Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHAPAD PENGGUNAAN LAMUT TATAMBA DALAM PRAKTIK SPRITUAL DI DESA SUNGAI TUAN KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Novia Winda; Erni Susilawati; Edi Sutardi
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.605

Abstract

Lamut tumbuh dan berkembang di masyarakat Banjar sebagai sebuah tradisi keluarga secara turun-temurun. Lamut dikenal sebagian masyarakat sebagai pertunjukkan untuk tatamba atau pengobatan maupun hiburan. Sebagai sebuah tradisi, lamut memiliki kelengkapan upacara tersendiri berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui persepsi masyarakat dalam balamut batatamba dan (2) Mengetahui proses acara balamut tatamba. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeutika. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, dokumentasi, dan kajian kepustakaan. Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan pengumpulan dokumen, pengamatan, merekam, dan mencatat hasil wawancara. Analisis data dilakukan dengan melakukan identifikasi, klasifikasi, rekontruksi, dan menarik simpulan. Keabsahan data penelitian diuji dengan tranferbilitas. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Persepsi masyarakat dalam balamut batatamba di desa Sungai Tuan adalah wajib dilaksanakan bagi keturunan tertentu. Jika tidak melaksanakan takutnya akan sakit, yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Cenderungnya keluarga palamutan melaksanakan lamut ketika anak kecil. Ketika tasmiyah anak dilaksanakan siang hari, maka lamut diadakan pada malam hari dan (2) Proses acara lamut tatamba (pengobatan) diperlukan beberapa properti yang digunakan sebagai kelengkapan upacara. Kelengkapan upacara ini berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), nasi lemak, dan ayam hitam, piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya.
Nilai-Nilai Religius dalam Sastra Tradisional Diang Ingsun dan Raden Pengantin Novia Winda; Erni Susilawati
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3257

Abstract

Penelitian ini mengkaji nilai-nilai religius dalam sastra tradisional Diang Ingsun dan Raden Pengantin. Cerita yang populer sebagai legenda anak durhaka ini dipilih karena sarat dengan pesan moral dan religius yang relevan bagi pembentukan karakter anak. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur dan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menafsirkan simbol, peristiwa, dan dialog dalam teks untuk mengungkap nilai religius yang terkandung. Data dikumpulkan melalui teknik pustaka, simak, dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga kategori utama nilai religius dalam cerita tersebut, yaitu: (1) hubungan manusia dengan Allah yang tercermin melalui sikap berdoa dan keyakinan terhadap kekuasaan Tuhan; (2) hubungan manusia dengan diri sendiri yang ditunjukkan melalui sikap sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan hidup; serta (3) hubungan manusia dengan sesama manusia yang tampak melalui sikap tanggung jawab dan tolong-menolong. Temuan ini menegaskan bahwa cerita Diang Ingsun dan Raden Pengantin tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang penting, khususnya dalam pengembangan nilai religius pada sastra anak di Kalimantan Selatan.
EMOSIONALITAS EKOLOGIS PADA BUKU TENTANG PUISI PENYAIR KALIMANTAN SELATAN KARYA TARMAN EFFENDI TARSYAD Anshar, Machyuddin; Sidik, Muhammad Nabil; Winda, Novia
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1342

Abstract

Penelitian ini memiliki sebuah tujuan demi memahami bagaimana hubungan seorang manusia terhadap alam di sekitarnya yang digambarkan di dalam puisi-puisi bertemakan ekologi yang ada pada kumpulan puisi karya Tarman Effendi Tarsyad sebagai bagian dari seorang sastrawan daerah Kalimantan Selatan. Penelitian ini berfokus pada 10 judul puisi yang beberapa diyakini memiliki emosional ekologis. Puisi dipandang sebagai media yang bisa menyampaikan gagasan ekologis dan tentunya juga memperlihatkan pengalaman batin penyairnya ketika berhadapan dengan kondisi alam sekelilingnya, seperti rasa rindu, duka ekologis, kegelisahan, hingga harapan terhadap lingkungan yang terus mengalami banyaknya perubahan tanpa mereka sadari. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekologis sastra dengan kerangka ekokritik afektif (Affective Ecocriticism) dan metode penelitian yang berfokus pada kualitatif deskriptif. Data pun dikumpulan melalui teknik pembacaan dekat (Close Reading), yang kemudian dianalisis dengan menelusuri di mana letak emosi ekologis yang muncul melalui beberapa pilihan diksi, citraan, dan metafora dalam puisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan yakni puisi-puisi tersebut tidak hanya menampilkan keindahan alam, namun juga menyampaikan kritik terhadap sikap manusia yang cenderung tidak peduli terhadap lingkungan dan bahkan berani merusaknya. Hubungan antara manusia dan alam dibangun secara emosional dan berpikir kritis, Affective Ecocriticism seperti mengajak pembaca untuk ikut merasakan (1) duka, (2) kerinduan, dan (3) rasa kehilangan terhadap alam. Maka dari itu, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya elegan yang menyebarkan bentuk kata yang indah, namun juga bisa menjadi sarana penyadaran ekologis yang juga mampu menumbuhkan empati dan kesadaran lingkungan pada manusia.
HIERARKI KEBUTUHAN TOKOH JEC DALAM NOVEL GALUH KARYA LIS Syuhada, Nazwa Erlina; Winda, Novia
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1391

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemenuhan hierarki kebutuhan tokoh Jec dalam novel Galuh karya Lis menggunakan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis hierarki kebutuhan tokoh Jec dalam novel Galuh, dan (2) menganalisis proses pemenuhan kebutuhan tokoh Jec dalam novel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data berupa novel Galuh yang diterbitkan oleh Akad, Depok, tahun 2024 (240 halaman). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis tematik untuk mengidentifikasi serta mengkategorikan tema-tema utama yang merepresentasikan kebutuhan tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hierarki kebutuhan tokoh Jec mengacu pada lima tingkatan: (a) kebutuhan fisiologis terpenuhi melalui makanan, tempat tinggal atau tempat singgah, dan tidur; (b) kebutuhan keamanan dicapai melalui upaya menghindari bahaya fisik, spiritual, dan finansial; (c) kebutuhan sosial terwujud melalui persahabatan dan hubungan harmonis dengan lingkungan; (d) kebutuhan penghargaan tampak melalui penghormatan diri, pengakuan, dan prestasi, misalnya kemampuan membaca peta; serta (e) kebutuhan aktualisasi diri dicapai melalui perkembangan pribadi, keberanian mandiri, dan pemahaman takdir masa lalu. Proses pemenuhan kebutuhan berlangsung secara hierarkis dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan tingkat tinggi melalui pengalaman dan relasi pendukung.