Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Program Pengembangan Ligabel (Lansia Jaga Balance) Tahap Edukasi dan Screening Resiko Jatuh Lansia di Surakarta Asita Rohmah Mutnawasitoh; Dita Mirawati
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 4 No. 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v4i4.1121

Abstract

Pertambahan usia penduduk menyebabkan tingginya proporsi penduduk lanjut usia hal tersebut diringi dengan kejadian terhadap meningkatknyakasus jatuh pada lansia, kejadian jatuh pada lansia dapat mengakibatkan imobilisasi sebagian atau seluruhnya dan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk screening fungsi keseimbangan lansia serta memberikan pengetahuan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia di pos lansia Senja Bahagia Surakarta. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah dengan meningkatkan pengetahuan keseimbangan pada lansia tentang persiapan-persiapan yang perlu diketahui dalam mewujudkan keseimbangan tubuh yang baik dan screening fungsi keseimbangan tubuh lansia. Solusi dan Target Luaran dalam program kemitraan ini adalah dengan melakukan sosialisasi serta pelatihan program latihan keseimbangan ligabel sebagai tindak lanjut pelacakan fungsi keseimbangan tubuh lansia. Pengetahuan serta program ligabel yang diperoleh lansia, dalam kegiatan ini diharapkan dapat diterapkan dan mengubah perilaku lansia untuk mewujudkan zero resiko jatuh lansia. HasilTemuan dari pengabdian ini adalah prevalensi nilai screening fungsi keseimbangan lansia terdapat 82% lansia mengalami penurunan fungsi keseimbangan tubuh, dan didapatkan 42% peningkatan lansia bertambah setelah aplikasi edukasi. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah adanya peningkatan pengetahuan terkait keseimbangan tubuh dan didapatkan data bahwa sebagian besar lansia mengalami gangguan kesimbangan tubuh dari hasil sosialisasi didaptkan kemauan dan peningkatan kesadaran untuk melakukan Latihan keseimabngan ligabel di pos lansia senja bahagia Jebres Surakarta, hal tersebut bertujuan untuk mempertahankan kemampuan keseimbangan tubuh sehingga resiko jatuh dapat diminimalisir.
Pengaruh Walking Morning Exercise Terhadap Peningkatan Kualitas Tidur pada Lansia Oktaviatama, Anisah; Mirawati, Dita; Setiawan, Cahyo
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v12i2.2233

Abstract

Physiological and psychological problems can arise from sleep disorders. The majority of older people experience a decrease in sleep quality with age, so it is necessary to do morning physical activity such as walking to improve sleep quality. Objective: To determine whether walking in the morning exercise can improve older people's sleep quality. Methods: It was a quantitative research with a quasi-experimental type using a one-group pre and post-test design. The sample consisted of 28 respondents selected by purposive sampling. Measurement of sleep quality using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire to evaluate a person's sleep quality. The walking morning exercise intervention was carried out thrice a week for up to 4 weeks. Results: Wilcoxon test for bivariate analysis showed a significance level of 0.008 (p < 0.05). Conclusion: Walking in the morning exercise improves sleep quality in older people.Keywords:  older people, sleep quality, walking morning exercise
The Relationship Between Caffeinated Beverages And The Risk Of Osteoporosis In The Elderly Posyandu Surakarta Siti Anisa; Dea Linia Romadhoni; Alinda Nur Ramadhani; Dita Mirawati
Physiotherapy and Physical Rehabilitation Journal Vol. 3 No. 2 (2024): November: Physiotherapy and Physical Rehabilitation Journal 
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63520/pprj.v3i2.659

Abstract

Background: The prevalence of osteoporosis in elderly Indonesian women in the age of 50-70 years and above 70 years is 23% and 53%. Osteoporosis is a disorder of bone metabolism due to a loss of bone mass. The decrease in bone mass is caused by the speed of bone resorption which is greater than the speed of bone formation gradually, the bones become brittle and easily broken, even by light pressure. Purpose: determine the relationship between caffeinated drinks and the risk of Osteoporosis. Methods: Qualitative research with a cross-sectional design, which is research that intends to understand the phenomenon of what the research subject experiences with the observation method. Result: the results of this study indicate a significant relationship between caffeinated drinks and the risk of osteoporosis with a value of (p=0.007). Conclusion: As a result, there is a strong connection caffeinated drinks and the risk of osteoporosis in the elderly in Posyandu Surakarta
Incident Number of Decline in Functional Physical Activity In The Elderly at Jebres, Surakarta Mutnawasitoh, Asita Rohmah; Mirawati, Dita; Cahyaningrum, Hapsari; Setiawan, Cahyo; Sari, Apriliyan Yunita; Azizah, Qoriq Nur; Alvin, Nadia
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 13, No 2 (2025): EDITION JULY 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v13i2.6439

Abstract

Health services for the elderly group need to be carried out according to their needs. To understand the health needs of the elderly group, it is necessary to examine the number of cases or prevalence of a case that is a problem for the elderly. Decreased physical functional activity in the elderly is a problem that is often encountered and due to degenerative diseases. Decreased physical functional activity in the elderly results in an increased risk of disability. There have been no reports regarding the number of cases of the elderly who experience decreased physical functional activity, the number of cases or prevalence of decreased physical functional activity in the elderly. The study used descriptive quantitative research method with a cross-sectional research design. The subjects of the study were elderly people aged 60-70 years who had no history of musculoskeletal injury/trauma and did not use walking aids. The research instrument used to measure the decline in functional activity was the Physical Activity Scale for the Elderly (PASE). The assessment results showed that 46 elderly people (76.7%) were in the category of low physical functional activity and 14 elderly people (23.3%) had good functional activity. The female elderly group consisted of 28 (75.7%) who had lower scores compared to male elderly. The 60-70 age group consisted of 30 elderly (78.9%) had a lower PASE score compared to the 71-80 age group. The housewife occupation group consisted of 22 elderly people (75.9%) had lower scores compared to the entrepreneur, laborer and retiree groups. The number of cases of decreased physical functional activity in the elderly is 46 individuals or 76.7%. The decline in physical functional activity was influenced by age, gender and occupation. To further explore the factors that influence the decline in physical functional activity.
Peningkatan Pengetahuan Lansia Tentang Kesiapsiagaan Bencana Gati, Norman; Dita Mirawati; Muhammad Zaenul Arifin
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): JPM SEPTEMBER 2025
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v11i2.2736

Abstract

Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudra serta di pertemuan tiga lempeng tektonik (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik). Kondisi ini memungkinkan indonesia sangat rentan terhadap bencana alam, terutama banjir. Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah yang sering terdampak banjir, disebabkan oleh curah hujan tinggi, topografi wilayah yang datar, tata ruang yang kurang baik, kerusakan lingkungan, dan perubahan iklim. Kejadian banjir menimbulkan dampak signifikan, termasuk risiko kesehatan (diare, demam berdarah) dan kerugian ekonomi. Kelompok lansia merupakan kelompok rentan terhadap dampak bencana karena proses degeneratif fisik dan psikologis, seperti penurunan fungsi organ, respons gerak lambat, dan penurunan kemampuan kognitif yang mempengaruhi adaptasi informasi baru. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi dan adaptasi yang komprehensif, termasuk edukasi yang ditargetkan untuk lansia, guna meningkatkan kapasitas mereka dalam merespons, merawat diri, dan menyelamatkan diri selama bencana, sehingga dapat menekan angka korban.Tujuan: Meningkatkan pengethuan lansia tentang kesiapsiagaa bencana. Metode : penyuluhan kesehatan dengan menggunakan power point dan role play peragaan. Hasil : terdapat peningkatan pengetahuan lansia tentang kesiapsiagaan bencana dari tingkat pengetahuan baik dan kurang menjadi baik dan sangat baik sekali. Kesimpulan : Terdapat perubahan skor tingkat pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana pada lansia setelah dilakukan penyuluhan. Rekomendasi: melakuakn edukasi kesiapsiagaan pada kelompok rentan lansia sebagai upaya untuk menngkatkan kapasitas lansia dalam menhadapi becana.
PENGARUH PEMBERIAN NERVE AND TENDON GLIDING EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN FUNGSIONAL HAND-WRIST PADA PENJAHIT DENGAN RISIKO CARPAL TUNNEL SYNDROME Ramadani, Dina Ayum; Mirawati, Dita; Romadhoni, Dea Linia; Mutnawasitoh, Asita Rohmah
Physio Journal Vol. 5 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : P3M Universitas 'Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/phy.jou.v5i2.1621

Abstract

Latar Belakang: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) memiliki keterkaitan erat dengan pekerjaan terutama pekerjaan yang membutuhkan tenaga manual, gerakan tangan berulang, getaran yang ditransmisi oleh tangan, dan gerakan menekuk/memutar pergelangan tangan. Fisioterapi dapat membantu perawatan CTS dengan berbagai modalitas seperti nerve and tendon gliding exercise. Nerve and tendon gliding exercise dapat menstimulasi penyembuhan jaringan lunak serta meningkatkan vaskularisasi saraf medianus di terowongan karpal dan merupakan intervensi berbasis mekanis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nerve and tendon gliding exercise terhadap peningkatan fungsional hand-wrist pada pekerja dengan risiko CTS. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis quasi experimental menggunakan rancangan one group pre-test dan post-test. Total 26 subjek penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengukuran fungsional tangan dengan kuesioner Boston Carpal Tunnel Questionnaire (BCTQ). Intervensi nerve and tendon gliding exercise dilakukan 3 kali seminggu selama 3 minggu. Hasil: Uji pengaruh dengan uji Wilcoxon p=0.001 (p <0.05) menunjukkan bahwa nerve and tendon gliding exercise dapat meningkatkan kemampuan fungsional. hand-wrist. Kesimpulan: Terdapat pengaruh nerve and tendon gliding exercise terhadap peningkatan fungsional hand-wrist pada penjahit dengan risiko CTS.
Manfaat Ice Compress terhadap Penurunan Nyeri Akibat Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) pada Otot Gastrocnemius Mirawati, Dita; Leni, Ari Sapti Mei
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak remaja saat ini cenderung menjadihipokinetik yang akan cepat mengalami kelelahan setelah melakukanaktivitas fisik karena kondisi kebugaran fisiknya yang kurang prima,hal ini akan mudah menyebabkan terjadinya gejala Delayed OnsetMuscle Soreness (DOMS). Ada berbagai macam modalitasfisioterapi, salah satunya berupa terapi dingin yang digunakan untukmencegah dan menurunkan nyeri akibat Delayed Onset MuscleSoreness (DOMS). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh icecompress terhadap penurunan nyeri akibat Delayed Onset MuscleSoreness (DOMS). Metode Penelitian: Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif menggunakan metode quasi eksperimental,dengan rancangan penelitian two groups posttest only with controldesign. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakanteknik quota sampling dan didapatkan 32 responden penelitian yangsesuai kriteria inklusi dari total populasi 127 orang. Penelitian inidilaksanakan di Laboratorium Fisioterapi STIKES ‘AisyiyahSurakarta pada tanggal 23-26 Mei 2017. Hasil: uji analisis post hocmenggunakan uji mann-whitney antara kelompok ice compressdengan kelompok kontrol diperoleh p=0,000 talag scale 24 jam,p=0,000 talag scale 48 jam, dan p=0,000 talag scale 72 jam dengankeseluruhan nilai p<0,05 yang berarti ice compress berpengaruhterhadap penurunan nyeri akibat Delayed Onset Muscle Soreness(DOMS). Kesimpulan: Ice compress dapat menurunkan nyeri akibatDelayed Onset Muscle Soreness (DOMS) berdasarkan nilai talagscale 24, 48, dan 72 jam.
PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS ADDUKTOR HIP (STUDI PADA UKM TAEKWONDO UMS) Pristianto, Arif; Mirawati, Dita; Syauqi, Abdurrafi Fajar; Sudawan, Ekki Agus
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 12th University Research Colloquium 2020: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fleksibilitas komponen gerak dan kecepatan kontraksi merupakan halyang diperlukan dalam menunjang kegiatan olahraga khususnya beladiri taekwondo. Fleksibilitas merupakan kemampuan regang jaringanlunak untuk melakukan gerakan secara penuh pada Range of Motion(ROM) suatu sendi tanpa adanya keluhan. Mahasiswa yang mengikutiUnit kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo yang baru dengankinerja otot yang awalnya statis dan terbatas memiliki kondisijaringan lunak terbatas sehingga pemberian myofascial release(MFR) ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas grup ototadduktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh Myofascial Release (MFR) terhadap fleksibilitas ototadduktor hip. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasiexperiment, rancangan penelitian menggunakan control time seriesdesign yaitu desain rangkaian waktu dengan kelompok pembandingserta menggunakan pre-tes dan post-tes. Subjek penelitian ini denganjumlah 20 orang mahasiswa yang mengikuti UKM taekwondo UMS,dibagi menjadi dua kelompok perlakuan yang diberikan MFR danstretching aktif, dilakukan selama 2 minggu dan 6x perlakuan. Hasildari penelitian ini bahwa pemberian MFR dan stretching aktif denganuji statistika diperoleh Sig. (2-tailed) sebesar 0,00 yang artinya adapeningkatan fleksibilitas adduktor hip. Uji beda pengaruhmenggunakan uji statistika diperoleh Sig. (2-tailed) sebesar 0,584yang artinya tidak ada beda pengaruh dengan signifikan. KesimpulanPemberian Myofascial Release dan stretching aktif terbukti dapatmeningkatkan fleksibilitas adduktor hip kepada Mahasiswa yangmengikuti UKM Taekwondo UMS. Terdapat hasil yang signifikandalam fleksibilitas otot adduktor hip pada kelompok yang diberikanintervensi MFR.
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Stroke pada Lansia Mirawati, Dita; Mutnawasitoh, Asita Rohmah
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 12, No 1 (2024): EDITION MARCH 2024
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v12i1.5024

Abstract

Stroke is the second leading cause of death worldwide and the third leading cause of disability. On the other hand, experience can help someone solve a problem. Stroke survivor who has learned from experience in dealing with a stroke will make more considered decisions and be more cautious when recognizing the signs and symptoms that occur in patients. The aim of this study is to determine the relationship between education level and experience with the knowledge of elderly individuals at Posyandu Laweyan. This research used a descriptive qualitative research design with a cross-sectional study design. The study was conducted at Posyandu under the supervision of the Laweyan Community Health Center. Data collection took place from March to July 2023 involving 45 respondents. The data were then analyzed using the Spearman-Correlation test to observe the relationship between experience and knowledge level. The results of the analysis showed a p-value of 0.018 (0.05); r = 0.351, indicating a significant correlation between the education level and stroke knowledge level among the elderly. 
Differences In The Effect Of The Combination Of Square Stepping And Gaze Stabilization With Square Stepping And Core Stability On Dynamic Balance In The Elderly Muslimaini, Muslimaini; Mirawati, Dita; Mutnawasitoh, Asita Rohmah
Jurnal Riset Kesehatan Vol 12 No 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrk.v12i2.10018

Abstract

Physiological changes in the elderly occur related to skeletal muscle changes and are related to the balance of the fall risk assessment. Therefore, researchers provide Square Stepping, Gaze stabilization, and Core stability exercise interventions to improve dynamic balance. Square stepping exercise is an exercise to improve lower extremity functional fitness. Gaze Stabilization is an exercise to improve balance by way of cooperation between the vestibular system and the visual system. While Core Stability is a special exercise intended to help improve abdominal and lumbo pelvic muscles in trunk stability. The purpose of the study was to determine the difference in the effect between the combination of Square stepping and Gaze stabilization exercise with Square stepping and Core stability exercise on improving dynamic balance in the elderly. This research is a quantitative study with a quasi experimental type of research. The sample amounted to 30 respondents with a purposive sampling technique. Measurement of dynamic balance using TUGT. The Square Stepping intervention was carried out 3 times a week for 4 weeks, Gaze Stabilisation was carried out 3 times a week for 4 weeks and Core Stability was carried out 2 times a week for 4 weeks. Based on the Mann-Whitney Test using the TUGT measurement instrument, a significance value of 0.034 (p <0.05) was obtained. The results of this study indicate that there is a difference in the effect between giving square stepping and gaze stabilization with square stepping and core stability exercise on improving dynamic balance in the elderly.