Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

REPRESENTASI KEBAPAKAN PADA TOKOH AYAH DIFABILITAS DALAM FILM MIRACLE IN CELL NO 7 VERSI REMAKE INDONESIA Eryko Andrianto; Syafrida Nurrachmi Febriyanti
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 6 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i6.2024.2220-2225

Abstract

Film Merupakan bagian dari komunikasi media massa yang memiliki sifat audio-visual serta memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan sosial atau moral tertentu kepada penontonnya. Karena pada dasarnya film selalu mengabadikan realitas yang tumbuh serta berkembang didalam suatu masyarakat sehingga film memproyeksikannya kedalam sebuah layar lebar. Dalam suatu film tentunya banyak sekali yang mengkonstruksikan realitas dalam kehidupan sosial masyarakat. salah satunya adalah film Miracle In Cell No 7 Versi Indonesia, film yang mengangkat tentang isu sosial pada masyarakat dengan terdapat unsur new maskulinitas atau bisa dikatakan sebagai fatherhood. Oleh karena itu film ini menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi kebapakan pada tokoh ayah difabilitas dalam film Miracle In Cell No 7 Versi Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika John Fiske dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Yang Dimana nantinya penelitian ini mengamati scene-scene dari tokoh ayah difabilitas yang menggambarkan sikap fatherhood. Hasil penelitian, secara umum film tersebut merepresentasikan sosok ayah yang ideal menurut teori fatherhood Nicholas towsend meskipun kondisi ayah dalam film tersebut digambarkan memiliki keterbatasan dalam hal mental. Berdasarkan hal tersebut peneliti juga menganalisis bahwa film ini secara tidak langsung menolak akan konstruksi budaya patriarki yang Dimana tugas pengasuhan anak hanya menjadi kewajiban Perempuan atau seorang ibu.
The Meaning of Millennial Generation Text: Reception Analysis of #KidsJamanNow Ririn Puspita Tutiasri; Syafrida Nurrachmi Febriyanti
Jurnal The Messenger Vol. 13 No. 2 (2021): May-August
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/themessenger.v13i2.1007

Abstract

The term Kids Jaman Now (Children Today) appears on various social media sites through content that represents the activities of young people in the current era. There are more than 1.6 million pieces of content on Instagram and more than 270 thousand pieces of content on YouTube which use the hashtag Kids Jaman Now . Through these contents, young people are perceived as a narcissistic, individualistic generation with a setback in moral values. This study uses reception analysis by conducting in depth interviews on a number of millennial generation informants who consume Kids Jaman Now contents to find out how they interpret the content. This study aims to show that young people who use social media are not consumers who receive messages passively; they have critical power towards the content they consume as digital natives who have better literacy than previous generations. The millennial generation has three different acceptances of this phenomenon. The first considers the content of Kids Jaman Now to represent a narcissistic, individualistic, and deteriorating moral values generation. The second considers Kids Jaman Now content as creativity for young people who entertain others and master digital communication technology.