Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN INFORMASI OBAT DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN GANGGUAN JIWA DI PROVINSI LAMPUNG Isnenia, Isnenia
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol. 18 No. 1: Maret 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mf.v18i1.19221

Abstract

Gangguan kesehatan jiwa dewasa ini menjadi tantangan kesehatan dan berkontribusi 14% ke beban penyakit secara global. Kondisi penyakit diperparah akibat ketidakpatuhan dikarenakan kurangnya pengetahuan.  Ketidakpatuhan pasien dengan gangguan kesehatan jiwa berkisar antara 30-65%. Keluarga pasien harus dibekali dengan pengetahuan yang benar tentang informasi penggunaan obat yang disampaikan oleh tenaga kefarmasian.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan informasi obat dengan kepatuhan minum obat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik secara case control, dengan 360 sampel yang merupakan keluarga pasien. Pengetahuan informasi obat diperoleh dari kuesioner wawancara keluarga pasien, sedangkan kepatuhan dilakukan dengan menggunakan MMAS-8. Data dianalisis secara deskriptif untuk karakteristik dan distiribusi pengetahuan serta kepatuhan, regresi logistik uji omnibus untuk data karakteristik terhadap pengetahuan, dan uji Kolmogorov-Smirnov untuk pengetahuan dan kepatuhan. Hasilnya diperoleh distribusi frekuensi tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa terdapat 357 (99,8%) orang responden dengan tingkat pengetahuan suboptimal dan 3 (0,8%) orang responden dengan pengetahuan optimal; Distribusi frekuensi tingkat kepatuhan pasien menunjukan 243 (67.5%) dengan tingkat kepatuhan baik, 56 (15.6%) sedang, dan 61 (16.9%) rendah; Hubungan tidak signifikan antara faktor sosio-ekonomi-klinis keluarga dan pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat (0,964 > 0,05); dan hubungan tidak signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan (0,594 > 0,05).
Gambaran Penggunaan Tanaman Obat Di Desa Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2024 Mulatasih, Endah; Wulan Syafira, Melsya; Isnenia, Isnenia; Yulyuswarni, Yulyuswarni
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Farmasi Galenika Vol 11 No 2
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v11i2.343

Abstract

Medicinal plants have long been used by Indonesian people as an alternative traditional treatment. Plants have been an important source of medicine for thousands of years. The use of plants for healing is the oldest form of medicine in the world. The medicinal plants chosen are usually plants that can be used for first aid or light medicines such as coughs and fever. Based on a pre-research survey in Dayamurni Village, it was found that many people still use medicinal plants for various health complaints. This study aims to determine the overview of medicinal plant usage in Dayamurni Village, Tumijajar District, West Tulang Bawang Regency in 2024. This research is a quantitative descriptive study with a quota sampling technique of 100 respondents who meet the inclusion and exclusion criteria. Data collection was carried out through interviews using questionnaires. The results showed that the majority of medicinal plant users were women (83%), aged 40-44 years (19%), with high school education (55%). The most widely used type of plant was ginger (27,0%), with the method of use being drunk (92,9%), in fresh form (92,9%). Usage was generally only when sick (88%), aimed at curing diseases (65%), especially for treating coughs (23,0%). The main source of information was parents (67%), and most did not use accompanying medications (60%).
Sikap Ibu Terhadap Sisa Obat Pengobatan Di Salah Satu Puskemas Di Kota Bandar Lampung Isnenia, Isnenia; Julaiha, Siti
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 2 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i2.218

Abstract

The prevalence of leftover medicines that are still stored in households is still quite high, including people still storing medicines that have expired. Children are a vulnerable age group who often receive compounded and non-compounded medicines. The purpose of this study was to compare the attitudes of the two groups of mothers towards leftover compounded drugs and non-compunded drugs with assessment aspects namely storage of leftover drugs, reuse, and re-examination. This research is a quantitative-analytical research, non-experimental, with a cross-sectional design used in this study. Data was obtained from mothers of children who received treatment, carried out by guided interviews using an interview instrument containing 8 statements. The data was then processed statistically using the Chi Square test. The results showed that the age of most respondents was in the range of 26-35 years, the most recent education being high school, and as housewives, and using insurance. The percentage of respondents who showed a positive attitude on the aspects of remaining drug storage, reuse, re-examination in the compunded group (97.5%; 95%; 98.8%) showed a higher percentage than the non-compounded group (86.2%; 85% ; 97.5%). Both groups showed significant differences in aspects of leftover drug storage and reuse.
PEMBERIAN EDUKASI ONLINE PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT JALAN DI PUSKESMAS RAJABASA INDAH KOTA BANDAR LAMPUNG Siti Julaiha1*, Dias Ardini, Isnenia Politeknik Kesehatan Tanjungkarang Jl. Soekarno Hatta No. 1 Bandar Lampung Penulis Koresp: PEMBERIAN EDUKASI ONLINE PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT JALAN DI PUSKESMAS RAJABASA INDAH KOTA BANDAR LAMPUNG Julaiha, Siti; Ardini, Dias; Isnenia, Isnenia
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v6i1.349

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis kompleks yang membutuhkan perawatan medis jangka panjang dengan cara pengurangan risiko yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti mengendalikan kadar glukosa dalam darah. Kurangnya pengetahuan masyarakat terkait penyakit diabetes melitus dapat menyebabkan ketidakpatuhan dalam menjalankan terapi dan diet khusus. Kondisi ini dapat memperparah komplikasi penyakit pada pasien diabetes melitus. Ketidakpatuhan pasien terhadap rekomendasi terapi dapat meningkatkan risiko komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular yang menyebabkan kerusakan organ seperti ginjal, jantung, otak, dan mata. Berdasarkan hasil survei ke Puskesmas Rajabasa Indah Kota Bandar Lampung, didapatkan bahwa penyakit diabetes melitus merupakan salah satu dari sepuluh besar penyakit di Puskesmas tersebut. Permasalahan yang ditemui dari hasil survey adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya Pola hidup sehat, pentingnya kontinuitas dalam menggunakan obat selama menjalani terapi obat pada pasien diabetes melitus, Kurangnya informasi yang diterima mengenai Apotek Hidup, dan Belum optimalnya pemanfaatan tanaman obat yang terbukti secara ilmiah dapat digunakan sebagai obat alternatif dalam terapi penyakit diabetes melitus. Untuk itu, Kegiatan pengadian masyarakat yang dilakukan adalah pemberian edukasi online mengenai pola hidup sehat, terapai dan pentingny akepatuhan terhadap regimen terapi serta pemnafaatna tanaman obat untuk terapi alternatif penyakit diabetes melitus. Kontribusi mendasar dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 yang ditandai dengan peningkatan skore kepatuhan berdasarkan kuesioner MMAS-8. Pasien diabetes melitus memanfaatkan leaflet dan video edukasi yang berisi materi tentang penyakit diabetes melitus dan terapinya serta tanaman obat yang bermanfaat untuk terapi penunjang pada pasien diabetes melitus tipe 2. Dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat kami sarankan untuk melakukan edukasi secara daring dengan bertatap muka langsung dengan pasien sehingga edukasi yang disampaikan lebih mudah diserap dan diterima oleh pasien. Dengan demikian, diharpakan dapat meningkatkan kepatuhan pada pasien diabetes melitus tipe 2