Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Grit dan Motivasi Belajar Pada Siswa SMK Tahun Akhir Bisinglasi, Gery Esteban; Damayanti, Yeni; Takalapeta, Theodora
Arus Jurnal Pendidikan Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v5i3.1839

Abstract

Sekolah merupakan institusi yang bersifat kompleks dan memiliki keuinikannya sendiri. Dalam proses pembelajaran, motivasi mengarahkan perilaku siswwa dalam mencapai tujuan tertentu. Namun siswa mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan tersebut seperti kesulitan bahan ajar/praktikum, gaya mengajar guru yang membuat tidak nyaman dan fisilitas sekolah yang belum lengkap. Hal ini diduga dapat menimbulkan perilaku datang terlambat, absen tanpa alasan, kurangnya partisipasi aktif dikelas dan tidak mengerjakan tugas proyek tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk msemperoleh data hubungan grit dan motivasi belajar pada siswa kelas XII. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Hasil uji hipotesis menggunakan pendekatan Spearman’s rho dengan koefisien korelasi (r)= (0,399) dan nilai signifikansi (p)=(0,000), yang berarti adanya hubungan yang positif dan signifikan antara grit dan motivasi belajar pada siswa kelas XII. Dengan demikian grit yang tinggi dapat meningkatkan motivasi belajar yang baik, yang dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
STUDI INTERPRETATIF FENOMENOLOGI: PENERAPAN POLA ASUH ORANG TUA DI DAERAH RURAL PADA ERA DIGITAL Huttu, Lionesius Piter Tay; Takalapeta, Theodora; Wijaya, R. Pasifikus Ch.
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.7697

Abstract

The massive development of digital technology has disrupted parenting patterns in rural areas that traditionally uphold family values, triggering a gap in interactions between parents and children. This study aims to explore in-depth the phenomenological experiences of parents in Ndetundora I Village, Ende Regency, as they navigate the dynamics of parenting in the digital era. Adopting a qualitative method with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach, the study involved in-depth interviews with four parents of adolescent children to understand their subjective interpretations. The study findings revealed an ambivalent perception of devices; although recognized as vital instruments for distance education and communication, devices are also perceived as triggers for the degradation of family interactions and the weakening of parental authority due to children's broader access to information. Parents respond to these challenges through strategies that oscillate between firm discipline and persuasive approaches. It is concluded that rural parenting practices in the digital era are a complex manifestation of parental affection and protective expectations, demanding an adaptive balance between strict control and emotional support to safeguard children's futures. ABSTRAK Perkembangan masif teknologi digital telah menciptakan disrupsi pada pola pengasuhan di wilayah rural yang secara tradisional memegang teguh nilai kekeluargaan, memicu kesenjangan interaksi antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman fenomenologis orang tua di Desa Ndetundora I, Kabupaten Ende, dalam menghadapi dinamika pengasuhan di era digital. Mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap empat orang tua yang memiliki anak usia remaja untuk memahami pemaknaan subjektif mereka. Temuan studi menyingkap adanya ambivalensi persepsi terhadap gawai; meskipun diakui sebagai instrumen vital untuk pendidikan dan komunikasi jarak jauh, gawai sekaligus dianggap sebagai pemicu degradasi interaksi keluarga dan pelemahan otoritas orang tua akibat akses informasi anak yang lebih luas. Orang tua merespons tantangan ini melalui strategi yang berosilasi antara penegakan disiplin tegas dan pendekatan persuasif. Disimpulkan bahwa praktik pengasuhan di daerah rural pada era digital merupakan manifestasi kompleks dari kasih sayang dan harapan protektif orang tua, yang menuntut keseimbangan adaptif antara kontrol ketat dan pendampingan emosional demi menjaga masa depan anak.  
OVERVIEW; HUBUNGAN ANTARA ADVERSE CHILDHOOD EXPERIENCE, REGULASI EMOSI DAN NON-SUICIDAL SELF-INJURY Usfal, Veronika F.; Manafe, Rizky Pradita; Takalapeta, Theodora
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8871

Abstract

Adverse Childhood Experiences (ACEs) are traumatic events during childhood that have long-term impacts on mental health, often hindering emotional maturity and triggering maladaptive coping mechanisms such as Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). This study aims to analyze the complex relationship between ACEs, emotion regulation, and NSSI, with a particular focus on the role of emotion regulation as a mediator linking traumatic experiences to self-injurious behavior. Using a narrative literature review, this study synthesized data from relevant scientific articles published between 2015 and 2025 through systematic searches of academic databases such as PubMed and ScienceDirect. Key findings demonstrate consistent evidence that exposure to ACEs is strongly correlated with emotion dysregulation, which subsequently significantly increases the risk of self-injurious behavior without suicidal intent. This study confirms that the inability to manage emotions adaptively is a key mechanistic pathway linking childhood trauma to NSSI behavior. It is concluded that psychological interventions focused on strengthening emotion regulation skills are crucial for mitigating the detrimental impact of ACEs and preventing NSSI behaviors in vulnerable individuals, particularly adolescents. ABSTRAK Adverse Childhood Experience (ACE) merupakan peristiwa traumatis masa kanak-kanak yang berdampak jangka panjang pada kesehatan mental, sering kali menghambat kematangan emosional dan memicu mekanisme koping maladaptif seperti Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kompleks antara ACE, regulasi emosi, dan NSSI, dengan fokus khusus pada peran regulasi emosi sebagai variabel mediator yang menghubungkan pengalaman traumatis dengan perilaku melukai diri. Menggunakan metode tinjauan literatur naratif (narrative literature review), penelitian ini menyintesis data dari artikel ilmiah relevan yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025 melalui penelusuran sistematis pada basis data akademik seperti PubMed dan ScienceDirect. Temuan utama menunjukkan konsistensi bukti bahwa paparan ACE berkorelasi kuat dengan disregulasi emosi, yang selanjutnya meningkatkan risiko perilaku melukai diri sendiri tanpa intensi bunuh diri secara signifikan. Studi ini menegaskan bahwa ketidakmampuan mengelola emosi secara adaptif menjadi jalur mekanistik utama yang menghubungkan trauma masa kecil dengan perilaku NSSI. Disimpulkan bahwa intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan keterampilan regulasi emosi sangat krusial untuk memitigasi dampak buruk ACE dan mencegah perilaku NSSI pada individu yang rentan, khususnya populasi remaja.  
SELF-EFFICACY AND SOCIAL LOAFING BEHAVIOR AMONG MEMBERS OF EDUCATIONAL COMMUNITIES IN KUPANG CITY Ratu, Ester Melani Jeni; Mage, Mernon Yerlinda Carlista; Takalapeta, Theodora
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8872

Abstract

The phenomenon of social loafing, or the tendency to reduce individual contributions to group assignments, poses a real challenge to the effectiveness of non-formal educational communities. This study aims to analyze the relationship between self-efficacy and social loafing behavior among members of educational communities in Kupang City. Using a quantitative approach with a correlational design, the study involved 148 active participants from 17 educational communities selected through incidental sampling. Data were collected using an online questionnaire that included the Self-Efficacy Scale and the Social Loafing Scale, and then analyzed using the Spearman's rho statistical test. The findings showed a significant correlation between the two variables, with the majority of respondents at moderate levels for both aspects. Data analysis indicates that self-efficacy serves as a crucial internal factor; individuals with high self-efficacy tend to have greater engagement and lower levels of social loafing. In addition to psychological factors, external dynamics such as clear role allocation and supportive leadership also influence member participation. It is concluded that strengthening self-efficacy through structured community activities and providing feedback is essential to minimize passive behavior and increase collective organizational productivity. ABSTRAK Fenomena social loafing atau kecenderungan mengurangi kontribusi individu dalam tugas kelompok menjadi tantangan nyata bagi efektivitas komunitas pendidikan nonformal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan perilaku social loafing pada anggota komunitas pendidikan di Kota Kupang. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, studi ini melibatkan 148 partisipan aktif dari 17 komunitas pendidikan yang dipilih melalui teknik incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring yang mencakup Skala Self-Efficacy dan Skala Social Loafing, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Spearman’s rho. Temuan penelitian menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kedua variabel, di mana mayoritas responden berada pada tingkat sedang untuk kedua aspek tersebut. Analisis data mengindikasikan bahwa self-efficacy berfungsi sebagai faktor internal krusial; individu dengan keyakinan diri yang tinggi cenderung memiliki keterlibatan yang lebih besar dan tingkat social loafing yang lebih rendah. Selain faktor psikologis, dinamika eksternal seperti kejelasan pembagian peran dan kepemimpinan yang suportif turut memengaruhi partisipasi anggota. Disimpulkan bahwa penguatan self-efficacy melalui aktivitas komunitas yang terstruktur dan pemberian umpan balik sangat diperlukan untuk meminimalkan perilaku pasif serta meningkatkan produktivitas kolektif organisasi.
Kepuasan Terhadap Perkawinan Ditinjau Dari Pembagian Peran Antara Suami dan Istri di Kelurahan Liliba Pah, Juneti Heldiana Priskila; Keraf, Marselino Kharitas Purna Abdi; Takalapeta, Theodora
Jurnal Inovasi Global Vol. 3 No. 12 (2025): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v3i12.469

Abstract

Ketika memasuki kehidupan perkawinan setiap pasangan berharap bisa saling berbagi peran dalam kehidupan rumah tangganya dengan baik. Pembagian peran sangat dibutuhkan untuk terciptanya kepuasan perkawinan pada keluarga, untuk terwujudnya tujuan keluarga. Suami dan istri bersepakat dalam membagi peran, bertanggung jawab terhadap peran dan tugasnya, dan saling menjaga komitmen bersama untuk terciptanya kepuasan perkawinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan terhadap perkawinan pada suami dan istri ditinjau dari pembagian peran dalam rumah tangga. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan teknik analisis tematik. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah snowball sampling dengan jumlah partisipan yang terlibat adalah 15 orang. Dari hasil analisis ditemukan 7 tema utama 1) Pengambilan keputusan bersama 2) Pengelolaan Keuangan Keluarga 3) Pengasuhan Anak 4) Kepuasan dalam Pengambilan Keputusan 5) Kepuasan Dalam Pengelolaan Keuangan 6) Kepuasan Dalam Pengasuhan Anak 7) Kepuasan Dalam Menikmati Peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan dalam perkawinan dengan berbagai aspek yang berpengaruh dalam membagi peran adanya pengambilan keputusan, pengelolaan keuangan, mengasuh anak serta kepuasan dalam menikmati peran.
Hubungan Dukungan Sosial Dengan Stres Akademik Pada Mahasiswa Penerima Beasiswa: Penelitian Ria, Aurelia Rachel; Junias, Marylin Susanti; Takalapeta, Theodora
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3764

Abstract

This study aims to examine the relationship between social support and academic stress among scholarship recipients. The research employed a quantitative correlational approach with 165 respondents selected through purposive sampling. The instruments used were a social support scale based on Sarafino’s theory, which includes four dimensions, and an academic stress scale developed by Bedewy and Gabriel. Data analysis showed that all dimensions of social support were negatively correlated with academic stress. The results also indicated that emotional support and informational support were perceived as the most beneficial in helping students cope with academic pressure. However, the strength of the correlations ranged from weak to moderate, suggesting that academic stress is also influenced by other factors such as intrinsic motivation, emotion regulation, and time-management skills. These findings highlight the importance of social support as a protective factor, while also emphasizing that academic stress management interventions should include strengthening students’ internal factors as well as institutional support from the faculty.