of mollusk shell fragments are ecofacts that can explain the environmental conditions occupied by humans, especially in the context of the Holocene period in Sulawesi. This research answers questions related to the types of mollusks found in the cultural layer and aims to identify malacofauna remains at the Cappa Lombo site, Bontocani, South Sulawesi. The data collection method was carried out through excavation, and the analytical method involved taxonomic identification, external morphological identification, taxonomic classification, and documentation. This study successfully identified 10 families consisting of 15 genera and species. Terrestrial gastropod mollusks consist of the families Alycaeidae, Cyclophoridae, Ariophantidae, Dyakiidae, Clausiliidae, Achatinidae, and Camaenidae. Freshwater gastropods consist of 2 families, namely Pachychilidae and Viviparidae, while the bivalve class is only represented by the Cyrenidae family, which inhabits estuaries. Based on this identification, this research shows that the reconstruction of the environmental conditions around this site indicates a wet rainforest environment, which tends to be covered with vegetation and primary tropical forest. Additionally, during the occupancy period, there was a change in land use around this site. Data on the presence of mollusks also indicate consumption. Although mollusks were not a primary dietary source, humans during the Holocene at this site were able to utilize the aquatic environmental resources around the site they inhabited.
PEMANFAATAN FAUNA VERTEBRATA DAN KONDISI LINGKUNGAN MASA OKUPASI 8.000 – 550 BP DI SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Budianto Hakim; Yulastri; Salmia; Suryatman
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area. Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut.
ARTEFAK BATU PRENEOLITIK SITUS LEANG JARIE: BUKTI TEKNOLOGI MAROS POINT TERTUA DI KAWASAN BUDAYA TOALEAN, SULAWESI SELATAN Suryatman; Hakim, Budianto; Mahmud, Muh. Irfan; Fakhri; Burhan, Basran; Oktaviana, Adhi Agus; Saiful, Andi Muh.; Syahdar, Fardi Ali
AMERTA Vol. 37 No. 1 (2019)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Preneolithic Stone Artefact of Leang Jarie Site: The Oldest Evidence of Maros Point Technology in the Toalean Culture Region, South Sulawesi. Maros Point is one type of flake tool that shows characteristics of the techno-complex Toalean from South Sulawesi. Early emergence of the Toalean Culture phase is still debated, but most experts agree that this tool only appeared no more than 4000 years ago and is positioned include with pottery or Neolithic period. The Maros Point is considered to be made by the early occupants of Sulawesi after the arrival and contact with Austronesian speakers migration in South Sulawesi. The problem is that the results of the latest research are contrary to previous opinions. This paper aims to show new evidence of excavation at the Leang Jarie Site, as the oldest Maros Point technology ca. 8,000 years ago in the Toalean Cultural Region. Maros Point is made simpler with the support flake without using reduction pattern of flake-blade technology. Flakes with an asymmetrical shape can also be utilized as long as it have a pointed and thin tip. The "backed" retouched technique is also used to maximize flakes with steep sharp edges. Thus, the phase of Toalean Culture compiled by previous studies needs to be reviewed and the presence of Maros Points can no longer be used as a marker of the youngest phase. Maros Point is produced from the early holocene or Preneolithic Period and has possibility its continuation until Neolithic period. Keywords: Oldest Maros Point, Toalean culture, technology, South Sulawesi Abstrak. Maros Point adalah salah satu tipe alat serpih yang menunjukkan karakteristik teknokompleks budaya Toalean dari Sulawesi Selatan. Awal munculnya masih diperdebatkan. Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa alat ini baru muncul tidak lebih dari 4.000 tahun yang lalu dan diposisikan sekonteks dengan tembikar atau masa neolitik. Maros Point dianggap dibuat oleh penghuni awal Sulawesi setelah kedatangan dan kontak dengan migrasi penutur Austronesia di Sulawesi Selatan. Permasalahannya adalah hasil penelitian terbaru justru bertentangan dengan pendapat sebelumnya. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bukti baru dari penggalian di situs Leang Jarie, sebagai teknologi Maros Point paling tua berumur ca. 8.000 tahun lalu di kawasan budaya Toalean. Maros Point dari masa preneolitik dibuat lebih sederhana dengan dukungan serpih tanpa harus menggunakan pola penyerpihan teknologi serpih bilah. Serpih dengan bentuk yang tidak simetris pun dapat dimanfaatkan selama memiliki ujung runcing dan tipis. Teknik peretusan “dipunggungkan” juga digunakan untuk memaksimal serpih dengan tepian tajaman yang terjal. Dengan demikian, fase budaya Toalean yang disusun oleh penelitian sebelumnya perlu ditinjau ulang dan kehadiran Maros Point tidak bisa lagi dijadikan sebagai penanda fase paling muda. Maros Point diproduksi dari awal holosen atau preneolitik dan mungkin terus berlanjut hingga masa neolitik. Kata kunci: Maros Point tertua, budaya Toalean, teknologi, Sulawesi Selatan
Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Daerah Dan Kompetensi SDM Terhadap Informasi Laporan Keuangan Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil  Kabupaten Tabalong Fakhri; Yellyta, Maria Ester
Accounting Studies and Tax Journal (COUNT) Vol. 1 No. 1 (2024): Accounting Studies and Tax Journal (COUNT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/erm3r756

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis  pengaruh  penerapan  sistem  akuntansi keuangan daerah dan kompetensi sumber daya manusia terhadap informasi laporan keuangan daerah pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong, dan untuk  mengetahui dan menganalisis pengaruh penerapan sistem akuntansi keuangan daerah dan kompetensi sumber daya manusia berpengaruh secara parsial terhadap informasi laporan keuangan daerah pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong, serta untuk mengetahui variabel dominan yang berpengaruh terhadap informasi laporan keuangan daerah pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong. Hasil penelitian menunjukkan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Berpengaruh Secara Simultan Terhadap Informasi Laporan Keuangan Daerah Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong. Sedangkan Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Tidak Berpengaruh Signifikan Secara Parsial  Terhadap Informasi Laporan Keuangan Daerah Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong. Kompetensi Sumber Daya Manusia Berpengaruh Secara Parsial dan Signifikan Terhadap Informasi Laporan Keuangan Daerah Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong. Kompetensi Sumber Daya Manusia Berpengaruh Secara Dominan Terhadap Informasi Laporan Keuangan Daerah Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tabalong.
PEGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PEMUSTAKA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Fakhri
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.198

Abstract

Kualitas pelayanan adalah suatu hal yang amat penting bagi kepuasan pemustaka sebab, tercapai atau tidaknya tujuan yang diinginkan tergantung pada kepuasan pemustaka. Hal ini dapat diukur dengan membandingkan persepsi para pemustaka atas pelayanan yang mereka terima. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi linear sederhana. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu : (1) Perolehan hasil analisis deskriptif dengan nilai rerata baik dari segi kualitas pelayanan maupun kepuasan pemustaka skala penilainnya berada pada angka 3,59 yang menunjukkan kualitas pelayanan dan kepuasan pemustaka sudah baik. (2) Hasil persamaan regresi Y = 1,643+0,962X+e menujukkan bahwa hasil persamaan regresi linear sederhana tersebut, nilai konstanta positif sebesar 1,643 menunjukkan pengaruh positif variabel independen (kualitas pelayanan). (3) Koefisien R Square menunjukkan besarnya pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 0,965, yang berarti pengaruhnya sebesar 96,5% (sangat kuat) dan sisanya sebesar 3,5% dipengaruhi oleh faktor lain. (4) Hasil Uji-t menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel dimana nilai thitung sebesar 52,028 sedangkan ttabel sebesar 1,984. Sehingga, menujukkan H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat pengaruh secara signifikan antara kualitas pelayanan terhadap kepuasan pemustaka. Saran peneliti untuk Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara agar terus meningkatkan kualitas pelayanan baik fisik maupun non fisik.
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN HARGA TRANSPORTASI OJEK ONLINE (GRAB) TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DI KOTA AMUNTAI TENGAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Fakhri; Gusti Muhammad Hidayatullah
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i1.412

Abstract

Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Harga Transportasi Online Grab Terhadap Kepuasan Pelanggan Di Kota Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Penelitian Ini Bertujuan Untuk Mengetahui Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Harga Transporrtsi Online Terhadap Kepuasan Di Kota Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jenis Penelitian Yang Digunakan Adalah Penelitian Deskriptif Kuantitatif. Pengumpulan Data Dilakukan Dengan Membagi Kuesioner Kepada 100 Responden Pengguna Grab Di Kota Amuntai Tengah. Penelitian Ini Menggunakan Metode Analisis Regresi Linear Berganda. Hasil Dari Peneitian Ini Menunjukkan Bahwa : (1) Kualitas Pelayanan Transportasi Online Grab Tidak Berpengaruh Signifikan Terhadap Kepuasan Pelanggan Di Kota Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara (2) Harga Transportasi Online Grab Berpengaruh Signifikan Terhadap Kepuasan Pelanggan Di Kota Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara.
DEVELOPMENT OF STONE FLAKE ARTIFACT TECHNOLOGY IN THE EARLY HALF OF HOLOCENE AT LEANG BATTI, SOUTH SULAWESI: PERKEMBANGAN TEKNOLOGI ARTEFAK SERPIH BATU PADA PARUH AWAL HOLOSEN DI LEANG BATTI, SULAWESI SELATAN Suryatman; Fakhri; Sardi, Ratno; Hakim, Budianto
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 2 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i2.585

Abstract

Abstract Intensive research in prehistoric caves in South Sulawesi has shown the cognitive capability of Sulawesi inhabitants that might not be possessed by other explorers in Wallacea. In the early half Holocene, the ability shown was to modify the shale tool known as the Toalean techno-complex. However, the view of the development of stone artifact technology in the period between before and early development of the Toalean techno-complex is rarely studied intensively. Leang Batti site is the occupation sites that can fill the information gap through the study of flakes artifact technology. 1376 artifacts were classified and analyzed for flakes by observing morphometric dynamics and tool type technology between the Early to Middle Holocene. The results that in the Early Holocene, the dominant technology was large flakes without modification. In the Middle Holocene, the size of the flakes began to change due to the influence of Toalean with the character of the modified flake technology began to enter in the basic concept of making tools, but not too strong. Abstrak Penelitian yang intensif di gua-gua prasejarah Sulawesi Selatan telah menunjukkan kemampuan kognitif penghuni Sulawesi yang mungkin jarang dimiliki populasi lain di Wallacea. Pada paruh awal Holosen kemampuan yang diperlihatkan adalah memodifikasi alat serpih yang dikenal dengan tekno-kompleks Toalean. Namun demikian, gambaran perkembangan teknologi artefak batu pada masa antara sebelum hingga awal perkembangan tekno-kompleks Toalean masih jarang diteliti secara intensif. Situs Leang Batti adalah situs hunian yang dapat mengisi kekosongan informasi melalui studi teknologi artefak serpih. Artefak berjumlah 1376 buah diklasifikasi dan dianalisis pada serpih dengan mengamati dinamika morfometrik dan teknologi tipe alat antara Holosen Awal hingga Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Holosen Awal, teknologi yang dominan adalah serpih yang digunakan sebagai alat secara langsung tanpa dimodifikasi. Pada fase Holosen Tengah, ukuran serpih mulai mengalami perubahan karena pengaruh Toalean dengan karakter teknologi serpih yang dimodifikasi mulai masuk dalam konsep dasar sipembuat alat, namun tidak terlalu kuat.
Workplace Learning sebagai Mediasi Dukungan Organisasional dan Iklim Kerja terhadap Motivasi Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Tapin Yudi Rahman; Fakhri; Wahyu Nugroho; Hardika Muhammad Fatih
EKOMA : Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi Vol. 5 No. 2: Januari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/ekoma.v5i2.12880

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan organisasional dan iklim kerja terhadap motivasi kerja pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Tapin, dengan workplace learning sebagai variabel mediasi. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode explanatory research. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada seluruh populasi sebanyak 98 pegawai (sampel jenuh), kemudian dianalisis menggunakan analisis jalur (path analysis) melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dukungan organisasional dan iklim kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap workplace learning; (2) dukungan organisasional, iklim kerja, dan workplace learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja pegawai. Workplace learning terbukti menjadi variabel mediasi yang memperkuat pengaruh dukungan organisasional dan iklim kerja terhadap motivasi kerja. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan dukungan organisasi, penciptaan iklim kerja yang kondusif, serta pengembangan pembelajaran di tempat kerja sebagai strategi untuk mendorong motivasi dan kinerja pegawai. Implikasi praktisnya, organisasi perlu lebih fokus pada aspek SDM melalui pelatihan, fasilitasi, dan pengelolaan lingkungan kerja yang efektif.
Diversifikasi Produk Mebel Lokal untuk Menguatkan Usaha Pariwisata Danau Bokuok di Desa Aursati Nurdin; 'Audah, Safridatul; Morena, Yenita; Ermiyati; Fauzi, Manyuk; Saily, Randhi; Rurianti, Dwi Visti; Fakhri; Suprayogi, Imam; Gussyafri, Haji; Novan, Andre; Wibisono , Gunawan; Olivia, Monita
Pelita Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Pelita Masyarakat Maret
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/pelitamasyarakat.v7i2.14806

Abstract

Aursati Village has considerable potential for the development of Danau Bokuok tourism, yet faces limitations in providing creative local products that reinforce the destination’s identity. The absence of facilities that showcase local characteristics has reduced the area’s attractiveness. This community service program aimed to strengthen tourism through the diversification of local furniture products utilizing wood waste and the natural forms of unproductive durian and rubber tree stumps. The program consisted of four stages: preparation through coordination and scheduling; program socialization and product education; technical training in crafting decorative furniture using local materials combined with resin; and the handover of products to the village for use as tourism support facilities. The results demonstrated improved knowledge, skills, and active participation of the community, particularly village youth, in creative production. The products developed not only offered aesthetic value but also reflected a strong local identity. This program is expected to stimulate sustainable village-based creative enterprises and foster a tourism-driven local economy. Moreover, the activity strengthened community awareness and a sense of ownership in tourism development, ensuring continued contributions and long-term impact.