Novikasari, Linawati
Dosen Keperawatan Universitas Malahayati

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

STATUS GIZI BESI ANAK SEKOLAH DASAR (9 - 12 Th) YANG DIBERI PERMEN SUSU FORTIFIKASI BESI Riska Wandini; Linawati Novikasari; Pambudi Setia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 11, No 4 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.025 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v11i4.169

Abstract

Pendahuluan: Salah satu masalah anak usia sekolah yang perlu diperhatikan adalah anemia. Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.World Health Organization (WHO) 2013 dalam WorldwidePrevalence of Anemia melaporkan bahwa total keseluruhanpenduduk dunia yang menderita anemia adalah1,62miliar orang dengan prevalensi pada anak sekolahdasar25,4% dan 305 juta anak sekolah di seluruh duniamenderitaanemia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan asupan zat besi dengan kejadian anemia pada anak di SDN 3 Asto Mulyo Kecamatan Punggur Lampung Tengah tahun 2017.Metode:Jenis penelitian kuantitatif desain penelitian analitik observasionalpendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswakelas 4-6 SDN 3 Asto Mulyo Kecamatan Punggur Lampung Tengah Tahun 2017, yaitusebanyak 72 siswa. Analisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Pada penelitian menunjukan asupan zat besi siswa lebih tinggi pada kategori asupan zat besi baik 51 (70,8%), asupan zat besi tidak baik 21 (29.2%). berdasarkan anemia siswa lebih tinggi pada kategori tidak anemia 52 (72,2%), anemia 20 (27,8%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 < 0.05 artinya ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara asupan zat besi dengan kejadian anemia pada anak di SDN 3 Astomulyo Kecamatan Punggur Lampung Tengah Tahun 2017, serta diperoleh nilai OR : 15.000. Disarankan kepada orang tua untuk memperhatikan asupan zat gizi dan meningkatkan variasi jenis makanannnya karena pada masa sekolah dasar termasuk masa pertumbuhan yang rentan mengalami masalah anemia , sehingga diperlukan asupan zat gizi yang adekuat untuk mencegahnya.
Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan Linawati Novikasari; Hardono Hardono; Heru Sapto Adi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.383 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1664

Abstract

Complementary foods on infant breast milk intake and nutrition status in infants 6 to 12 months oldBackground: Based on pre-survey data for January 2019 in the Karang City Health Center for 30 infants aged 6-12 months, 12 infants (40%) had normal nutritional status, and 18 infants (60%) with undernourished status, based on data from interviews with people parents who have children aged 6-12 months with poor nutritional status, 10 mothers (55.5%) said they did not know about the importance of giving MP-ASI such as the right time in giving MP-ASI, food menu for MP-ASI, and the portion MP-ASI for babies, and 8 mothers (44.5%) said they only gave formula milk as a substitute for breast milk.Purpose: Knowing to the relationship of complementary feeding (MP-ASI) with nutritional status in infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019.Method: Quantitative research type. Analytic survey research design with cross sectional design. The population of all mothers who have infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019 amounted to 86 respondents, a sample of 86 respondents. The sampling technique used is total sampling. Chi-square test data analysis.Results: Known in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019, there were 45 respondents given MP-ASI well, 27 respondents (60.0%) had good nutrition and 18 respondents (40.0%) had poor nutrition, while there were 41 respondents given MP-ASI are not good, 10 respondents (24.4%) have good nutrition and 31 respondents (75.6%) have poor nutrition. Statistical test results, obtained p-value 0.002 or p-value <0.05.Conclusion: There is a relationship between complementary feeding (MP-ASI) with nutritional status in infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019 with a p-value of 0.002. It is expected that the Puskesmas will be able to make a list of MP-ASI gift menus and provide infrastructure facilities on the MP-ASI menu according to the baby's needs.Keywords: Complementary foods; Breast milk; Nutritional status; Infants 6 to 12 months oldPendahuluan: Berdasarkan data prasurvey bulan Januari 2019 Di Puskesmas Kota Karang terhadap 30 bayi yang berusia 6-12 bulan, diketahui 12 bayi (40%) status gizi normal, dan 18 bayi (60%) dengan status gizi kurang, berdasarkan data wawancara terhadap orang tua yang mempunyai anak usia 6-12 bulan dengan status gizi kurang, 10 ibu (55,5%) mengatakan kurang mengetahui tentang pentingnya pemberian MP-ASI seperti waktu yang tepat dalam pemberian MP-ASI, menu makanan untuk MP-ASI, serta porsi MP-ASI untuk bayi, dan 8 ibu (44,5%) mengatakan hanya memberikan susu formula sebagai pengganti ASI.Tujuan: Diketahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi Pada Bayi usia 6-12 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019.Metode: Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian survey analitik dengan desain cross sectional. Populasi seluruh ibu yang mempunyai Bayi usia 6-12 bulan yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019 berjumlah 86 responden, Sampel 86 responden. Teknik sampling yang digunakan total sampling. Analisa data uji chi-square.Hasil: Diketahui bahwa di wilayah kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019, terdapat 45 responden yang diberikan MP-ASI dengan baik, 27 responden (60,0%) mengalami gizi baik dan 18 responden (40,0%) mengalami gizi kurang baik, sedangkan terdapat 41 responden yang diberikan MP-ASI kurang baik, 10 responden (24,4%) mengalami gizi baik dan 31 responden (75,6%) mengalami gizi kurang baik. Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,002 atau p-value < 0,05.Simpulan: Ada hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019 dengan p-value 0,002. Diharapkan kepada pihak Puskesmas agar dapat membuat daftar menu pemberian MP-ASI dan menyediakan fasilitas sarana prasarana tentang menu MP-ASI sesuai dengan kebutuhan bayi.
Program promosi kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dalam pencegahan stunting Ari Yunita; Umi Romayati Keswara; Linawati Novikasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.5019

Abstract

Background: Stunting is a nutritional status that occurs when a child has a height or length of <-20 standard deviation. Based on 2018 basic health research, 30.8% of children under five are stunted. The health profile of the Lampung Province service in 2018 27.28 children were stunted, stunting was caused by several factors, one of which was a lack of knowledge of mothers about health and nutrition so that mothers could not take a stand in preventing stunting.Purpose: To Knowing the effect of stunting prevention health education on knowledge and attitudes of the mothers Method: This type of quantitative research is pre-experimental one-group pre-post test. The population in this study were mothers who had babies aged 0-24 months with a total of 20 people. Data analysis used the Wilcoxon test. Results: statistical tests using the Wilcoxon test for maternal knowledge, obtained a p-value of 0,000 so that the p-value <α (0,000 <0.05) then H0 is rejected and the attitude statistics using Wilcoxon is obtained p-value 0,000 so that the p-value <α (0,000 <0 , 05) then H0 is rejected.Conclusion: There is an effect of stunting prevention health education on the knowledge and attitudes of mothersKeywords: Prevention; Stunting; Knowledge; AttitudePendahuluan: Stunting merupakan status gizi yang terjadi apabila seorang anak memiliki tinggi atau panjang badan ±20 standart deviasi. Berdasarkan riset kesehatan dasar 2018 30,8% balita mengalami stunting. Profil kesehatan dinas Provinsi Lampung Tahun 2018 27,28 anak mengalami stunting, stunting disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sehingga ibu tidak dapat mengambil sikap dalam mencegah terjadinya stunting.Tujuan: Diketahui pengaruh pendidikan kesehatan penceghan stuntiing terhadap pengetahuan dan sikap ibu Metode: Rancangan penelitian pre-experiment dengan pendekatan one-group pre-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan dengan jumlah sampel 20 partisipan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Didapatkan pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dengan p-value 0,000 <0,05 sedangkan terhadap  sikap didapat p-value 0,000 <0,05Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan pencegahan stunting terhadap pengetahuan dan sikap ibu
Aplikasi pemberian teknik distraksi terhadap skala nyeri anak selama prosedur medis Setiawati Setiawati; Linawati Novikasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i1.4392

Abstract

A comparison of distractors for  controlling pain and discomfort in young children during medical procedures Background: The problem that often occurs in the pediatric ward is when going to take medical procedures, there are several procedures that will cause a pain and discomfort in young children. During the performance, a nurse needs a full concentration and a calm environment. Meanwhile, a young children need a distraction for controlling pain and discomfort during medical procedures. Procedure need to apply to make easily and smoothly until end of the performance.Purpose:  A comparison of distractors for  controlling pain and discomfort in young children during medical proceduresMethod: A quantitative study and a purposive sampling experimental design (pre-test and post-test). The population and sample taken 60 participants by a purposive sampling divided into two groups intervention, 30 participants by video cartoons and 30 participants with storytelling. A medical procedure when taking a venous blood sample. The measuring instrument used the face, legs, activity, cry and consolability (FLACC) pain scale with the lowest score of 0 and the highest score of 10. Statistical test using the T test.Results: Finding that there was a significant effect on young children by distraction technique with cartoon video media and storytelling media when taking venous blood samples. Both groups obtained p-value 0.000, indicating that both distraction techniques are effective to use. While the difference in the mean value (pre test-post test) on video cartoon media is 0.97 and storytelling media with a mean value of 1.50. It means that storytelling media is more effective than video cartoon media.Conclusion: Both distraction techniques, such as videos, cartoon media and storytelling media, have a significant level of effectiveness and storytelling media is more effective than cartoon video media, that could as an alternative as a permanent procedure in the pediatric ward.Keywords: Distractors; Controlling pain; Discomfort; Young children; Medical proceduresPendahuluan:  Masalah yang sering terjadi diruang anak yaitu pada saat akan melakukan tindakan medis, dimana ada beberapa prosedur yang akan membuat rasa sakit dan ketidaknyamanan pada anak. Selama tindakan tersebut, seorang perawat akan mengerjakannya dengan penuh konsentrasi dan perlu ketenangan. Sedangkan pada anak tersebut dibutuhkan tindakan distraksi supaya tindakan medis dapat dilakukan dengan mudah dan lancar.Tujuan: Untuk melihat efektivitas pemberian teknik distraksi terhadap skala nyeri anak selama prosedur medis di rumah sakitMetode: Penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu (pre-test dan post-test) dan pemilihan sampelnya menggunakan purposive sampling. Populasi dan sampel sebanyak 60 partisipan yang dibagi dalam dua grop perlakuan yaitu 30 partisipan dengan media video cartoon dan 30 partisipan dengan media storytelling. Prosedur medis yang dilakukan pada saat pengambilan sampel darah vena. Alat ukur yang dipakai untuk mengujkur skala nyeri menggunakan skala nyeri face, legs, activity, cry and consolability (FLACC) dengan skor terendah 0 dan tertinggi skor 10. Uji statistik menggunakan uji T.Hasil: Didapatkan adanya pengaruh yang signifikan pada anak jika dilakukan perlakukan distraksi dengan media video kartun dan media storytelling saat pengambilan sampel darah vena. Kedua kelompok didapatkan p-value 0.000 menunjukkan bahwa kedua intervensi efektif untuk digunakan. Sedangkan perbedaan nilai mean (pre test-post test) pada media video cartoon 0.97 dan media storytelling dengan nilai mean 1.50. artinya media storytelling lebih efektif dibandingkan media video cartoon.Simpulan: Intervensi menonton video kartun dan storytelling mempunyai tingkat efektivitas yang sukup signifikan dan media storytelling lebih efektif dibandingkan media video cartoon, sehingga dapat jadikan alternatif sebagai prosedur tetap diruangan anak.
HUBUNGAN FAKTOR PENGETAHUAN, PELATIHAN DAN KETERSEDIAAN FASILITAS ALAT PELINDUNG DIRI DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 Sugiyatno Sugiyatno; Eka Trismiana; Linawati Novikasari; Usastiawaty Cik Ayu Saadiyah Isnaini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.731 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v8i2.206

Abstract

Tenaga perawat merupakan tenaga kesehatan secara langsung berhadapan dengan pasien dalam melakukan tindakan invasif dengan resiko terkena darah dan cairan tubuh lainnya dari pasien. Penerapan Kewaspadaan Standar oleh petugas kesehatan khususnya perawat masih belum optimal. Hal ini didasarkan masih ditemukannya laporan kejadian 3 perawat  yang mengalami perlukaan akibat tertusuk jarum suntik selama tahun 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahui hubungan pengetahuan, pelatihan dan ketersediaan fasilitas dengan  kepatuhan perawat dalam penerapan Kewaspadaan Universal di Rumah Sakit Bhayangkara Bandar Lampung tahun 2014.Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat fungsional yang berdinas di Rumah Sakit Bhayangkara Bandar Lampung yaitu sebanyak 33 (tiga puluh tiga) orang perawat, sampel adalah total populasi. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi. Analisa data yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan Kewaspadaan Universal/ Kewaspadaan Standar (p value 0,697). Ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dan ketersediaan fasilitas dengan kepatuhan perawat dalam penerapan Kewaspadaan Universal/ Kewaspadaan Standar (p value 0,003 OR 13,75). Saran pada petugas kesehatan hendaknya selalu menerapkan Kewaspadaan Universal/ Kewaspadaan Standar sebagai upaya pencegahan infeksi nosokomial baik pada diri sendiri atau pada orang orang lain.
PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI TK SATU ATAP SD N MARGAKAYA KECAMATAN JATI AGUNG KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2017 Dessy Hermawan; Linawati Novikasari; Yustinus Windartono
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 1 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v1i1.18

Abstract

ABSTRACT One od preventive way to prevent dental growth disorders in children is going to dentist every 6 months. Giving dental health education to  parents who have children aged 5-9 years is very important because in this is a critical period, period of growth and development, especially the period of permanent dentition, this is done so that dental caries in children does not occur. Objectives of this activities are increasing knowledge of parents in Trans Tanjungan village about Dental and Oral health. The activities are education using leaflets and demonstrations.  Education can increase parents knowledge about caring dental and oral health.
Pemberian Pijat Refleksi Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Dengan Masalah Keperawatan Ketidak Stabilan Kadar Gula Darah Di Tiyuh Dayaasri Tumijajar Tulang Bawang Barat Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Widia Afira; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya; Eka Yudha Crisanto; Linawati Novikasari; Triyoso Triyoso
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 1 Februari 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i1.2793

Abstract

ABSTRAK Menurut International Diabetes Federation (IDF) (2015), saat ini Indonesia merupakan negara dengan urutan ke-7 jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia yaitu sebanyak 10,0 juta jiwa, dan pada tahun 2020 diperkirakan penderita diabetes di Indonesia akan naik ke nomor enam terbanyak di dunia dengan jumlah penderita 16,2 juta jiwa, dan dilaporkan bahwa kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, sudah hampir 10 % penduduknya menderita diabetes. Diabetes merupakan penyakit kronis yang serius dan terjadi baik saat pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur glukosa darah) maupun jika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif. pengobatan bisa dilakukan secara non farmakologi, diantaranya dengan menggunakan terapi pijat refleksi. Tujuan setelah penyuluhan dan demonstrasi, diharapkan pemberian pijat refleksi dapat untuk menurunkan glukosa darah. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan menggunakan leaflet dan demonstrasi terapi pijat refleksi. Terdapat penurunan gula darah pada klien diabetes melitus setelah pemberian terapi pijat refleksi selama 3 hari di Tiyuh Dayaasri Tumijajar Tulang bawang barat. Dari evaluasi hari terakhir pemeriksaan kadar glukosa darah terjadi penurunan yaitu antara sebelum diberikan terapi dan sesudah diberikan terapi, diperoleh data pada nilai glukosa darah sebelum diberikan asuhan keperawatan yaitu hari pertama GDS: 215 mg/dl, setelah diberikan intervensi pijat refleksi selama kurun waktu 3 hari dan di beri waktu istirahat selama 4 hari tetapi tetap dalam pengontrolan pola makan, untuk memberikan efek rileks kemudian di cek gula darah kembali di hari ke 7 (tujuh),  dari hasil pemeriksaan didapatkan yaitu GDS: 189 mg/dl. Saran agar dapat menerapkan terapi pijat refleksi kepada penderita diabetes melitus dan sebagai pengobatan alternatif untuk menjaga kestabilan glukosa darah, untuk mengurangi efek samping penggunaan obat jangka panjang. Dengan demikian, pemberian pijat refleksi pada klien diabetes melitus sangat efektif dalam menurunkan gula darah.Kata kunci : Diabetes Melitus, Gula Darah, Terapi Pijat Refleksi   ABSTRACT According to the International Diabetes Federation (IDF) (2015), Indonesia is currently the 7th largest number of diabetics in the world with 10.0 million people, and 2020 estimated that diabetics at Indonesia will rise to number 6th in the world with 16.2 million sufferers, and it is reported that big cities like Jakarta, Surabaya, already almost 10% the population suffer of diabetes. Diabetes is a serious chronic disease and occurs both when the pancreas does not produce enough insulin (a hormone that regulates blood glucose) or if the body cannot use insulin produced effectively. treatment can be non-pharmacologically, including by reflexology therapy. The purpose after counseling and demonstration, is expected to provide reflexology to reduce blood glucose. The activities carried out in the form of counseling used leaflets and demonstration of reflexology therapy. There is a decrease in blood sugar in diabetes mellitus clients after giving reflexology therapy for 3 days at Tiyuh Dayaasri Tumijajar West Tulang Bawang. From evaluation of the last day,examination of blood glucose levels there was a decrease between before being given therapy and after being given therapy, obtained data on blood glucose values before being given nursing care that is the first day of GDS: 215 mg / dl, after being given a reflexology intervention for a period of 3 days and given a rest period of 4 days but still in control of eating patterns, to provide a relaxing effect then checked for blood sugar again on day 7 (seven), from the examination results obtained namely GDS: 189 mg / dl. Suggestions for adjust reflexology therapy to people with diabetes mellitus and alternative treatment to maintain blood glucose stability, to reduce the side effects of long-term drug use. Thus, giving reflexology to diabetes mellitus's client is very effective of lowering blood sugar. Keywords: Diabetes Mellitus, Blood Sugar, Reflexology Therapy
PENYULUHAN CARA MENGGOSOK GIGI DENGAN BAIK DAN BENAR DI PANTI BUSAINA BANDAR LAMPUNG Linawati Novikasari; Rilyani Rilyani; Rahma Ellya
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v1i2.33

Abstract

ABSTRAKKesehatan gigi dan mulut adalah salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan yang berkesinambungan karena memiliki dampak yang sangat luas, sehingga perlu penanganan  khusus sebelum terlambat. Anak usia sekolah merupakan usia dimana mereka lebih cenderung untuk memilih makanan yang manis seperti cokelat dan permen. Hal ini menjadi faktor utama meningkatnya anak usia sekolah dengan masalah kerusakan gigi.  Tujuannya dengan memberikan penyuluhan tentang menggosok gigi yang baik dan benar diharapkan kerusakan gigi pada anak dapat di kurangi dengan menggosok gigi secara teratur yakni sesudah makan pada pagi hari dan sebelum tidur pada malam hari. Metode penyuluhan menggunakan leaflet lembar balik dan mendemostrasikan cara menggosok gigi . Setelah dilakukan penyuluhan maka terdapat peningkatan pengetahuan anak-anak di panti asuhan Busaina Bandar Lampung tentang cara menggosok gigi dengan baik dan benarKata Kunci : Sikat Gigi, Kesehatan, Penyuluhan ABSTRACT Oral and dental health is one of the health problems that require continuous treatment because it has a very wide impact, so special treatment is needed before it's too late. School-age children are ages where they are more likely to choose foods that are sweet like chocolate and candy. This is a major factor in increasing school-age children with tooth decay problems. The goal is to provide good education about brushing your teeth properly and hope that tooth decay in children can be reduced by brushing your teeth regularly after eating in the morning and before going to bed at night. The extension method uses flipchart leaflets and demonstrates how to brush your teeth. After counseling, there was an increase in the knowledge of children in the Busaina Bandar Lampung orphanage about how to brush teeth properlyKeywords : Tooth Brush, Health, Counseling
PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT TENTANG CUCI TANGAN DI POSYANDU KELAPA TIGA PERMAI GEDONG AIR, BANDAR LAMPUNG M. Arifki Zainaro; Riska Wandini; Linawati Novikasari
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 2 Nomor 1 April 2019
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v2i1.1203

Abstract

ABSTRAK Cuci tangan sering dianggap sebagai hal yang biasa di masyarakat, padahal cuci tangan bisa memberi kontribusi pada peningkatan status kesehatan masyarakat.   Khususnya masyarakata di gedong air mempunyai kebiasaan kurang memperhatikan perlunya cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika hendak melakukan aktivitas  (makan dan minum) . Perilaku tersebut berpengaruh dan dapat memberikan kontribusi dalam terjadinya penyakit Diare dan ISPA. Cuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan penularan infeksi. Subyek penelitian masyarakat di gedong air dengan teknik penkes serta mendemonstrasikan 7 langkah cuci tangan yaitu sebanyak 14 responden. Hasil pendidikan kesehatan perilaku cuci tangan pada masyarakat gedong air cukup baik dan masyarakat mampu meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan melakukan 7 langkah cuci tangan. Kata kunci: Cuci Tangan, Perilaku, Masyarakat  ABSTRACT Hand washing is often seen as trivial in society,even though hand washing can contribute to  improving public health stastus .in particular,people in Gedong Air have a habit of not paying attention to the need to wash their hands in their daily lives, especially when they want to eat and drink. This influences and can contribute to the occurrence of Diarrheal and ISPA diseases. Hand washing is the most important basic technique in preventing  and controlling infection transmission. Community research subjects in Gedong Air with education techniques as well as demonstrating  7 steps  of hand washing namely as many as 14 respondent . the results of health education  on hand washing behavior in the Gedong Air community are quite good and the community is able to improve clean and healthy behavior by doing 7 steps of hand washing. Keywords: Hand Washing, Behavior, Society
Pengabdian Kepada Masyarakat Penangganan Tersedak Pada Orang Dewasa Tomi Saputra; Erna Yulianti; Umi Romayati Keswara; Djunizar Djamaludin; Setiawati Setiawati; Linawati Novikasari; Lidya Ariyanti
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i2.3338

Abstract

Data menyebutkan penyebab tersedak yaitu sebesar (59,5%) berhubungan dengan makanan, (31,4%) tersedak karena benda asing, dan sebesar 9,1% penyebab tidak diketahui (Committee onin jury, 2010). Penanganan  yang  dilakukan  secara tepat akan memberikan hasil yang baik dan menghasilkan   tingkat  kelangsungan   hidup dapat mencapai 95%.Penanganan dengan keterampilan dan pengetahuan yang penuh merupakan hal yang paling penting. Penanganan  berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dapat juga menyelamatkan nyawa seseorang dengan masalah-masalah medis akut. Tujuan setelah dilakukan penelitian dan pendidikan kesehatan diharapkan Masyarakat Desa Margorejo Dusun 6 dapat mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pertolongan pertama saat tersedak dirumah  maupun ditempat sekitar. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan. hasil yang didapatkan menunjukan sebagian besar masyarakat (80%) belum memahami dan mengerti tentang penanganan Tersedak Pada Orang Dewasa dan sebagian kecil masyarakat sudah memahami tentang Penanganan Tersedak Pada Dewasa namun masih belum sempurna cara mengatasinya. Kata Kunci : tersedak, dewasa, makanan  ABSTRACT The data stated that the causes of choking were (59.5%) related to food, (31.4%) choking due to foreign objects, and 9.1% of the causes were unknown (Committee onin jury, 2010). Handling that is done appropriately will give good results and produce a survival rate of up to 95%. Handling with full skill and knowledge is the most important thing. Knowledge based treatment can also save the life of a person with acute medical problems. The goal after conducting research and health education is that the people of Margorejo Dusun 6 Village can find out things related to first aid when choking at home or in the vicinity. This activity is carried out by extension methods. The results obtained show that the majority of people (80%) do not understand and understand the treatment of choking in adults and a small proportion of people already understand the treatment of choking in adults, but how to deal with it is still not perfect. Keywords: choking, adult, food