Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hubungan Asupan Protein Hewani Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMP Negeri 3 Wates Kulon Progo Yogyakarta Fifi Amalia Marzuki; Siti Fadhilatun Nashriyah; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.226

Abstract

Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia karena telah mengalami menstruasi dan sedang berada dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan asupan zat gizi lebih tinggi, terutama zat besi. Salah satu sumber zat besi penting berasal dari protein hewani, sehingga rendahnya konsumsi protein hewani dapat menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan zat besi dalam tubuh. Hal ini berdampak pada penurunan kadar hemoglobin yang berujung pada terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan protein hewani dengan kejadian anemia pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen adalah konsumsi sumber asupan protein hewani, sedangkan variabel dependen kejadian anemia. Sampel penelitian sebanyak 57 responden dengan teknik pengambilan sample adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner SQ-FFQ frekuensi asupan protein hewani dalam 1 bulan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswi putri SMP Negeri 3 Wates Kulon Progo Yogyakarta, didapatkan p-value 0,038 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi asupan protein hewani dengan kejadian anemia pada remaja putri.
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Overweight Pada Remaja Di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Bari Sofyana; Dewi Rizzky Mutiarasari; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.313

Abstract

Overweight saat ini masih menjadi permasalahan gizi di Indonesia hingga dunia bahkan WHO mengumumkan sebagai epidemic global. Berbagai macam faktor yang menyebabkan overweight/obesitas pada remaja diantaranya adalah asupan makan, faktor genetik/keturunan, pola tidur tidak teratur dan aktivitas fisik yang kurang. Tujuan: mengetahui adanya hubungan aktivitas fisik terhadap overweight pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Teknik pengambilan data menggunakan Purposive Sampling dengan total sampel 42 responden. Data aktivitas fisik pada remaja di ukur menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data antropometri diukur menggunakan alat timbangan berat badan dan alat ukur tinggi badan (Mikrotoise). Analisa data menggunakan aplikasi SPSS dengan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi kejadian remaja usia 13-14 tahun yang mengalami overweight dengan aktivitas fisik cukup dengan overweight sebanyak 11 responden (61 %), sedangkan responden yang tidak mengalami overweight dengan aktivitas fisik kurang sebanyak 13 responden (54 %). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik remaja dengan kejadian overweight.
Hubungan Antara Emotional Distress Dengan Perilaku Makan Pada Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Nurhidayah Ardian Putri; Nor Eka Noviani; Ibtidau Niamilah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.417

Abstract

Mahasiswa sebagai kelompok usia dewasa awal rentan mengalami emotional distress, yaitu kondisi psikologis yang mencakup stres, kecemasan, dan depresi akibat tingginya tuntutan akademik dan sosial. Emotional distress dapat memengaruhi pola makan dan mendorong munculnya perilaku makan tidak sehat seperti emotional eating, restrained eating, dan external eating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional distress dengan perilaku makan pada mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 105 mahasiswa dipilih menggunakan kuota sampling. Instrumen pengukuran meliputi Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) untuk emotional distress dan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) untuk perilaku makan. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square menggunakan tingkat signifikansi p<0,05. Mayoritas responden mengalami emotional distress tidak normal, khususnya kecemasan (97,14%). Perilaku makan kategori tinggi ditemukan pada emotional eating (76,19%), external eating (64,76%), dan restrained eating (64,76%). Terdapat hubungan signifikan antara stres dengan emotional eating, external eating, dan restrained eating; serta depresi dengan restrained eating. Penelitian ini menunjukkan bahwa emotional distress berhubungan dengan perilaku makan mahasiswa. Stres merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi emotional eating dan restrained eating, sedangkan kecemasan lebih terkait dengan external eating. Depresi cenderung memicu perilaku membatasi makan. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental dan edukasi gizi dalam upaya mencegah dampak jangka panjang emotional distress terhadap perilaku makan mahasiswa.
Pengaruh Pendampingan Gizi Terhadap Perubahan Status Gizi Pada Remaja Putri Di SMP Muhammadiyah 1 Godean Anggun Desi Puspasari; Kurnia Mar’atus Solichah; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1142

Abstract

Latar Belakang: Remaja perempuan membutuhkan perhatian khusus terkait gizi karena akan menjadi seorang ibu di masa mendatang. Status gizi dapat diketahui melalui pengukuran antropometri, seperti Rasio Lingkar Pinggang Pinggul (RLPP) dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Permasalahan gizi dapat disebabkan oleh perubahan fisiologi, psikologi, sosial, pengetahuan, dan perilaku yang tidak sesuai. Tujuan: Mengetahui pengaruh pendampingan gizi terhadap perubahan status gizi remaja putri di SMP Muhammadiyah 1 Godean. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain one group pretest–posttest. Populasi yaitu seluruh siswa remaja putri kelas VII di SMP Muhammadiyah 1 Godean dengan sampel 38 orang berdasarkan metode stratified purposive sampling. Intervensi berupa pendampingan gizi dengan pemberian edukasi selama sembilan minggu. Analisis berupa analisis univariat dan uji bivariat menggunakan Paired t-Test. Hasil: Rata-rata RLPP menurun dari 0,828 cm menjadi 0,801 cm dengan hasil uji paired t-test terdapat pengaruh signifikan pendampingan gizi terhadap perubahan RLPP (p=0,017). Sementara itu, rata-rata LILA dari 23,67 cm menjadi 23,68 cm, namun uji paired t-test menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan pendampingan gizi terhadap perubahan LILA (p=0,956). Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan pendampingan gizi terhadap perubahan RLPP, namun belum terdapat pengaruh signifikan pendampingan gizi terhadap perubahan LILA.
Hubungan Obesitas Sentral dengan Hipertensi pada Usia Lanjut di Wilayah Kerja Puskesmas Juwiring, Klaten Indah Muftiana; Dewi Rizzky Mutiarasari; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1138

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada lansia. Berdasarkan data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS), pada kelompok lansia usia ≥ 60 tahun didapatkan prevalensi yang tinggi yaitu mencapai 57,6%. Obesitas sentral yang diukur menggunakan lingkar pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP) diketahui dapat menyebabkan kejadian hipertensi. Namun, hasil penelitian mengenai hubungan kedua indikator tersebut dengan kejadian hipertensi pada lansia masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP) dengan kejadian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Juwiring, Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 54 lansia yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik purposive sampling. Data lingkar pinggang, lingkar pinggul, serta tekanan darah diperoleh melalui pengukuran secara langsung. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (90,74%) dan berusia 60-69 tahun (70,37%). Analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lingkar pinggang dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 140/90 mmHg (p=0,031) maupun ≥ 150/90 mmHg (p=0,019). Selain itu, RLPP berhubungan signifikan dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 140/90 mmHg (p=0,030), tetapi tidak berhubungan secara signifikan dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 150/90 mmHg (p=0,061). Berdasarkan hal tersebut, lingkar pinggang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia baik menggunakan cut off ≥ 140/90 mmHg maupun ≥ 150/90 mmHg. Sementara itu, RLPP hanya berhubungan dengan kejadian hipertensi pada cut off ≥ 140/90 mmHg. Kata kunci : Hipertensi, Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul, Obesitas sentral, Lansia
Hubungan Asupan Protein Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Junsi Mariani; Agil Dhiemitra Aulia Dewi; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1021

Abstract

Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat. Prevalensidiabetes di Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan SKI 2023 sebesar 3,6%, sedangkan diKabupaten Sleman pada tahun 2024 tercatat sebanyak 17.214 kasus, dengan Puskesmas Kalasanmemiliki 1.477 kasus (8,58%) sehingga menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus diabetesmelitus yang tinggi. Pengaturan asupan protein merupakan salah satu bagian dari terapi gizi medisyang berperan dalam membantu pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar glukosa darah puasa pada penyandangdiabetes melitus tipe 2 usia ≥45-69 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kalasan. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik menggunakan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kalasan, Sleman, Yogyakarta padabulan Juni 2026. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknikpurposive sampling. Data asupan protein diperoleh melalui wawancara food recall 3x24 jam padahari yang tidak berturut-turut dan dianalisis menggunakan perangkat lunak NutriSurvey, sedangkankadar glukosa darah puasa diukur menggunakan glukometer digital setelah responden menjalanipuasa minimal 8 jam. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan ujikorelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan rerata asupan protein sebesar 43,34±12,23 g/hari,sedangkan rerata kadar glukosa darah puasa sebesar 137,60±34,44 mg/dL. Hasil uji Spearmanmenunjukkan nilai r=-0,290 dengan p-value=0,037 (p&lt;0,05), yang berarti terdapat hubungan yangbermakna dengan arah hubungan negatif dan kekuatan korelasi lemah antara asupan protein dankadar glukosa darah puasa pada penyandang diabetes melitus tipe 2. Semakin tinggi asupanprotein, kadar glukosa darah puasa cenderung semakin rendah. Namun, pada penyandang diabetesmelitus gangguan fungsi ginjal, asupan protein harus disesuaikan.
Hubungan Konsumsi Minuman Manis terhadap Kejadian Gizi Lebih pada Siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta Karisya Martiansyah Utami; Nor Eka Noviani; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1490

Abstract

Gizi lebih pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara. Konsumsi minuman manis diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya gizi lebih karena kandungan gula tambahannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 47 siswa berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 70,2% responden memiliki status tidak gizi lebih dan 29,8% mengalami gizi lebih. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,464) maupun antara asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,587). Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis tidak berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Meskipun demikian, konsumsi gula harian tetap perlu dibatasi sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular pada Remaja.
Hubungan Peran Teman Sebaya Terhadap Tingkat Konsumsi Minuman Berpemanis Pada Remaja Di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Indah Gita Cahyani; Nor Eka Noviani; Agil Dhiemitra Aulia Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1503

Abstract

Latar Belakang: Konsumsi minuman berpemanis pada remaja usia 10 – 14 tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta masih tergolong tinggi yaitu mencapai 57,9%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 50,7% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku tersebut adalah peran teman sebaya. SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta berada di wilayah perkotaan dengan akses yang mudah terhadap minuman berpemanis sehingga berpotensi memengaruhi kebiasaan konsumsi siswa. Kondisi tersebut menunjukan bahwa pengaruh peran teman sebaya berpotensi berkaitan dengan perilaku konsumsi minuman berpemanis pada remaja. Tujuan: Menganalisis hubungan antara peran teman sebaya dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 52 siswa/i kelas VII dan VIII dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Peran teman sebaya (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner Peer Influence Scale (PIS), sedangkan tingkat konsumsi minuman berpemanis (variabel terikat) diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebanyak 57,7% responden berada pada kategori terdapat pengaruh peran teman sebaya. Berdasarkan jumlah asupan gula tambahan, 51,9% responden berada pada kategori cukup, sedangkan 48,1% termasuk kategori berlebih. Berdasarkan frekuensi konsumsi, masing-masing 50,0% responden berada pada kategori sering dan jarang. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara peran teman sebaya dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis, baik berdasarkan jumlah asupan gula tambahan (p=0,010) dan frekuensi konsumsi (p=0,005). Kesimpulan: Peran teman sebaya memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis pada remaja.
Hubungan Pola Asuh Pemberian Makan dengan Konsumsi Junk Food pada Anak Usia Prasekolah di Wilayah Kecamatan Banguntapan Annisa Febrian Hadiyanti; Nor Eka Noviani; Silvi Lailatul Mahfida
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1518

Abstract

Meningkatnya konsumsi junk food pada anak usia prasekolah berisiko memicu masalah gizi dan gangguan tumbuh kembang, yang salah satunya dipengaruhi oleh pola asuh pemberian makan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh pemberian makan dengan konsumsi junk food pada anak usia prasekolah di wilayah Kecamatan Banguntapan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif observasional dengan desain korelasi menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 103 orang tua yang memiliki anak usia 4-6 tahun di tiga Taman Kanak-Kanak wilayah Kecamatan Banguntapan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Caregiver Feeding Style Questionnaire (CFSQ) modifikasi untuk mengukur pola asuh pemberian makan dan kuesioner Junk food Intake Measure (JFIM) modifikasi untuk mengukur konsumsi junk food. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden menerapkan pola asuh demokratis yaitu sebanyak 39 orang tua (37,86%), diikuti pengabaian 35 orang tua (33,98%), otoriter 17 orang tua (16,50%), dan permisif 12 orang tua (11,65%). Kebiasaan konsumsi junk food anak sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 53 anak (51,46%), kategori sedang 43 anak (41,75%), dan kategori tinggi 7 anak (6,80%). Hasil uji bivariat menunjukkan nilai p < 0,001, yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pola asuh pemberian makan dengan konsumsi junk food pada anak usia prasekolah. Pola asuh demokratis cenderung menghasilkan tingkat konsumsi junk food yang lebih rendah dibandingkan pola asuh pengabaian maupun permisif.
Hubungan Perilaku Makan External Eating dengan Status Gizi Lebih pada Remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Ratna Cahyaningrum; Nor Eka Noviani; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1529

Abstract

Status gizi lebih pada remaja merupakan salah satu masalah gizi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya perilaku makan. External eating merupakan kecenderungan makan sebagai respons terhadap rangsangan eksternal makanan, seperti tampilan, aroma, rasa, dan ketersediaan makanan, tanpa didasarkan pada rasa lapar fisiologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku makan external eating, mengidentifikasi status gizi lebih, serta menganalisis hubungan perilaku makan external eating dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 43 siswa kelas VII dan VIII berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data external eating diperoleh menggunakan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) subskala external eating, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 siswa (51,2%) memiliki external eating kategori rendah dan 21 siswa (48,8%) kategori tinggi. Sebanyak 13 siswa (30,3%) mengalami status gizi lebih, yang terdiri atas 7 siswa (16,3%) overweight dan 6 siswa (14,0%) obesitas, sedangkan 30 siswa (69,7%) tidak mengalami gizi lebih. Hasil uji Chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku makan external eating dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta (p = 0,119). Kata kunci: external eating; status gizi lebih; remaja; DEBQ; cross-sectional