Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Fenomena Busana Hajja Pasca Haji di Kabupaten Bone Perspektif Al-Qur’an Mursalin; Hamzah, Amir; Ghany, Abdul
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 3 No 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v3i2.51

Abstract

This study discusses the phenomenon of Hajja clothing worn by women who have performed the pilgrimage (hajj) in Bone Regency. This research is categorized as field research and presented in a descriptive qualitative form, employing anthropological, sociological, and exegetical approaches. Data processing and analysis were carried out through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that Hajja attire is not worn in daily life but rather on special occasions such as weddings, as a form of respect for religious and social values. Distinctive attributes such as tallili or mappatoppo serve as symbols of honor and pride for Bugis Bone women after completing the pilgrimage. The use of clothing and accessories such as tallili, misba, and gelang haji (pilgrim’s bracelet) represents both a religious expression and a form of spiritual pride following the pilgrimage. Post-hajj Hajja clothing in Bone Regency is not merely a marker of spiritual journey but has evolved into a symbol of social status and religious identity within society. Culturally, Hajja clothing embodies the fusion of Islamic values and local Bugis Bone traditions that emphasize modesty, honor, and dignity. From the Qur’anic perspective, the wearing of garments during and after the pilgrimage holds not only physical but also spiritual significance, serving as a manifestation of piety and purity of heart.
Rekonstruksi Makna Syara’ dalam Al-Qur’an: Jamaluddin, Muhammad Zuhdy; Basri, Halimah; Ghany, Abdul
Al-Mustafid: Journal of Quran and Hadith Studies Vol 4 No 02 (2025): December
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/mustafid.v4i02.1815

Abstract

Penelitian ini merekonstruksi makna kata syara’ dalam al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik (tafsīr mauḍū‘ī). Selama ini, istilah syara’ kerap dipahami secara sempit sebagai hukum formal atau produk fikih, sehingga mengabaikan dimensi teologis, etis, dan sosial yang melekat dalam makna Qur’ani. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat, bentuk, dan urgensi konsep syara’ sebagaimana direpresentasikan dalam al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengumpulkan dan menganalisis ayat-ayat al-Qur’an yang memuat derivasi akar kata ش-ر-ع, seperti syara‘a, syarī‘ah, dan syir‘ah, kemudian dikaji secara tematik berdasarkan penafsiran mufasir klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa syara’ dalam al-Qur’an tidak terbatas pada aturan legalistik, melainkan merupakan sistem jalan hidup Ilahi yang bersifat holistik, mencakup aspek akidah, ibadah, akhlak, dan tatanan sosial. Konsep syara’ juga bersifat dinamis dan berorientasi pada kemaslahatan manusia, sebagaimana tercermin dalam keragaman penerapan hukum ilahi pada setiap umat. Dengan demikian, pemahaman tematik terhadap syara’ menegaskan bahwa syariat dalam perspektif al-Qur’an merupakan pedoman hidup integral yang bertujuan mewujudkan keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan universal.