Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Mengaktualisasikan strategi pelayanan misi kontekstual kiai Sadrach pada era posmodern Nggebu, Sostenis
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.727

Abstract

This research aims to show the holistic mission of the Pentecostal perspective, which departs from the Christian concept of holistic mission, namely Missio Dei, where God initiates mission. The trinitarian framework of sending becomes a biblical philosophical foundation for understanding the Christian mission centered on God rather than the church, a shift from an ecclesiocentric mission to a theocentric mission. The church's place is important as the administrator of God's work in the world. The method used is descriptive qualitative with a library research approach, which brings the concept of holistic Christian mission, in general, closer to the potential of Pentecostal pneumatic spirituality. Suppose the Pentecostal movement can continue to realize the potential of a friendly pneumatic spirituality (hospitality) and embrace all of creation. In that case, that solid mission drive will enable Pentecostals to present the church as an administrator of social justice. AbstrakTujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan misi holistik perspektif Pentakostal yang bertolak dari konsep misi holistik Kristen, yakni Missio Dei, di mana Allah sebagai inisiator misi. Kerangka pengutu-san trinitarian menjadi fondasi filosofis alkitabiah untuk memahami misi Kristen yang berpusat pada Allah ketimbang gereja, sebuah pergeseran dari ecclesiocentric mission ke theocentric mission. Tempat gereja menjadi pen-ting sebagai administrator dari pekerjaan Allah di dunia. Metode yang di-pergunakan adalah kualitif deskriptif dengan pendekatan library research yang mendekatkan konsep misi holistik Kristen pada umumnya dengan pontensi spritualitas pneumatik Pentakostal. Jika gerakan Pentakostal da-pat terus menyadari akan potensi spiritualitas pneumatik yang ramah (hospitalitas) dan merangkul semua ciptaan, maka dorongan misi yang kuat itu memungkinkan orang-orang Pentakostal mampu menghadirkan gereja sebagai administrator keadilan sosial.
Pertobatan Sejati Menghasilkan Transformasi Moral Dalam Kehidupan Daud: Studi Refleksi Mazmur 51 Nggebu, Sostenis
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.264

Abstract

Abstract: The problem of this article is that repentance brought about a moral transformation in the life of King David. The text of Psalm 51 describes that King David fell into sin, but then he realized himself, repented and was sanctified by God. The method used to language this article is the study of passages.  The results show that Psalm 51 shows a deep spiritual need for God's people of all ages. Those who have fallen into self-conscious sin confess with all their hearts to God for the forgiveness that brings about moral renewal in their lives. The forgiveness experienced by David has been expressed in the form of a poem about the relationship of the prayer paradigm for forgiveness, whose meaning is actual. After receiving God's forgiveness, David regained a harmonious relationship with God, which brought about a moral renewal in his life. The same situation applies to the life of believers. Everyone who confesses his sins will be forgiven to experience the peace of Jesus Christ. Living in holiness is the moral standard required of every follower of Jesus Christ. Abstrak: Problem dari artikel ini tentang pertobatan yang mendatangkan transformasi moral dalam kehidupan Raja Daud. Dalam teks Mazmur 51, digambarkan bahwa Raja Daud yang jatuh dalam dosa, tetapi kemudian ia sadar diri, bertobat dari dosanya sehingga dikuduskan Allah. Metode yang digunakan untuk membahasa artikel ini adalah studi perikop. Hasilnya, menunjukkan bahwa Mazmur 51 memperlihatkan kebutuhan rohani yang mendalam bagi umat Allah dari segala zaman. Orang-orang yang telah jatuh dalam dosa sadar diri untuk mengaku dengan segenap hati kepada Allah demi pengampuan yang mendatangkan pembaruan moral di dalam kehidupan mereka. Pengampunan yang dialami Daud telah diungkapkan dalam bentuk puisi tentang hubungan paradigma doa untuk pengampunan, yang maknanya bersifat aktual. Daud dapat meraih kembali hubungan yang harmonis dengan Allah setelah memperoleh pengampunan Allah yang mendatangkan pembaruan moral dalam hidupnya. Situasi yang sama berlaku juga dalam kehidupan orang percaya. Setiap orang yang mengaku dosanya akan diampuni untuk mengalami damai sejahtera dari Yesus Kristus. Hidup dalam kekudusan menjadi standar moral yang dituntut dari tiap pengikut Yesus Kristus.