Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

HUBUNGAN USIA DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DARAH POST HEMODIALISA PADA LANSIA DI RUMAH SAKIT IHC LAVALETTE KOTA MALANG Taufan Arif; Anggy Dwi Pramesty; Joko Wiyono; Sulastyawati Sulastyawati
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 10 No 1 (2024): Jurnal Keperawatan Terapan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v10i1.4541

Abstract

Abstract: While undergoing hemodialysis therapy, patients experience health problems, including hemodynamic disorders, which are a common problem. Factors that cause changes in post-hemodialysis blood pressure can be caused by age. Elderly patients undergoing hemodialysis treatment experience an increase in blood pressure after hemodialysis by 80%. A possible factor causing an increase in post-hemodialysis blood pressure is age. The aim of this study was to determine the relationship between age and increased post-hemodialysis blood pressure. The research design uses a "cross-sectional" approach. The sampling method used "purposive sampling" with 74 elderly people. Determination of respondents was based on the inclusion criteria of patients who experienced an increase in blood pressure after hemodialysis, and patients who routinely underwent hemodialysis therapy. Test data analysis using univariate analysis to determine the characteristics of respondents. Bivariate analysis used the Spearman rank test for the age variable which was associated with an increase in post-hemodialysis blood pressure. Age bivariate test with p-value 0.001. Age is associated with an increase in post-hemodialysis blood pressure. Keywords: Blood pressure, hemodialysis, elderly, ESRD
Pengaruh Musik Instrumental Modern Kitaro Terhadap Tingkat Kecemasan dan Frekuensi Nadi Pasien Preoperatif di Ruang Premedikasi: Quasy-Experiment Study Fitriana Kurniasari Solikhah; Taufan Arief; Jenar Nadya Maharani; Sulastyawati Sulastyawati
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Keperawatan Terapan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v11i1.5527

Abstract

Abstrak: Latar Belakang: Kecemasan preoperatif merupakan respons psikofisiologis yang umum dialami pasien menjelang operasi. Tanpa pengelolaan yang tepat, kecemasan ini dapat meningkatkan risiko komplikasi serta memperpanjang masa pemulihan. Intervensi nonfarmakologis seperti musik instrumental menunjukkan potensi dalam mengurangi stres tanpa efek samping signifikan. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan quasi-eksperimental dengan rancangan pretest-posttest two group design . Sebanyak 58 responden dibagi menjadi kelompok perlakuan (n=29) dan kontrol (n=29). Pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skala STAI dan frekuensi nadi menggunakan pulse oximeter sebelum dan setelah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test, independent t-test, dan regresi logistik biner. Hasil: Hasil menunjukkan penurunan bermakna pada tingkat kecemasan kelompok perlakuan (mean difference = -5,79; p = 0,000) dan frekuensi nadi (mean difference = -5,48; p = 0,000). Uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok pada post-test (p < 0,05). Analisis odds ratio (OR) membuktikan bahwa kelompok perlakuan memiliki peluang lebih rendah mengalami kecemasan tinggi (OR = 0,18; 95% CI 0,06–0,55) dan peningkatan frekuensi nadi (OR = 0,41; 95% CI 0,20–0,83). Kesimpulan: Musik instrumental modern Kitaro efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan dan frekuensi nadi pasien preoperatif. Intervensi ini layak diterapkan sebagai bagian dari asuhan keperawatan preoperatif sebagai metode nonfarmakologis yang aman dan mudah diimplementasikan.
Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Efikasi Diri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis: Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Efikasi Diri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Aulia Fahmi Alfarizi; Taufan Arif; Sulastyawati; Naya Ernawati
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Terapan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v12i1.6232

Abstract

Abstract: Introduction: Self-efficacy plays a crucial role in the success of therapy because it is related to patients’ confidence in adhering to treatment. Consequently, low self-efficacy may result in suboptimal treatment adherence. During the initial phase of hemodialysis, patients commonly experience difficulties in adapting, but this adaptive ability tends to improve as they gain more experience and understanding of the therapy. Objective: This study aims to examine the relationship between the duration of hemodialysis treatment and self-efficacy among hemodialysis patients. Methods: A quantitative correlational design with a cross-sectional approach was employed. The study sample consisted of 100 hemodialysis patients selected through purposive sampling. The independent variable was the duration of hemodialysis, while the dependent variable was self-efficacy. Self-efficacy was measured using the General Perceived Self-Efficacy questionnaire, and patient medical records were used to determine the duration of hemodialysis. Data analysis was performed using the Spearman Rank correlation test. Result: The results indicated a significant relationship with moderate strenght between the duration of hemodialysis and self-efficacy, with a p-value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.448. Conclusion: These findings suggest that the longer patients undergo hemodialysis, the higher their self-efficacy levels. A longer duration of hemodialysis allows for the accumulation of experience and information from healthcare professionals and fellow patients, which contributes to enhanced cognitive functioning. This cognitive improvement supports patients’ understanding, adaptation, and coping abilities, thereby increasing their confidence in managing therapy as reflected in improved self-efficacy.
Hubungan Dukungan Personal Preference Dan Pencegahan Hiperglikemia Pada Individu Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Dinoyo Refina Dwi Anjarwati; Erlina Suci Astuti; Sulastyawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1042

Abstract

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun resistensi insulin. Pencegahan hiperglikemia membutuhkan pengelolaan jangka panjang, tidak hanya melalui terapi farmakologis tetapi juga melalui dukungan Personal Preference yang sesuai dengan kondisi individu. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dukungan Personal Preference, pencegahan hiperglikemia, dukungan Personal Preference yang paling berperan, dan menganalisis hubungan antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada individu penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Dinoyo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 152 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan Personal Preference dan kuesioner pencegahan hiperglikemia. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo (p-value = 0,025). Bentuk dukungan yang paling dominan adalah dukungan emosional dan instrumental. Pasien dengan dukungan optimal lebih konsisten dalam menerapkan diet sehat, melakukan aktivitas fisik, serta mematuhi pengobatan. Kesimpulan: Dari hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Dinoyo. Semakin tinggi dukungan yang diberikan keluarga atau orang terdekat, semakin baik perilaku pencegahan hiperglikemia yang dilakukan pasien. Dengan demikian, diperlukan upaya peningkatan dukungan keluarga melalui edukasi kesehatan berbasis keluarga, pendampingan berkelanjutan, dan pembentukan kelompok dukungan pasien di tingkat puskesmas untuk memperkuat pengelolaan diabetes dan mencegah komplikasi.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Stres Mahasiswa Rantau yang Mengerjakan Skripsi Niken Ayu Atiawardani; Tri Anjaswarni; Sulastyawati Sulastyawati; Kissa Bahari
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jumantik.v10i1.21960

Abstract

This study aims to analyze the relationship between family support and the stress levels of out-of-town students working on their thesis in the Bachelor of Applied Nursing Study Program at Poltekkes Malang. This research uses an observational method with a correlational design. The population consists of all out-of-town students working on their thesis in the Bachelor of Applied Nursing Study Program at Poltekkes Malang, totaling 131 students, from which 89 respondents were selected through purposive sampling. The analysis test uses the Spearman correlation. The analysis results show a significant relationship between family support and the stress levels of out-of-town students working on their thesis, with a p-value of 0.024 and an r value of -0.240. This indicates that the strength of the relationship is low, and the direction is negative, meaning that the higher the family support, the lower the stress levels experienced. Students are encouraged to reduce stress caused by their thesis by utilizing family support and seeking support from other sources, such as peers or significant others
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus Tomi Agustias Aryanto; Sulastyawati Sulastyawati; Nurul Pujiastuti; Nurul Hidayah
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jumantik.v9i1.16986

Abstract

Diabetes mellitus is often called the silent killer because this disease attacks the majority of the sufferer's organs which can cause complaints and complications that affect the quality of life. Supporting factors that can affect the quality of life of people with diabetes is family support. This study aimed to determine the relationship between family support and the quality of life of people with diabetes mellitus in the working area of the Polowijen Health Center. The research design used a cross-sectional study. The sampling technique uses probability sampling with cluster random sampling specifications with a total of 46 respondents. Data processing using the Pearson test. The results of the Pearson test showed that there was a relationship between family support and quality of life for people with diabetes mellitus with a p-value significance value of (0.000), which means that there is a relationship between family support and quality of life for people with diabetes mellitus with a large correlation (0.836) which means that the correlation is very strong.
Hubungan Kadar Glukosa Darah dan Jumlah Limfosit dengan Derajat Infeksi Luka pada Pasien Ulkus Diabetikum Sevia Putri; Sulastyawati; Taufan Arif; Budiono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1070

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronis diabetes melitus yang sering ditemukan dalam praktik klinis dan menjadi penyebab utama morbiditas akibat tingginya resiko infeksi, ganggren, serta amputasi pada ekstermitas bawah. Faktor kadar glukosa darah dan jumlah limfosit diduga berperan penting dalam menentukan derajat infeksi luka. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar glukosa darah dan jumlah limfosit dengan derajat infeksi luka pada pasien ulkus diabetikum. Penelitian menerapkan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling, melibatkan 35 pasien ulkus diabetikum. Instrumen penelitian berupa lembar observasi derajat infeksi kaki diabetes. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar glukosa darah dengan derajat infeksi luka (p = 0,001; r = 0,704), yang menandakan hubungan kuat dan searah. Selain itu, jumlah limfosit juga berhubungan signifikan dengan derajat infeksi luka (p = 0,001; r = -0,753), menunjukkan hubungan kuat namun berlawanan arah. Hiperglikemia kronis menimbulkan mikroangiopati yang ditandai dengan penebalan dinding kapiler, berkurangnya elastisitas, serta hambatan aliran darah ke jaringan perifer. Akibatnya, suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan kulit maupun saraf motorik tidak optimal, sehingga kulit menjadi rapuh, mudah rusak, dan fungsi motorik terganggu. Lebih lanjut, hambatan aliran darah ini menimbulkan hipoksia jaringan yang memperburuk kerusakan sel sekaligus menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Dalam kondisi tersebut, terjadi peradangan aktif yang ditandai dengan peningkatan jumlah neutrofil. Sebaliknya, limfosit sebagai bagian dari sistem imun adaptif mengalami penurunan akibat apoptosis yang dipicu mediator inflamasi, redistribusi ke jaringan terinfeksi, serta gangguan proliferasi akibat stres sistemik.
Hubungan Durasi Puasa Pre-Operatif dan Durasi Operasi dengan Kejadian Post Operative Nausea and Vomiting Pasien General Anestesi Ria Rizqy Vidaroini; Sulastyawati; Taufan Arif; Joko Wiyono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1072

Abstract

Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi pascaoperasi yang sering muncul pada pasien dengan general anestesi yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan memperlambat proses pemulihan serta meningkatkan risiko komplikasi lanjutan. Durasi puasa yang terlalu panjang dan lamanya tindakan pembedahan diduga berperan terhadap peningkatan kejadian PONV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi puasa preoperatif dan durasi operasi dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi di salah satu Rumah Sakit di Kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 60 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan instrumen Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR). Analisis menggunakan uji Spearman’s Rank dan Quantile Regression menunjukkan bahwa kedua variabel berhubungan signifikan dengan kejadian PONV (p<0,001). Model Quantile Regression pada median (q=0,5) menghasilkan nilai Pseudo R² sebesar 0,180, yang berarti 18% variasi skor PONV dijelaskan oleh kedua variable, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Durasi puasa preoperatif memiliki pengaruh paling dominan (B=0,644; p<0,001) dibandingkan durasi operasi (B=0,036; p=0,007). Hasil ini menunjukkan bahwa lamanya durasi puasa preoperative memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap peningkatan kejadian PONV dibandingkan dengan durasi operasi. Puasa berkepanjangan dapat menyebabkan hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, dan peningkatan sekresi asam lambung yang menstimulasi Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) dan pusat muntah di batang otak, sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap mual dan muntah pascaoperasi.