Articles
Pengaruh Paket "Avil-PMS" terhadap Pengetahuan Remaja Putri di SMA "X" Kota Bandung
Clara Yolanda;
R. Nety Rustikayanti;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 12 No 2 (2018): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v12i2.64
About 7 until 10 days before the onset of menstruation, a young women will have a symptoms of physical or emotional changes known as Pre-menstrual Syndrome (PMS). Knowledge of Pre-menstrual Syndrome should already be known by young women. Giving knowledge can be done with health education by using Audiovisual leaflet pre-menstrual syndrom (AViL-PMS) as a media. This media is more interesting and effective because it involves two senses that is vision and hearing, so it can maximize the acceptance of information. This study aims to determine the influence of AViL-PMS health education about Pre-menstrual Syndrome (PMS) toward the knowledge of young women. This research is quantitative with quasi experimental study design. Sampling using purposive sampling with 42 respondents. Data collection using questionnaires, and data analysis technique using dependent T-test. The results indicate there is an influence of AViL-PMS toward the knowledge (p-value 0,000 < α = 0,005). Suggestions in this study for teachers and health workers to cooperate in providing health education on the importance of reproductive health, especially for young women.
Fenomena Proses Pengambilan Keputusan Menjadi Lesbi Di Kiaracondong Bandung
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 13 No 2 (2019): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v13i2.104
Indonesia is a country that still holds the principle of heterosexual relations even though many countries have legalized same-sex marriage. In West Java, there are many lesbian groups. Social institutions indicate that there are at least 185 lesbians in Bandung who are members of 14 small groups of 10-20 people. This research is a descriptive ethnographic study using qualitative data. To obtain qualitative data, researchers prioritize data collection techniques in the form of in-depth interviews, to dig deep information from informants. Family and environmental factors greatly influence an individual's sexual orientation. Conflicts that occur in the family that involve disappointment with the figure of a father coupled with disappointment with the opposite sex become an amplifier for individuals to change their sexual orientation into lesbians. The role of the family and surrounding environment that needs to be improved in paying attention to their children's relationships
Determinan Pemeriksaan Payudara pada Mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung
Tuti Surtimanah;
Irfan Nafis Sjamsuddin;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 2 (2020): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v14i2.134
Background: In 2018 global data showed 24.2% new cases of breast cancer in women with 15% died, while in Indonesia 58,256 new cases of breast cancer with 22,692 died. Breast cancer at a young age has a unique clinical and biological picture is more aggressive with an unfavorable prognosis, so the breast examination at a young age is very important. Institute of health students are young people as prospective health workers need to give examples in breast examination, where it didn’t known how the breast examination is done so far. Objective: To determined the determinant factors and practiced of breast examination.. Methods: A cross-sectional study design with data collection through filled out questionnaires about breast examination, breast cancer literacy, individual characteristics. Data were analyzed univariate, bivariate, and multivariate. Results: As much 55.6% students had a high level of literacy about breast cancer. Literacy and gender are determinants of breast self-examination, literacy and family cancer history are determinants of clinical breast examination, age is a determinant of breast ultrasound practiced. Path analysis shows the direct effect of literacy on breast examination at the intermediate level. Research results are expected to be useful in compiling messages to increase breast cancer literacy as a determinant that can be sought to change
Persepsi Mahasiswa Prodi Sarjana Kesehatan Masyarakat Stikes Dharma Husada Bandung Terhadap Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru Di Masa Pandemi COVID-19 Tahun 2021
Gugum Pamungkas;
Metha Dwi Tamara;
Intan Puspita Sari
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 1 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v16i1.280
Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan atau objek oleh individu. Persepsi yang muncul dari dalam individu ini kemudian menggerakkan masing-masing individu untuk dapat mengatur dan mengelola dirinya dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru yang diberlakukan di beberapa tatanan pada masa pandemi COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa kesehatan terhadap AKB pada masa pandemi COVID-19. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir non regular dan mahasiswa tingkat dua regular, jumlah keseluruhan sampel berjumlah 6 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi kepada mahasiswa kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan Pesepsi mahasiswa kesehatan terhadap penerapan AKB di kampus, terdapat mahasiswa yang berpersepsi bahwa protokol kesehatan yang sudah diberlakukan di kampus masih kurang efektif. Persepsi mahasiswa kesehatan terhadap penerapan AKB di tempat ibadah, hampir semua mahasiswa berpersepsi penerapan AKB di tempat ibadah sudah efektif. Persepsi mahasiswa kesehatan terhadap penerapan AKB di transportasi umum, hampir semua berpersepsi bahwa penerapan protokol kesehatan yang sudah di terapkan pada transportasi umum online seperti Gojek dan Grab sudah cukup baik. Persepsi mahasiswa kesehatan terhadap penerapan AKB di tempat umum, sebagian mahasiswa berpersepsi bahwa penerapan AKB tersebut masih kurang efektif dan kondusif. Persepsi mahasiswa kesehatan terhadap rencana tindak lanjut sebagai mahasiswa kesehatan dalam menghadapi AKB adalah dengan melakukan promosi kesehatan.
KAJIAN NARATIF: HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA REMAJA
Indah Pratiwi;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 1 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Hipertensi saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang meningkat. Penderita hipertensi didominasi oleh orang dewasa, namun saat ini tidak sedikit remaja yang menderita hipertensi. Prevalensi hipertensi pada remaja di Indonesia meningkat pada tahun 2013 menjadi 10,7% untuk mengatasinya salah satu caranya dengan memperketat aturan merokok khususnya pada remaja. Tujuan: Tujuan penulisan kajian ini untuk membuktikan dari penelitian-penelitian sebelumnya apakah ada hubungan merokok dengan kejadian hipertensi. Metode: Pencarian literatur menggunakan databse Google Scholar, Pubmed, Science Direct rentang tahun 5 tahun terakhir dengan kata kunci “Merokok” dan “Hipertensi” dan “Remaja” dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Diskusi: Rokok mengandung 4000 bahan kimia yang dapat menyebabkan berbagai penyakit penyakit salah satunya hipertensi, selain zat kimia dalam rokok pola hidup yang buruk dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi pada remaja. Kesimpulan: Bedasarkan Literature Review ini dapat disimpulkan, tidak hanya perokok aktif yang berisiko terkena hipertensi, perokok pasif juga dapat terkena hipertensi, selain perilaku merokok terdapat hal lain yang dapat menyebabkan hipertensi pada remaja seperti obesitas, dan kurangnya aktifitas fisik. Demikian pula diharapkan pemerintah perlu menegaskan kembali tentang undang-undang dilarangnya merokok khususnya untuk anak dibawah 18 tahun dan perketatnya pelaksanaan KTR.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BURNOUT PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT (LITERATURE REVIEW)
Anisa Sabrina;
Weni Tusrini;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 2 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v16i2.364
Tingginya jumlah perawat yang mengalami burnout karena kecenderungan memiliki resiko tinggi dialami oleh seseorang yang bekerja pada pekerjaan yang berorientasi melayani orang lain, seperti bidang pelayanan kesehatan. Burnout dapat diartikan sebagai kondisi tubuh yang benar-benar lelah baik fisik maupun mental. Hasil penelitian burnout menunjukkan bahwa profesi kesehatan menempati urutan pertama dengan burnout terbanyak yaitu sekitar 43%. Di antara profesi di bidang kesehatan, perawat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout pada perawat di rumah sakit. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian burnout pada perawat di rumah sakit terbagi menjadi dua yaitu faktor internal meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, masa kerja dan kepribadian serta faktor eksternal meliputi beban kerja, kepemimpinan. gaya dan stres kerja. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperdalam faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian burnout dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
KAJIAN NARATIF: HUBUNGAN DURASI MEDIA SOSIAL DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA REMAJA
Latifah Novithasari Effendi;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 16 No 2 (2022): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v16i2.367
Latar Belakang: Insomnia sering dijumpai pada kalangan remaja yang mengakses media sosial yang menyebabkan remaja mengalami kualitas dan kuantitas tidur yang buruk. Ketidakmampuan remaja dalam memanajemen waktu penggunaan media sosial akan berdampak pada ketidakaturan pola tidur sehingga terjadinya insomnia. Penggunaan internet mencapai 80% pada remaja berusia 15-19 tahun dan sebagian besar kualitas tidur pada remaja kurang terpenuhi sebanyak 63%. Tujuan: Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia remaja. Metode: Pencarian artikel menggunakan database online yaitu Google Scholar dan Pubmed dengan kata kunci “(“Durasi Media Sosial” dan “Insomnia Remaja”) dan (“Social Media” and “Adolescent Insomnia”)” terbit dalam lima tahun terakhir. Diskusi: Terdapat hubungan antara durasi penggunaan media sosial terhadap kejadian insomnia. Pengkategorian lama durasi penggunaan media sosial secara rasional yaitu 7jam/hari kategori sangat lama, 5-6jam/hari kategori lama, 3-4jam/hari kategori sedang, dan 1-2jam/hari kategori singkat. Kualitas tidur dikategorikan baik atau buruk. Kecanduan media sosial terjadi karena peningkatan hormon dopamin pada saat menggunakan media sosial, sehingga menciptakan tingkat kesenangan yang sama secara berulang. Penggunaan media sosial sebelum tidur bisa menyebabkan terganggunya pengaturan hormon melatonin sehingga mempengaruhi kualitas tidur. Kesimpulan: Frekuensi penggunaan media sosial pada remaja paling tinggi di Indonesia yaitu 3-9 jam/hari sedangkan di Luar Negeri 2-6jam/hari. Insomnia akibat penggunaan media sosial sudah sampai tingkat sedang dan berat. Disarankan untuk bisa dilakukan perbandingan antar dua kelompok remaja dengan dewasa, untuk melihat tingkat perbedaan durasi penggunaan media sosial lebih intens terhadap kejadian insomnia.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Burnout pada Perawat di Rumah Sakit (Literature Review)
Anisa Sabrina;
Weni Tusrini;
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 17 No 1 (2023): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v17i1.409
Banyaknya perawat yang mengalami burnout karena kecenderungan memiliki resiko tinggi dialami oleh seseorang yang bekerja pada pekerjaan yang berorientasi melayani orang lain, seperti sektor pelayanan kesehatan. Burnout dapat diartikan sebagai kondisi tubuh yang benar-benar lelah baik fisik maupun mental. Hasil penelitian tentang burnout menunjukkan bahwa profesi kesehatan menempati urutan pertama dengan burnout terbanyak yaitu sekitar 43%. Di antara profesi di bidang kesehatan, perawat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout pada perawat di rumah sakit. Metode penelitian ini menggunakan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian burnout pada perawat di rumah sakit terbagi menjadi dua yaitu faktor internal yang meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, masa kerja dan kepribadian serta faktor eksternal yang meliputi beban kerja, kepemimpinan. gaya dan stres kerja. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperdalam faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian burnout dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
RESPONSIBILITAS PELAYANAN KEGIATAN PEKAN IMUNISASI NASIONAL DI PUSKESMAS CILENGKRANG DALAM PERSPEKTIF GOOD GOVERNANCE SEBAGAI UPAYA ERADIKASI POLIO
Metha Dwi Tamara
Sehat MasadaJurnal Vol 17 No 2 (2023): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v17i2.438
Pekan Imuniasai Nasional (PIN) ini dilakukan dikarenakan kasus Polio yang kembali muncul di Indonesia yaitu di Aceh dan Purwakarta. Berdasarkan laporan cakupan imunisasi rutin, dua provinsi yang sangat berisiko tinggi dilihat dari cakupan vaksinasi Oral dibawah 60% pada tahun 2020. Sementara ada 13 provinsi yang warnanya merah ini adalah yang beresiko tinggi dimana cakupannya hanya berkisar 60-79%. Jika dilihat berdasarkan kabupaten kota, dari 514 kabupaten kota kita masih punya 60 yang sangat beresiko yang cakupannya dibawah 60%, kemudian ada 132 kabupaten kota yang resikonya tinggi antara 60 sampai 79% cakupannya kemudian yang resiko sedang ada 166, dan yang resiko rendah itu ada 154 kabupaten kota. Tentunya pelaksanakaan PIN perlu di dukung oleh peran Tenaga Kesehatan. Responsibiltas disini merupakan respon dan sikap proaktif tenaga kesehatan terhadap kegiatan PIN, sedangkan Perspektif Good Goverment yang dimaksud disini merupakan sikap profesional yang bertanggung jawab terhadap tugasnya. Untuk mengetahui Responsibilitas Pelayanan Kegiatan Pekan Imunisasi Nasional di Puskesmas Cilengkrang dalam Perspektif Good Governance sebagai upaya Eradikasi Polio. Untuk mengetahui Responsibilitas Pelayanan Kegiatan Pekan Imunisasi Nasional di Puskesmas Cilengkrang dalam Perspektif Good Governance sebagai upaya Eradikasi Polio. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan 8 informant. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Penanggung jawab imunisasi yang diberikan kepada seorang Bidan yang kompoten, Memiliki kebijakan pengelolaan SDM (sumber daya manusia) yang baik dan Memiliki kebijakan pengelolaan sarana dan prasarana sudah memadai.
Fenomena Proses Pengambilan Keputusan Menjadi Lesbi Di Kiaracondong Bandung
Dwi Tamara, Metha
Sehat MasadaJurnal Vol 13 No 2 (2019): Jurnal Sehat Masada
Publisher : stikes dharma husada bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38037/jsm.v13i2.104
Indonesia is a country that still holds the principle of heterosexual relations even though many countries have legalized same-sex marriage. In West Java, there are many lesbian groups. Social institutions indicate that there are at least 185 lesbians in Bandung who are members of 14 small groups of 10-20 people. This research is a descriptive ethnographic study using qualitative data. To obtain qualitative data, researchers prioritize data collection techniques in the form of in-depth interviews, to dig deep information from informants. Family and environmental factors greatly influence an individual's sexual orientation. Conflicts that occur in the family that involve disappointment with the figure of a father coupled with disappointment with the opposite sex become an amplifier for individuals to change their sexual orientation into lesbians. The role of the family and surrounding environment that needs to be improved in paying attention to their children's relationships