Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Komparasi Pemikiran Ibnu Hazm dan Syafi’i terhadap Hukum Musik Muhammad Yusram; Wijaya , Hendra; Iskandar , Azwar; Moh. Fadli
BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Vol 1 No 4 (2020): BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/bustanul.v1i4.280

Abstract

This research aims to examine the law of music in the review of Islamic law by comparing the opinion that forbidding the music especially from Shafi’i and opinion that allowing the music especially from Ibnu Ḥazm. This research used library research methods with comparative analysis approach. The results found some important findings. First, Ibn Hazm argued that the law of all things that have no clear evidence of it is permissable, including music. There are many flaws in the hadiths and aṡar that are expressed by scholars who forbid music, including the weakness of the mustard and the use of the word in narration that raises doubts in it. Second, Shafi'i allows certain instruments under certain circumstances such as tabla instruments used during war, not for something that neglects such as singing. Shafi'i hates acts that neglect a person from the Qur'an such as listening to a song even though there is a remembrance of Allah. There is a contention or comment from the scholars to Ibn Ḥazm who doubts the validity of Bukhari as a reliable hadith. Third, the differences in scholars on this matter are specific to Ibnu Ḥazm and Shafi'i's views, not including disagreements that allow a person to choose an opinion that he believes based on the evidence he has heard from both. This is because there has been clear evidence of cancelling one of the views of both. In this case, Ibn Ḥazm's opinion of the hadith which he thought was weak turned out to be a valid hadith and agreed upon by most scholars.
PENERAPAN METODE NATURE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI MENGIDENTIFIKASI AKAR DAN FUNGSINYA KELAS IV SDN KEBUNDADAP TIMUR II KABUPATEN SUMENEP MOH. FADLI
JURNAL KEISLAMAN TERATEKS Vol 5 No 1 (2020): APRIL
Publisher : STAI MIFTAHUL ULUM TARATE PANDIAN SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui bagaimanakah penerapan metode nature learning untuk meningkatkan hasil belajar materi akar dan fungsinya pada siswa kelas IV SDN Kebundadap Timur II Kabupaten Sumenep. Penerapan metode nature learning ini terdiri dari beberapa langkah yaitu: (1) guru mengajak siswa ke lokasi di luar kelas; (2) guru mengajak siswa untuk berkumpul menurut kelompoknya; (3) guru memberi salam; (4) guru memberi motivasi; (5) guru memberikan paduan belajar kepada masing-masing kelompok; (6) guru memberikan penjelasan cara kerja kelompok; (7) masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan dan diberi waktu; (8) guru membimbing siswa selama pengamatan di lapangan; (9) selesai pengamatan siswa di suruh berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatannya; (10) guru memandu diskusi dan siswa diberi kesempatan mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing kelompok dan kelompok lain diberi waktu untuk menanggapi. Penelitian ini dilakukan 2 siklus yang setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Teknik pengumpulan data adalah observasi, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Display (Penyajian Data). Hasil dari siklus I nilai rata-rata sebesar 63 dan Persentase siswa tuntas 46,6%, persentase siswa tidak tuntas 53,3% ,dan pada siklus II perolehan rata-rata kelas dari siklus I sebesar 68 dan Persentase siswa tuntas 86,6% , Persentase siswa tidak tuntas 13,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa penerapan metode nature learning untuk meningkatkan hasil belajar materi akar dan fungsinya pada siswa kelas IV SDN Kebundadap Timur II Kabupaten Sumenep.
The Authority Of The Local Government Of The City Of Samarinda In Giving License To Open State Land (Study on Samarinda City Regional Regulation Number 2 of 2019 concerning Land Clearing Permits (IMTN) in Samarinda City) Fachriza Fachriza; Moh. Fadli; Supriyadi Supriyadi
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.4536

Abstract

This article is entitled "The Authority of the Samarinda City Government in Giving Permits to Open State Land(Study on Samarinda City Regional Regulation Number 2 of 2019 concerning Land Clearing Permits (IMTN) in Samarinda City)" with 2 (two) main issues, namely: (1) Who has the authority to grant permits to open State land according to positive law in Indonesia? (2) How is the existence of the Regional Regulation of the City of Samarinda Number 2 of 2019 concerning Permits to Open State Land (IMTN) in the City of Samarinda. This research is a type of legal research with a normative juridical research method. Besides, this research uses a statutory research approach and a conceptual approach. The results of this article research indicate that substantially the existence of Regional Regulation Number 2 of 2019 concerning Permits to Open State Land violates the concept of authority for the regions. One of them is as referred to in Regional Regulation Number 2 of 2019 concerning Permits to Open State Land where there are 3 parties authorized in issuing permits, namely the Camat, Regional Secretary and Mayor, which violates the provisions in technical regulations, namely Decree of the Head of BPN Number 2 of 2003 concerning Norms and Standard Mechanisms for the Management of Government Authorities in the Land Sector Implemented by District/City Governments that granting permits to clear land is the authority of the Regent/Mayor. As a permit, the government carries out a control function over activities carried out by the community so that they are in accordance with the provisions of the applicable laws and regulations, one of which is clearing land. The conclusion from the author is that the Central Government is the authorized party in granting permits to open state land. This can be seen in the substance of TAP MPR No. IX of 2001 which then issued Presidential Decree No. 34 of 2003 concerning National Policy in the Land Sector, and Decree of the Head of BPN No. 2 of 2003 concerning Norms and Standards of Mechanisms for the Management of Government Authority in the Land Sector Implemented by District/City Government.
The Initiation Of Hayam Wuruk Motif Batik In Brafos Community Of Sumberwangi Hamlet Ub Forest Malang Danang Ariyanto; Sihabudin Sihabudin; Ni Wayan Surya Wardhani; Moh. Fadli; Romi Setiawan; Dian Cahya Rini
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiat.2022.008.01.11

Abstract

Batik merupakan produk kerajinan asli khas Indonesia yang berupa kain sebagai bahan baku pakaian dan telah dikenal dunia. Pada tahun 2021 melalui program Doktor Mengabdi, Batara berhasil menciptakan motif hayam wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja ke-4 Kerajaan Majapahit, bersama mahapatih Gajahmada. Prabu Hayam Wuruk membawa majapahit mencapai masa kejayaan termasuk menyatukan sebagian besar wilayah nusantara. Pada tahap penciptaan motif utama batik hayam wuruk, proses stilisasi  bentuk menjadi sangat penting karena pada hakikatnya motif batik adalah penyederhanaan bentuk dan simbolis, tanpa meninggalkan kaidah artistik dan estetikanya. Eksplorasi bentuk motif utama didapatkan dari bentuk stilisasi surya majapahit, kawung kembang papat dan nyala api. Tim Doktor mengabdi mencoba mengaplikasikan motif hayam wuruk yang sudah dibuat dengan menggunakan cap batik dengan tujuan percepatan produksi batik. Pengaplikasian motif batik kawung kencana wungu ini dengan memberdayakan warga Dusun Sumberwangi untuk meningkatkan ketrampilan para pengrajin batik yang masih tergolong baru.
Examining The Shift in The Procedural Law of The Administrative Court: Discourse on Changes in Society and The Judiciary M. Ikbar Andi Endang; Moh. Fadli; Istislam; Dewi Cahyandari
KRTHA BHAYANGKARA Vol. 16 No. 1 (2022): KRTHA BHAYANGKARA: JUNE 2022
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/krtha.v16i1.1188

Abstract

Shifting the procedural law of the Administrative Court is a necessity. This happened as an effort to respond to the absence of arrangements for resolving administrative disputes and government administration regulated in sectoral laws. The Supreme Court through Perma responded to the void in legislations regarding the procedures or procedures for this matter. To analyze the context, this study uses a legal approach, a historical approach, and a conceptual approach. Based on the analysis, it can be seen that there is a shift in the conservative setting from the procedural law of the Administrative Court towards a procedural law system with a progressive setting nuance. This can be seen with changes in procedures, both in terms of reducing the levels of examination, reducing the process of proceedings, and determining the grace period for the event process. With this progressive system, the renewal of the case administration system and the electronic trial go hand in hand. Interpreting the dynamics between law and the judiciary with changes in society, the momentum for changes in the procedural law of the Administrative Court with social changes in society accommodates legal certainty and the principles of a simple and fast trial. Consequently, the shift in the character of the Administrative Court requires proper legislation in a law that regulates the procedural law of the Administrative Court
Pengaruh Penyuluhan Sanitasi Terhadap Peningkatan Perilaku Masyarakat di Desa Sarude Kecamatan Sarjo Kabupaten Pasangkayu: The Effect of Sanitation Education on the Improvement of Community Behavior in Sarude Village, Sarjo District, Pasangkayu Regency Fariz Maulana; Suhestianigras S; Nikita Aprilianingsih; Susi Nurhayanti; Moh. Fadli; Siti Hartina; Marina; Suhermanto; Zulfitra; Abdul Kadri; Muh. Jufri; Renni; Nurcholis
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9842

Abstract

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. STBM terdiri dari 5 pilar diantaranya yang pilar pertama Stop Buang Air Besar Sembarangan, pilar kedua Cuci Tangan Pakai Sabun, pilar ketiga Pengelolaan Air Minum/Makanan Rumah Tangga, pilar keempat Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan pilar kelima Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. Metode penelitian ini adalah kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 35 masyarakat Desa Sarude Kecamatan Sarjo Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji wilcoxon (uji-t berpasangan). Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan pre dan post test, nilai P 1 > 0,05. Hasil sikap pre- dan post-test, nilai P 0,068 > 0,05. Hasil tindakan pre- dan post-test nilai P 0,013 < 0,05. Kesimpulan ada pengaruh penyuluhan terhadap tindakan masyarakat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan, namun tidak ada pengaruh bermakna pada pengetahuan dan sikap masyarakat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan di Desa Sarude Kecamatan Sarjo Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat. Sebagai saran diharapkan bagi pihak Desa dan Puskesmas setempat bisa untuk selalu mensosialisasikan program STBM kepada kader dan masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan informasi tentang penting dan manfaat penerapan STBM terlebih untuk mencapai Desa ODF (Open Defecation Free) 100%.
PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN 3 DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PELAJARAN MATEMATIKA KELAS III SDN TINGKIS TUBAN MOH. FADLI; AZRIEL FAHRUL ADITIYA DEKA UTAMA
JURNAL KEISLAMAN TERATEKS Vol 10 No 2 (2025): OKTOBER
Publisher : STAI MIFTAHUL ULUM TARATE PANDIAN SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktifitas pembelajaran matematika di SDN Tingkis kurang berhasil dikarenakan siswa kurang memahami penjelasan yang di berikan oleh guru melalui buku paket dan LKS dengan penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Tingkis Tuban. Tujuan dilaksanakannya PTK ini yaitu untuk mengetahui apakah penerapan PBL mampu meningkatkan aktivitas belajar serta hasil belajar peserta didik. Penelitian ini berjenis PTK yang melibatkan satu kelas. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus dimana setiap siklus memiliki tahap kegiatan yang sama, yaitu Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi serta Refleksi. Subjek penelitian ini yaitu murid kelas III melalui penerapan media pembelajaran tiga dimensi. Bahan ajar benda 3 dimensi dapat digunakan sebagai pengganti dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi pada setiap siklusnya. Data hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes formatif di akhir setiap siklus dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya media pembelajaran tiga dimensi. Pada siklus I, rata-rata hasil belajar siswa adalah 60%, meningkat menjadi 90% pada siklus II. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa penggunaan media pembelajaran tiga dimensi efektif dalam memvisualisasikan konsep matematika yang abstrak sehingga mempermudah pemahaman siswa dan berdampak positif pada hasil belajar kelas III SDN Tingkis Tuban