Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Penerapan Teknologi Geolistrik untuk Mendukung Penanganan Krisis Air Bersih di Masyarakat Paradise, Mycelia; Pratama, Yudha Agung; Zamroni, Akhmad; Kurniawan, Riski
Abdimas Mandalika Vol 5, No 3 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v5i3.37967

Abstract

Abstrak : Krisis air bersih di Desa Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman, merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Secara kenampakan permukaan wilayah ini memiliki potensi air tanah yang cukup. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan keterbatasan ketersediaan air bersih. Pengabdian ini bertujuan untuk memahami kondisi bawah permukaan yang mempengaruhi keberadaan air tanah melalui kajian geofisika. Metode yang digunakan adalah geolistrik dengan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Hasil pengukuran menunjukkan nilai resistivitas berkisar antara 3,7 Ω·m hingga 387 Ω·m yang mengidikasikan potensi saturasi air tanah. Variasi distribusi nilai   resisitivitas secara lateral mencerminkan heterogenitas litologi bawah permukaan khususnya dibagian Banyurejo sisi selatan. Kondisi tersebut diduga membatasi kemenerusan akuifer dan meningkatkan kerentanan terhadap penurunan ketersediaan air tanah. Alternatif yang ditawarkan yaitu peningkatan sistem resapan dan pengaturan tata ruang.Abstract: The clean water crisis in Banyurejo Village, Tempel Subdistrict, Sleman, presents a significant case for investigation. Although the surface characteristics suggest adequate groundwater potential, field observations reveal restricted access to clean water. In light of these conflicting indicators, this study seeks to analyze subsurface conditions affecting groundwater availability using geophysical methods. Specifically, the geoelectrical method with the Wenner–Schlumberger configuration was employed. Measurement results showed resistivity values ranging from 3.7 Ω·m to 387 Ω·m, indicating potential groundwater saturation. Furthermore, variations in the lateral distribution of resistivity values reflect the heterogeneity of subsurface lithology, particularly in the southern part of Banyurejo. As a result, this condition is thought to limit the continuity of the aquifer and increase vulnerability to declining groundwater availability. To address these issues, alternatives offered include improving the infiltration system and spatial planning.
A Comparative Study on the Effectiveness of Iron (Fe) Adsorption from Acid Mine Drainage Using Single and Composite Adsorbents Mycelia Paradise; Yudha Agung Pratama; Faisol Mukarrom; Triyono Triyono; Akhmad Zamroni
Justek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 9, No 2 (2026): June
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/justek.v9i2.38233

Abstract

Acid mine drainage (AMD) is mining waste that has high acidity and dissolved metal content, especially iron (Fe), which has the potential to pollute the aquatic environment. This research aimed to evaluate the performance of coconut shell activated charcoal and local composite-based adsorbents (active charcoal–clay–zeolite) in reducing Fe concentrations in AMD. The research was conducted using two types of samples: real AMD collected from the mine site and synthetic AMD prepared in the laboratory using a FeSO₄·7H₂O solution. The composite adsorbent was tested using real AMD (baseline pH 2.6; Fe 42.75 ppm), while activated charcoal was tested on synthetic AMD (baseline pH 4.7; Fe 40.37 ppm). The main variables observed were dissolved Fe concentration and pH changes at various contact time variations. Analysis of Fe concentrations was carried out using AAS, while pH was measured directly with a pH meter. Adsorbent characterization was performed with BET to identify the specific surface area of the adsorbents. Results showed that activated charcoal was able to increase pH to 8.6 and decrease Fe to 0.04 ppm (99.9% efficiency). The primary mechanism of Fe reduction is dominated by Fe(OH)₃ precipitation, which occurs due to an increased pH. In contrast, the composite produced a final pH of 4.3 but still decreased Fe to 0.52 ppm (98.8% efficiency). BET analysis showed that although activated charcoal had a greater surface area, the composite maintained better pore stability after adsorption. The integration of the two has the potential to enhance the adsorption effectiveness and stability in the field for the remediation of acid mine drainage.
Analisis Kebutuhan Pompa Pada Sump Pit Main Rigde Pt. J Resources Bolaang Mongondow Site Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Salwa Assyfa Damopolii; .A. Inung Arie Adnyano; Mycelia Paradise
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): July : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i3.1259

Abstract

Kegiatan penambangan terbuka pada daerah dengan curah hujan tinggi, seperti di PT. J Resources Bolaang Mongondow, menghadapi permasalahan utama berupa masuknya air ke dalam pit yang dapat mengganggu operasional, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan risiko keselamatan. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan sistem penyaliran tambang yang efektif, khususnya melalui metode mine dewatering dengan penggunaan pompa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya volume air yang masuk ke Pit Main Ridge, menentukan spesifikasi pompa yang sesuai, serta menghitung kebutuhan dan waktu operasi pompa untuk mendukung kegiatan penambangan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pengolahan data curah hujan selama periode 2015–2025. Analisis dilakukan menggunakan distribusi Gumbel untuk menentukan curah hujan rencana, dilanjutkan dengan perhitungan intensitas hujan, debit limpasan, dan kebutuhan pompa berdasarkan kondisi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan rencana sebesar 168,72 mm/hari dengan intensitas 58,49 mm/jam. Volume air yang harus dikeluarkan bervariasi tiap kuartal, yaitu pada Q1 sebesar 8.139,88 m³/hari, Q2 sebesar 7.534,00 m³/hari, Q3 sebesar 8.856,40 m³/hari dan pada Q4, volume air yang harus dikeluarkan terdiri dari Sump 3 sebesar 1.697,52 m³/hari, Sump 4 sebesar 2.760,71 m³/hari, dan Sump 5 sebesar 4.768,02 m³/hari. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan pompa, digunakan pompa tipe KSB LCC M 100 400 dengan kapasitas debit sebesar 600 m³/jam. Waktu operasi pompa yang dibutuhkan pada Q1 adalah 13,39 jam, Q2 selama 12,40 jam, Q3 selama 14,57 jam, Q4 Sump 3 selama 4,54 jam, dan Q4 Sump 5 selama 7,84 jam. Dengan demikian, kebutuhan pompa pada setiap kuartal adalah satu unit pompa untuk mengeringkan sump pada area penambangan.