Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Empiricism Journal

Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK EMKM) pada Usaha Kerajinan Bambu Lapalelo, Beatrix; Imran, Treesje; Saruan, Tirsa Julianti
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/e9k8pg15

Abstract

UMKM merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi kendala serius dalam pengelolaan keuangan, terutama rendahnya literasi akuntansi dan minimnya pemanfaatan teknologi digital. Namun belum banyak studi yang fokus pada implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) pada sektor kerajinan berbasis budaya lokal seperti bambu di Tomohon. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan SAK EMKM melalui akuntansi digital dalam meningkatkan tata kelola keuangan UMKM kerajinan bambu di Desa Kinilow, Kota Tomohon. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan dua informan utama, yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengrajin bambu belum menerapkan pencatatan keuangan sesuai SAK EMKM dan masih mencampurkan keuangan usaha dengan pribadi, sehingga laba tidak terukur secara akurat. Melalui penerapan aplikasi akuntansi digital sederhana seperti BukuKas, diperoleh laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan dan laba bersih sebesar Rp8.900.000 per periode. kemuan ini menunjukkan bahwa akuntansi digital berbasis SAK EMKM mampu meningkatkan efisiensi pencatatan, transparansi, dan kualitas pengambilan keputusan. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan, pelatihan penggunaan aplikasi akuntansi digital, serta pendampingan berkelanjutan bagi UMKM kerajinan bambu agar mampu mengelola keuangan secara profesional dan berdaya saing. Analysis of the Application of Financial Accounting Standards for Micro, Small and Medium Entities (SAK EMKM) in Bamboo Craft Businesses Abstract Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are an essential sector in Indonesia’s economy; however, they continue to face serious challenges in financial management, particularly due to low accounting literacy and limited use of digital technology. Nevertheless, few studies have focused on the implementation of the Financial Accounting Standards for Micro, Small, and Medium Entities (SAK EMKM) in craft industries based on local cultural traditions, such as bamboo craftsmanship in Tomohon. This study aims to analyze the application of SAK EMKM through digital accounting in improving financial governance among bamboo craft MSMEs in Kinilow Village, Tomohon City. The research employed a qualitative case study approach involving two main informants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using an interactive model. The findings reveal that bamboo artisans have not yet applied financial recording in accordance with SAK EMKM and still mix business and personal finances, resulting in inaccurate profit measurement. By utilizing a simple digital accounting application such as BukuKas, financial reports were produced showing the financial position and a net profit of IDR 8,900,000 per period. These findings indicate that digital accounting based on SAK EMKM can enhance the efficiency of financial recording, transparency, and the quality of decision-making. This study emphasizes the importance of improving financial literacy, providing training on digital accounting applications, and ensuring continuous mentoring for bamboo craft MSMEs to enable professional and competitive financial management.
Kepemimpinan Partisipatif Dan Etos Kerja Kolektif: Identitas Manajemen Pada Tradisi Mapalus Minahasa Ngala, Erna; Mambu, Laurens; Imran, Treesje
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/bads4326

Abstract

Kearifan Kearifan lokal Mapalus di Minahasa merepresentasikan sistem sosial-ekonomi berbasis gotong royong yang telah lama menjadi ciri budaya masyarakat setempat. Meskipun berbagai studi sebelumnya telah membahas Mapalus sebagai bentuk solidaritas sosial, masih terdapat celah penelitian terkait bagaimana nilai-nilai tersebut diartikulasikan dalam konteks kepemimpinan partisipatif dan etos kerja kolektif sebagai identitas manajemen komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kepemimpinan partisipatif dan etos kerja kolektif berfungsi sebagai identitas manajemen dalam budaya Mapalus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi, melibatkan 15 informan kunci yang terdiri atas tokoh adat, kepala jaga, dan anggota kelompok Mapalus di tiga desa di Kabupaten Minahasa. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan selama tiga bulan, serta studi dokumentasi terhadap arsip dan naskah budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Mapalus bersifat partisipatif dan egaliter, menekankan musyawarah, keadilan, dan tanggung jawab bersama dalam pembagian tugas. Mekanisme kontrol sosial dijalankan melalui norma adat dan nilai resiprositas moral yang memperkuat disiplin kolektif. Etos kerja kolektif yang terbentuk mencerminkan identitas manajemen khas Minahasa, yaitu bekerja sebagai ibadah sosial, solidaritas sebagai modal utama, dan keadilan sebagai bentuk timbal balik moral. Temuan ini memperluas pemahaman tentang manajemen berbasis budaya dengan menunjukkan bahwa Mapalus tidak hanya berperan dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai sistem manajemen sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan ketahanan budaya. Penelitian ini membuka ruang bagi pengembangan model manajemen partisipatif berbasis kearifan lokal dalam konteks pembangunan masyarakat Indonesia. Participatory Leadership and Collective Work Ethic: Management Identity in the Mapalus Tradition of Minahasa   Abstract The local wisdom of Mapalus in Minahasa represents a socio-economic system based on mutual cooperation, which has long been a defining feature of the local community’s culture. Although previous studies have discussed Mapalus as a form of social solidarity, there remains a research gap concerning how these values are articulated within the context of participatory leadership and collective work ethic as a form of community management identity. This study aims to analyze how participatory leadership and collective work ethic function as management identities within the Mapalus culture. The research employed a qualitative descriptive method with an ethnographic approach, involving 15 key informants consisting of traditional leaders, neighborhood heads (kepala jaga), and members of Mapalus groups across three villages in Minahasa Regency. Data were collected through in-depth interviews, participant observation conducted over three months, and documentation studies of local cultural archives and manuscripts. The results show that leadership within Mapalus is participatory and egalitarian, emphasizing deliberation, fairness, and shared responsibility in task distribution. Social control mechanisms are maintained through customary norms and moral reciprocity values that reinforce collective discipline. The collective work ethic that emerges reflects a distinctive Minahasan management identity—working as a form of social devotion, solidarity as the main capital, and justice as a manifestation of moral reciprocity. These findings expand the understanding of culture-based management by demonstrating that Mapalus not only functions in economic activities but also serves as a social management system that strengthens community cohesion and cultural resilience. The study opens opportunities for developing participatory management models grounded in local wisdom within the context of Indonesian community development.