Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

KONSEP PLACEMAKING DAN KUALITAS FISIK PEDESTRIAN: STUDI KASUS TROTOAR JALAN MOH. HATTA, KOTA PALU Isti Nugroho; Nike Dyah Permata; Cahyani Cahyani; Dui Buana Mustakima
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.34811

Abstract

ABSTRACT. This research examines the physical quality of sidewalks on Moh. Hatta Street in Palu City is a vital public space that is often overlooked in urban planning. The core problem lies in the low quality of these sidewalks compared to national standards and their impact on Placemaking. The study aims to analyze the physical condition of the sidewalks post-revitalization based on SNI and PUPR Guidelines, evaluate their Placemaking potential, and formulate recommendations. Using field observations and a descriptive-comparative analysis, sidewalk physical data were compared with existing standards. The results indicate that the sidewalks on Moh. Hatta Street is far below national standards in terms of width (only 17% compliant), height, and slope. Essential supporting facilities, such as lighting, seating, and crosswalk markings, were also minimal or absent. The discussion reveals that these physical discrepancies significantly hinder Placemaking potential, limiting comfort, accessibility, diverse activities, and social interaction. In conclusion, these sidewalks primarily function as transit paths, necessitating holistic interventions that integrate physical improvements with Placemaking principles to create vibrant and meaningful urban spaces.ABSTRAK. Penelitian ini mengkaji kualitas dari fisik trotoar Jalan Moh. Hatta di Kota Palu sebagai ruang publik vital, yang diabaikan dalam perancangan kota. Trotoar sebagai infrastruktur dasar perkotaan memiliki peran yang melampui dari fungsi sebagai ruang pergerakan. Trotoar bertranformasi menjadi ruang sosial vital yang mendukung interaksi dan dinamika kehidupan perkotaan. Keberadaan jalur pejalan kaki tidak hanya sebagai ruang integrasi dalam Kawasan namun area publik yang memiliki peran penting terjadinya aktivitas sosial kota. Permasalahan utama adalah rendahnya kualitas trotoar Jalan Moh. Hatta dibandingkan dengan  standar fasilitas pejalan kaki yang ada dan dampak terhadap konsep placemaking. Tujuan studi ini untuk menganalisis kondisi fisik trotoar Jalan Moh Hatta Palu dengan Standar Nasional Indonesia dan Pedoman Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki. Metode observasi lapangan dan analisis deskriptif komparatif, data fisik trotoar dibandingkan dengan standar.  Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa trotoar Jalan Moh. Hatta jauh dari kesesuaian standar nasional dan pedonman teknis fasilitas pejalan kaki. Trotoar Jalan Moh. Hatta saat ini lebih berfungsi sebagai jalur transit semata dan belum mampu bertransformasi menjadi ruang publik sebagaimana prinsip Placemaking. Pemenuhan standar teknis adalah fondasi esensial namun upaya Placemaking yang berkelanjutan memerlukan intervensi holistik yang tidak hanya memperbaiki fisik sesuai standar, tetapi juga mengintegrasikan desain yang berpusat pada manusia untuk mendorong interaksi sosial, meningkatkan kenyamanan, dan memfasilitasi beragam aktivitas yang menghidupkan ruang publik.
Evaluasi Kesesuaian Fasilitas Aksesibilitas Ruang Terbuka Publik Pantai Manakarra Mamuju Berdasarkan Prinsip Universal Desain dan Permen PUPR No. 14 Tahun 2017: Evaluation of Accessibility Facilities in Public Open Space at Manakarra Beach, Mamuju Based on Universal Design Principles and the Regulation of the Minister of Public Works and Housing No. 14/PRT/M/2017 Cahyani Suhardi; Dui Buana Mustakima; Munarsi Munandar
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 5: Mei 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i5.10833

Abstract

Ruang terbuka publik merupakan elemen penting dalam mewujudkan kota yang inklusif dan berkelanjutan, di mana seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama untuk mengakses dan memanfaatkannya. Namun demikian, pada banyak kawasan pesisir di Indonesia, penyediaan fasilitas aksesibilitas masih belum sepenuhnya memenuhi prinsip desain inklusif dan standar teknis yang berlaku. Pantai Manakarra di Mamuju sebagai salah satu ruang terbuka publik utama memiliki potensi tinggi sebagai destinasi rekreasi, namun diduga belum optimal dalam mendukung kebutuhan pengguna difabel. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian fasilitas aksesibilitas di kawasan tersebut berdasarkan prinsip Universal Design dan Permen PUPR No. 14/PRT/M/2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan evaluatif melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta analisis berbasis checklist yang membandingkan kondisi eksisting dengan standar yang ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian fasilitas aksesibilitas di kawasan Pantai Manakarra masih tergolong rendah. Jalur pedestrian telah tersedia, namun memiliki permukaan yang tidak rata, kerusakan pada beberapa segmen, serta tidak dilengkapi dengan guiding block, sehingga belum mendukung mobilitas penyandang disabilitas netra. Akses vertikal didominasi oleh tangga tanpa ramp dengan kemiringan standar dan tanpa handrail, yang menjadi hambatan utama bagi pengguna kursi roda dan lansia. Selain itu, area parkir belum tertata dengan baik dan tidak menyediakan ruang khusus difabel, sementara keberadaan pedagang kaki lima pada jalur pedestrian mengurangi lebar efektif jalur dan menghambat sirkulasi. Jalur waterfront juga belum dilengkapi dengan elemen keselamatan dan fasilitas aksesibilitas yang memadai. Secara keseluruhan, fasilitas aksesibilitas di kawasan ini belum memenuhi prinsip Universal Design, terutama pada aspek kesetaraan penggunaan, kemudahan akses, keselamatan, dan keterbacaan informasi, serta belum sesuai dengan ketentuan Permen PUPR No. 14 Tahun 2017. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penataan ulang kawasan berbasis desain inklusif dengan memperhatikan karakteristik tapak pesisir guna meningkatkan kualitas aksesibilitas, keselamatan, dan kenyamanan bagi seluruh pengguna, khususnya penyandang disabilitas.
Analisis Persepsi Pengunjung terhadap Kualitas Ruang Taman Nasional Hasanuddin Menggunakan Metode Semantic Differential: Analysis of Visitors’ Perceptions of the Spatial Quality of Hasanuddin Park Using the Semantic Differential Method Nadhil Tamimi; Nike Dyah Permata; Munarsi Munandar; Dui Buana Mustakima; Isti Nugroho; Nurul Hikmah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i4.10790

Abstract

Ruang terbuka publik berupa taman kota memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan serta mendukung aktivitas sosial dan rekreasi masyarakat. Penilaian kualitas taman tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik, tetapi juga oleh persepsi pengunjung terhadap pengalaman ruang yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap kualitas Taman Hasanuddin di Kota Palu menggunakan metode semantic differential. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan instrumen kuesioner yang terdiri atas sepuluh pasangan kata bipolar, yaitu buruk–indah, sempit–lapang, kotor–bersih, berantakan–rapi, tidak aman–aman, monoton–unik, membosankan–menyenangkan, buatan–alami, panas–teduh, dan tidak menarik–menarik. Data diperoleh dari 30 responden yang merupakan pengunjung taman dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan nilai rata-rata pada setiap indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator memperoleh nilai rata-rata di atas 4,50 yang menunjukkan persepsi masyarakat berada pada kategori sangat positif terhadap kualitas taman. Indikator tidak menarik–menarik memperoleh nilai tertinggi (4,93), diikuti indikator berantakan–rapi (4,90), serta sempit–lapang dan panas–teduh (4,86). Sementara itu, indikator tidak aman–aman, membosankan–menyenangkan, dan buatan–alami memperoleh nilai relatif lebih rendah meskipun tetap berada pada kategori positif. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas visual, keteraturan ruang, dan kelapangan taman menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan pengunjung. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi taman kota perlu mempertimbangkan persepsi pengguna sebagai dasar dalam peningkatan kualitas ruang terbuka publik.