Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Providing Education about Hypertension in the Elderly at the Tresna Werdha Elderly Age Private House Posts 7 Sentani, Jayapura District Nasrianti, Nasrianti; Hasnia, Hasnia; Patungo, Viertianingsih
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13211

Abstract

ABSTRACT Background The elderly group can trigger the emergence of various diseases such as arthritis, heart and blood vessels, hypertension. Body mass index (BMI) is directly correlated with blood pressure, especially systolic blood pressure. Elderly people who have a history of hypertension take hypertension medication, receive less education regarding hypertension, but are given regular check-ups, namely posyandu, by the nearest health center. Based on this, it is necessary to provide regular education or counseling about hypertension in the elderly. The method of implementing activities is carried out through an approach, namely analyzing the conditions of the target area, followed by identifying problems, planning interventions and carrying out implementation to overcome the planned problems by carrying out activities in the form of providing education, namely health promotion. associated with hypertension. As a result of observations from this health education activity, there were 3 elderly people who actively asked the instructor. Then the instructor answered questions from the elderly. After getting answers to their questions, the elderly people who asked seemed to understand. By administering traditional medicine to the elderly, several elderly people with hypertension experienced a reduction in blood pressure of 130/80 mmHg. Keywords: Education, Hypertension, Elderly
Edukasi Pentingnya Pemanfaatan Poliklinik Voulentary Counseling and Testing Puskesmas Sentani Sembiring, Lisma Natalia Br; Watunglawar, Crystin E.; Nasrianti, Nasrianti
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v2i4.78

Abstract

Program pelayanan Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) bermanfaat untuk melakukan deteksi awal apakah individu tersebut terinfeksi Human Immunideficiency Virus (HIV) atau tidak dengan melakukan konseling dan testing sukarela. Konseling dan Testing Sukarela (KTS/VCT).  Pemanfaatan poliklinik VCT menambah layanan konseling untuk menjaring pemeriksaan dan mengetahui seseorang terinfeksi HIV sehingga segera mungkin mendapatkan pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan Tujuan untuk mengetahui pentingnya  edukasi pemanfaatan Poliklinik Voluntary Couseling And Testing di Puskesmas Sentani. Metode pendekatan dengan identifikasi masalah, sasaran, merencanakan intervensi dan melaksanakan implementasi dalam mengatasi masalah yang direncanakan dengan melaksanakan kegiatan serta evaluasi hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dengan menggunakan leafleat pentingnya pemanfaatan poliklinik VCT. Hasil belum maksimalnya masyarakat dalam memanfaatkan poliklinik VCT karena masih ada stigma terhadap orang yang terinfeksi HIV/AIDS. 
Khasiat daun sirih hijau dan merah sebagai tanaman khas papua dalam penurunan pembengkakan payudara ibu nifas post sc Hasnia, Hasnia; Nasrianti, Nasrianti; Vitania, Wiwit; Pratami, Yustika Rahmawati; Astutik, Eftyaningrum Dwi Wahyu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1934

Abstract

Background: Breastfeeding is essential for the healthy growth and development of infants, but it often fails due to a lack of maternal preparation during pregnancy. A common problem is breast engorgement, which has a prevalence of approximately 65-75% among breastfeeding mothers. If left untreated, this condition can lead to complications such as blocked milk ducts, mastitis, and breast abscesses. One local Papuan wisdom to address this problem is the use of green and red betel leaves, which contain compounds such as flavonoids, tannins, and essential oils that have analgesic and anti-inflammatory effects. Purpose: To analyze the efficacy of green and red betel leaves, native to Papua, in reducing breast engorgement in post-cesarean section mothers. Method: A quasi-experimental study with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 20 postpartum mothers experiencing breast engorgement (10 participants in the green betel group and 10 participants in the red betel group) at the Khomba Waliyauw Community Health Center. The intervention consisted of warm betel leaf compresses for 20 minutes twice daily (morning and evening), followed by breast care according to standard operating procedures (SOP). The level of swelling was measured using the Six-Point Swelling Scale (SPES) on days 5, 12, 19, and 26. Results: This study demonstrated a significant effect in reducing breast swelling in both groups (p=0.05). The significance value for the green betel leaf group was 0.007 and for the red betel leaf group 0.004. The effectiveness of red betel leaf compresses was proven to be more effective in reducing swelling than green betel leaf compresses in postpartum women after cesarean section (p-value 0.029 <0.05). The effectiveness of red betel leaf is supported by its higher flavonoid and polyphenol content, which act as antioxidants and pain relievers. By day 26, all participants experienced no swelling, while in the green betel leaf group, the reduction only reached 70%. Conclusion: Both green and red betel leaves are effective in reducing breast engorgement in post-cesarean mothers, but the use of red betel leaves combined with breast care is more effective in reducing breast engorgement than green betel leaves. Suggestion: Health workers can increase education on proper breastfeeding techniques during postpartum visits to prevent early breast engorgement.   Keywords: Efficacy; Green Betel Leaves; Papuan Plants; Post-Cesarean Section; Postpartum Mothers; Reducing Breast Engorgement; Red Betel Leaves.   Pendahuluan: Proses menyusui merupakan hal penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat, sering kali tidak berjalan dengan baik karena kurangnya persiapan ibu saat hamil. Masalah yang sering muncul, seperti pembengkakan payudara (bendungan ASI) yang memiliki prevelensi sekitar 65-75% dikalangan ibu menyusui. Kondisi ini jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan komplikasi, seperti tersumbatnya saluran air susu, mastitis hingga abses payudara. Salah satu kearifan lokal masyarakat Papua untuk mengatasi hal ini adalah penggunaan daun sirih hijau dan merah yang mengandung senyawa, seperti flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang memiliki efek analgetik dan anti-inflamasi. Tujuan: Untuk menganalisis khasiat daun sirih hijau dan merah sebagai tanaman khas papua dalam penurunan pembengkakan payudara ibu nifas post sc. Metode: Penelitian quasy-experimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sampel terdiri dari 20 ibu nifas mengalami bendungan ASI (10 partisipan kelompok sirih hijau dan 10 partisipan kelompok sirih merah) di Puskesmas Khomba Waliyauw. Intervensi berupa kompres daun sirih yang telah dihangatkan selama 20 menit sebanyak 2 kali sehari (pagi dan sore) diikuti dengan perawatan payudara sesuai dengan SOP. Tingkat pembengkakan diukur menggunakan Six Point Engirgement Scale (SPES) pada hari ke-5,12,19, dan 26. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan pada dua kelompok dalam menurunkan pembengkakan payudara (p=0.05). Nilai signifikan pada kelompok daun sirih hijau 0.007 dan kelompok daun sirih merah 0.004. Efektivitas kompres daun sirih merah terbukti lebih efektif menurunkan pembengkakan, dibandingkan kompres daun sirih hijau pada ibu nifas pasca operasi SC (p-value 0.029 < 0.05). Efektivitas sirih merah didukung oleh kandungan flavonoid dan polifenol yang lebih tinggi, berperan sebagai antioksidan dan penghilang rasa nyeri. Pada hari ke-26, seluruh partisipan tidak mengalami pembengkakan, sedangkan pada kelompok daun sirih hijau penurunan hanya mencapai 70%. Simpulan: Jenis daun sirih hijau dan daun sirih merah efektif untuk menurunkan pembengkakan pada payudara ibu nifas pasca SC, tetapi penggunaan daun sirih merah yang disertai perawatan payudara lebih efektif menurunkan pembengkakan payudara dibandingkan daun sirih hijau. Saran: Petugas kesehatan dapat meningkatkan edukasi mengenai teknik menyusui yang benar selama kunjungan masa nifas, sehingga dapat mencegah secara dini kejadian bendungan ASI.   Kata Kunci: Daun Sirih Hijau; Daun Sirih Merah; Ibu Nifas; Khasiat; Penurunan Pembengkakan Payudara; Post SC; Tanaman Khas Papua.