Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Uji aktivitas antibakteri dan analisis KLT - bioautografi ekstrak etanol 70% daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 2305 Kartikawati, Endah; Saepudin, Syumillah; Marni, Aulia; Hidayat, Taufik Septiyan; Azzahra, Yunita Al
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol. 8 No. 2 (2024): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v8i2.343

Abstract

Latar belakang: Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr merupakan tanaman dari keluarga Piperaceae. Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr secara empiris dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti pengobatan asma, sakit maag, nyeri, peradangan dan infeksi bakteri. Tujuan penelitian: Mengetahui daya hambat dari ekstrak ekstrak etanol 70% daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Metode penelitian: Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr dengan metode difusi secara in vitro (Kirby-Bauer) menggunakan kertas cakram dengan konsentrasi 6,25; 12,5; 25; dan 50%. Pengujian dengan metode KLT-Bioautografi menggunakan Bioautografi kontak langsung. Aktivitas antibakteri terhadap ekstrak daun Peperomia obtusifolia dilakukan dengan uji KLT-Bioautografi menggunakan fase gerak metanol : n-heksan (8:2). Hasil: Berdasarkan hasil uji Duncan, konsentrasi terbaik ekstrak etanol 70% daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli yaitu konsentrasi 50% dengan rata-rata zona hambat sebesar 7,08 ± 0,18 mm. Hasil pengujian menggunakan metode KLT-Bioautografi menunjukkan bahwa tidak adanya zona hambat pada bercak noda kromatografi lapis tipis. Simpulan: Konsentrasi terbaik dari semua konsentrasi ekstrak etanol 70% daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr terdapat pada konsentrasi 50% dengan rata-rata zona hambat sebesar 7,08 ± 0,18 mm. Pada metode KLT-Bioautografi ekstrak daun Peperomia obtusifolia (L.) A. Dietr, pada profil kromatografi terdapat tiga bercak noda dengan nilai Rf 1: 0,71, Rf 2: 0,65, dan Rf 3: 0,57, dan Bioautografi kontak tidak mampu memberikan zona hambat.
An Analysis of Total Flavonoid Content in Extracts of Bandotan, Ketul, and Kirinyuh Leaves with Various Solvents Saepudin, Syumillah; Hidayat, Taufik Septiyan; Destiati, Yinyin; Al-Azzahra, Yunita; Kartikawati, Endah
HERBAPHARMA : Journal of Herb Farmacological Vol. 6 No. 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 Desember 2024
Publisher : STIKes Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55093/herbapharma.v6i2.579

Abstract

Bandotan (Ageratum conyzoides (L.) L.), Ketul (Bidens pilosa L.), dan Kirinyuh (Chromolaena odorata (L.)) merupakan tanaman invasif yang mudah ditemui di pekarangan rumah. Akan tetapi, belum dimanfaatkan secara optimal karena tanaman ini dianggap sebagai gulma, walaupun dianggap sebagai gulma tetapi masyarakat menggunakan tanaman ini sebagai bahan pengobatan untuk penyakit sakit kepala, sakit perut, penyembuh luka, diabetes, dan obat kumur. Salah satu senyawa metabolit sekunder yang terkandung didalam tanaman tersebut yaitu flavonoid. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kadar flavonoid total pada ekstrak daun bandotan, daun ketul, dan daun kirinyuh yang diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, etil asetat, dan akuades. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian analisis kualitatif menunjukkan seluruh sampel mengandung senyawa flavonoid. Hasil penetapan kadar flavonoid total paling rendah diperoleh pada ekstrak etil asetat daun bandotan sebesar 2,678 mg QE/g dan kadar flavonoid total paling tinggi diperoleh pada ekstrak etanol 96% daun kirinyuh sebanyak 78,229 mg QE/g.
AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides) MENGGUNAKAN METODE STABILISASI MEMBRAN SEL DARAH MERAH Rohdiana, Dadan; Yusep Ikrawan; Miranti Putri Utami; Hasna Zakiyah; Taufik Septiyan Hidayat
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 10 No. 4 (2025): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/7ssvc170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan senyawa fitokimia berupa fenolik dan flavonoid yang terdapat dalam gulma utama tanaman teh, serta aktivitasnya sebagai antioksidan dan anti inflamasi. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Pada tahap pertama dilakukan ekstraksi menggunakan etanol terhadap tiga gulma utama yang biasa terdapat di kebun teh yaitu harendong, jonge dan sintrong. Selanjutnya ketiga ekstrak etanol tersebut analisis kandungan total fenolik dan total flavonoid. Hasil analisis menunjukkan bahwa sintrong mengandung total fenolik tertinggi yaitu 227,08±3,90 mg GAE/g diikuti oleh harendong dan jonge masing-masing sebesar 148,10±1,53 mg GAE/g dan 116,92±1,87 mg GAE/g. Hasil analisis kandungan flavonoid memperlihatkan bahwa sintrong menunjukkan nilai tertinggi yaitu 133,50±0,73 mg RE/g diikuti oleh jonge dan harendong masing-masing sebesar 111,12±0,97 mg RE/g dan 107,40±2,92 mg RE/g. Untuk memilih gulma mana yang paling potensial dilakukan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH yang dinyatakan dengan IC50.  Hasil pengujian menunjukkan bahwa sintrong menunjukkan nilai IC50 terkecil yaitu 144,94±3,98 µg/ml diikuti oleh jonge dan harendong masing-masing sebesar 225,66±0,37 µg/ml dan 250,00±1,80 µg/ml. Selanjutnya ekstrak sintrong difraksinasi menggunakan pelarut air, n-heksan dan etil asetat. Fraksi yang dihasilkan analisis aktivitas anti inflamasinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa fraksi n-heksan mempunyai aktivitas yang paling baik untuk masing-masing konsentrasi kemudian diikuti oleh ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat. Hasil penelitiann ini juga menyatakan bahwa efek antiinflmasi berbading lurus dengan meningkatnya konsentrasi sampel uji.
AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI ETANOL, ETIL ASETAT DAN N-HEXAN HERBA PEGAGAN (Centella asiatica L) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI ALOXAN Lestari, Sovi Ayu; Hidayat, Taufik Septiyan; Suharti
Jurnal Buana Farma Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Buana Farma : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i3.1392

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels resulting from impaired insulin production or function. Conventional treatments often come with side effects and high costs, prompting the exploration of herbal-based alternatives. Centella asiatica L. (commonly known as pegagan) contains various bioactive compounds with potential antidiabetic properties. This study aimed to evaluate the antidiabetic activity of ethanol, ethyl acetate, and n-hexane fractions of Centella asiatica herb in male white mice (Mus musculus) induced with alloxan, and to determine the most effective fraction in lowering blood glucose levels. The research employed a completely randomized design (CRD) in an experimental setting. Male mice were randomly assigned to five groups: negative control (1% Na-CMC), positive control (glibenclamide), and three treatment groups receiving ethanol, ethyl acetate, or n-hexane fractions of Centella asiatica at a dose of 120 mg/kg body weight. Diabetes was induced using alloxan at a dose of 100 mg/kg body weight. Blood glucose levels were measured before and after treatment at specific time intervals. The results demonstrated that all fractions of Centella asiatica exhibited blood glucose-lowering activity in diabetic mice. Among the three, the ethanol fraction produced the most significant hypoglycemic effect. Phytochemical screening revealed that the ethanol fraction contained flavonoids, triterpenoids, and saponins, which are suspected to contribute to its antidiabetic activity. In conclusion, the ethanol fraction of Centella asiatica exhibits the highest potential as an antidiabetic agent compared to the ethyl acetate and n-hexane fractions.
UJI AKTIVITAS DIURETIK SEDUHAN BUNGA KRISAN (Chrysanthemum indicum L.) PADA MENCIT PUTIH GALUR Swiss Websster Hidayat, Taufik Septiyan
Jurnal Sabdariffarma: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 13, No 1 (2025): SABDARIFFARMA
Publisher : Prodi Farmasi - Universitas Al Ghifari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53675/jsfar.v13i1.1458

Abstract

Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang banyak diminati masyarakat karena memiliki jenis, bentuk, dan warna bunga yang beranekaragam. Tanaman krisan mengandung banyak kandungan kimia, seperti alkaloid, flavoloid, tanin, terpenoid, dan saponin. Diuretik adalah suatu zat yang dapat meningkatkan laju pengeluaran volume urin. Bunga   krisan   biasa   dikonsumsi   dalam bentuk teh.  Teh bunga krisan memiliki efek kesehatan  seperti  anti  inflamasi,  anti  piretik, sedatif,  anti  arthritis dan  anti  hipertensi. Pada Penelitian ini digunakan mencit putih jantan galur Swiss Webster sebanyak 25 ekor, kemudian dibuat menjadi 5 kelompok yang berbeda yaitu kontrol normal (air), kontrol positif (furosemid), dosis 1 g, 2 g, 3 g. Pengujian diuretik dilakukan dengan metode pengamatan volume urin selama waktu 6 jam dan mencit di masukan ke dalam tabung metabolisme dan di ukur volume urin per waktu. Hasil pengujian didapatkan Bunga krisan memberikan aktivitas diuretik. Pada masing masing kelompok dosis menunjukkan adanya perbedaan rata-rata jumlah volume urin. Kelompok perlakuan furosemid sebagai kontrol positif menunjukkan efek diuretik yang sangat signifikan dengan rata rata volume urin   dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Kelompok perlakuan seduhan bunga krisan dosis 3 g memberikan efek diuretik yang signifikan dibandingkan kelompok perlakuan seduhan bunga krisan dosis 1 g, 2 g dan kelompok perlakuan aquadest sebagai kontrol normal. Pemberian seduhan bunga krisan memberikan efek diuretik dan pemberian dosis 3 gram memberikan hasil diuretik yang paling efektif. Kata kunci : Diuretik, Bunga Krisan, Mencit Putih, Furosemid