Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Knowledge Level of DAGUSIBU in Pharmacy Department Students at Health Polytechnic of Tanjung Karang Sembiring, Elma Viorentina; Hartati, Ani; Julaiha, Siti
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v14i2.3645

Abstract

There are many health problems due to lack of knowledge and understanding of how to use, store and dispose of drugs. The Indonesian Pharmacist Association (IAI) to design a program called DAGUSIBU (Get-Use-Save-Dispose). Information about DAGUSIBU is important to avoid giving wrong information from occupational pharmacy to patients. This study aims to determine Knowledge Level Profile of DAGUSIBU in Pharmacy Department Students in Health Polytechnic of Tanjung Karang 2022. This research was observational research design with a cross-sectional approach which was carried out from October to November 2022 involving 226 pharmacy students class of 2020 to 2022 in Health Polytechnic of Tanjung Karang. Data obtained by using an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. In the aspect of getting medicine, the knowledge level pharmacy students 15.5% good, 38.9% sufficient, and 45.4% lacking. In the aspect of drug use, having a greater knowledge level of 11.1% is good; 44.7% sufficient; and 44.2% less. In the aspect of saving medicine, having a knowledge level of 9.3% is good; 40.3% sufficient; and 34.0% less. Bivariate analysis using ANOVA to find out differences of knowledge level among classes. The results of the ANOVA test showed a p-value of 0.112 so that it can be concluded that there is no significant difference in the level of DAGUSIBU knowledge between batches in Pharmacy students at Health Polytechnic of Tanjung Karang in 2022.
Designing of Aplikasi Pendamping Diabetes (Si-PenDi) as a Control Tool for Type 2 Diabetes Mellitus Patients Julaiha, Siti; Sembiring, Elma Viorentina; Pardilawati, Citra Yuliyanda
Jurnal Kesehatan Vol 15 No 1 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v15i1.4359

Abstract

Diabetes Mellitus is known as the mother of other diseases such as cardiovascular disease, kidney failure, and blindness. Indonesia ranks 5th in the world in terms of the number of Diabetes Mellitus sufferers in 2014. Non-compliance of patients with therapeutic recommendations can increase the risk of complications. Patient non-compliance is often caused by several factors, including forgetting to use medication, ADR, feeling healthy, and lack of education from health workers. The increasingly widespread use of Android-based applications among the public is an opportunity for patient consultations and reminding patients to be disciplined in using drugs so that they can improve patient clinical outcomes. Therefore, it is necessary to design an Aplikasi Pendamping Diabetes (Si-PenDi) as a control tool for type 2 diabetes mellitus patients undergoing therapy. This research aims to create the Aplikasi Pendamping Diabetes (Si-PenDi) as a tool to help control type 2 diabetes mellitus patients. The research is Research and Development research. The method is used to produce specific products and study the effectiveness of these products. This research reached TKT Level 2, making an Android-based technology application called the Si-PenDi (Diabetes Companion Application). The results obtained are that the Si-PenDi application has quite effective quality but cannot be said to be efficient and meet user satisfaction, so it is necessary to improve the design so that the application is better able to meet user expectations.
Penyuluhan DAGUSIBU Obat dan TOGA pada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung Sembiring, Elma Viorentina; Makhdalena
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i1.2540

Abstract

Family Medicinal Plants (usually called TOGA) are essential medicinal plants grown in the yards managed by the family. TOGA basically a program for utilizing a piece of land either in the yard, garden or field to cultivate plants that have medicinal properties. Indonesian people are now getting used to various types of drugs. This has had both positive and negative impacts. The Indonesian Pharmacist Association (IAI) as one of the health professional organizations is currently starting to launch outreach activities to the public regarding the proper use of drugs. Pharmacists as health professionals who are concerned about the use of drugs in the community are encouraged to continue to conduct DAGUSIBU counseling anywhere so that people understand about the correct use of drugs so that the goals of treatment can be achieved and not cause environmental damage. The implementation of community service activities is carried out for correctional inmates at the Class IIA Narcotics Penitentiary in Bandar Lampung. Direct lecture with audio visual method was used in this events. In order to achieve the output in the form of increased knowledge about DAGUSIBU Drugs and TOGA, a pretest and posttest were carried out before and after the events. The average pretest score of participants was 68.28 and the average post test score was 85.22. As many as 95% of participants experienced an increase in post test scores compared to the pretest. The increase in post test scores in participants proves that counseling with audio-visual methods can increase participants' knowledge about DAGUSIBU and TOGA.   ABSTRAK                 Tanaman Obat Keluarga (TOGA) pada hakekatnya adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan yang dikelola oleh keluarga. TOGA atau tanaman obat keluarga pada dasarnya adalah program pemanfaatan sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun, maupun ladang untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai terbiasa dengan penggunaan berbagai jenis obat-obatan. Perkembangan tersebut menimbulkan berbagai dampak positif maupun negatif. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sebagai salah satu organisasi profesi kesehatan saat ini mulai mencanangkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang baik dan benar. Apoteker sebagai profesi kesehatan yang concern terhadap pemakaian obat-obatan di masyarakat dihimbau untuk terus melakukan penyuluhan DAGUSIBU di manapun agar masyarakat paham mengenai penggunaan obat yang benar sehingga tujuan pengobatan dapat tercapai serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan kepada para warga binaan permasyarakatan di Lembaga Permasyarakatan Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah ceramah langsung dengan audio visual. Demi mencapai luaran berupa peningkatan pengetahuan mengenai DAGUSIBU Obat dan TOGA dilakukan pretest dan posttest sebelum dan sesudah penyuluhan. Rerata nilai pretest peserta ialah 68,28 dan rerata nilai postest ialah 85,22. Sebanyak 95% peserta mengalami peningkatan nilai postest dibandingkan dengan pretest. Peningkatan nilai postest pada peserta membuktikan bahwa penyuluhan dengan metode audio visual dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai DAGUSIBU dan TOGA.  
Edukasi Personal Hygiene dan Pencegahan Anemia Untuk Pencegahan Stunting Pada Remaja Putri Suja, Monica Dara Delia; Budiarti, Indah; Fatimah, Rizki Nurul; Sembiring, Elma Viorentina
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2024): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v3i4.1203

Abstract

Remaja putri merupakan pionir yang berpengaruh terhadap faktor kesehatan Wanita Usia Subur (WUS). Peran remaja putri sangat strategis dalam upaya pencegahan maupun penanggulangan stunting karena remaja putri yang nantinya kelak akan melahirkan generasi penerus. Namun, para remaja putri umumnya kurang mengetahui pentingnya konsumsi makanan tinggi zat besi dan Tablet Tambah Darah (TTD). Hal ini dapat memicu terjadinya anemia pada remaja putri. Selain itu, kebersihan gigi dan mulut yang baik dapat diwujudkan melalui pengetahuan dan perilaku yang baik dan benar terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Program yang dilaksanakan berupa kegiatan penyuluhan pada seluruh anak di Panti Asuhan As-Saminah Bandar Lampung tentang personal hygiene berupa menjaga kebersihan gigi dan mulut dan reproduksi sehat dengan pencegahan anemia dengan tablet tambah darah. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan pembagian tablet Fe. Kegiatan Dental Health Education disampaikan oleh dosen jurusan Teknik Gigi dan untuk pemberian edukasi pencegahan anemia diberikan oleh dosen dari Jurusan Kebidanan dan Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang. Penggunaan dental kit berupa model gigi dan sikat gigi. Beberapa peserta diminta untuk memperagakan cara menyikat gigi yang benar sesuai dengan arahan tim pengabdian masyarakat serta penjelasan tentang anemia dan pemberian tablet tambah darah. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan peserta antusias terhadap materi yang diberikan. Remaja putri yang diberikan edukasi lebih memahami terkait dengan tubuhnya sendiri dan diharapkan hasil ini dapat menjadi salah satu cara pencegahan stunting.
Correlation of Clinical Factors with Hypertensive Patient Medication Adherence Sembiring, Elma Viorentina
Jurnal Kesehatan Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v15i2.4290

Abstract

Hypertension is the primary risk factor for both disability and death worldwide, mainly due to two significant complications: strokes (cerebrovascular accidents) and ischemic heart disease. Hypertension is a condition when systolic blood pressure ≥140mmHg and or diastolic blood pressure ≥90mmHg. Patient adherence is an indicator of the efficacy of therapy. Patient adherence measurement could be done by indirect methods such as self-report and pill count methods. The study aims to determine the correlation between clinical factors and medication adherence in hypertensive patients at Rajabasa Indah Community Health Center. This is a descriptive-analytic study with a cross-sectional approach. Purposive sampling was used in the sampling technique. There are 100 respondents in this study, patients diagnosed with hypertension at Rajabasa Indah Community Health Center who met the inclusion and exclusion criteria. A total of 45 patients were included in the category of non-adherent patients taking medication, and 55 patients were included in the category of patients who adhered to taking medication. This study showed that factors that influenced drug adherence in hypertensive patients were comorbidities (p=0.004), duration of treatment (p=0.007), the number of medications (p=0.002), and history of side effects (p=0.002). Medication adherence has been linked with some clinical factors such as comorbidities, duration of treatment, number of medications, and history of side effects. Incorporating adherence evaluation into the overall assessment of patients undergoing hypertension treatment should be essential.
Comparative Study of Treatment and Potential Drug Interactions with Mental Disorders Phase at Lampung Psychiatric Hospital Isnenia, Isnenia; Sembiring, Elma Viorentina
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 15, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.93548

Abstract

Background: There are some phases in mental disorders, acute, stabilization, and maintenance phase. Each phase has a different treatment goal using several types of drugs. Hospitalized patients with mental disorders are typically prescribed 5-9 drugs. Using more than one drug increase the potential for drug interactions.Objectives: This study aims to compare treatments and potential drug interactions with the mental disorders phase at Psychiatric Hospital Lampung Province.Methods: This study was a retrospective with a cohort design. Data were secondary in medical records and inpatient prescription sheets from January to December 2019. Purposive sampling techniques were used. The inclusion criteria in this study were all male patients hospitalized at Psychiatric Hospital Lampung Province who received and completed treatment from January to December 2019.Results: The results showed most of 134 patients were in aged 26-35 years (27.3%), had completed high school (34.3%), were married (61.2%), and were diagnosed with paranoid schizophrenia (93.3%). Average number of medicines was 4.12 in acute phase and 3.89 in stabilization-maintenance phase. Average length of stays were 3.89 days in acute phase and 18.36 days in stabilization-maintenance phase. The second-generation antipsychotics are the most common class of drugs. There was a statistical difference (p = 0.000) for drug classes in both phases. The potential drug interactions in both phases were not significantly different (p = 0.093). The greatest severity was moderate at 88.44% in the acute phase and 94.60%  in the stabilization-maintenance phase.Conclusion: There is a statistical difference in drug classes whereas the potential drug interactions were not.
GAMBARAN PELAKSANAAN PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA PASIEN RAWAT INAP DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT X BANDAR LAMPUNG Marandhani, Luthvia Devina; Julaiha, Siti; Makhdalena, Makhdalena; Sembiring, Elma Viorentina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.43131

Abstract

Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan efek terapi dan meminimalkan resiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan keselamatan pasien (Patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin. Peran tenaga kefarmasian sangat penting untuk keberhasilan pengobatan pasien, jika pasien mendapatkan pelayanan yang baik maka proses pengobatan pasien juga akan berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pelayanan farmasi klinik pada pasien rawat inap di instalasi rawat inap Rumah Sakit X Bandar Lampung dengan menggunakan lembar pengumpulan data. Metode penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling dengan jumlah 100 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelayanan farmasi klinik yang diterapkan di instalasi rawat inap yaitu pengkajian dan pelayanan resep dilakukan pada 100 pasien (100%), penelusuran riwayat penggunaan obat dilakukan pada 100 pasien (100%), rekonsiliasi obat tidak dilakukan sama sekali (0%), Pelayanan Informasi Obat (PIO) dilakukan pada 5 pasien (5%), konseling dilakukan pada 7 pasien (7%), visite dilakukan pada 12 pasien (12%), Pemantauan Terapi Obat (PTO) dilakukan pada 12 pasien (12%).
Edukasi Diabetes pada Peserta Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan di Apotek Siaga Bandar Lampung Endah Ratnasari Mulatasih; Sembiring, Elma Viorentina; Yulyuswarni
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.3723

Abstract

The increasing prevalence of diabetes in various countries reflects the negative impact of lifestyle changes, particularly low physical activity levels and unhealthy fast food consumption patterns. Diabetes mellitus is a metabolic condition marked by an increase in blood glucose levels, which is above 110 mg/dL when fasting and greater than 200 mg/dL after meals. Unhealthy lifestyles, lack of information, and low public awareness regarding the dangers, prevention, and management of diabetes mellitus are the main factors contributing to the rise in the prevalence of this disease. Recognizing the importance of lifestyle in the modern era, the participants of the community service event at Apotek Siaga expressed their desire to receive education regarding type 2 diabetes mellitus and healthy carbohydrate foods. This event aimed to provide participants with an opportunity to engage in productive activities that could enrich their knowledge. The event took place at Apotek Siaga, Jalan Dua Jalur BKP Kemiling, Bandar Lampung, on October 20, 2024, at 07:30 AM. This community service activity was conducted for 24 participants of the health check-up social service at Apotek Siaga. The educational method used was direct lecturing. To evaluate the increase in knowledge regarding type 2 diabetes mellitus and proper carbohydrate consumption, pretests were conducted before and posttests after the educational session. The results of the activity showed that 95.83% of participants' knowledge about type 2 diabetes mellitus and appropriate carbohydrate consumption improved after the education.   ABSTRAK Peningkatan prevalensi diabetes di berbagai negara mencerminkan dampak negatif perubahan gaya hidup, terutama rendahnya tingkat aktivitas fisik dan pola konsumsi makanan cepat saji yang tidak sehat. Diabetes mellitus adalah suatu kondisi gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah, yakni lebih dari 110 mg/dL saat berpuasa dan melebihi 200 mg/dL setelah makan. Gaya hidup tidak sehat, kurangnya informasi, dan rendahnya kesadaran masyarakat terkait bahaya, pencegahan, serta pengelolaan diabetes mellitus menjadi faktor utama meningkatnya prevalensi penyakit ini. Sadar akan pola hidup di era modern membuat para peserta bakti sosial di Apotek Siaga menyampaikan keinginan mereka agar dapat diberikan edukasi terkait diabetes melitus tipe 2 dan pangan karbohidrat yang baik.  Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat dalam aktivitas produktif yang dapat memperkaya pengetahuan mereka. Kegiatan dilaksanakan di Apotek Siaga, Jalan Dua Jalur BKP Kemiling, Bandar Lampung pada tanggal 20 Oktober 2024 pukul 07.30 WIB. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk 24 peserta bakti sosial pemeriksaan kesehatan di Apotek Siaga. Metode edukasi yang diterapkan adalah ceramah langsung. Untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan terkait diabetes melitus tipe 2 dan konsumsi karbohidrat yang tepat, dilakukan pretest sebelum dan posttest setelah sesi edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan 95,83% peserta terkait diabetes melitus tipe 2 dan konsumsi karbohidrat yang tepat terdapat peningkatan setelah edukasi.
Gambaran Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Purbolinggo Lampung Timur Septiani, Riana; Sembiring, Elma Viorentina
Journal of Pharmaceutical Sciences and Technology Vol. 1 No. 1 (2024): Pharmatech Journal : Journal of Pharmaceutical Sciences and Technology
Publisher : Pharmacy Department, Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat secara global. Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia Tenggara yang berada di peringkat ke 7 di antara 10 negara dengan jumlah penderita diabetes melitus terbanyak yaitu sebesar 10,7 juta. Kepatuhan pengobatan yang buruk tentu saja berdampak negatif terhadap peningkatan berbagai komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepatuhan penggunaan obat antidiabetik oral pada pasien diabetes melitus tipe-2 di Puskesmas Purbolinggo, dengan pengambilan data menggunakan kuesioner Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5). Hasil penelitian menunjukan persentase usia pasien diabetes melitus tipe-2 yaitu terbanyak pada usia 46-65 tahun sebesar 69%, berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan sebesar 77% dan laki-laki sebesar 23%. Hasil persentase jenis obat paling banyak yaitu glimepiride sebesar 42%, golongan obat terbanyak yaitu pada golongan sulfonilurea sebesar 65%. Berdasarkan tingkat kepatuhan pasien pada kuesioner MARS-5 yang mempunyai kategori patuh adalah sebesar 27% dan kategori tidak patuh sebesar 73%.
ANALISA FAKTOR KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI TERHADAP KEPATUHAN MINUM ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI BANDAR LAMPUNG Sembiring, Elma Viorentina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27474

Abstract

Hipertensi terkenal dengan sebutan the silent killer. Hipertensi yang tidak tertangani dengan baik dapat berakibat terjadinya komplikasi seperti gagal jantung, gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Prevalensi pasien hipertensi di Bandar Lampung pada tahun 2018 mencapai 36,77%. Angka ini menempatkan kota Bandar Lampung di peringkat ke-5 dari total 15 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung.  Salah satu indikator keberhasilan terapi ialah kepatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatan. Ironinya tingkat kepatuhan minum obat pasien hipertensi hanya 54.4%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara karakteristik sosiodemografi terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ialah seluruh pasien yang didiagnosis Hipertensi di Puskesmas Rajabasa Indah Kota Bandar Lampung periode April hingga Juli 2023.  Sampel adalah populasi yang memnuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel dengan mengunakan purposive sampling. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan faktor sosiodemografi yang berkorelasi dengan kepatuhan adalah variabel usia (p=0.159), Pendidikan (p= 0.002), pekerjaan (p=0.000), pendapatan (p=0.000) dan status pernikahan (p=0.005). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan status pernikahan terhadap variabel kepatuhan minum antihipertensi (p < 0.05).