Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

ETNOMATEMATIKA PADA RUMAH ADAT NAMA WAIBALUN DI KELURAHAN WAIBALUN KABUPATEN FLORES TIMUR Marselina Ina Kewa; Bernadus Bin Frans Resi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 12 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep etnomatematika yang terdapat pada Rumah Adat Nama Waibalun di Kelurahan Waibalun, Kabupaten Flores Timur. Rumah adat tersebut merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Lamaholot yang memiliki struktur bangunan tradisional dengan pola, bentuk, dan sistem pengukuran khas. Kajian ini berfokus pada identifikasi elemen matematika seperti geometri, simetri, perbandingan, serta pola bilangan yang terimplikasi dalam struktur fisik bangunan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif etnografi dengan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara tetua adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Adat Nama Waibalun memuat konsep matematika pada pola atap, struktur kolom, proporsi ruang, serta ornamen yang memiliki nilai matematis dan filosofis. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran matematika berbasis budaya lokal
Optimalisasi pembelajaran matematika melalui penggunaan media papan musi di SDN Lebao Tanjung Lusia Bince Kumanireng; Bernadus Bin Frans Resi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38897

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pembelajaran matematika melalui implementasi media Papan Musi di SDN Lebao Tanjung. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah siswa kelas IV SDN Lebao Tanjung yang berjumlah 19 orang. Metode pelaksanaan pengabdian meliputi tahap persiapan (observasi, koordinasi, dan produksi media), tahap pelaksanaan (sosialisasi, demonstrasi, dan praktik terbimbing), serta tahap evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada antusiasme dan partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran. Secara kuantitatif, penggunaan media Papan Musi mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa yang terlihat dari hasil evaluasi pasca kegiatan yang melampaui standar ketuntasan minimal. Secara kualitatif, media ini berhasil mengubah persepsi siswa terhadap matematika menjadi lebih menyenangkan dan konkret melalui visualisasi pin warna. Simpulan dari pengabdian ini adalah media Papan Musi efektif sebagai alat peraga manipulatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar. Kata Kunci: matematika; papan musi; KPK; FPB Abstract This community service activity aims to optimize mathematics learning through the implementation of Papan Musi media at SDN Lebao Tanjung. The target partners in this activity were 19 fourth-grade students of SDN Lebao Tanjung. The implementation method included the preparation stage (observation, coordination, and media production), the implementation stage (socialization, demonstration, and guided practice), and the evaluation stage. The results showed a significant increase in student enthusiasm and active participation during the learning process. Quantitatively, the use of Papan Musi media was able to improve students' conceptual understanding, as evidenced by post activity evaluation results that exceeded the minimum mastery standards. Qualitatively, this media succeeded in changing students' perceptions of mathematics to be more enjoyable and concrete through color pin visualization. The conclusion of this service is that Papan Musi media is effective as a manipulative teaching tool to improve the quality of mathematics learning at the elementary school level. Keywords: mathematics; papan musi; LCM; GCD
Eksplorasi Proses Berpikir Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Kontekstual Berbasis Pendidikan Matematika Realistik (PMR) Bernadus Bin Frans Resi; Florianus Aloysius Nay
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 2 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i2.4212

Abstract

Rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual mengindikasikan bahwa proses berpikir matematis belum berkembang secara optimal. Siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami permasalahan, membangun model matematis, serta melakukan refleksi terhadap hasil yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual berbasis Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Proses berpikir matematis yang dikaji mencakup empat indikator, yaitu pemahaman masalah, pemodelan matematis, penyelesaian, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi eksploratif. Subjek dipilih secara purposif berdasarkan variasi kemampuan matematis. Data dikumpulkan melalui tes tertulis dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir matematis siswa berlangsung bertahap dan dipengaruhi oleh kemampuan awal. Siswa berkemampuan tinggi menunjukkan pola berpikir yang lebih sistematis dan reflektif, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah mengalami kendala terutama pada tahap pemodelan dan refleksi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan dinamika proses berpikir matematis siswa secara kontekstual dalam pembelajaran berbasis PMR. Implikasinya, pembelajaran matematika perlu dirancang dengan menekankan penggunaan masalah kontekstual, pemanfaatan representasi visual, serta penguatan aktivitas reflektif secara terstruktur
Reconstruction of Mathematical Concepts in The Belis Tradition of The Adonara Community Melania Kewa Deran; Bernadus Bin Frans Resi; Lusia Bince Kumanireng
Mathline : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol. 11 No. 3 (2026): Mathline : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/mathline.v11i3.1167

Abstract

Previous ethnomathematics studies have primarily focused on identifying mathematical activities embedded in cultural practices, while limited attention has been given to reconstructing these activities into explicit mathematical concepts for mathematics education. Few studies have examined how mathematical concepts embedded in the belis tradition of the Adonara community can be systematically reconstructed while preserving their cultural meanings. Therefore, this study aims to describe the manifestations and meanings of mathematical concepts embedded in the belis tradition of the Adonara community, East Flores Regency, Indonesia, from an ethnomathematical perspective. This study employed a qualitative approach with an ethnomathematical perspective. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving four traditional leaders with extensive knowledge of the belis tradition. Data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The trustworthiness of the findings was established through source and technique triangulation. The findings reveal several mathematical concepts embedded in the belis tradition, including arithmetic operations, comparison and proportion, systematic sequencing, sets and classification, and social arithmetic. These concepts are reflected in determining quantities and values of customary objects, establishing balance between the obligations of the groom’s and bride’s families, sequencing the stages of the belis process, classifying customary objects, and estimating economic value and family responsibilities. Beyond their functional roles, these concepts embody cultural values of responsibility, justice, solidarity, mutual respect, and adherence to customary norms. The findings demonstrate that the belis tradition constitutes a valuable source of culturally grounded mathematical concepts and provides meaningful contexts for mathematics learning and the development of mathematics teaching materials.